Tugas Keempat Kisah Pertama dan Kedua dengan peraturan yang sudah ditentukan

Tolong Dengar Aku, Ayah

            Seorang pria paruh baya sedang berjalan lamat-lamat. Sore itu sangat cerah tapi baginya sore itu terlihat sangat mendung dan mencekam. Hatinya remuk redam, bahkan terasa hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kecil yang terbang disapu angin. Dia tidak pernah menyangka ini akan terjadi dihidupnya untuk kedua kalinya. Rasa perih yang sangat mendalam itukembali muncul dibenaknya, mengusik kehidupannya yang sedang berjalan baik-baik saja. Ia tidak pernah mengerti dosa besar apa yang pernah dilakukannya hingga Tuhan memperlakukannya seperti ini.
      Dia merasa menyesal atas sikapnya yang kasar dan tidak peduli terhadap putra kandung satu-satunya. Harta berharga yang pernah dia miliki tapi selalu tidak dipedulikan olehnya. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kalinya berbicara secara baik-baik  dengan Handi, putra semata wayangnya dengan almarhumah ibu Jelita. Sepeninggal isterinya empat tahun yang lalu, dia berubah menjadi sosok ayah yang arogan, keras, pemarah dan tidak peduli dengan kehidupan anaknya yang telah beranjak dewasa.
         Kakinya sangat terasa lelah sekali. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Dia memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon yang cukup rindang, merasakan semilir angina sejuk yang menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Sekilas dia seperti melihat bayangan Handi muncul dihadapannya sambil tersenyum lebar.
           Seketika dia teringat dengan kejadian 2 tahun yang lalu ketika Handi mencoba meyakinkannya atas apa yang telah anaknya pilih untuk masa depannya.
            “Ayah, tolong yah.. ayah dengar dulu penjelasan Handi” kata Handi yang berusaha menjajari langkah ayahnya yang sedang hilir mudik mencari sepatu kesayangannya.
            “Penjelasan apa lagi?” Tanya Pak Toni dengan nada ketus
           “Handi sangat suka dengan dunia musik, ayah… tolong yah, Handi mohon ijinkan Handi tetap bermain musik dan berkarya dengan teman-teman Handi” pinta Handi lirih
           Dengan seketika raut muka Pak Toni berubah mengkerut, dia sangat tidak setuju dengan hobby anaknya yang berlebihan terhadap musik. Dia menatap anaknya itu dengan tajam. Handi merasakan hal yang tidak enak akan terjadi.
            “Kamu, tahu berapa lama ayah berjuang keras dari titik nol hingga sukses sekarang ini? Dan apa kamu tahu pengorbanan apa saja yang telah ayah lakukan demi mencapai kesuksesan ini? Kamu juga harus tahu betapa sulitnya ayah mempertahankan semua ini, apalagi sepeninggal ibumu, wanita yang paling ayah cintai seumur hidup ayah, ayah bekerja keras membanting tulang hanya untuk memenuhi segala kebutuhan kamu, agar kamu tidak pernah merasakan kekurangan seperti hidup ayah dulu, hanya karena mimpi-mimpi semu seperti yang kamu bangga-banggakan selama ini”
          “Ayah, Handi sangat mengerti ayah berjuang sangat keras demi memenuhi segala keinginan Handi, tapi Handi mohon yah, jangan larang Handi untuk berhenti berkarya di dunia yang sangat Handi  cintai”
           “Kamu belum mengerti apa-apa tentang sulitnya bertahan hidup, Handi. Persaingan kehidupan sangat keras, hanya orang kuat yang akan mampu terus bertahan menghadapinya”
         “Ayah,, tolong yah,, Handi sangat suka dengan yang satu ini,, ijinkan Handi untuk berhenti kuliah” pinta Handi
        “Prak” Pak Toni menjatuhkan piring makan kesayangannya yang tertata rapi dimeja untuk melampiaskan rasa kekesalannya. Tangannya mengepal dan batinnya terasa tercabik-cabik oleh perkataan anaknya sendiri. Pak Toni kembali memandangi wajah Handi. Handi menunduk, dia mengetahui kalau ayahnya mulai geram dengan permintaannya untuk berhenti kuliah di jurusan manajemen dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk berkarya di blantika musik tanah air.
            “Kamu sadar dengan apa yang kamu bilang barusan!” bentak pak Toni
          “Kamu itu anak yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung. Tidak bersyukur dengan apa yang bisa kamu dapatkan lebih dari yang bisa oranglain dapatkan tanpa harus bersusah payah, ayah tidak pernah meminta balasan dari kamu, yang ayah ingin kamu menuntaskan kuliah kamu sampai beres dan menggantikan posisi ayah diperusahaan , ayah ingin kamu yang mengurus dan meneruskan semua perusahaan yang kita miliki, ayah sudah terlalu tua dan lemah untuk menangani semua perusahaan-perusahaan keluarga kita sendirian” kata Pak Toni lagi
         “Bukannya Handi tidak bersyukur, yah.. tapi Handi hanya ingin mengikuti kata hati Handi, Handi ingin melakukan hal yang Handi sukai, bukan hal yang terpaksa Handi sukai, termasuk kuliah di jurusan Manajemen Bisnis, yah”
            “Terus mau kamu apa?” Tanya pak Toni dengan nada yang meruncing
        “Aku ingin menjadi musisi, yah,, melahirkan banyak karya yang akan mengempur blantika musik Indonesia, yah” jawab Handi mantap
           “Musisi itu bukan jaminan yang bagus untuk hidup kamu, memang banyak musisi-musisi muda sekarang ini yang sukses, tapi itu bukan jaminan kalau hidup kamu juga akan sama seperti mereka” tegas Pak Toni
           “Handi mohon, ayah” pinta Handi dengan sorot mata yang menunjukkan kesungguhan hatinya atas pilihannya dan memohon agar sang ayah mengijinkannya.
          “Asal kamu tahu hidup ayah hampir hancur akibat mimpi-mimpi untuk menjadi seorang musisi yang hebat, jangan sampai kamu menyesal nantinya”
     “Pandangan ayah itu salah besar, yah.. menjadi seorang musisi terkenal adalah menjadi kebahagiaan sendiri bagi setiap orang, meskipun uang yang mereka dapat kadang tidak sepadan dengan kerja keras mereka”
            “Lantas kenapa kamu masih mau menjadi musisi?”
