Tugas Kelima Kisah Ranti dan KIsah Ranto

Kisah Ranti

           Siang Ini begitu cerah dan indah, namun tidak semua orang sedang berada dalam rasa bahagia, seperti Ranti yang tiba ditaman 15 menit lebih awal dari kesepakatannya untuk bertemu Ranto, kekasihnya. Raut wajah Ranti terlihat sedang memikirkan sesuatu, sesekali dia menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya secara perlahan, dia mencoba menenangkan pikirannya dan mencoba bersikap tenang. Harusnya hari ini adalah hari bahagia untuk Ranti dan Ranto, karena pada hari ini, tanggal 4 Oktober 2012 adalah hari jadi mereka yang ke 4 tahun. Waktu yang sangat lama untuk sepasang kekasih mempertahankan hubungan mereka.
            Tapi dengan sangat berat hati, hari ini Ranti harus memutuskan hubungannya dengan Ranto, karena orangtua Ranti telah menjodohkan Ranti dengan seorang Dokter muda bernama Rino, orangtua Ranti tidak pernah setuju dengan hubungan Ranti dan Ranto yang dimulai ketika Ranti dan Ranto masuk kuliah dan kini mereka akan menghadapi moment yang sangat dinantikan yaitu, wisuda. Ranti dan Ranto memang sangat bertolak belakang dari segi kebiasaan dan sifat, Ranti cenderung terlihat sebagai wanita yang anggun, smart, memperhatikan kebersihan, dan rajin. Sementara Ranto bersifat urakan, apa adanya, jorok dan pemalas. Entah apa yang telah membuat mereka bersama untuk waktu yang cukup lama.
         Ranti benar-benar gelisah, dia takut menyakiti hati Ranto jika dia memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba tanpa ada angin ribut dan hujan badai. Tapi Ranti tidak memiliki pilihan lain, kedua orangtuannya terus mendesak agar Ranti segera  memutuskan hubungannya dengan Ranto. Ranti sangat gelisah, dia berdiri dari kursi taman yang tadi dia duduki, dia berjalan perlahan kemudian berjalan mondar mandir tanpa arah seperti setrikaan. Namun kemudian dia kembali duduk dikursi taman itu.
            Dia terlihat semakin gelisah dan memandangi jam tangannya berkali-kali, menghitung detik demi detik yang berlalu, detik yang menunjukkan sebentar lagi Ranto akan datang. Ranti membuka tasnya dan mengeluarkan dompet miliknya, dia kemudian mengeluarkan foto-fotonya yang masih bersama Ranto. Dipandanginya wajah Ranto di foto itu dengan lekat, hingga akhirnya tetes demi tetes airmata pun jatuh membasahi pipinya.
            “Mas Ranto, maafin aku.. ini bukan mauku, aku tidak bisa menolak perintah ibu dan bapak, walaupun aku sangat menyayangi kamu, tapi aku tidak mungkin melawan ibu dan bapak, aku tidak mau menjadi anak durhaka” ucap Ranti pelan
            Ranti tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Ranto, jika dia tahu kalau hari ini Ranti berniat memutuskan hubungan mereka dan akan membuat ini sebagai pertemuan terakhir mereka. Ranti mengalihkan pandangannya ke arah kumpulan bunga-bunga mawar yang menghiasi taman dan menyebarkan aroma harum yang sangat khas. Kemudian mawar itu dikerubungi oleh lebah-lebah dan kupu-kupu warna warni yang sangat cantik, terbang hilir mudik ke sana kemari. Burung-burung juga berterbangan secara berkelompok bahkan ada yang berpasang-pasangan membuat iri hati Ranti yang sedang bersiap-siap memutuskan hubungannya dengan Ranto.
            “Mas Ranto, aku ndak siap melihat raut kekecewaan dan kesedihan diwajah kamu” kata Ranti dalam hati dengan gaya bicara khas orang jawa tengahnya.
            “Gusti Alloh, aku berat sekali untuk memutuskan hubunganku dengan Mas Ranto, begitu banyak kenangan yang aku jalani bersama dia” ucapnya lagi didalam hati.
            “Mas,, sudah lama semenjak kita magang dan sibuk mengurusi skripsi masing-masing, kita belum pernah bertemu lagi, dan sekarang dipertemuan ini, aku akan menyakiti hati dan perasaanmu, aku tak tahu harus bagaimana, mas, ketika melihatmu nanti, aku tak tahu harus berkata apa, aku tak tahu mas,, aku bingung, aku sangat takut kehilanganmu, tapi aku juga,,” kata Ranti didalam hatinya.
            Hatinya semakin berkecamuk dan resah tak menentu, sesungguhnya Ranti sangat menyayangi Laki-laki yang bernama Ranto itu, namun bagaimanapun dia tidak akan bisa menentang kedua orangtuanya yang sangat dia sayangi dan hormati. Dari dulu kedua orangtua Ranti tidak pernah menyetujui hubungan mereka, karena penampilan Ranto yang urakan dan juga profesinya sebagai anak band yang berpenghasilan minim, kedua orangtua Ranti sangat khawatir anaknya akan terjemus dan berperilaku jelek seperti Ranto, tapi sampai saat ini Ranto tidak pernah memberikan pengaruh buruk terhadap Ranti. Pikiran Ranti melayang pada kejadian saat Ranto berkunjung pertama kali ke rumahnya dan dia memperkenalkan Ranto kepada kedua orangtuanya.
            Ranto bertopang kaki diatas meja tamu yang ada diluar rumah, sepatunya sangat kumal, karena jarang sekali dicuci. Rambutnya gondrong dan berwarna merah, kuku-kuku dijarinya dibiarkan memanjang dan tidak terawat. Sesekali dia menghisap rokok kesukaannya dan membiarkan asapnya mengepul ke segala arah.
            “Mas,, ojo ngono to sampean… engko bapak rak seneng periksane” kata Ranti
            Ranto hanya terdiam dan wajahnya terlihat kebingungan. Jelas saja Ranto baru beberapa bulan menginjakkan kakinya di Surabaya.
