Tugas Keenam (Revisi kisah Ranto Ranti) dengan tempat yang sudah di setting sesuai peraturan

            Sejak Bubar sekolah tadi siang Ranti dan Ranto hanya diam membisu seribu bahasa ketika tiba dikantin sekolah dan duduk berhadapan sejak 15 menit yang tadi. Kantin sekolah sudah sangat sepi, tidak ada satupun orang disana, semuanya hening dan hanya ada semilir angin yang berhembus menembus langsung ke ulu hati mereka dan menemani mereka berdua dalam kesunyian dikantin sekolah.
            “Ehm…” Ranto berdehem.
            Ranti memandang ke arah Ranto.
            “Gimana kabar kamu, To?” Tanya Ranti lirih dan kembali memalingkan mukanya.
            “Baik, aku baik-baik saja, kamu gimana? Udah lama gak ketemu ya, eh kemarin mau ketemu kan gak jadi gara-gara hujan” Ranto berusaha tersenyum.
            “Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, aku juga ya seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, gak kenapa-napa” kata Ranti.
            “Mmmm, maaf kemarin aku sudah pulang duluan ketika kamu belum dating, karena hujannya sangat lebat sekali, jadi ibu dan bapak menyuruhku untuk segera pulang” kata Ranti lagi dan memberikan senyuman yang tipis.
            “Iya gak papa kok, aku juga kemarin dateng tapi terlambat, terus pas kamu ngasih tahu kalau kamu pulang, aku langsung kembali ke kost aku”
            “Berarti gak masalah, kan?” Tanya Ranti pelan.
            “Nggak kok, tenang aja kali” kata Ranto berusaha tertawa, tapi tetap saja Ranti merasakan ada yang lain dari Ranto, begitupun Ranto juga merasakan hal yang sebaliknya.
            “Eh, apa yang mau kamu omongin kemarin?” kata Ranto.
            “Ehm, kamu duluan aja deh, kan kemarin kamu bilang kamu juga mau bilang sesuatu yang penting sama aku?” Ranti bertanya balik.
            “gimana kalau kamu aja?” pinta Ranto.
            “Cowok duluan dong” pinta Ranti.
            Ranto dan Ranti terdiam dan suasana kantin siang itu sepi kembali. Ranto dan Ranti sama-sama sedang mengumpulkan kekuatan serta keberaniannya masing-masing untuk mengungkapkan tujuan mereka bertemu yang kemarin sempat terhambat.
            Detik demi detik, menit demi menit berlalu begitu saja dengan suasana sepi tanpa suara apapun.
            “Udah lama ya, kita nggak kayak gini?”Tanya Ranto yang berusaha mencairkan suasana.
            “I..iya” kata Ranti terbata.
            “Ranto?” panggil Ranti
            “Iya”
            “Aku boleh jujur, ngga?” Tanya Ranti lagi.
            “Boleh dong, ayo bicara aja” kata Ranto yang semakin kaku.
            “Tapi kamu gak akan marah dan benci aku, kan?” Tanya Ranti yang meragu.
            “Nggak lah, ayo ngomong aja” pinta Ranto
            “Kamu aja deh yang duluan” Ranti meragu jika dia harus berkata itu pada Ranto.
            “Kenapa?” Tanya Ranto yang kini mengerutkan keningnya.
            “Gak papa” balas Ranti lirih, bahkan hampir tidak terdengar.
            Suasana seketika sepi kembali. Ranti mengalihkan pandangannya ke  arah lain sementara Ranto menatap Ranti dengan seksama. Mata Ranti mulai berkaca-kaca, dia sesekali menghapus butiran airmata yang jatuh dipipinya dengan kedua tangannya.
            “Kamu kenapa, Ti?” Tanya Ranto heran.
            “Gak,, gak papa kok” kata Ranti terbata-bata
            “Kalau kamu punya unek-unek, ayo bicara aja langsung, jangan dipendam-pendam” pinta Ranto.
            Ranti terdiam dan memejamkan matanya sejenak, menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan agar dia bisa tenang. Ranto pun melakukan hal yang sama, mereka berdua merasakan ini akan menjadi hal terberat dan tersulit untuk kisah asmara mereka yan sudah terjalin selama 2 tahun.