            “Karna hati, yah.. hati gak bisa bohong untuk bilang tidak,”
            “Apa kamu yakin bisa hidup dengan uang yang tidak seberapa?”
            “Handi sangat yakin yah, pilihan Handi ini tidak akan salah”
     “Ayah sudah terlambat ke kantor, Kamu harus tetap kuliah sampai tuntas dan lupakan angan-angan mu itu, menjadi musisi bukan hal yang bagus” kata Pak Toni sembari bergegas menuju mobilnya untuk segera sampai dikantor.
            Pagi itu pun berlalu. Dan pagi berubah menjadi siang. Handi sejak tadi sibuk mengemasi barang-barang yang akan dia perlukan dan mengemas pakai-pakaiannya ke dalam koper yang besar. Tekadnya untuk menjadi seorang musisi sudah sangat bulat, siapapun tidak boleh menghalanginya termasuk sang ayah. Laki-laki yang selalu dia banggakan dan amat dia cintai. Handi tak bermaksud melawan, dia hanya ingin menunjukkan kepada ayahnya, kalau dia bisa sukses menjadi seorang musisi diusinya yang baru 19 tahun.
            Hari ini pak Toni sengaja pulang lebih awal dari kantornya.  Dia ingin makan siang bersama anaknya yang sudah tumbuh dewasa. Wajahnya berseri dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sang anak semata wayangnya. Betapa kagetnya pak Toni ketika dia melihat Handi berdiri didepan pintu dengan tas koper besar disampingnya, dia segera menghampiri sang ayah yang baru keluar dari mobilnya dan dia mencoba memasang wajah ramah. Karena seberapa kerasnya pun sang ayah, dia tahu itu semata-mata demi kehidupannya.
            “Mau kemana kamu?” Tanya pak Toni sembari menunjuk koper besar milik Handi
         “Mengikuti kata hati untuk menggapai semua impian saya, yah” kata Handi dengan nada ringan
            “Maksud kamu apa?”
            “Seperti yang sudah Handi ungkapkan tadi pagi kepada ayah”
        “Apa kamu sudah tidak mempunyai akal sehat? Apa kamu sudah tidak bisa berfikir secara logika dan secara jernih, apa kamu tidak sadar dengan apa yang kamu pilih,, ini benar-benar buruk”
            “Handi Cuma ingin Ayah tahu kalau pandangan ayah tentang musisi selama ini adalah salah, Rumah ini memang bagaikan istana, yah, apa yang Handi mau dan apa yang Handi inginkan pasti akan dengan mudah bisa terwujud. Tapi Handi merasa terkurung disini, yah.. hidup Handi rasanya kosong tak berisi apapun, Handi Cuma ingin ayah setuju dengan keputusan Handi untuk berhenti kuliah dan mewujudkan cita-cita Handi sebagai seorang musisi”
            “Otak kamu dimana, Handi? Kamu sudah tidak waras dengan pilihan kamu”
            “Handi minta maaf karena telah mengecewakan ayah, Handi minta maaf karena Handi tidak bisa memenuhi permintaan ayah, Handi pamit, yah.. Handi akan mencoba belajar mandiri hingga suatu hari nanti terkenal sebagai musisi hebat dan diakui oleh dunia”
            Handi melangkahkan kakinya menuju pintu keluar tanpa keraguan apapun.
            “Kamu yakin keluar dari rumah ini?” teriak Pak Toni
            Handi berhenti sejenak kemudian membalikkan badannya agar bisa melihat sang ayah, lelaki yang dia kagumi, dia cintai, dan dia banggakan.
            “Handi yakin, yah.. Handi akan buktikan kepada ayah kalau Handi bisa sukses”
          “Ok, silahkan, tapi yang perlu kamu ingat, jika kamu angkat kaki dari rumah ini, ayah tidak akan menerimamu kembali dengan alasan apapun”
            Handi hanya tersenyum dan segera meneruskan langkah kakinya. Satu bulan kemudian sejak kejadian itu, tiba-tiba hal yang sangat tidak diduga-duga, dan tak terbayangkan sebelumnya , ketika pak Toni menghentikan laju kendaraannya yang diberhentikan lampu merah. Dia melihat ke sisi kanan jendela, tepat dibawah jembatan flyover itu ada sosok yang rasanya sangat dia kenali. Dia sangat yakin dengan penglihatannya kalau dia adalah Handi, anaknya.
          Pak Toni turun dari mobilnya dan segera menghampiri Handi. Handi sangat kaget dengan kedatangan ayahnya ditempat itu.
            “Ini yang kamu bilang sukss?” Tanya pak Toni
          “Semua harus berawal dulu dari hal yang kecil, yah… dan dari hal kecil itulah muncul kemauan dan semangat yang sangat besar”
            “Mau berapa lama kamu bertahan menjadi gembel dijalanan seperti ini?”
            “Sampai aku bisa membuktikan kepada ayah kalau aku bisa sukses dengan caraku sendiri, dan membuat ayah bangga kepada saya”
            “Sudah saya bilang kan, kamu itu jangan terlalu berambisi dengan mimpimu untuk menjadi seorang musisi terkenal.
            “Tolong, yah.. tinggalkan aku sendiri dan jangan mengusik kehidupan baru aku yah,  aku pasti akan menemui ayah setelah aku sukses nanti.
            Pak Toni segera kembali masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pulang. Rangkaian video yang tersimpan rapi diotaknya. Semuanya buyar karena pengemis yang sejak tadi memohon agar diberikan uang untuk membeli makanan bagi kedua anaknya. Pak Toni memandangi pengemis tua itu dan satu anaknya dia gendong dan satu lagi memegang erat gagang pintu.
       Pak Toni mulai meneteskan airmatanya, dia tidak bisa menahan kepedihan yang sangat mendalam dan mendasar bahkan menancap dihatinya.
            “Pak,, tolong kami, kata pengemis tua itu”
            Pak Toni masih terdiam dan kepalanya dipenuhi bayangan anak dan isterinya.
            “Bu, laper bu… Icha laper” teriak anak kecil dari pengemis tua itu.
        “Sabar ya, nak..kamu harus kuat, sebentar lagi kita akan makan makanan yang lezat” balas pengemis tua itu kepada anaknya.