            “Kamu ngomong apa, Ti? Aku gak ngerti” kata Ranto
            “Astagfirulloh, maaf mas,, aku lali, kamu kan belum bisa bahasa Jawa” kata Ranti
            “Emang tadi apa artinya?” Tanya Ranto
            “Mas, kamu jangan begitu, nanti bapak nggak suka ngeliatnya”
            “Emang aku gimana?” Tanya Ranto yang memasang wajah polos
            “Itu” tunjuk Ranti yang tepat tertuju kepada kaki Ranto yang bertopang dan berada diatas meja.
            Mata Ranto mengikuti arah jari Ranti.
            “Why? Aku kan udah biasa kayak gini!” protes Ranto yang wajahnya mulai kecut.
            “Kalo diluar ya ora opo-opo, tapi kalo ketemu bapak sama ibu itu gak boleh gitu, namanya nggak sopan, bapak sama ibu aku pasti nggak suka ngeliatnya mas” tutur Ranti
            “Halah,, kau ini banyak sekali aturannya, ini gak boleh itu gak boleh, harus gini, harus gitu, blablabla,, pusing aku dengernya” balas Ranto denga muka kesalnya.
            Ranti hanya terdiam dan menunduk, berusaha menyembunyikan airmatanya yang siap berjatuhan seperti rintik hujan.
            “Okey, fine,, aku turuti lah kata-kata kamu, semua ini aku lakukan demi kamu” kata Ranto yang menyesal karena telah membuat Ranti tertunduk lesu dan sedih.
            Ranti mengangkat kepalanya dan mengubah matanya yang berkaca-kaca kedalam senyuman manis yang sangat lebar. Ketika Ranto berkata demikian dan menurunkan kakinya dari atas meja.
            “Tambah cantik ya pacarku ini kalau sudah tersenyum” puji Ranto
            Ranti tersipu malu, wajahnya mulai memerah dan terasa panas medengar pujian dari Ranto.
            “By the way.. ibu bapakmu kemana sih?” Tanya Ranto penasaran.
            “Ya seperti biasanya ibu ke toko batiknya, kalau bapak ya sibuk ketemu sama rekan-rekan kerjanya” Ranti mencoba menjelaskan secara detail kepada Ranto.
            Ranto hanya manggut-manggut, kemudian menghisap kembali rokoknya dan membiarkan asapnya mengepul ke segala arah. Ranti sebenarnya sangat benci dengan kebiasaan Ranto merokok, Ranti tidak pernah mempermasalahka Ranto seorang anak band dan penampilannya yang tidak karuan. Tapi Ranti tidak memiliki hak untuk melarang apa yang Ranto sukai, karena kebiasaa merokok bagi lelaki berusia 19 tahun mungkin bisa dianggap wajar. Walau sebenarnya rokok menimbulkan banyak penyakit dan membuat boros.
            “Ti, aku haus banget nih..” kata Ranto
            Ranti tersenyum “Walah, mas.. maaf yo.. aku lupa belum bikinin kamu minuman, kamu mau minum apa?”
            “Aku mau kopi susu aja.. kalo bisa sama makananya juga, ya” pinta Ranto sembari terkekeh-kekeh.
            “Kamu ini, nawar terus,, dikasih minum aja mestinya kamu bersyukur mas” balas Ranti yang kemudian berlalu menuju ke dapur dan membuatkan kopi susu serta membawakan beberapa camilan dan panganan buatan ibunya.
            Ranti kemudian meletakkan kopi susu dan camilan-camilan yang dia bawa diatas meja.
            “Aihh,, calon ibu rumah tangga yang baik ini sama calon suaminya” kata Ranto sembari mengambil lontong isi buatan ibunya, Ranti.
            Ranti tersipu malu kembali akibat perkataan Ranto.
            “Ah, mas ini bisa aja ngegombalnya” rajuk Ranti
            “Aku serius ini” kata Ranto dengan mulut yang terisi penuh dengan lontong isi sayur juga isi oncom.
        Ketika mereka sedang bersenda gurau, tiba-tiba ibu Tia ( ibunda Ranti) datang dan menghampiri mereka. Ibu Tia memandang Ranto dengan tatapan heran juga jijik melihat penampilan Ranto yang sangat urakan da nasal-asalan, apalagi ketika beliau memandang sepatu kotor milik Ranto, yang awalnya warna putih berubah menjadi cokelat pekat dan berbau sedikit busuk.
            “Assalamualiakum” kata ibu Tia
        “Waalaikum salam,, ibu” balas Ranti yang berdiri dari tempat duduknya dan segera menghampiri ibunya serta mencium tangannya.
            Sementara Ranto hanya acuh dan tersenyum kepada ibu Tia.
            “Mas,, sungkem sama ibu” pinta Ranti
            “Hah? Apa?” Tanya Ranto yang tidak mengerti maksud Ranti
            “Salaman sama ibu” pinta Ranti
        Ranto pun segera berdiri kemudian, mengelapkan tangannya ke celana jeansnya, karena tangannya kotor dengan bekas kue dan lontong, lalu setelah itu dia menuju ke arah ibu Tia dan mencoba meraih tangan ibu Tia, ketika dia akan mencium tangan ibu Tia, tiba-tiba ibu Tia menarik tangannya yang pegang Ranto, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Ranto terlihat sangat kebingungan ketika itu. Ranti menatap Ranto kemudian dia juga bergegas masuk untuk menyusul ibunya.
            Ranto kembali duduk dikursi tadi dan menikmati kopi susunya yang tinggal setengah lagi, Ranto Nampak tidak peduli dengan ekspresi ibu Tia yang mengacuhkannya dan memandangnya dengan jijik. Ibu Tia menghempaskan tubuhnya dikursi goyang kesayangannya, kemudian memejamkan matanya.
            “Ibu, kenapa ibu bersikap begitu kepada Ranto?” Tanya Ranti yang sekarang duduk di sebelah ibu Tia
            Ibu Tia membuka matanya kemudian melirik kepada Ranti, lalu kembali ke titik asal.
            “Ibu, Ranto itu pacarnya Ranti, Ranti sayang sama dia, dia baik bu,, kenapa ibu begitu?” Tanya Ranti
            “Anak yang tidak punya Totokromo begitu kamu bilang baik” balas ibu Tia pedas
            “Ranto benar-benar baik, bu… mungkin perilaku dan penampilannya memang jauh dari harapan ibu, tapi hatinya sangat baik bu.. hatinya sangat bersih” Ranti mencoba menjelaskan
            “Kamu berkata seperti itu karena kamu cinta kepada si Ranto, Ranto itu kan!” ucap ibu Tia, pelan.
