Tugas Kedua dengan Tema UGD dan Tamu

UGD

        Aku berjalan dengan langkah gontai dan tergesa-gesa menyusuri lorong-lorong rumah sakit siang itu untuk menuju ke ruang UGD RS. Hasan Sadikin Bandung. Aku diselimuti oleh perasaan sedih dan tak menentu. Jiwaku serasa melayang dan benar-benar tak percaya dengan kabar yang baru saja aku terima. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa ini harus terjadi kepada sahabat yang paling aku kasihi, Diana namanya.
           Rasanya baru saja kemarin kita berbincang dan bercerita tentang kehidupan kita dengan riang gembira di sebuah kafe didaerah Dago, kafe yang menjadi tempat favorit kita sembari mendengarkan lagu kesukaan kita, lagu persahabatan kita yang ikut mewarnai persahabatan kita selama bertahun-tahun, dan aku sangat bahagia ketika kamu menyanyikannya untukku seperti ini : “engkau masih berdiri, kita masih disini.. tunjukkan pada dunia arti sahabaaat kita teman sehati.. kita teman sejati.. hadapilah dunia gengam tanganku ooo” lalu kamu tersenyum kepadaku dan berkata : “ gilang.. semoga persahabatan kita abadi selamanya ya..dan kita akan saling melengkapi juga selalu ada dikala sedih dan senang”. Aku tersenyum dan berkata : “ iya.. kita akan selalu bersama di dalam suka dan duka tak akan terpisahkan oleh apapun kecuali maut”. Kamu memeluk tubuhku dan kita berdua menangis terharu.
            Kemarin kamu berkata kepadaku : “aku yakin kamu pasti bisa menggapai segala angan-angan dan cita-citamu gilang,, meskipun suatu saat nanti aku tidak bisa terus menemanimu dan menyemangatimu”. Aku sangat heran dengan perkataan itu, aku heran kenapa kamu bisa bicara seperti itu,, tapi sekarang aku mengerti Diana, tapi aku.. aku tidak akan rela kehilangan sahabat terbaik sepertimu. Kamu harus sembuh, aku yakin kamu pasti akan baik-baik saja.
       Aku terus berjalan dengan ditemani oleh airmata yang jatuh satu demi satu. Aku seperti mendengar sebuah panggilan darimu yang menyuruhku untuk segera menemuimu di UGD, lalu tiba-tiba aku mendengar suara sayup-sayup, aku yakin itu suaramu yang sedang melantunkan lagu persahabatan kita, lagu kesukaan kita, airmataku semakin deras mengalir,aku tidak sabar untuk segera sampai diruang UGD dan melihat kondisimu. Lagu persahabatan kita mengiringi perjalananku menuju UGD. Langkahku semakin terasa berat, aku seperti kehilangan arah untuk menuju keruangan UGD, aku mencoba bertanya kepada para perawat, tapi mereka diam dan tidak menjawab pertanyaanku, aku semakin gelisah tak menentu, aku mencoba menegarkan hatiku dan bertanya kepada seorang dokter yang terlihat masih muda.
       Dokter itu menunjukkanku jalan menuju ke UGD, semangatku mulai bangkit lagi, karena langkahku semakin dekat untuk segera melihat keadaanmu, tapi tiba-tiba aku mendengar suara “GUBRAK”, dan aku baru sadar kalau suara itu berasal dari tubuhku yang tiba-tiba tumbang ke lantai yang ada di lorong rumah sakit. Aku tak bisa melihat apapun, semuanya gelap,, aku hanya bisa mendengar suara sayup-sayup lagu favorit kita itu dan aku mendengar kamu memanggil-manggilku lagi seperti ini: “Gilang ayo bangkit, gilang semangat”. Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Entah kekuatan apa yang tiba-tiba membuatku bisa berlari menuju ke ruangan UGD, tapi perjuanganku untuk menemuimu tidak sia-sia, setidaknya aku masih bisa melihatmu bernafas, dan aku pun terduduk lemas di depan pintu UGD setelah melihatmu.