          Pak Toni mulai meneteskan airmatanya lagi, rasa pilu sangat mengikat kuat dan menyebar cepat ke  seluruh tubuhnya. Lalu dia tersadar dari lamunannya dan segera merogoh saku celananya untuk mengambil dompet dan memberikan sejumlah ulang kepada pengemis itu, agar kedua anaknya bisa makan. Pengemis itu mengucapkan terimakasih banyak kepada pak Toni.
         Pemikiran pak Toni melayang kembali kepada kenangan tentang Handi, yang begitu cepat meninggalkannya tanpa berkata apapun. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang selalu egois dan tidak ingin mendengarkan pendapat apapun tentang dirinya. Langit yang tadinya cerah dengan sektika berubah gelap, tertutup awan hitam; suara petir sangat mengeleggar, petanda hujan badai akan turun untuk menemi hatinya yang sedang kalang kabut. Pak toni pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Setibanya dirumah dia segera membuka  amplop yang sudah dikirimkan seminggu yang lalu dari Handi, yang belum sempat dia buka. Perlahan dia membuka amplop itu, isinya adalah surat dan cek honor dia sebagai musisi yang bisa dibilang cukup sukses.
            Perasaan haru menyeruak keluar dari tubuhnya, pak Toni menyesal karena tidak mempercayai mimpi-mimpi anaknya,  dan tidak memperdulikan nasib putra semata wayangnya hingga hal yang sangat buruk harus terjadi. Isi surat Handi sangat menyentuh hatinya dan mengalirkan kehangatan bagi si pembaca.
      “Ayah, dengarkan aku… sekeras-kerasnya dirimu, aku tahu engkau masih memiliki sisi kelembutan yang bahkan lebih lembut dari ibu, bagiku ayah adalah orangtua yang  sempurna, orang tua yang selalu ingin anaknya bahagia. Orangtua yang sangat ingin melindungi anaknya, orangtua yang sangat ingin melihat anaknya bahagia. Aku merasa sangat berdosa telah memarahi ayah secara tidak sengaja, membuat ayah kecewa dengan pilihan jalan hidupku yang arahnya masih tak menentu. Aku tahu ayah ingin memberikan yang terbaik untuk aku. Maafkan aku yang selalu melawanmu, selalu sibuk dengan kegiatanku hingga ayah marah besar. Dulu aku bilang kalau aku bisa sukses sebagai musisi terkenal di tanah air, dari sabang sampai merauke. Memiliki penghasilan yang cukup lumayan bahkan menurutku bukan lumayan lagi tapi sangat mengejutkan. Kini aku membuktikannya lewat lembaran cek itu, ayah… terimakasih ayah karena selama ini engkau selalu berusaha menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk aku, tolong dengarkan aku ayah,, aku sangat mencintaimu, sama halnya ssperti aku mencintai almarhumah ibu.
            Surat itu pun terlepas dari tangan pak Toni. Dia terduduk lemas setelah membaca surat dari anak semata wayangnya itu yang kini telah tiada dan berada ditempat yang berbeda sangat tenor. Pak Toni merasa mendengar lagu kesukaan Handi yang terdengar sayup-sayup.
Pak Toni benar-benar merasa hancur dan menyesal telah menelantarkan anak semata wayangnya, hanya karna keegoisan dan kearoganannya.
            Keesokan harinya mata pak toni terlihat sayup, kantung matanya besar dan menghitam, itu diakibatkan oleh pikirannya yang tidak tenang juga rasa bersalah yang begitu besar terhadap anak laki-laki satu-satunya. Dengan wajah lesu, dia mencoba menikmati sarapan paginya, semua makan yang masuk ke tenggorokannya terasa hambar. Dia seperti melihat Handi tersenyum dihadapannya sembari bercerita tentang musik, keinginannya untuk terjun kedunia musik memang besar, tapi pak toni tidak pernah berkomentar apapun.
            Pekerjaan Pak Toni dikantor menjadi sangat berantakan.  Dia tidak bisa Fokus dengan hal yang sedang dikerjakannya., Hari itu Pak Toni pulang lebih awal, dia mengendarai mobilnya menuju ke tempat peristirahatan terakhir bagi semua umat manusia.dia membawakan satu bucket bunga dan bunganya adalah bunga melati, bunga kesukaan Handi. Pak Toni terduduk lemas disamping pusara Handi. Tangannya mengelus-elus batu nisan bertulisan nama Handi Purnama. Pak Toni menaburkan kembali bunga-bunga diatas pusara Handi. Pikirannya menerawang jauh ke depan,, segala penyesalan menyelimuti dirinya, dadanya serasa sesak karena dipenuhi rasa penyesalan. Kalau saja dia tidak egois pada Handi, pasti tidak akan begini jadinya.
       Masih terngiang ditelinganya ketika Handi memanggilnya dan meminta agar pak Toni mendengarkannya bicara, masih terlukis jelas raut wajah dengan rona bahagia yang tidak pernah diubah oleh Handi sekecewa apapun dia. Beberapa hari sebelum dia menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya, setelah lega bisa melihat sang ayah menjemputnya dirumah sakit walau hanya sekejap tapi Handi merasa cukup dengan bisa melihat sang ayah sebelum dia pergi untuk selama-lamanya dari dunia yang fana ini.
            “Tolong dengarkan Handi, Ayah, Handi ingin ayah datang diacara launching album band Hadi besok malam,, karena tanpa ayah, aku bukan apa-apa dan aku bukan siapa-siapa, ayah” pinta Handi yang waktu itu menemui ayahnya dikantor , 5 hari sebelum konser perdana dan launching album dari bandnya diadakan.
           Pak Toni hanya terdiam, tubuhnya terasa kaku dan bibirnya terasa kelu, tak mau mengeluarkan kata-kata yang sewajarnya. Handi menatap ayahnya dengan sangat lekat.
            “Tolong dengarkan aku, ayah dengarkan aku bernyanyi, dengarkan karya-karya yang selama ini aku buat, mungkin ini permintaan aku yang terakhir untuk ayah, aku tidak akan meminta dan menuntut macam-macam lagi dari ayah. Aku sangat menyayangi ayah sama halnya dengan aku menyayangi almarhumah Ibu”
            Lagi-lagi keadaan hening ketika Handi selesai berbicara dan memohon kepada ayahnya agar datang dan melihat penampilannya.