            “Ranti berbicara apa adanya bu, Ranto memang sangat baik, bahkan Ranto selalu melindungi Ranti dari anak-anak kampus yang godain Ranti”
            “Kamu ki ayu nduk,, masa pacaran sama laki-laki nggak jelas juntrungannya seperti itu”
        “Siapa orangtuanya? Dari mana asalnya? Apa pekerjaan orangtuanya? Apa dia keturunan ningrat?” Tanya ibu Tia
       Ranti menarik nafas yang panjang sebelum menjawab pertanyaan dari ibunya. Lalu menenangkan hatinya.
            “Ayah Ranto dosen seni rupa di ITB bu, ibunya seorang perawat di Rumah Sakit Fatmawati, Ranto berasal dari Jakarta,, Ranto memang bukan keturunan ningrat, tapi Ranti sangat menyayangi dia, bu”
            “Pasti dia tidak sepintar ayah dan ibunya” kata ibu Tia
            “Kenapa ibu berkata seperti itu?” Tanya Ranti heran
            “Kalau dia pintar, sudah pasti dia akan berkuliah ditempat ayahnya bekerja,, bukan disini”
            “Ibu salah, Ranto anak yang cerdas, nilai-nilai mata kuliah dan ujiannya selalu bagus, bu” bela Ranti
            “Kenapa ibu tidak bisa bersikap baik kepada Ranto?” Tanya Ranti
            “Untuk apa besikap baik kepada anak yang tidak tahu diri, tidak punya tatakrama, urakan dan tidak jelas masa depannya begitu”
            “Ibu tidak setuju kamu berhubungan dengan dia, itu akan menimbulkan dampak buruk untuk kamu” kata ibu Tia lagi
            “Lebih baik kalian akhiri hubungan kalian” tambah ibu Tia
            “Ranti gak mau, bu”
            “Ayahmu juga sudah pasti tidak akan setuju, kita ini keluarga terpandang dan keturunan darah biru, Ranti, kamu harus memiliki calon suami yang jelas bibit, bobot dan bebetnya, bukan malah dengan laki-laki yang sama sekali tidak jelas masa depannya, bahkan mungkin masa depannya suram”
            “Ibu,, ibu tidak boleh menghakimi orang lain seperti ini, bu,, Allah bisa membuat apapun didunia ini berubah, termasuk Ranto. Semuanya hanya membutuhkan poses bu”
            Ranti kemudian meninggalkan ibunya dan segera menemui Ranto diluar. Sepertinya Ranto mendengar percakapan Ranti dengan ibunya yang membahas semua tentang dirinya.
            “Ibu mu nggak setuju ya sama hubunga kita?” Tanya Ranto
            Ranti sontak kaget dengan ucapan Ranto, dia berusaha tenang dan mulai memamerkan senyuman manisnya.
            “Nggak ko, siapa yang bilang? Ibu seneng kok ngeliat mas,, cuman ibu keliantannya lagi capek aja mas, banyak masalah ditoko sepertinya”
            “Nggak usah bohong Ranti, mas tahu kamu bohong”
            “Aku jujur mas, aku nggak bohong”
            “Aku sebaiknya pamit pulang saja, aku merasa tidak enak lama-lama dirumah kamu”
            “Mas marah, ya? Tanya Ranti
            Ranto menggeleng, lalu dia berpamitan pulang kepada Ranti, kini tubuhnya sudah menghilang dari hadapan Ranti.  Ranti sangat mengetahui kalau Ranto kecewa atas sikap ibunya tadi, tapi apa boleh buat ibu memang tak sepaham dengan Ranti dan tidak pernah memberikan kesempatan padanya.
            Tak terasa airmata mulai menetes dipipi Ranti, kemudian terdengar suara Guntur yang gemuruh serta terlihat kilauan petir yang seketika membuyarkan lamunan Ranti. Tanpa ia sadari kini langit berubah menjadi gelap, awan-awan hitam, menyelimuti langit yang tadi terlihat sangat cerah, sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan.
            Ranti segera melirik jam ditangannya, masih ada waktu 8 menit lagi sebelum Ranto datang menemuinya disana. Ranti memutar kembali otaknya dan memikirkan cara terbaik untuk memutuskan hubungannya dengan Ranto tanpa harus menyakiti perasaan Ranto.
            Ranti menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, sedikit demi sedikit. Setelah merasa cukup tenang, dia mulai berlatih mengucapkan kata demi kata yang dirangkai secara halus dan lembut agar tidak menyakiti perasaan Ranto.
            “Mas,,apa kabarmu? Lama ya kita tidak jumpa sejak kita masing-masing magang dan sibuk menyusun skripsi kita”
            “Alhamdulillah kalo kamu sehat dan baik-baik aja, Oh iya gimana magangnya? Seru?”
            “Wah.. syukur kalau begitu, magang aku ya gitu-gitu aja mas”
            “Emm… skripsinya lancar, kan?”
            “Alhamdulillah, jadi kita bisa wisuda sama-sama ya kalau begitu”
            “Ibu dan Bapakmu di Jakarta sehat?”
            “Syukurlah kalau Orangtuamu sehat, aku sangat lega mendengarnya, bapak ibuku juga sehat, usaha mereka semakin lancar.
            “Adikmu, Tiwi pasti sekarang sudah kelas 2 SMA ya?”
            “Pasti dia tambah Cantik dan tumbuh dewasa”
            “Bandmu gimana? Aku dengar kalian dapat tawaran rekaman dan bikin album?”
            “Wah, hebat dong ya,, sebentar lagi mas bakalan jadi artis Top Indonesia, pasti cewek-cewek pada ngedeketin mas,,nanti aku jadi susah kalo mau nemuin Ranto Adiwijaya”
            Ranti segera mengambil nafas dalam-dalam lagi lalu menghembuskannya secara perlahan-lahan.
            “Apa yang tadi aku katakana tidak terlalu bertele-tele?” Tanyanya sendiri kepada dirinya
            “Ya Allah, hamba bingung,, hamba sangat takut menyakiti hati Ranto, hamba Takut” ucap Ranti sembari menghapus airmatanya yang menetes.
            Dia melirik kembali jam tangannya, masih ada waktu enam menit lagi, dia mulai memikirkan kembali cara yang lebih halus untuk mengakhiri hubungannya dengan Ranto, Ranti sangat tidak ingin menyakiti hati Ranto.