            “Ehm, aku denger-denger kamu jadi panitia ospek ya? Asyik dong bisa ngecengin anak baru yang cantik-cantik, terus bisa dapet pacar baru deh” Ranti berusaha tersenyum dan menjadikan dirinya serileks mungkin.
            “Maksud kamu apa,Ti?”
            “Ya gak papa, Cuma bercanda kok, tapi kalau beneran juga gak papa” kata Ranti lirih.
            “Sumpah aku gak ngerti maksud pembicaraan kamu, Ti”
            “Gak usah pura-pura gak ngerti, To,, kamu pasti ngerti maksud aku!” seru Ranti.
            “Aku jadi panitia ospek bukan karna aku mau ngecengin anak baru, tapi karna aku ingin ikut berpartisipasi mendidik mereka” balas Ranto yang berusaha menahan emosinya.
            “Ups, maaf kalo aku nuduh kamu melakukan hal yang tidak-tidak” balas Ranti menyesal.
            “Kamu kenapa sih? Kamu gak percaya sama aku? Kamu gak percaya kalau akan bakalan tetep setia sama kamu?” Tanya Ranto dengan nada yang sedikit keras serta tegas.
            “A.. aku percaya kok sama kamu, percaya banget, aku yakin kamu gak akan nyakitin aku kayak cowok-cowok lain yang pernah aku temui.. tapi…” Ranti tidak meneruskan perkataannya.
            “Tapi apa?” Tanya Ranto heran.
            Ranti belum menjawab pertanyaan Ranto, didalam hatinya dia bekata : “Tapi kita gak mungkin terus bersama To, aku sayang kamu, aku sebenarnya tidak ingin kehilangan kamu, tapi sebentar lagi kita lulus dan aku akan kuliah diluar negeri, selain itu orang tuaku..”. Ranto menepuk pundak Ranti dan itu membuat semua kata-kata yang dia susun didalam hati tercerai berai kembali.
            “Kok aku nanya bukannya dijawab, malah kamu ngelamun” protes Ranto
            “Emang tadi kamu Tanya apa?” Ranti balik bertanya.
            “Tadi kamu bilang tapi di pembicaraan kamu dan aku Tanya, tapi apa terusannya?”
            “Ehm,, tapi apa ya aku lupa” balas Ranti sembari tersenyum yang dipaksakan.
            “Aku denger-denger setelah lulus kamu mau kuliah di Amsterdam?” Ranto memastikan.
            “Iya, soalnya Bapak sama Ibu juga punya usaha baru disana” tutur Ranti yang mulai lemas dan merasa tidak akan sanggup untuk mengatakan “KITA PUTUS” 2 kata yang sangat sulit untuk diungkapkan kepada Ranto.
            “Asyik dong ya? Ke luar negeri terus ketemu cowok-cowok bule yang cakep-cakep gitu, terus kamu bisa milih mana yang bisa dijadiin pacar, apalagi pasti mereka anak orang kaya semua, sesuai harapan keluarga kamu” pendapat Ranto secara spontan.
            “Hahahaha” Ranti berusaha tertawa
            “Kamu ini ada-ada aja To, gak mungkin lah, buat aku kamu yang terbaik” kata Ranti
            “Kamu juga, Ti,, kamu yang terbaik buat aku, kamu yang selalu ada disamping aku gak peduli saat aku senang, sedih atau terpuruk sekalipun”
            Didalam hatinya Ranto berkata : “Kamu terbaik buat aku selama ini, Ti, tapi mungkin aka nada yang lebih baik dari aku yang diciptakan Tuhan untuk kamu, untuk selalu menjaga dan mendampingi kamu sampai akhir sisa hidup kamu nanti, dan itu bukan aku, maafin aku, mungkin ini akan jadi pertemuan dan perbincangan terakhir kita,, aku harap kamu ngerti, aku ingin KITA PUTUS, maafin aku Ti, aku..”
            “Ranto” panggil Ranti yang melihat kalau Ranto sedang memikirkan sesuatu hingga melamun.
            “Iya, Ti kenapa?” Ranto balik bertanya.
            “Harusnya aku yang nanya kenapa.. kenapa kamu melamun begitu? Ada masalah apa? Ayo cerita?” pinta Ranti
            “Gak papa kok, aku gak ada masalah apapun, tadi gak sengaja melamun saja” Ranto berkelit.
