Benci dan Cinta 22nya Bikin Sakit! End


 Jam istirahat pun tiba Tata dan Tiara bergegas menuju kekantin. Tata membawa bungkusan plastik berwarna hitam beserta botol minumnya.
            “Tumben Ta kamu bawa bekel dari rumah?” tanya Tiara.
            “Ya mau gimana lagi aku kan lagi kena hukuman sama Ayah”.
            Dari kejauhan terlihat Ivan dan teman-temannya menuju ke tempat duduk Tata dan Tiara.
            “Heh, udah nabrak saya tadi pagi gak minta maaf pula” seru Ivan didepan muka Tata.
            “Aku kan gak sengaja” bela Tata.
            “Minta maaf kek gitu” cela Ivan.
            “Yaudah Maaf” seru Tata.
            Ivan tersenyum lalu melirik bungkusan plastik yang ada didekat Tata kemudian mengambil dan membukanya. “Apaan nih?” tanya Ivan sembari mengeluarkan isi plastik itu.
            “Ivan, balikkin gak!” pinta Tata.
            Ivan menjauhkannya dari jangkauan Tata lalu tersenyum dan… “Hei temen-temen masa si Tata masih bawa bekel ke sekolah coba ditambah tempat makanannya gambar doraemon lagi” teriak Ivan dengan kerasnya dan itu membuat seluruh penghuni kantin tertawa tertawa terbahak-bahak menertawakan Tata.
            Dengan mata berkaca-kaca Tata segera beranjak pergi, namun ketika itu salah satu teman Ivan sengaja membuat kaki Tata tersandung lalu Tata jatuh ke lantai. Semua orang menertawakannya lagi kecuali Ivan dan Tiara. Tiara segera membantu Tata bangun dan mereka pergi dari kantin sementara Ivan merasa bersalah atas tindakan jahilnya kali ini “Maafin aku Ta, aku gak bermaksud bikin kamu jadi bahan tertawaan anak-anak tapi ini adalah satu-satunya cara biar aku nggak gugup kalau deket kamu, aku nggak tahu caranya bilang ke kamu kalau aku sayang dan cinta sama kamu” kata Ivan didalam hatinya.
***
            Keesokan harinya disekolah Ivan menghampiri Tata yang sedang memasang artikel terbaru di papan mading sekolah.
            “Artikelnya bagus, ide kamu kreatif banget” puji Ivan.
            Tata memandang Ivan lalu pergi meninggalkan Ivan, namun Ivan menahan tangan kanannya.
            “Lepasin!” seru Tata.
Ivan melepaskan tangan kanan Tata lalu menatap punggung Tata dan berharap Tata berbalik menatapnya. “Mau ngapain lagi kamu? belum puas bikin aku jadi bahan lelucon kamu” kata Tata dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap membelakangi Ivan.
“Saya mau minta maaf Ta, saya tahu saya salah dan keterlaluan banget sama kamu kemarin” sesal Ivan lembut.
Tata tidak menghiraukan permintaan maaf Ivan. Tata segera bergegas pergi meninggalkan Ivan namun tiba-tiba Ivan segera memeluknya dan menyeretnya ke pinggir dinding yang rusak. ‘brak’ sebuah atap terjatuh tidak jauh dari mereka. Beberapa detik kemudian Tata menampar pipi kanan Ivan.
“Berani-beraninya kamu meluk aku!” bentak Tata.
“Kamu itu udah saya tolongin malah nggak tahu terimakasih ya” balas Ivan.
“Ya kalau mau nolongin tinggal bilang aja ada atap yang mau jatuh diatas kepala aku” protes Tata.
“Aku udah teriak tapi kamu malah gak denger kan!” protes Ivan.
“Aku emang gak ketimpa atap tapi liat tangan aku luka kena didinding!” kata Tata sembari memperlihatkan sikut tangan kirinya yang beradarah terkena didinding yang kasar.
“Udah syukur kamu gak ketimpa atap!” bentak Ivan yang kemudian berjalan meninggalkan Tata yang meringis kesakitan.