            “Mas,, boleh aku jujur?”
            “Aku,, aku..”
            “Aku tidak tahu harus berkata apa, memulai darimana dan aku pasti tidak bisa memaafkan diriku sendiri, mas.. aku sangat menyayangi mas, tapi mas tahu sendiri kan, kedua orangtuaku tidak pernah menyetujui hubungan kita ini”
            “Aku bingung mas, mau menjelaskan apa kepada kamu, aku kehabisan kata-kata, mas”
            “Tapi mas janji tidak akan marah?”
            “Apa mas, siap?”
            “Aku takut mas marah, aku takut mas kecewa, aku takut mas kesel sama aku dan nggak mau kenal sama aku lagi”
            “Karena aku…”
            “Entahlah mas, aku bingung”
            “Aku takut menyakiti perasaan mas..”
            “Aku tidak yakin harus mengatakan ini semua, mas”
            “Kemarin malam,, keluarga Mas Rino datang ke rumah”
            “Mas Rino adalah anak dari direktur tempat ayahku bekerja, ibunya juga pembeli tetap toko batik milik ibu, sementara mas Rino adalah anak tunggal mereka dan sekarang berprofesi sebagai dokter, padahal usianya masih 22 tahun, sama seperti kita, tapi dulunya sewaktu SMP dan SMA mas Rino ikut jalur akselerasi, juga saat kuliah SKS yang diambilnya sangat banyak, jadi mas Rino udah 3 tahun lulus dan bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, kebetulan kemarin sedang liburan disini”
            “Aku tidak mencintai dia, mas.. aku juga tidak mengkhianati cinta mas,, hanya saja aku baru tahu kalau…”
            “kalau ibu dan bapak menjodohkan aku dengan mas Rino sejak kecil”
            “Aku tidak bohong mas, aku berkata yang sejujur-jujurnya”
            “Aku minta maaf, karena ini pasti menyakiti hati mas Ranto”
            “Aku sangat menyayangi mas, aku ingin menikah dan menjadi istri dari mas Ranto, tapi mungkin semuanya hanya ilusi mas, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak bisa menolak keinginan kedua orangtuaku, aku tidak ingin menentang mereka, mas.. aku harap mas mau mengerti”
            “Mas Ranto, gak benci aku, kan?”
            “Semoga mas Ranto sukses ya, mas.. semoga mas Ranto mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, dan kalau nanti mas menikah jangan lupa ngundang aku ya, mas”
            “Rasanya kata-kata yang aku susun dari kemarin masih kurang halus, aku sangat takut membayangkan ekspresi wajah mas Ranto, bagaimana ini?” kata Ranti dengan pelan, seperti saat tadi dia melatih kata-kata dan menyiapkan antisipasi jawaban dari semua jawaban dan pertanyaan yang kemungkinan akan terlontar dari mulut Ranto.
            Ranti kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan kotak  hadiah yang cukup besar tapi warnanya sedikit kumal, mungkin karena sudah terlalu lama ada digenggamannya. Kotak hadiah itu diberikan oleh Ranto, didalamnya terdapat semua hadiah yang pernah diberikan oleh Ranto, ada boneka panda kecil, kotak musik, kalung, jam tangan, gelang-gelang, foto-foto mereka berdua juga ada.
            Ranti memutar kotak musik itu hingga mengeluarkan bunyi merdu dan terlihat tarian dari boneka balet itu. Ranti meneteskan kembali airmatanya, semua kekuatan yang dia kumpulkan selama beberapa hari dan juga kata-kata yang telah dia susun dari kemarin-kemarin. Semuanya seolah lenyap, Ranti sangat merasakan kesedihan yang mendalam menjelang detik-detik perpisahannya dengan Ranto yang sebentar lagi akan terjadi.
            Terdengar lagi bunyi Guntur yang menandakan hujan akan segera turun, Ranti memandangi sekelilingnya yang kini mulai sunyi, semua orang pergi menuju ke tempat yang tidak akan terkena air hujan yang sebentar lagi akan turun untuk membasahi bumi. Ranti tetap stay dan setia menunggu kedatangan sang kekasih yang selalu setia menemaninya dalam suka dan duka selama beberapa tahun ini. Bukan perkara mudah bagi Ranti untuk menghapus semua memori indah yang dia lalui bersama Ranto, bukan hal yang mudah juga baginya untuk memutuskan hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun meskipun tanpa restu dari orangtuanya.
            “Mas,, aku tidak tahu harus berbuat apalagi, sekuat tenaga aku mempertahankan hubungan kita, tapi bapak dan ibu tidak pernah setuju, maafkan aku mas” ucapnya dalam hati
            Airmata itu pun menetes semakin deras, Ranti merasa jiwanya terbelah menjadi dua. Ranti merasa hatinya tercabik-cabik, dia harus membunuh rasa cintanya yang begitu besar terhadap Ranto, lalu harus bersanding dengan Rino, yang baru satu kali bertemu.
            “Kenapa ibu dan bapak harus memberiku pilihan yang sangat sulit seperti ini, apakah aku memang harus benar-benar merelakan cinta pertamaku pergi, cinta yang selama ini menghiasi kehidupanku, cinta yang selalu membuatku tertawa bahagia?”
            “Tuhan, walaupun mas Rinto perilaku dan penampilannya begitu, tapi yang aku tahu hatinya sangat baik, dia tidak pernah sekalipun menyakitiku apalagi sampa aku mengeluarkan airmata. Mas Rinto sangat mengerti sikap dan emosi jiwaku”
            Ranti kembali melihat jam tangan berwarna silver kesayangannya itu, sekarang tinggal 3 menit lagi dan Ranto pasti akan segera hadir dihadapannya, Ranti kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, dia berusaha tenang padahal jiwanya sangat tergoncang dan dia sangat gugup, dia takut tidak bisa mengatakan apapun kepada Ranto. Ranti berharap Ranto bisa menerima kenyataan berat ini dan berakhirnya hubungan yang mereka bina Selama bertahun-tahun.
            Detak jantung Ranti semakin kencang karena jam tangannya menunjukkan tinggal 3 menit lagi Ranto akan datang menghampirinya dengan senyuman khas yang selalu menghiasi wajahnya, sekalipun hatinya sedang bersedih. Itulah yang selalu membuat Ranti kagum kepada Ranto, betapapun jeleknya pandangan orang terhadap orang yang sangat dia kasihi.