        “Sekali lagi Handi mohon, Tolong dengarkan aku, ayah.. aku hanya ingin orang yang aku sayangi, orang yang aku hormati, dan satu-satunya orangtua yang masih aku miliki, laki-laki hebat yang berdiri dihadapanku, yang berusaha dengan keras demi menghidupi keluarganya agar berkecukupan bahkan lebih dari cukup” kata Handi lagi
         “Kamu kan sudah sukses dengan jalanmu sendiri dan jerih payah kamu sendiri, kamu telah berhasil dengan ujian hidup kamu,, sekalipun ayah tidak menyukai bidang yang kamu tekuni, tapi ayah sangat bangga pada putra ayah satu-satunya, yaitu kamu Handi, semoga karirmy semakin meroket dan selalu cemerlang” kata Pak Toni dengan tulus menyatakan itu dari dalam lubuk hatinya.
            “Jadi ayah mau, datang kan?” Tanya Handi yang seperti mendapat pompaan semangat baru, matanya berbinar-binar layaknya anak kecil yang diberi hadiah oleh orangtuanya.
            “Akan ayah usahakan, tapi ayah tidak janji karena ada meeting bersama perusahaan pak Budi “
            “Terimakasih banyak ayah,  walaupun waktu ayah tidak banyak, tapi pasti dengan kehadiran ayah disana, aku akan lebih bersemangat lagi” kata Handi yang kemudian pergi meninggalkan ayahnya yang masih banyak pekerjaan diperusahaan miliknya sendiri
            Pak Toni melirik tiket konser yang diletakkan Handi dimeja, khusus untuk ayahnya tercinta. “Kamu berhasil menunjukkan kalau kamu bisa sukses meraih Impianmu, nak.. ayah bangga.. bahkan sangat bangga sama kamu, ibumu juga pasti akan turut bangga dengan keberhasilan yang kamu raih sendiri, lewat kaki dan tangan kamu”. Airmata mulai merembes dipipinya, mengalir secara tiba-tiba, pak Toni sangat terharu dan tergugah dengan kesungguhan putra semata wayangnya. 
          Dengan langkah mantap dan ringan Handi merasa bebannya terlepas dan hilang seketika setelah iya berhasil mengutarakan semuanya pada sang ayah, terlebih lagi ayahnya akan berusaha untuk meluangkan sebentar waktunya dan melihat dia tampil.
            Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, Handi mulai merasa gundah dan resah karena waktunya 10 menit lagi sebelum dia dan kawan-kawannya meluncurkan album perdana mereka dan bernyanyi untuk para hadirin yang datang diacaranya kali ini.
            “Ayah, ayah dimana?” teriaknya dalam hati
            Ditempat lain pak Toni juga sedang gelisah. Meetingnya juga belum usai, sesekali dia melirik jam tangan peraknya dan menghitung waktu yang tersisa untuk datang melihat anaknya. Dan pada akhirnya Handi harus menelan pahit itu dalam-dalam. Sang ayah tidak datang sesuai janjinya. Perasaan kecewa sangat membekas dihatinya. Batinnya bergolak “Ayah, aku hanya minta satu menit saja, untuk ayah melihat aku, bagiku itu sudah cukup, tapi ayah mengingkari janji ayah, aku kecewa pada ayah, tapi aku tetap tidak bisa membenci ayah, walaupun ayah selalu menentang apa yang aku pilih didalam hidupku”. Gumamnya dalam hati.
            Beberapa saat setelah bandnya tampil dihadapan berjuta penonton dan para pendukungnya, tiba-tiba tubuh Handi roboh, dia tersungkur ke lantai. Personil lain sontak kaget dan segera mengambil tindakan agar nyawa Handi bisa terselamatkan. Tapi Tuhan berkehendak lain, dan mempunyai rencana yang lebih indah untuk Handi. Detik-detik menjelang kepergian Handi untuk selama-lamanya mulai terasa. Semakin dekat. Handi semakin susah mengatur nafasnya, sedari tadi dia terus berkata “ ayah”. Akhirnya orang yang ia nanti-nantikan datang melihatnya, dan saat itulah Handi dengan tenang menghembuskan nafas terakhirnya, pergi ke kehidupan yang sesungguhnya, menghilanh dari dunia yang sangat fana ini.
            Pak Toni menggeserkan badannya dan semakin dekat dengan batu nisan Handi, dia berdo’a dengan khusyu dan memohon kepada Tuhan agar selalu melindungi anaknya dialam sana. “Semoga kamu bisa bertemu mama mu, nak,, sampaikan salam ayah kepadanya, dan permintaan maaf ayah yang sebesar-besarnya karena ayah telah gagal menjaga supermannya.” Ayah pasti akan sangat merindukkan sosok ceria kamu dan kegigihan kamu untuk berjuang dalam kehidupan yang keras ini dan pada akhirnya kamu berhasil, nak.. hanya saja, waktu untuk kamu menikmatinya sangat singkat, hanya dalam hitungan menit kamu melepaskan semua yang kamu bangun dengan susah payah dari nol besar hingga melahirkan karya-karya yang sangat indah” bisik ayahnya didalam hati.
            Pak Toni hanya bisa meratapi apa yang telah terjadi dan menjadikan itu sebagai pelajaran berharga dihidupnya agar dia lebih menghargai orang-orang yang ia sayang dan lebih meluangkan waktu lagi untuk orang-orang terkasihnya. Pak Toni merasakan kakinya sungguh berat untuk meninggalkan Handi sendirian disana. Tapi apa hendak dikata, ‘Nasi telah menjadi bubur’ ungkapan yang tepat bagi dirinya yang tak bisa mengembalikan waktu serta mengembalikan Handi untuk berada disampingnya. Dengan berat hati sekali lagi dia meninggalkan pusara sang buah hati tercinta, sampai saat ini hidupnya penuh penyesalan dan dia merasa telah mengecewakan almarhumah isterinya yang menitipkan putra mereka satu-satunya untuk ia jaga, tapi dia lalai dan akhirnya harus merelakan kembali kepergian orang yang dia kasihi.