Tamu

             Pagi itu aku masih tertidur lelap dan masih memimpikan pujaan hati, yang selama ini aku impikan, aku kagumi dan aku sukai. Tapi, tiba-tiba saja aku mendengar suara pintu yang diketuk berulang-ulang, aku pikir itu masih didalam mimpi, ternyata hal itu nyata. Aku pun perlahan mulai membuka mataku, aku yang masih setengah sadar, pada awalnya sangat merasa kesal, karena ketukan pintu itu aku terbangun dari mimpi indahku, padahal aku masih ingin berlama-lama berbincang akrab dengannya dialam mimpi.
          Aku memaksakan diri untuk bangun dan segera turun dari tempat tidurku, tanpa berfikir panjang dan merapihkan rambutku terlebih dahulu, aku segera berjalan dengan mata yang masih sangat mengantuk. Aku mendengar ketukan pintu itu semakin keras, rasanya aku ingin sekali berteriak : “ woooy tau gak sih,, loe itu ganggu banget ngetuk-ngetuk pintu jam segini, gak tau apa gue cape, gue lagi enak-enakan mimpi,, sabar dong, gue juga mau kesitu kali bukain pintu”.
            Aku bergegas berjalan dan semakin dekat dengan pintu, perasaanku sangat kesal sekali dan sangat ingin memaki orang yang telah mengetuk pintu rumah berkali-kali. Aku meraih kunci rumah yang ada diatas meja, aku memasukannya ke lubang kunci dan segera membuka pintu, setelah pintu terbuka lebar, mataku langsung terbuka lebar, aku berteriak “aaaaaaaaaaaaargggggggggggghhhhhhhhhhh” dan segera menutup kembali pintu rumah.
            Jantungku berdegup sangat kencang sekali, perasaanku menjadi tidak menentu, aku merasa tidak percaya dengan apa yang aku lihat barusan, aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah aku ini masih bermimpi. Dan orang itupun kembali mengetuk pintu dan memanggil namaku. Aku menghela nafas panjang dan kembali membukakan pintu.
            Aku tersenyum kaku, ketika aku memandangnya, dan dia tersenyum sangat manis kepadaku. Dalam hati aku berkata : “Oh Tuhaaaaaaaaan,, aku beneran gak mimpi kan liat dia ada disini dan senyum sama aku,,, tapi aku malu, penampilanku hancur seperti ini”. Tiba-tiba dia memanggil namaku lagi. Aku pun tersadar dari lamunanku, betapa malunya aku dihadapan dia, rasanya aku seperti seorang cewek bodoh yang berdiri mematung dengan pakaian piyama dan rambut yang berantakan. Aku bingung dengan perasaanku sendiri, disatu sisi aku senang tapi disisi lain aku sangat malu dan sekarang perasaan kesalku telah menghilang.
            Dia tersenyum dan berkata padaku : “Gilang, kamu mau kan nemenin aku sarapan pagi?”
            Mataku dengan seketika menjadi berbinar-binar, rasanya aku sangat tidak percaya dengan apa yang sedang aku alami, perasaanku sangat bahagia, aku seperti mendapatkan sebuah sayap untuk terbang mengelilingi bumi ini, hatiku sangat berbunga-bunga, betapa tidak, pagi ini cowok yang dari dulu selalu aku impi-impikan, cowok yang selalu hadir di setiap mimpiku, cowok yang membuat tidurku tak nyenyak dan makanku tak berselera, pagi ini mengajakku untuk sarapan, rasanya sungguh luar biasa, aku sangat bahagia sekali walaupun sedikit malu dengan penampilanku pagi itu yang baru saja bangun tidur dengan rambut yang masih berantakan. Aku segera tersenyum manis dan menjawab iya, kemudian aku berlari ke dalam rumah dan berteriak sekencang-kencangnya agar semua orang tahu betapa bahagianya aku pagi itu.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)