            “Tenang Ranti tenang,, semuanya akan baik-baik saja,, santai, santai jangan gugup, jangan takut,, Ranto pasti akan mengerti” ucapnya dalam hati
            Terdengar derap langkah kaki mendekatinya, Ranti menengok ke samping kanannya, disana dia melihat Ranto yeng sedang berjalan mendekatinya sembari tersenyum.

Kisah Ranto

            Ranto baru saja selesai mandi, terlihat rambutnya yang basah karena baru saja keramas, juga badannya yang masih sedikit basah, Ranto mengeringkan rambutnya dengan handuk, kemudian dia berganti pakaian, memakai kaus berwarna biru, jeans biru, topi biru, sepatu kets kumal kesayangannya serta tas gendong yang juga terlihat kumal, karena hampir tidak pernah dicuci oleh Ranto. Sebagai seorang anak band dan pencinta seni rupa, Ranto memang tipikal orang yang cuek dan tidak tahu malu, bahkan kebanyakan orang bilang kalau urat malu milik Ranto sudah putus.
            Dan semua orang tidak pernah menyangka kalau dia bisa berpacaran dengan Ranti, yang berbanding terbalik dengannya, tapi mungkin inilah yang namanya keajaiban dan perbedaan yang memang seharusnya saling mengisi sama lain. Ranto kini sudah Nampak rapih, dia berdiri didepan cermin sambil bersiul-siul. Tiba-tiba munculah Tomas, sahabat dekatnya semenjak dia menempuh kuliah di Surabaya.
            “Weleh, weleh,, keren banget bro” kata Thomas yang takjub melihat penampilan Ranto yang lebih rapih juga lebih harum dari biasanya
            “Apaan sih, loe,, biasa aja ini” balas Ranto sambil tertawa terkekeh
            “Mau kemana, mas bro?”
            “Ketemu Ranti, tom”
            “Asyiik cihuyy,, yang mau ketemu belahan jiwanya, yang mau kangen-kangenan” goda Thomas
            “Biasa aja kali, tom,, nothing special for today” ucap Ranto, lirih
            “What’s up?”
            “Mungkin ini akan jadi saat terakhir buat gue ketemu Ranti, setelah ini gue akan fokus sama band gue, bikin album, tour keliling Indonesia, nerusin perusahaan bokap, teruss…” Ranto menghentikan pembicaraannya.
            “Kenapa terakhir, To? Kalian ada masalah apa sebenernya? Kalian itu udah klop banget, semua anak kampus ngiri banget kalo kalian jalan berdua, so kenapa loe bilang yang terakhir?” Tanya Thomas yang merasa heran dengan maksud dari perkataan Ranto.
            “Gue bukan yang terbaik buat dia, orangtuanya gak pernah setuju gue sama Ranti”
            “Tapi bukan berarti loe nyerah kayak gini, To.. Ranti pasti sedih banget, To,..” protes Thomas.
            “Gue udah pikirin ini sejak lama, Tom,, gue gak mau nahan Ranti lebih lama lagi sama gue, gue pengen dia bersanding sama orang yang tepat, gue pengen dia bahagian dan orangtuanya setuju sama pilihannya kelak, yang pasti bukan gue” ucap Ranto pelan
            “Kenapa loe jadi cengeng gini, To? Hidup itu penuh perjuangan, semuanya gak ada yang gratis, operator pulsa mahal, cari duit susah, makan susah, minum susah, mandi susah, dan yang terpenting dan lebih susah adalah ketika loe akan kehilangan orang yang bener-bener sayang sama loe,,jangan sampe loe nyesel nantinya, To.. kesempatan gak selalu dateng 2 kali dihidup loe” tegas Thomas
            “Gue ngerti Tom, tapi gue mesti tetep mengakhiri hubungan gue sama Ranti, I have no choice, gue yakin ini yang terbaik buat gue sama dia, thank ya saran-saran dari loe, loe sobat terbaik, tapi sorry gue gak bisa ngikutin saran dari loe untuk yang satu ini, sejujurnya gue emang sayang banget sama Ranti, tapi apa boleh buat, gue pengen yang terbaik buat hidupnya Ranti, dan gue bukan yang terbaik buat hidup dia, gue mau nerusin karir gue dulu, Tom, gue mau fokus, tanpa harus mikirin yang lain, termasuk pacar”
            “Okey, lah brother.. anything for you,, lakukan apa yang menurut loe baik buat hidup loe, gue mau cabut dulu, ada janji sama Tamara”
            “Eitss, mantap loe, Tom.. gak ketemu 2 bulan sama gue, sekarang udah banyak kemajuan, ya,, bisa jalan sama Tamara, amazing brother, gue suka gaya loe, ini baru namanya laki-laki dan ini baru sobat gue” Ranto terkekeh
            “Sialan, loe.. jadi selama ini gue apaan? Cewek menurut loe? Apa bencong? Kampret loe!” balas Thomas sambil menjitak kepala sahabatnya itu lalu pamit dan pergi meninggalkan Ranto dibalkon depan kostan mereka.
            Ranto termenung, dia kembali meresapi nasihat-nasihat dari Thomas tadi, “Thomas mungkin bener, kesempatan gak selalu dateng 2 kali, gue emang sayang banget sama Ranti, dia kayak malaikat buat hidup gue, dan dia juga yang perlahan ngubah kebiasaan buruk gue sedikit demi sedikit, dia nerima gue apa adanya tanpa minta apapun.. apa gue tega mutusin hubungan gue hari ini, tepat ditanggal jadian kita? Gue jadi ragu gini, Tuhan berikan hamba-Mu ini jalan yang terbaik, tunjukkanlah kebesaran-Mu, tunjukkan apa yang harus hamba lakukan sekarang”, teriak Ranto didalam hatinya.
            Ranto melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya, waktu menunjukkan pukul 12.45, itu artinya masih ada waktu 15 menit untuk dia bersiap-siap dan memikirkan kembali cara yang sangat lembut untuk memutuskan hubungannya dengan Ranti tepat pukul 13.00 ditaman, dihari jadi mereka yang ke empat tahun, waktu yang cukup lama untuk mereka.