Sepotong Hati yang Kembali
            Seorang gadis bernama Chacha sedang duduk sendiri di café dikawasan Dago, Bandung. Sesekali dia melirik jam tangan berwarna ungu kesayangannya. Degup jantung berdetak semakin kencang, perasaannya mulai tak menentu sejak satu jam lalu. Perasaannya kali ini sangat mirip dengan perasaan yang dia rasakan saat pertama kalinya iya merasakan jatuh hati pada kakak kelasnya yang bernama Chicko. Perasaan yang muncul sejak pertama kali mereka bertemu di masa orientasi siswa baru, dan Chicko berperan sebagai pendamping kelompok Chacha dan teman-teman barunya yang lain. Kini tak terasa sudah hampir bertahun-tahun mereka menjalani hubungan jarak jauh, terpisah jarak, ruang dan waktu.
            Meskipun begitu mereka tetap setia menjaga hati pasangannya. Chacha sangat percaya kepada Chicko, begitupun sebaliknya, Chacha mencoba menyibukkan diri dengan membaca daftar menu. Dia berusaha menyembunyikan perasaan gundahnya. Chacha terperanjat ketika melihat orang yang paling spesial itu muncul dihadapannya dengan senyum yang sama seperti dulu, saat mereka mulai merajut asa, mengecap pahit manisnya asmara.
            “Hai, Emon…” Sapa Chicko sembari mengelus-ngelus rambut orang yang dia sayangi
       Chacha tersenyum simpul, dan merasakan kehangatan dari jemari Chicko di setiap helai rambutnya dan menyusup masuk ke dalam lubuk hatinya.
            “Hai, Toto” balas Chacha
        Emon dan Toto adalah panggilan sayang Chacha dan Chicko, Emon di ambil dari kata Doraemon. Tokoh kartun favorit chacha sejak dulu. Sedangkan Toto diambil dari kata Naruto, tokoh kartun kesukaan Chicko. Sejak kelas 2 SMA, mereka harus menerima kenyataan terburuk, yaitu terpisah Benua tempat mereka tinggal. Chicko harus mengikuti keluarganya yang pindah ke Australia. Sejak saat itulah mereka belum pernah bertemu lagi secara langsung. Hanya Telpon, Facebook, Twitter, YM, Google+ yang mereka gunakan untuk saling berkomunikasi setiap harinya, itupun kalau Chicko memiliki waktu luang ditengah kesibukkannya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk menyusun skripsinya. Barulah pada libur semester kali ini Chicko diijinkan untuk berlibur ke Indonesia. Dan kesempatan ini Chicko manfaatkan untuk bertemu sang pujaan hati yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun.
            “Long time no see Toto, sekarang Toto tambah tinggi, kelihatan dewasa juga dan..” Chacha tak meneruskan kata-katanya.
            “Dan apa hayoo?” goda Chicko
            Chacha hanya terdiam, mata, hati dan pikirannya sedang terfokus kepada Chicko yang kini duduk dihadapannya. Chicko meraih kedua tangan Chacha, kemudian mencium tangan Chacha dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Chacha hanya termangu dan tetap menatap Chicko dengan kedua matanya.
            “Gak ada yang berubah,kan Sayang?” Tanya Chicko lirih
            “Tentu saja ada” gumam Chacha
        Chicko sangat kaget mendengar jawaban Chacha, rasa bimbang menyelimuti perasaannya. Berjuta pertanyaan mulai muncul dibenak Chicko. “Apa yang berubah? Apa perasaan kamu sama aku berubah? Apa ada yang membuatmu jatuh hati lagi? Apa posisi aku dihati kamu akan tergeser? Kenapa kamu lakuin ini semua sama aku?”. Chicko mulai menatap Chacha dengan pandangan tajam. Sorot matanya ingin mengatakan sesuatu.
            “Kok mandanginnya gitu? Kenapa? Aku cantik ya?” Goda Chacha sambil tertawa geli
            Chicko tidak menjawab pertanyaan usil Chacha. Dia tetap fokus memandang wajah Chacha. Kemudian dia melepaskan genggaman tangannya yang tadi mengenggam kedua tangan Chacha
            “Toto.. are you ok?”
         “Aku gak nyangka, kalau semua pengorbanan aku, kesetiaan aku, kepercayaan yang aku berikan sama kamu, dan ketulusan dari hati aku buat kamu, juga kerinduan yang aku pendam bertahun-tahun harus sirna begitu saja dengan penghianatan kamu” gumam Chicko
           Betapa kagetnya Chacha mendengar ucapan Chicko yang menyudutkannya dan menuduh yang tidak-tidak terhadapnya, apalagi memvonisnya sebagai seorang penghianat. Hati Chacha yang tadi bagaikan langit cerah berwarna biru yang sejuk dipandang tanpa ada penghalang apapun, kini tiba-tiba berubah mendung, ditutupi awan-awan hitam, ditemani petir yang mengeleggar dan siap menurunkan hujan dengan deras.
            “Maksud kamu apa?”
           “Kita udah sama-sama dewasa, pasti kamu bisa mencerna maksud kata-kata yang aku berikan”
            “I don’t understand, Chicko” ucap Chacha lirih dan berusaha menahan airmatanya agar tidak jatuh
           “Rasanya percuma aku ngejalanin hubungan yang dipertahanin bertahun-tahun sama kamu, gak ada artinya dan gak ada gunanya, janji tinggal janji, semuanya omong kosong”
            “Coba kamu bayangin aku bela-belain dateng ke Bandung Cuma buat merasakan kepedihan hati atas luka yang kamu torehkan baru saja, aku menyesal telah menyayangi orang yang salah” tambah Chicko
            “Aku bener-bener gak ngerti apa yang kamu bicarakan, dan kenapa kamu terus bilang kalau aku nyakitin perasaan kamu, nyakitin hati kamu, ngehianatin kamu”
            “Mungkin dimata kamu aku masih anak kecil yang kekanak-kanakan, selalu merengek dan memohon kamu untuk pulang dan menemui aku, memohon agar kamu selalu ada disamping aku, menemani setiap langkah kakiku yang terasa hampa tanpa kehadiran kamu, aku selalu ingat dengan kata-kata kamu yang selalu membuatku terbang bebas ke angkasa, kata-kata kamu yang penuh ketulusan, kata-kata kamu yang selalu membuatku jatuh hati dan menyayangi kamu entah sampai kapan, mungkin sampai akhir hayatku nanti” ucap Chacha dengan mata berkaca-kaca
            Chicko tertawa samar “Sejak kapan kamu pinter bohongin orang dengan bersandiwara?” cela Chicko
            “Cukup Chicko, mau kamu apa?kamu berubah jadi orang asing yang tidak aku kenal”
            “Kamu yang berubah, kamu bilang semuanya udah gak sama lagi kayak dulu”
         “Semuanya emang gak sama lagi kayak dulu, kayak beberapa tahun yang lalu, karena semuanya telah berubah, Chicko.. tapi ada hal yang tak pernah berubah dan akan selalu sama sampai kapanpun itu, perasaan dan hati aku yang gak akan pernah berubah untuk kamu, hati aku selalu aku jaga untuk kamu, hanya kamu, gak ada yang lain. aku gak tahu itu sampai kapan, tapi hingga saat ini hati dan rasa sayang aku selalu untuk kamu, cinta pertama dan kalau boleh aku memohon kepada tuhan, aku ingin kamu jadi cinta terakhirku” kata Chacha yang sudah tidak kuasa menahan kepedihan hatinya, airmata mengalir deras dipipi Chacha, berjuta kerinduannya pada Chicko kini rasanya sirna dalam sekejap.