Beberapa detik kemudian Ivan kembali menghampiri Tata dan menarik tangan kanan Tata lalu membawa Tata pergi dari sana.
“Kita mau kemana?” tanya Tata sedikit ketakutan.
“Udah diem aja, katanya kan tangan kamu sakit” balas Ivan yang sepanjang perjalanan menuju UKS tidak melepaskan tangan Tata.
Ivan membawa Tata masuk ke dalam ruangan UKS dan menyuruh Tata duduk dikursi sementara dia membawa air bersih, kapas, alkohol, betadine serta perban untuk mengobati luka ditangan Tata.
“Pelan-pelan bersihinnya” pinta Tata.
Ivan tersenyum “Banyak maunya banget sih, syukur-syukur udah aku tolongin”.
Tata hanya terdiam dan membiarkan Ivan mengobati luka ditangannya.
Beberapa minggu setelah kejadian itu Tata merasa ada hal yang aneh pada dirinya, dia merasakan kalau dia mulai jatuh cinta kepada Ivan. Disadari atau tidak didalam bencinya terhadap Ivan, dulu Tata pernah menyukai Ivan dan kini rasa itu hadir kembali apalagi setelah beberapa kali Ivan menyelamatkannya. Akhir-akhir ini Ivan juga berubah menjadi lebih baik dan rajin memberikan Tata bunga serta cokelat dan untuk menahan gengsinya Tata tetap bersikap ketus kepada Ivan.
“Kue brownies buat siapa?” goda ibu Diana ketika melihat Tata yang sejak semalam sibuk membuat kue brownies itu.
“Mama kepo deh mau tau aja” balas Tata.
***
Tata memarkir sepeda motor seperti biasanya namun dengan raut wajah yang berseri-seri. Setelah selesai memarkir motornya Tata bergegas menuju ke lapangan basket untuk melihat Ivan bertanding basket dengan sekolah lain. Tata duduk di deretan paling depan dan tanpa sadar berteriak-teriak memanggil serta menyemangati Ivan. Teman-temannya yang lain pun berusaha menahan tawa mereka atas perilaku Tata dan Tata yang tersadar akan itu pun menjadi malu bukan main dan wajahnya merah padam.
Usai pertandingan itu Tata segera menghampiri Ivan yang duduk dipinggir lapangan dengan keringat yang membuat bajunya basah kuyup.
“Hai, selamat ya” kata Tata sembari tersenyum manis dan mengulurkan tangannya kepada Ivan dan Ivan membalas uluran tangan Tata. “Iya, makasih ya udah bikin aku malu karna teriakan kamu” balas Ivan.
Muka Tata merengut dan kecewa mendengar pernyataan Ivan sementara itu beberapa detik kemudian Ivan tertawa terbahak-bahak.
“Kamu tambah cantik deh kalo manyun kayak gitu” goda Ivan sembari menyikut Tata yang duduk disebelahnya.
Tata hanya terdiam.
“Bawa apaan tuh?” tanya Ivan sembari melirik kotak makan yang berisi kue brownies di tangan Tata.
“Pasti buat aku, ya?” tanya Ivan lagi.
“Bukan, bukan buat kamu”
“PeDe banget kamu” tambah Tata gelagapan.
Ivan tersenyum curiga dan menatap Tata hingga Tata jadi salah tingkah.
“Apaan sih liatin aku kayak gitu” protes Tata sembari menutupi mata Ivan dengan kedua tangannya.
Ivan memegang kedua tangan Tata dan menyingkirkan tangan Tata dari tempat makananya. Ivan menatap Tata dengan serius dan itu membuat Tata semakin salah tingkah. Jantung Tata berdetak dengan kencang dan keringat dingin mulai tampak dipipinya, apalagi Ivan masih memegang kedua tangannya. Beberapa saat kemudian Ivan tersenyum puas melihat Tata yang mati kutu dihadapannya.
“Kamu sakit, Ta?” tanya Ivan sembari melepaskan tangan Tata dan menempelkan tangannya di kening Tata.