            Ranto berpikir keras, dia menyiapkan kata-kata basa basi terlebih dahulu, walaupun garing tapi setidaknya dia bisa menghindar terlebih dahulu dari bahasan utamanya yang akan dia tampilkan di ending.
            “Hai, apa kabar?”
            “Aku juga baik, long time no see, honey.. gimana magang and skripsinya?”
            “Ya sama sih, magang gitu-gitu aja, skripsi, aku gak suka ni kalo bahas skripsi, sangat sangat sangat melelahkan dan menjengkelkan,, bapak sama ibu, sehat?”
            “Syukurlah kalo gitu, aku seneng dengernya kalo bapak sama ibu sehat..bapak sama ibu aku juga sehat kok…”
            “kapan mau ikut aku ke Jakarta? Kita liburan ke Dufan, naik semua wahana yang memacu adrenalin terus…”
            “terus kita romantis-romantisan di pantai marinanya”
            “Oh, Tiwi? Mmmm dia fine-fine aja kok,, sekarang udah gede lah, udah kelas 2 SMA, dan sebelnya banyak cowok yang nelponin dia, nganterin dia pulang, beliin dia ini itu, dan sampe ada yang rela ngerjain PR nya, gantiin jadwal piket sekolahnya, bayarin makan dikantin. . pokoknya dia kayak artis dikerjar-kerjar sama fans panatiknya”
            Ranti membayangkan dia dan Ranti tertawa bersama-sama, karena ceritanya tadi tentang Tiwi, adikknya yang beranjak dewasa dan menjadi primadona sekolahnya. Tapi Ranto merasa semuanya terlalu basi dan garing, dia yakin Ranti pasti akan mencurigai dirinya menyembunyikan sesuatu,, Ranto berfikir lagi, tapi dia merasa otaknya sudah buntu, tidak bisa memikirkan hal yang lain lagi, sekarang badannya terasa lemas dan kaku, bibirnya terasa kelu dan pahit, dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Ranti ketika dia tiba-tiba memutuskan hubungan mereka dihari jadi mereka yang ke empat, rasanya pasti sangat menyakitkan hati Ranti. “Bukan hanya kamu yang akan sakit hati, Ti,, tapi aku juga, aku sebenarnya tidak mau begini, tapi keadaanku yang sekarang tidak memungkinkan bila kita terus bersama, aku ingin kamu mendapatkan yang tervaik dihidupmu, dan itu bukan aku, Ti..”
            Ranto kemnbali melirik jam tangannya, kini tersisa waktu 13 menit lagi sebelum dia bertemu Ranti, dia harus sudah siap menanggung resiko dari keputusannya nanti, Ranto kembali memutar otaknya untuk menemukan solusi ataupun jalan yang lebih baik atau cara yang lebih baik. Pandangan Ranto lurus kedepan, menerawang semua kejadian-kejadian yang pernah dia alami bersama Ranti, orang yang paling dia kasihi.
            Ranto ingat, dulu mereka tidak sengaja bertemu karena ada tugas yang harus dikumpulkan pada dosen yang sama tetapi berbeda matakuliah, mereka tergesa-gesa menuju rungan Prof Drs Budiman, SE. hingga akhirnya mereka bertabrakan didepan pintu ruangan beliau.
            “Aduhh..” rintih Ranti
            “Maaf, maaf.. gue gak sengaja,, loe baik-baik, aja kan?”
            “Jalan yang bener dong, mas..” bentak Ranti sewot
            “Loe aja yang sengaja caper sama gue, kan,, gue tahu kok gue ganteng, gue dipuja sama cewek-cewek kampus sini, bahkan yang lebih cantik dari loe”
            “PD gila,, mending gue sama Monyet aja”
            “Yaudah sana loe sama monyet, gue juga ogah kali pacaran sama cewek kayak loe, yang rambutnya dikepang dua, pake behel warna warni, kacamata tebel abis… udah kaya bettylavea” Ranto tertawa terbahak-bahak
            “Saya juga ora sudi pacaran karo sampean, udah rambut kayak landak,  sepatu kumal gitu, celana jeans rusak masih dipake, tas kumal juga”
            “Ngomong apa sih loe, katro??” Tanya Ranto sewot
            “Saya juga tidak mau pacaran sama anda!, udah rambut kamu kayak landak, itu tuh binatang yang semua badannya duri beracun, sepatu butut dan kotor, jeans jelek, tas juga gak kalah kotornya sama sepatu”
            “Sialan loe, gue ini anak band,, band gue udah mau rekaman, you know!” teriak Ranto
            Semua orang yang lewat melirik kepada mereka, memandang heran dengan apa yang tengah Ranti dan Ranto perbincangkan. Dan suara gaduh mereka pun terdengar ke telinga sang dosen, hingga beliau keluar dari ruangannya kemudian menyuruh mereka masuk secara bergiliran.
            Lamunan Ranto pun buyar, kini dia senyam senyum sendiri bagaikan orang stress didepan kost-kostannya, dia tidak sadar kalau sedari tadi dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat didepan kostannya. Bagi para tetangganya, khususnya yang masih ABG, Ranto adalah sosok yang menyejukkan hati mereka, membawa sensasi kesegaran dikehidupan mereka, bagaiman tidak Ranto itu sempurna bak artis-artis ganteng asal Korea, jadi mereka senang memperhatikan gerak-geriknya setiap hari.
            “To” kata Farid sembari menepuk punggungnya dan berharap Ranto sadar kalau sejakn tadi dia menjadi perbincangan hangat dikalangan ABG fansnya yang berada disekitar .kost-kostan.
            Ranto terperanjat kaget denga kehadiran Farid.
            “Ah, sialan, loe.. mau bikin gue mati? Jantung gue bisa copot atau engga berhenti mendadak nih, alias gue bisa koid!” protes Ranto
            Farid hanya tersenyum mesem-mesem melihat ekspresi wajah kesal Ranto.
            “Ya lagian loe, tengah hari gini ngelamun, senyam senyum sendiri,, kayak orang gak waras, atau jangan-jangan loe mikirin hal yang jorok? Hayo ngaku” Farid bagaikan seorang polisi yang sedang mengintrograsi maling yang ketangkap basah mencuri sesuatu dikostannya.
            “Semprul koe! Sembarangan nuduh aja,, mikirin hal kotor gundulmu! Aku lagi mikirin cara mutusin Ranti, tapi biar gak nyakitin hatinya itu loh yang gimana?”