            Mereka terdiam lagi dan saling menyusun kata-kata terbaik dikepalanya masing-masing, Ranti dan Ranto saling merangkai kata demi kata menjadi kalimat-kalimat yang sebenarnya mau di susun sebagus apapun itu akan tetap menyakitkan hati mereka sendiri,
            “Aku” kata mereka secara bersamaan dan saling memandang.
            “Kamu duluan aja deh yang ngomong” kata Ranti.
            “mmm, kamu aja Ti yang duluan, kan ladies first” kata Ranto
            “Kamu aja To, aku nanti saja”
            “Lebih baik kamu duluan deh, aku pengen tahu apa yang mau kamu bicarain sama aku kemarin ditaman” pinta Ranto
            “Kamu aja dulu, To, aku yang ingin mendengar hal penting apa yang mau kamu sampaikan kepada aku kemarin, aku penasaran banget, To, kamu duluan aja ya” pinta Ranti dengan wajah yang memohon.
            Suasana kembali sepi tanpa suara mereka.
            “Eh, denger-denger band kamu itu udah mau rekaman ya?” Tanya Ranti yang berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang.s
            “Iya, Alhamdulillah, kebetulan kemarin kita lulus seleksi terus produsernya langsung nawarin buat rekaman” tutur Ranto.
            “Wah hebat banget ya, bisa kayak gitu, selamat ya, To” Ranti berdecak kagum kemudian menyalami Ranto sebagai ucapan selamat.
            “Ah biasa aja kali, Ti, baru juga mau rekaman, itu artinya belum usai perjalanan band aku, masih panjang, masih harus bersaing dengan band-band lain baik yang sama seperti kita band pendatang baru ataupun band yang sudah sangat terkenal di Indonesia”
            “Menurut aku ini luar biasa, buat ukuran Band anak SMA” kata Ranti.
            “Iya semoga saja ke depannya makin berkembang aja sih kalau harapan aku dan teman-teman” balas Ranto.
            “Iya Amiin, aku do’ain kamu dan band kamu sukses dan popular di Tanah Air bahkan kalau bisa sampai ke Belanda” kata Ranti lirih.
            “Amin, makasih yan Ti”
            Ranti membalasnya dengan senyuman, kini mulutnya terasa sangat kelu, dan susah mengeluarkan kata-kata lagi, dia sangat bimbang dan bingung untuk memutuskan hubungannya dengan Ranto.
            “Kalau kamu sukses, pasti banyak cewek-cewek yang nempel gitu deh, secara kamu kan vokalisnya dengan gaya yang lumayan dan wajah juga lumayan, susah deh nanti kalo aku pengen ketemu kamu diruang lingkup publik” kata Ranti yang berusaha mencairkan suasana terlebih dahulu sebelum menuju ke intinya.
            Ranto tertawa kecil: “hahaha kamu bisa aja Ti, kamu cemburu ya, kalau aku dikejar-kejar sama cewek-cewek ABG yang lebih cantik?” goda Ranto
            “Nggak, aku nggak cemburu” balas Ranti dengan muka yang mulai memerah.
            “Tenang aja, mau sebanyak apapun, hati aku tetep Cuma buat satu nama dan satu orang yang kini ada dihadapan aku, yaitu Ranti Aprilia Wijaya” kata Ranto, kemudian didalam hatinya “Iya, sampai kapanpun hati aku tetep buat kamu, Ti, sejauh manapun jarak memisahkan kita berdua, dan sekalipun hari ini kita akan berpisah tanpa bisa bersama dan bertemu lagi, aku akan tetap memegang teguh prinsip dan janji aku buat kamu, kalau hati ini tetap buat kamu dan milik kamu, gak aka nada yang bisa menggeser posisi kamu dihatiku, Ranti”
            “Waw, gombal sekali ini Ranto Rahardian” cela Ranti.
            “Ini serius, Ti, bukan gombalan” balas Ranto.
            Ranti terdiam, mendadak tubuhnya terasa panas seperti terbakar api yang membara, meluluh lantahkan semua didinding yang dia bangun untuk berusah berhenti mencintai Ranto.