Tata mengeleng namun dihatinya dia sangat kegirangan karena mendapat perhatian dari Ivan. Disaat itulah Ivan mengambil kotak berisi kue yang ada disamping Tata lalu memakannya.
“Ih curang! Itu bukan buat kamu tau!” protes Tata yang berusaha mengambil kotak makanannya namun Ivan dengan sigap memindahkannya.
“Udah jujur aja, ini emang buat aku, kan!” kata Ivan.
“Iya itu emang buat kamu” akhirnya Tata menyerah.
“Gimana rasanya? Enak, kan?” tanya Tata dengan wajah berseri-seri.
“Enak, enak banget.. makasih ya” balas Ivan.
“Itu aku yang bikin loh”.
Ivan tersedak lalu Tata memberikannya air minum. “Gak jadi deh enaknya kalo kamu yang bikin” kata Ivan.
“Kok gitu?” protes Tata.
“Abis jadi ada rasa asem-asemnya gitu”.
“Tadi katanya enak”.
‘hehehehehe’ “Iya deh, enak” kata Ivan.
By the way kok kamu jadi baik banget sama aku? Ada angin apa ni?” tanya Ivan penuh kecurigaan.
“Jangan-jangan kamu suka ya sama aku?” goda Ivan.
‘glek’ Tata bingung harus berkata apa karena pada kenyataannya dia telah jatuh cinta pada Ivan.
“Ng-ng-nggak kok, aku gak suka sama kamu… gak mungkin lah” bantah Tata.
“Oh, yaudah kalo gitu aku duluan ya” kata Ivan sembari beranjak pergi meninggalkan Tata.
“Ivan, tunggu!” teriak Tata.
Ivan menghentikan langkahnya. Tata sedikit mendekat ke tempat Ivan berdiri memunggunginya.
“Iya Van, aku suka sama kamu” ucap Tata lirih lalu menunduk.
Ivan berbalik dan mendekati Tata, dia memegang kedua bahu Tata dengan tangannya. Tata mengangkat kepalanya yang tertunduk. Kini Ivan dan Tata saling menatap.
Ivan tersenyum manis kepada Tata “Aku.. aku juga suka sama kamu Ta” kata Ivan.
Tata tersenyum merekah dan hatinya berbunga-bunga.
“Beberapa minggu ke belakang bahkan saat pertama kita ketemu pas ospek” tambah Ivan.
“Maksud kamu?” Tata mulai was-was dengan pernyataan Ivan yang kedua.
“Semenjak kamu cuekin segala usaha aku buat jadi pacar kamu, disitu aku mulai jenuh dan sadar kalau kamu nggak mungkin suka sama aku”.
“Aku nggak ngerti Van”.
“Aku emang suka sama kamu Ta tapi itu kemarin bukan hari ini bukan sekarang”.
“Maafin aku ya, Ta” tambah Ivan sembari pergi meninggalkan Tata sendirian ditengah-tengah lapangan basket yang sepi.
Tata menangis, batinnya teriris. Dia menyesal telah membuat Ivan berpaling dan tidak mencintainya lagi. Andai saja kemarin dia tidak merasa gengsi untuk dekat dengan Ivan pasti dia tidak akan merasakan sakit dan patah hati lagi seperti yang terjadi sekarang.
Beberapa saat kemudian Tata bangkit dan berhenti menangis, dia mengejar Ivan menuju ke parkiran sekolah, namun setibanya disana.. Ivan sudah tersenyum bahagia bersama Nana, pacar barunya.
“Kenapa-kenapa-kenapa disaat aku jatuh cinta semuanya berakhir menjadi kesakitan” jerit Tata didalam hatinya.
“Cinta dan Benci gak ada bedanya dua-duanya sama-sama bikin aku sakit, sakiiiiiit” kata Tata didalam hatinya dan kini airmata Tata mulai menetes satu per satu dipipinya melihat Ivan dan Nana yang terlihat bahagia lalu meninggalkannya sendirian diparkiran sekolah.
Selesai **

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)