            “Hah? Mutusin Ranti?”
            “gue gak salah denger, kan?”
            “Kagak, kecuali loe budek!”
            “Emang ada masalah apa sih sama loe dan Ranti, sampe-sampe loe mau mutusin dia?”
            “Gak ada..”
            “Teruss..?”
            “Ya, gue mau putus aja, emang kenapa? Masalah buat loe?”
            “Iyalah, loe sohib gue, gue gak mau loe ngelepasin cewek yang baik banget alias perpect kayak malaikat gitu”
            “Bettylavea dia dulunya”
            “Iya tapi sejak kepincut loe, dia sekarang bagaikan bidadari berhati malaikat turun dari langit buat nyadarin loe yang kelakuannya kagak karuan” Farid terbahak-bahak
            Ranto tidak membalas perkataan Farid, dia bergegas menuju ke kamar kostnya dan berdiri kembali didepan cermin. Dia berkaca dan memandang ragu pada dirinya sendiri, keteguhan hatinya untuk benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Ranti mulai goyah, mendengar 2 sahabatnya tadi berkoar dan memberikan pendapat.
            Kini pandangan Ranto tertuju kepada bingkai Foto yang diletakkan diatas meja belajarnya, foto dia bersama Ranti. Ranto sangat sadar banyak hal yang berubah dari Ranti, sejak dia menjadi kekasihnya, Fashion dan gaya Ranti berubah menjadi lebih gaul, lebih hidup dan tampak muda sesuai usia.
            “Kamu cantik sayang,,” gumam Ranto sambil meraih bingkai foto itu
            “Senyum kamu, mata kamu, alis kamu, rambut kamu, tertawa kamu, bicara kamu, bercandaan kamu..”
            “Argggggggh…..”
            Ranto menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak sekarang.
            “Apa aku sanggup ngelepasin kamu dan hidup tanpa kamu?” tanyanya dalam hati
            “Tapi,, aku harus mengambil keputusan hari ini juga, aku gak mungkin ninggalin kamu di Surabaya sementara aku di Jakarta, aku gak suka kalo kita LDR, aku juga gak mau kamu kesepian disini, dan aku juga gak mau kamu terus dimarahi orangtua kamu karena kamu masih berhubungan sama lelaki macam aku, lelaki yang tidak pernah benar dimata kedua orangtuamu” gumamnya dalam hati
            Ranto kembali melirik jam tangan kesayangannya, kini tersisa waktu 9 menit lagi sebelum semuanya berakhir tepat dihari dan tanggal bersejarah bagi mereka. Ranto menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan sedikit demi sedikit, agar hatinya tenang.
            Dia membayangkan seolah-olah cermin yang ada dihadapannya itu adalah Ranti yang sedang tersenyum simpul ke arahnya.
            “Sayang,, ada yang mau aku bicarain”
            “Mmm, aku bingung harus memulainya dari mana..”
            “Aku,, aku,, aku bener-bener gak tahu harus mulai darimana” Ranto mulai gugup, padahal ini baru latihan saja.
            “Aku takut kamu kecewa, kamu marah, dan bahkan kamu benci sama aku” tutur Ranto didepan cermin
            “Aku.. aku gak sanggup membicarakan hal ini, Ti”
            “Aku terlalu takut dan pengecut untuk membicarakan ini sama kamu”
            “Aku,, aku juga gak tahu kenapa, tapi tiba-tiba bibirku kelu, susah untuk mengungkapkannya”
            “Aku sayang banget sama kamu, kamu sangat sempurna dimata aku,, tapi..”
            Ranto merasa sangat frustasi saat ini, dia sangat bingung, latihan saja dia susah untuk berkata-kata apalagi ketika nanti bertemu dengan orangnya langsung, apakah dia masih punya nyali untuk menemui dan apalagi untuk memutuskan hubungannya dengan Ranti. Apakah dia akan tega melihat orang terkasihnya sakit hati atau bahkan mungkin akan sangat membencinya.
            Ranto terduduk diatas ranjang, dia kembali memandangi jam tangannya, kini waktunya tinggal 7 menit lagi sebelum dia pergi ke taman untuk menemui Ranti dan memutuskan hubungan mereka saat itu juga.
            Ranto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kali ini dia benar-benar sangat bingung untuk melakukan sesuatu. Dia merasa tidak sanggup untuk melakukan hal itu, dia merasa tidak akan mampu berhadapan dengan Ranti dan berkata,, “kita putus”. Bayangan dan sosok Ranti memenuhi seluruh pikiran dan ruang hatinya. Darah Ranto semakin terasa panas. Jantungnya berdebar tak menentu dan dadanya terasa sesak sekali.
            “Tuhan, kenapa rasanya sulit sekali melakukan ini. . tolong berikan hamba-Mu ini jalan yang terbaik, Tuhan”
            “Come on, Ranto, wake up,, loe harus tetep ngelakuin ini, loe harus tetep nyatain kenyataan pahit ini sama Ranti, loe gak ada pilihan lain, daripada nantinya loe nyiksa perasaan Ranti, loe lebih nyakitin perasaan dia”
            “Iya, gue harus,, gue tetep harus ngambil keputusan pahit ini, gue harus lakuin ini, gue gak bisa mundur ataupun nunda-nunda lagi, gue gak mau Ranti nantinya berharap lebih jauh lagi sama gue, gue pengen dia bisa nemuin kebahagiaannya tapi bukan lewat gue” gumam Ranto
            Dia kembali berdiri kemudian menatap cermin kembali, dia merasakan ada bayangan Ranti didalam cermin yang tersenyum lebar kepadanya. Ranto sudah tidak bisa mundur lagi dari keputusan dan juga rangkaian kata-kata yang sudah dia kumpulkan semenjak beberapa bulan yang lalu semenjak mereka tidak bertemu karena kesibukkan sebagai mashasiswa tingkat akhir yang magang dan menyusun skripsi.