Chacha beranjak dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan Chicko. Chicko baru menyadari kalau apa yang dia pikirkan atas jawaban Chacha yang berkata Tentu saja ada itu adalah kesalahan besar yang sangat menyakiti perasaan Chacha. Chicko bangkit dari tempat duduknya, kemudian segera mengejar Chacha dan akhirnya berhasil meraih tangan Chacha. Chicko menarik tangan Chacha dan mendekap tubuh mungil Chacha didalam pelukannya. Chicko merangkul tubuh Chacha semakin erat, seolah berisyarat dia tidak ingin kehilangan orang yang sangat istimewa untuknya, penghuni dan pemilik hatinya.
Chacha masih menangis didalam pelukan Chicko, batinnya teralu perih dengan semua tuduhan Chicko terhadapnya. Badannya terasa sangat kaku, Chicko sangat merasa bersalah, dia mencoba menenangkan pujaan hatinya, Chicko mengelus-elus rambut Chacha yang sangat lembut seperti rambut bayi, kemudian sesekali menciumnya, Chicko menumpahkan segala kerinduan yang ia simpan bertahun-tahun.
“Maafin aku, Cha.. aku tahu aku salah, aku menuduh kamu melakukan hal yang tidak-tidak, hanya karna aku salah mencerna jawaban kamu” bisik Chicko
Isak tangis Chacha mulai mereda, matanya terlihat sayup, Chicko kemudian mengecup kening Chacha dengan lembut dan penuh ketulusan. Chicko melepaskan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Chacha dan memandang lurus ke arah Chacha. Mereka saling bertatapan. Chicko mengajak Chacha ke tempat duduk mereka yang semula. Chacha pun duduk dan kini Chicko beralih tempat duduk ke samping Chacha. Chacha merasa mulai lelah. Dia menyandarkan kepalanya dibahu Chicko.
“Begitu lama aku berharap, begitu lama aku memohon kepada Tuhan agar kamu datang untuk menemuiku, selalu ada disampingku selamanya.. aku hampir putus asa ketika kamu menghilang beberapa minggu di jejaring sosial, tanpa kabar apapun, hatiku rasanya hancur berkeping-keping menjadi butiran debu yang siap tersapu oleh angin dan menghilang diudara” ucap Chacha pelan
“Maafin aku, Emon.. aku minta maaf karna sudah membuat kamu lelah berharap dengan semua janji-janji aku,, Aku saaaaaaaaaayaaaaaaaaaaaang banget sama Emon”
“Hampir setiap pulang sekolah, pulang kuliah, weekend, aku pasti kesini cuma buat kamu… Lebih tepat bayangan kamu yang setidaknya bisa membuatku tersenyum dan membayangkan kamu memang ada disampingku dan tersenyum bahagia”
“Sekali lagi aku minta maaf, baru kali ini aku bisa nepatin janji aku sama kamu, maafin aku Emon” Chicko mengecup kening Chacha dengan penuh perasaan dan kelembutan, juga ketulusan
Chacha mulai menitikkan airmatnya lai. Betapa tidak, sekarang orang yang sangat iya sayangi dan sangat ia rindukan selama bertahun-tahun kini benar-benar nyata hadir dihadapannya dan memberikan warna baru bagi kehidupan nyatanya. Selama ini Chacha merasa kalau Chicko hanyalah pangeran negri dongengnya yang susah untuk ia sentuh dengan jemarinya. Chicko menghapus airmata yang jatuh dipipi Chacha dengan kedua tangannya. Dia mengelus-ngelus rambut Chacha dengan hati-hati dan penuh perasaan.
“Inget gak waktu pertama kali kita ketemu dan disaat itu juga cinta hadir diantara kita” bisik Chicko didekat telinga Chacha
Mulai terlihat senyum simpul dibibir Chacha, kepalanya mendongak ke arah Chicko.
“Kamu masih anak ABG,, rambut kamu dikuncir 5,  dipakein pita warna warni, kalung bawang putih sama cabe merah, topi dari  batok kelapa yang dicat pink, sepatu beda warna, tas dari karung terigu dan name tag berukuran lumayan besar tergantung didada dengan nama ‘Siput’” tutur Chicko yang memutar kembali moment pertemuan pertama mereka dan disanalah cinta mulai bersemi.
“Dan Toto disuruh menghukum aku waktu aku kelamaan ijin ke toilet,, Toto nyuruh Emon buat push up, tapi Toto tidak tega terus ngeganti hukumannya sama ngelukis muka aku pake Spidol sampe kayak kucing terus nyuruh aku nyanyi sama joget didepan temen-temen dan kakak-kakak panitia ospek lainnya”.
Mereka berdua pun tersenyum, Chicko segera meraih tangan kanan Chacha dan memegangnya dengan erat. Jantung Chacha berdetak semakin kencang, dia tidak dapat melukiskan kebahagiaannya saat ini. Mereka seperti ada digedung bioskop dan siap untuk memutar film momen-momen indah mereka bertahun-tahun yang lalu.