            “Tapi sepertinya kata-kata itu akan terhapus setelah hari ini, To, bahkan mungkin hati kamu juga akan retak, hancur tak bersisa dan sampai nama aku tidak akan lagi mengisi ruang hati dan pikiran kamu, semuanya akan segera berubah setelah hari ini” Kata Ranti secara spontan mengeluarkan apa yang ingin dia sampaikan.
            “Kok kamu bilangnya gitu, Ti?” Tanya Ranto heran
            “Jujur, To aku berat sekali untuk mengatakan hal ini sama kamu, padahal kemarin, aku bersyukur karena kita nggak jadi ketemu, tapi tetap saja kan, ditebus dengan hari ini, aku nggak tahu apa jadinya aku dan kamu nanti, apa jadinya setelah hari ini dan mungkin aja kamu akan sangat membenci aku, bahkan seumur hidup kamu, To” Ranti mencoba menahan bendungan airmatanya agar tidak jatuh.
            “Maksud kamu apa, Ti? Ayo bicara yang jelas, jangan bikin aku bingung kayak gini?” pinta Ranto.
            “Aku nggak tahu harus mulai dari mana To, aku nggak tahu apakah aku masih sanggup hidup tanpa kamu setelah hari ini, dan apakah aku masih sanggup menyapa kamu setiap hari saat kita bertemu disekolah, aku.. aku bingung To, aku juga nggak ngerti aku mau bicara apa lagi dan ngejelasin apa lagi sama kamu,, aku..” Ranti mulai meneteskan airmatanya satu persatu dipipinya.
            “Ti, ayolah jangan nangis, aku bener-bener gak bisa kalo liat kamu nangis, Ti,, ayolah.. bicara secara perlahan saja” pinta Ranto yang sangat bingung harus berbuat apa, padahal dia belum mengatakan akan mengakhiri hubungannya, tapi Ranti malah bicara yang tertuju untuk memutuskan hubungan mereka.
            “Kamu tahu kan, sikap Bapak sama Ibu aku ke kamu? Kamu tahu kan aku akan pindah ke Amsterdam, kamu tahu kan seberapa jauhnya Belanda dan Indonesia?” Tanya Ranti sambil tersedu-sedu.
            “Aku tahu Ti, aku tahu, aku tahu Bapak dan Ibumu tidak pernah suka dengan hubungan kita, aku tahu karena aku bukan anak orang kaya seperti yang diharapkan bapak ibumu, dan aku Cuma anak Jakarta yang dipindahkan ke Yogyakarta untuk sementara waktu, dan aku Cuma anak band dengan penampilan urakan, aku sadar betul itu, Ti.. orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya” tutur Ranto yang berusaha tetap tegar serta tenang.
            “Aku tahu kamu mau pindah dan meneruskan kuliah di Belanda, aku tahu seberapa jauhnya itu, dan sekarang aku juga ngerti maksud pembicaraan kamu,, kamu ingin hubungan kita sampai disini aja, kan?iya kan?” Tanya Ranto yang berusaha memastikan kalau tebakannya betul.
            Ranti mengangguk Ragu  dan airmata yang mentes dipipinya semakin banyak.
            “Maafin aku, To, jujur ini sangat berat sekali untuk aku, tapi aku nggak punya pilihan lain, aku sebenarnya sangat berat untuk melepaskan kamu, aku sangat menyayangi kamu, mau seberapa buruk orang menilai kamu, buat aku kamu yang terbaik, kamu cowok yang selalu bisa diandalkan, kamu,, kamu orang yang sangat aku cintai setelah kedua orangtua aku, To,, tapi.. aku juga nggak mau egois, aku nggak mau kamu tersiksa karena kita harus LDR, terpisah jarak, ruang , waktu dan berbeda Benua” kata Ranti
            “Aku paham, Ti,aku sangat paham, kamu gak perlu nyalahin diri kamu sendiri, aku sangat mengerti perasaan kamu, terimakasih karena selama ini kamu sudah memberikan perubahan-perubahan yang positif untuk hidup aku, terimakasih telah menjadi inspirasi-inspirasi untuk lagu yang aku buat hingga kini aku dan band aku bisa rekaman, dan menggapai apa yang aku dan band aku harapkan, kamu sumber inspirasi untuk hidup aku, kamu adalah udara segar yang merasuki kehidupan aku yang sangat terpuruk sebelumnya, kamu memberikan semangat baru untuk hidup aku selama 2 tahun ini, kamu bagaikan bidadari yang dikirim Tuhan untuk menemani aku dan memberikan aku perubahan-perubahan untuk lebih baik lagi” kata Ranto
            “Keep smile, aku gak marah, aku gak benci sama kamu,, nama dan kenangan-kenangan indah tentang kamu akan tetap terlukis dan terukir baik di hati maupun dipikiran aku, Ti, meskipun kita sudah tidak bersama lagi” tambah Ranto.