            “Ya, maafin aku Ranti, aku ngelakuin ini bukan karena aku sudah gak sayang, gak cinta ataupun sudah gak peduli sama kamu, melainkan aku lakukan ini karena aku sangat sayang sama kamu, aku yakin ini yang terbaik buat kita, walaupun mungkin rasanya perih dan sulit untuk melupakan semua kenangan indah kita selama 4 tahun ini, tapi aku yakin kita pasti bisa berdiri dan berjalan masing-masing”
            “Sebenarnya aku sangat tidak ingin mengatakan hal ini, jika aku punya pilihan yang lebih bagus lagi dari ini, aku akan sangat memilih untuk tetap berada disamping kamu, dan bahkan menjadi pendamping hidupmu selamanya sampai ajal menjemput dan maut yang memisahkan kita.. tapi…”
            “Tapi rasanya itu sangat muluk dan impossible banget buat kita, aku sayang kamu, aku gak mau kamu menderita bila terus bersama aku, aku gak mau orangtua kamu terus-terusan memarahi kamu karena ketidak setujuan mereka atas hubungan kita selama ini, Ranti aku harap kamu mau mengerti dan menghargai keputusan aku ini, aku mengakhiri hubungan kita bukan karena aku tidak menyayangi dan mencintai kamu lagi, melainkan aku sangat mencintai dan menyayangi kamu, maka dari itu aku ingin yang terbaik untuk hidupmu, aku akan tetap menyayangi kamu sampai kapanpun itu”
           Ranto menarik nafas panjang lagi lalu menghembuskannya pelan-pelan sebelum mengucapkan kata-kata terakhirnya dilatihannya kali ini didepan cermin yang dia anggap sebagai Ranti.
           “Aku akan selalu ada untuk kamu, kapanpun kamu membutuhkan tempat untuk mengadu,, aku akan tetap setia mendengarkan keluh kesah kamu, aku janji, Ranti…Oh iya, setelah wisuda nanti tadinya aku akan kembali ke Jakarta dan menjadi anak band yang sesungguhnya sambil membantu ayah diperusahaannya, tapi baru saja aku dapat surat dari kampus, aku mendapatkan beasiswa studi S2 di negeri Sakura Jepang,, aku janji liburan nanti aku akan datang bawain kamu bunga sakura yang asli ke Surabaya”
            “Kamu setuju, kan dengan keputusan aku ini?”
            “Jangan menangis Ranti, Please,, aku gak bisa lihat airmata kamu mentes.. jangan biarkan airmata kamu terbuang percuma hanya karna menangisi aku, aku bukan orang yang pantas untuk kamu tangisi, aku lebih pantas jika kamu maki-maki, kamu marahi, itu lebih pantas aku dapatkan, Ranti daripada airmata berlian kamu ini”
            “Kamu harus janji sama aku, kamu gak akan nangisin perpisahan kita ini,, cukup disini kamu meneteskan airmata perpisahan kita yang terakhir, jangan pernah nangis lagi ditempat lain, kamu sayang kan sama aku?”
            Ranto membayangkan Ranti mengangguk dan menatap kedua bola matanya, menusuk ke jantung dan hatinya, memberikan kehangatan disetiap aliran darahnya.
            “Kalo kamu sayang sama aku, kamu harus janji gak nangis lagi, ya?”
            “Aku yakin kamu bisa tanpa aku, bahkan kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku dan sesuai dengan harapan kedua orangtuamu, please,, keep smile.. for me?”
            Ranto membayangkan dia menghapus airmata yang menetes dipipi Ranti dengan kedua tangannya, kemudian Ranti tersenyum simpul dalam peluknya. Tanpa Ranto sadari, dia terbawa suasana haru latihannya. Airmata menetes dipipinya, dia merasa tidak akan sanggup dengan adegan yang seperti ini, ini terlalu sulit untuk ia lakukan, dia takut akan menyesal dengan keputusan yang dia ambil hari ini. Tapi apa boleh buat, ini yang terbaik untukknya dan juga terbaik untuk Ranti.
            Ranto masih memiliki waktu 5 menit lagi sebelum dia menemui Ranti ditaman tepat pukul 13.00. Ranto memandang ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar, dia memandang ke langit yang tadinya cerah sekarang berubah siselimuti awan-awan mendung dan terlihat pancaran kilat juga suara petir yang cukup menakutkan, seolah-olah itu semua mewakili gejolak kehancuran hati Ranto saat ini.
            Ranto kemudian memandang dirinya dicermin dan berusah dengan tenang juga semangat, meyakinkan dirinya kalau dia bisa melakukan hal ini. Demi masa depan cerah mereka berdua. Dan jalan terbaik bagi dia dan Ranti.
            “Come on Ranto, life must go on, gak ada lagi waktu untuk mundur dari semua ini, tepat atau tidaknya ini dilakukan hari ini, itu urusan nanti, yang pasti lebih cepat maka akan lebih baik, kamu gak boleh nyakitin hati Ranti lebih lama lagi, dia terlalu baik buat kamu, Ranto,, dia ibaratnya adalah seorang malaikat atau bisa disebut sebagai bidadari, sementara kamu, kamu hanya iblis yang membayangi kehidupan Ranti, membuatnya terlihat memiliki sisi gelap”
            “Ya, gue harus yakin sama diri gue sendiri, apapun yang terjadi hari ini, menurut gue ini adalah keputusan yang tepat, gak bisa diundur-undur lagi, Ini harus gue nyatain hari ini daripada selalu mengganjal dihidup gue, aku melepaskan kamu, agar kamu mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan, bukan malah tetap berhenti dihatiku tanpa melakukan perubahan apapun”
            “Aku akan terus menyayangi kamu sampai kapanpun itu, bila nanti Tuhan mentakdirkan kita bertemu lagi dan kita masih sama-sama sendiri, itu artinya kita berjodoh, aku Cuma bisa berharap kalau kita benar-benar berjodoh, dan setelah sukses nanti, aku bisa meminangmu menjadi pendamping hidupku selama-lamanya sampai maut yang memisahkan kita”
            Ranto menyelesaikan kalimat latihannya yang terakhir, kini dia hanya memiliki waktu 3 menit menuju ke taman komplek yang berjarak sekitar 1 Km dari tempat kostnya. Dia berjalan dengan langkah yang berat menuju ke halaman depan lalu menyalakan sepeda motornya, kemudian ia naik dan melaju ke taman komplek dengan cepat, dia tidak ingin terlambat di,, mungkin bisa dibilang dipertemuan terakhirnya.
            “Tunggu aku Ranti Rismawanti, aku akan datang” teriak Ranto sambil mempercepat laju sepeda motornya.
 

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)