“Dari mana aja, kamu?” bentak Chicko
“Sa… saya dari toilet, kak” balas Chacha terbata-bata
“Kayaknya besok-besok kamu mesti bawa toilet kemana-mana biar gak lama” tambah panitia yang lain
“Ngapain aja di toilet?dandan kamu? Ngerasa paling cantik? Mau jadi model disini?” bentak Chicko lagi
“Nggak, kak” balas Chacha dengan penuh ketakutan
“Nama kamu sesuai ya sama orangnya, sama-sama lelet!”
“Push up 3 seri kamu!” perintah Chicko
Chacha sudah bersiap dalam posisi push up, tapi tiba-tiba Chicko merasa kasihan kepadanya bila harus melakukan push up, akhirnya Chicko berusaha memutar otaknya dan mencari alternative hukuman lain untuk Chacha.
“Eh, tunggu.. kalo hukumannya push up, kayaknya biasa aja.. gak aneh.. mendingan kamu sekarang berdiri, terus nyanyi potong bebek sambil bergaya kayak bebek!” perintah Chicko
Chacha berdiri ditengah lapangan dan bersiap menjalani hukumannya. Dia beberapa kali harus menelan ludah dan bersabar dengan tertawaan teman-teman serta kakak panitia lainnya.
“Cepetan woy!” teriak Chicko
“Potong bebek angsa, angsa dikuwali, nyonya minta dansa, dansa empat kali, sorong ke kiri, sorong ke kanan, lalala lala lala lala” sambil bergaya ala bebek.
Chicko berusaha menahan tawanya, dia tersenyum geli melihat Chacha menjalani hukumannya. Chacha pun kembali ke barisan. Pada saat itu adalah jam makan siang, para siswa baru diperintahkan untuk memakan bekal mereka. Chicko yang berperan sebagai ketua pelaksana memperhatikan semua siswa baru dengan seksama. Dan tanpa disengaja pandangannya terfokus ke satu kelompok, dimana ada bidadari pujaan hatinya. Chicko mulai merasakan hal yang telah lama ia kubur dalam-dalam, dan akhirnya harus mencuat kepermukaan, dia merasakan jatuh hati kepada adik kelas yang sedang dia ospek, yaitu Chacha.
“Gimana makannya?” Tanya Chicko kepada Chacha
“Enak, kak.. kakak mau?” Tanya Chacha dengan gugup
“Suapin dong kakaknya!” perintah Daniel yang berniat mengerjai Chicko karena Daniel merasa ada radar-radar tidak beres dari temannya itu.
Chicko dan Chacha mulai salah tingkah. Ternyata keduanya merasakan atmosfer yang sama yaitu jatuh hati. Chacha mengambil sedikit nasi dan lauknya dengan sendok lalu mengangkatnya dan mendekatkannya pada mulut Chicko. Dengan refleks Chicko membuka mulutnya. Satu sendok makanan pun berhasil mendarat dimulut Chicko.
“Ciyeeeeeeeeeee.. swit swit” goda panitia lainnya
Muka Chacha berubah bersemu merah padam. Badannya terasa panas dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Semua pandangan seolah tertuju kepadanya dan Chicko. Chacha mengakui kalau Chicko adalah seniornya yang paling tampan.
Dihari ketiga para siswa baru disuruh membuat surat cinta untuk kakak panitia yang paling mereka sukai. Dan bertumpuklah surat cinta untuk Chicko. Dan setiap panitia yang mendapatkan surat cinta dari adik-adik yang mereka ospek, mereka harus memilih salah satu suratnya. Dan hati Chicko memilih surat dari Chacha.
“Untuk kakak-kakak yang telah memilih surat pemberian dari adek-adeknya, silahkan membacakan isi suratnya” perintah Mitha selaku ketua bagian acara.
Satu persatu dari para panitia maju dan membacakan surat yang mereka pilih, dan tibalah Chicko yang maju ke depan.
Untuk kak Chicko
Senyummu sehangat Mentari pagi yang baru saja muncul untuk menyinari bumi
Kemarahanmu seperti wujud perhatianmu yang lebih kepadaku
Suaramu semerdu alunan musik klasik yang menenangkan hatiku
Berkatmu aku tidak takut menghadapi dunia
Berkatmu aku belajar tidak manja dan lebih dewasa lagi
            Dan aku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya,, aku jatuh hati padamu, pangeranku..
                                                                                    Dari : Chacha Agustine
            Muka Chacha berubah menjadi sangat merah, dia bagaikan tomat yang baru saja matang dari pohonnya, dia merasakan malu yang luar biasa ketika sang pujaan hati membacakan suratnya. Rasanya Chacha ingin menggali tanah sangat dalam dan ingin bersembunyi dilubang itu. Semua orang menertawakannya. Chacha pun akhirnya berlari menuju ke arah toilet untuk menenangkan dirinya, Chicko yang melihat itupun segera mengejarnya. Chicko berhasil meraih tangan Chacha dan menariknya hingga tubuh Chacha kini berada dalam pelukannya. Detak jantung keduanya kini berdetak semakin cepat. Mata Chacha terpejam dan tanpa disadari Chicko mencium kening Chacha.
            “Maafin aku, karna sudah lancang” ucap Chicko sembari melepaskan pelukannya
        “Aku yang seharusnya minta maaf, kak.. karena sudah lancang membuat surat cinta untuk kakak”
            “Kamu gak salah,, itu kan memang ditugaskan oleh panitia” balas Chicko
            Chacha hanya terdiam dan pipinya masih terlihat merah, karena malu.
            “Mending sekarang kamu kembali ke kelompok kamu” perintah Chicko
           Chacha pun mengangguk dan segera kembali ke barisan kelompoknya. Chacha dan Chicko tidak akan pernah bisa melupakan kejadian yang secara spontan terjadi baru saja. Keesokan harinya adalah hari terakhir ospek, dan pada acara puncak masa orientasi siswa baru, Chicko merencanakan akan menyatakan perasaannya kepada Chacha. Chicko merancang semuanya bersama panitia lainnya.
         Semua panitia dan peserta malam itu berkumpul di aula sekolah, dan para siswa baru dinyatakan lulus ospek. Setelah pengumuman itu Chicko segera mengambil posisi duduk dihadapan piano. Dengan jemarinya, dia segera memainkan sebuah lagu dari band J-Rocks yaitu Fallin in love sembari menyanyi. Semua perhatian tersedot oleh permainan dan suara Chicko yang sangat mengagumkan.