            Ranti tertunduk dan menangis semakin keras.
            “Ayolah, jangan nangis,, kamu udah gede Ti, masa mau jadi mahasiswa masih nangis?” cela Ranto
            “Aku jahat banget sama kamu, To, aku mutusin kamu secara tiba-tiba gini, aku…” Ranti tak meneruskan perkataannya.
            “Bukan Cuma kamu yang jahat, tapi kita yang jahat, jujur sejujur jujurnya, kemarin dan pada akhirnya hari ini, aku juga mau membicarakan hal yang sama sama kamu, Ti.. kalau hubungan kita ini nggak bisa dilanjutin” kata Ranto
            Ranti mendongak ke arah Ranto, menatapnya dengan sendu.. kini airmatanya mulai mereda karena dia sangat terkejut mendengar penuturan dari Ranto.
            “Maksud ka.. kamu?” kata Ranti terbata-bata.
            “Ya, sama seperti yang kamu bicarakan, aku ingin hubungan kita dicukupkan sampai disini, hari ini.. karena..” Ranto belum meneruskan pembicaraannya.
            “Karena apa?”
            “Karena, gak mungkin hubungan ini terus berjalan kalau orangtua kamu nggak merestuinya, toh kalau jodoh kita pasti dipertemukan kembali di saat yang tidak bisa diduga-duga, iya kan?”
            Ranti hanya mengangguk tanpa bersuara dan berkomentar apapun.
            “Berat memang rasanya untuk melepaskan orang yang sangat kita cintai dan kita sayangi, tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita, Ti… setelah lulus nanti, aku akan segera pindah kembali dan bahkan menetap di Jakarta, aku akan fokus sama karir band aku, Ti, aku juga akan melanjutkan kuliah, sama seperti kamu.. dan peraturan di band aku, gak boleh ada yang pacaran dulu, maka dari itu dari kemarin aku mempersiapkan diri untuk mengatakan hal ini sama kamu, hal yang sama dengan apa yang ingin kamu sampaikan kepada ku, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, Ti,, maafin aku”
            “Aku nggak nyangka, To, kita akan mengutarakan hal yang sama” kata Ranti
            Ranto menyanyikan lagu perpisahan untuk Ranti, lagu dari Almarhum Chrisye yang berjudul, selamat jalan kekasih.
            “Selamat jalan ke kaaaaaasih,, kejarlah cita-cita,, jangan kau ragu tuk melangkah, suatu hari nanti kita kan bersama lagi, bersama lagi… kita berdua” “Kalau kita ditakdirkan berjodoh, kita pasti dipertemukan lagi oleh Tuhan, kamu harus percaya itu” tambah Ranto usai bernyanyi.
            “Iya, To,, aku percaya sama kata-kata kamu, aku Cuma bisa berharap kalau kita memang berjodoh dan ditakdirkan bersama oleh Tuhan suatu hari nanti” kata Ranti
            “Walaupun hubungan kita harus berakhir sampai disini saja, aku bahagia To, aku bahagia bisa bersama kamu selama 2 tahun, aku bahagia bisa mengenal kamu, aku bahagia sekali, meskipun sekarang aku bersedih, hati aku rasanya hancur berkeping-keping, To” tutur Ranti
            “Itu hal yang wajar kok, Ti.. bukan Cuma kamu yang sedih, bukan Cuma kamu yang kecewa, bukan Cuma perasaan kamu yang hancur berkeping-keping, aku juga merasakan hal yang sama Ti, sama seperti yang kamu rasakan, tapi kita harus belajar merelakan, mungkin Tuhan punya rencana lain dibalik perpisahan kita ini, walaupun nanti kita tidak berjodoh, itu semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan” kata Ranto bijak
            “Jadi intinya sekarang kita resmi pu.. putus?” Tanya Ranti ragu
            “Iya,, kita putus, hubungan kita berakhir sampai disini, maafin aku Ti, kalau aku sangat menyakiti perasaan kamu, maafin semua kesalahan aku selama ini terhadap kamu, aku sayang sekali sama kamu, aku yakin kamu bakalan nemuin yang lebih baik  dari aku bahkan lebih segala-galanya dari aku”
            “Aku juga minta maaf, To.. kamu boleh mencari pengganti aku”
            “Aku kan tadi udah bilang Ti, aku gak akan pacaran dulu, aku mau fokus kuliah dan menggapai sukses bareng band aku” kata Ranto sambil berusaha tersenyum.