            Riuh tepuk tangan diberikan oleh semua yang hadir di sana untuk Chicko, tapi yang tak bisa dipercayai adalah ketika Chicko berkata : “lagu tadi saya persembahkan untuk pujaan hati saya, bidadari mungil yang memiliki magnet luarbiasa sehingga hati saya memutuskan untuk memilihnya, dia adalah Chacha Agustine”.
            Chacha merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari pengeras suara. Semua orang mengalihkan pandangan mereka kepada Chacha. Chacha menjadi salah tingkah, mukanya bersemu merah dan jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Chicko berjalan menghampirinya dan tepat dihadapannya Chicko jongkok dan membawakan setangkai bunga mawar putih juga boneka Doraemon. Tokoh Kartun favorit Chacha.
            “Maukah kamu menerima saya sebagai pasangan hati kamu?”
            Chacha menarik nafas panjang. Dia mempertimbangkan jawaban yang akan dia berikan kepada Chicko. Chicko menunggu jawaban dari bibir Chacha dengan perasaan was-was, begitupun anak-anak lainnya yang tak sabar dengan jawaban yang akan diberikan oleh Chacha. Sungguh tak ada satupun orang yang akan menyangka kalau Chacha menganggukan kepalanya tanda bahwa dia menerima Chicko sebagai pemilik hatinya. Senyuman bahagia terpancar dari wajah keduanya.
            Setelah hampir menjalin kisah asmara selama 4 bulan lamanya, kenyataan pahit harus dihadapi keduanya. Chicko harus pindah mengikuti kedua orangtuanya ke Australia dan dengan berat hati harus meninggalkan Chacha yang sangat disayanginya. Sebelum kepergiannya menuju ke pesawat yang akan membawanya terbang jauh dari samping Chacha, Chicko memeluk pujaan hatinya dengan sangat erat dan sesekali mencium keningnya. Chicko menghapus airmata yang jatuh dipipi Chacha dengan kedua tangannya. Sungguh Chicko sebenarnya sangat merasa keberatan dengan keadaan itu. Chacha merasa separuh jiwanya pergi dan sepotong hatinya lenyap. Tapi Chicko berjanji akan tetap setia kepada satu nama dan satu hati yaitu Chacha, begitupun Chacha.
            Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun hubungan mereka tetap berjalan meskipun terpisah jarak, ruang dan waktu. Chicko selalu berjanji untuk datang ke Bandung setiap libur semesternya tapi semua itu hanya janji yang selalu berakhir dengan pahit karena pada akhirnya Chicko tidak bisa menepatinya dengan berbagai alasan.
            Dan hari inilah ujung dari semua pengorbanannya selama bertahun-tahun yang tetap setia mengharapkan Chicko untuk datang menemuinya. Api asmara yang mulai redup kini kembali berkobar, Chacha merasakan separuh jiwanya kembali dan sepotong hati yang lenyap itu kembali muncul dan bersatu kembali dengan hatinya yang tertinggal separuh lagi.
            Pagi-pagi sekali Chacha berangkat dari rumahnya untuk menuju ke café tempat favorit mereka dulu. Mengharapkan kehadiran Chicko secepatnya dengan sejuta perasaan yang terpendam untuknya. Dimeja yang sama dan dengan perasaan yang sama, Chacha merasa semangatnya terpacu lagi.. hingga kini dia bisa bersandar dibahu orang yang sangat dia sayangi.
            “Jangan pergi lagi, untuk ninggalin aku, ya?” pinta Chacha
            “Hanya butuh waktu 2 bulan lagi, Emon.. kita pasti akan selalu bersama didalam suka dan suka tanpa terpisahkan oleh apapun lagi” ucap Chicko pelan
            “Kamu mau ninggalin aku lagi?” Tanya Chacha
            “Ini Cuma sementara sampai skripsi aku disidangkan dan aku wisuda” gumam Chicko
            “Aku baru saja merasakan sepotong hatiku kembali tapi aku kemudian harus merelakkannya pergi jauh lagi dariku?” Tanya Chacha
            “Jarak sejauh apapun tak akan pernah mengubah rasa sayang aku sama kamu”
            “Aku tahu dan percaya itu, Toto.. tapi aku tidak mau merasakan kesepian dan kepedihan lagi tanpa ada kamu disamping aku” Chacha mulai terisak
            “Ini gak akan seperti bertahun-tahun yang lalu , sayang… Emon harus percaya sama Toto.. Toto gak akan ingkar janji lagi sama Emon” Chicko mencoba menenangkan Chacha.
            Tiba-tiba Chacha memeluk tubuh Chicko dengan sangat erat dan menangis dipelukan Chicko lagi. Dia menumpahkan segala kerinduan yang sudah bertahun-tahun dia pendam. Kerinduan yang memenuhi semua ruang kosong dihidupnya hingga ia sulit bernafas dengan bebas. Chicko pun membalas pelukan Chacha,  dia juga menumpahkan semua kerinduan yang tersimpan sejak bertahun-tahun yang lalu.
            “Sampai kapanpun perasaan ini akan tetap sama, Emon.. hati ini udah aku kunci untuk kamu dan hanya bisa terbuka oleh kamu” bisik Chicko
            “Aku percaya Toto,, aku sayang banget sama Toto.. aku akan kembali merelakan Toto pergi dan setia sampai Toto kembali kesini, ke tempat ini”
          “Makasih banyak Emon,, hati aku memang tak salah telah memilih kamu sebagai penghuninya, You  the most perpect girl form me”
            “Sepotong hati yang kamu bilang itu sebentar lagi akan utuh dan tak akan terpisahkan oleh apapun itu” gumam Chicko
            “I believe it, Toto”
            “Ya.. You must believe it, Emon” balas Chicko
         Beberapa hari kemudian masa berlibur Chicko di Bandung telah habis. Dia harus kembali terbang ke negeri kangguru itu untuk menyelesaikan kuliahnya. Dan Chacha harus kembali menyelami kesendiriannya tanpa Chicko, meskipun begitu dia berjanji akan setia hingga Chicko kembali menemuinya ditempat yang sama dengan perasaan yang sama beberapa hari yang lalu. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi, saling mengerti satu sama lain, kisah asmara yang meledak-ledak akan tetapi selalu abadi selamanya. Hingga potongan hati mereka bersatu kembali.
 


Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)