            “Oh iya, ya aku lupa, To” balas Ranto yang tersenyum tipis.
            “Hahaha kamu ini ada-ada aja sih, Ti, dasar pelupa” kata Ranto sembari mengelus kepala Ranti.
            “Maaf, maaf, tapi kamu nggak benci aku kan, To?” Tanya Ranti sembari memandang Ranto.
            Ranto tersenyum dan kemudian mencium kening Ranti. Dan memeluk Ranti dengan erat, seolah mengatakan hal yang sesungguhnya kalau dia tidak ingin kehilangan cewek yang sangat ia cintai dan ia sayangi, cewek yang merubah hidupnya menjadi lebih terarah dan lebih baik lagi dari sebelumnya.
            “Nggak akan lah, Ti, aku nggak akan membenci kamu, bahkan aku nggak akan sanggup membenci kamu, apapun kesalahan kamu” bisik Ranto didekat telinga Ranti.
            “Makasih Ya, To, kamu udah ngertiin aku” kata Ranti yang juga membalas pelukan Ranto.
            “Sama-sama sayang” bisik Ranto dan mungkin itu adalah kata-kata sayang yang bisa dia ucapkan untuk terakhir kalinya sebelum mereka terpisah jauh.
            “Semoga suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi, ya” kata Ranti
            “Iya, semoga kita berjodoh” ucap Ranto
            “Jadi sekarang kita resmi putus?” Tanya Ranti
            “Iya, mulai sekarang kita sudah tidak ada ikatan apapun lagi, kita gak ada hubungan apa-apa lagi, makasih ya atas semua kenangan dan masa-masa indah selama 2 tahun ini, semoga kamu sukses dan sesuai dengan apa yang orang tua kamu harapkan selama ini, jadilah yang terbaik untuk mereka, dan bila suatu hari kamu menikah, kamu jangan lupa undang aku, ya?” kata Ranto
            “Iya, sama-sama Ranto, kamu juga ya jangan lupain aku dan jangan lupa kasih aku kabar kalau kamu sukses dan menemukan pendamping hidup yang sesuai sama kamu” balas Ranti sembari menangis.
            “Jangan nangis lagi, dong Ti.. aku berat kalo kayak gini, aku gak sampai hati kalo kamu nangis kayak gini”
            “Aku nangis karena aku lega, kita masih bisa begini, kita masih bisa bersahabat, kan?” Tanya Ranti
            “Iya lah Ti, kita masih bersahabat, jangan takut,, aku kamu dan cinta kita memang berakhir sampai disini, dan hari ini, tapi perasaan sayang dan cintai ini akan tetap melekat dihatiku selamanya” kata Ranto yang kemudian melepaskan pelukkannya lalu beranjak dari samping Ranti.
            “Aku pulang ya?” pinta Ranto yang jaraknya semakin jauh dari Ranti
            Ranti hanya mengangguk sambil menangis memandang Ranto semakin jauh dari sisinya, Ranto memandang Ranti sembari tersenyum,  dan kemudian menghilang dari hadapan Ranti.
            Ranti terisak dan menangis sejadi-jadinya, kini dia hanya ditemani keheningan dan kesunyian kantin siang itu, ya disana dia sendiri, melepaskan cinta yang selama ini melekat erat dihatinya. Pada akhirnya Ranti dan Ranto harus merelakan hubungan mereka berakhir sampai hari ini.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)