BBB(Bukan Beruang Biasa)

       Karamel Alvionita, cewek cantik bertubuh mungil dengan matanya yang sipit ini menghabiskan 80 persen waktunya untuk mengikuti kegiatan cowok yang dia sukai secara diam-diam.  Cowok itu adalah Almond, cowok ganteng ini membuat Vio benar-benar gila. Vio rela memakai kostum beruang dan berjoget-joget lucu supaya Almond bisa tersenyum seperti dulu. Sejak masuk SMA, Almond memang berubah 180 derajat menjadi orang yang egois, emosian dan tidak ramah lingkungan lagi. Senyumannya semakin hari semakin memudar.
            “Aku langsung duduk ditempat biasa ya, Del”.
“Eh, pesen dulu Vi!”.
“Ah terserah kamu aja Del, samain!” Vio masih sibuk memperhatikan Almond yang berlatih basket dilapangan dekat warung bakso pak Amin.
“Oh, pantesan ya kamu itu doyan banget duduk disudut belakang warung bakso pak Amin, ternyata kamu ngemodusin Almond!”.
“Ya ini kan tempat yang paling strategis Del, aku bisa liat dia dari deket tanpa ketahuan sama siapapun!” Vio tersenyum sangat manis.
“Heran gue sama loe.. cowok ganteng banyak banget yang ngejar-ngejar loe.. tapi loe, malah ngejar-ngejar cowok yang gak pernah sadar kalau loe selalu ada buat dia!”.
“Aku yakin kok Del, suatu hari nanti.. dia bakal sadar kalau aku sayang banget sama dia!”.
Beberapa detik kemudian Vio beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju lapangan basket. Dia berusaha memapah Almond yang tangan dan kaki kanannya berdarah akibat terjatuh. Vio membawa Almond keluar lapangan bersama Dodi.
“Udah Dod, biar aku yang bawa Al ke UKS”.
Kini Vio memapah Almond menuju keruang UKS sendirian.
“Lepasin gue, gue bisa jalan sendiri!”.
“Tapi Al, kaki sama tangan kamu luka!”.
“Gue bilang lepasin ya lepasin!”.
“Yaudah” Vio segera melepaskan tangannya yang memapah tubuh Almond hingga Almond jatuh kelantai dan tangannya membentur tong sampah.
“Aarggggggggh” pekik Almond kesakitan.
“Loe kira-kira dong, gue kan lagi sakit!”.
“Kan kamu sendiri yang minta dilepasin!”.
“Tapi nggak sekaligus juga ngelepasinnya, pelan-pelan kan bisa!”.
Vio melangkah perlahan menjauhi Almond. Karena imajinasinya yang tinggi tentang Almond serta kebiasaannya nonton sinetron dan film korea membuat Vio membayangkan kalau Almond berusaha menghentikan langkahnya dan memegang salah satu tangannya dengan lembut, lalu memanggil namanya.
“Gak usah tahan aku, aku sebel sama kamu. Aku nggak mau bantuin kamu!”.
Kening Almond berkerut, dia merasa Vio sudah gila karena bicara sendirian.
“Aku bilang lepasin tangan aku, Almond.. gak usah nahan aku pergi” tambah Vio lagi.
“Heh.. dasar cewek gila.. siapa juga yang megang tangan loe!”.
Vio tersadar dari lamunannya dan berbalik menatap Almond yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri. Wajahnya merah padam karena malu.
“Kebanyakan nonton sinetron sama drama korea sih, jadinya imajinasi loe ketinggian!” tambah Almond sembari tersenyum kecil, senyuman yang selama ini selalu dia sembunyikan.
Vio berjalan mendekati Almond dan menginjak kaki kiri Almond, hingga Almond berteriak kesakitan.
“Itu karna kamu udah ngetawain aku dan bilang aku gila!” .
Vio membalikkan badannya dan saat itulah Almond benar-benar menahan langkahnya agar tidak pergi. Jauh dihati kecilnya, Almond juga menyayangi dan menyukai Vio sejak mereka SMP.
“Almond megang tangan aku, dia bener-bener nahan aku biar gak pergi..” Vio tersenyum-senyum kecil.
“Gak usah ke geeran dulu loe, gue terpaksa nahan loe pergi karna sekarang kaki gue dua-duanya sakit gara-gara loe injek! Loe mesti tanggungjawab dan obtain kaki sama tangan gue di UKS!”.
***
          “Eh, itu spidol mau loe apain ke kaki gue!” protes Almond yang tangan dan kakinya baru selesai diperban oleh Vio.
            “Tenang aja, aku cuma bikin perbannya biar keliatan imut aja kok”.
            Almond melihat perban kakinya yang bergambar emotikon senyum.
            “Semoga cepet sembuh ya, dan aku saranin kamu gak ngelakuin olahraga ataupun ngangkat barang yang berat selama 3 hari.. biar lukanya sembuh total” Vio tersenyum dan berharap Almond mendengarkan kata-katanya.
            “Harusnya kamu sadar Al, aku khawatir banget sama kamu… aku nggak mau kamu kenapa-napa”.
            “Kenapa loe ngeliatin gue kayak gitu! Jangan-jangan loe suka lagi sama gue!”.
            “Geer!” Vio bergegas meninggalkan ruang uks.
            “Heh, cewek gila…”
            Vio menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Almond “Aku bukan cewek gila ya.. aku punya nama dan nama aku…”.
            “Karamel Alvionita kan?” Almond memotong kata-kata Vio.
            Vio terdiam, seluruh badannya terasa kaku mendengar Almond untuk pertamakalinya menyebutkan nama lengkap Vio.
            “Makasih Vio, loe sering banget nolongin gue” Almond tersenyum tulus kepada Vio.
            “Sama-sama”
Vio mempercepat langkahnya keluar dari ruangan uks dan berteriak kegirangan didekat pintu perpustakaan. Cinta membuat Vio tidak sadar sudah berbuat gaduh didepan perpustakaan yang penjaganya super duper garang. Vio tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.
“Vio..” ada suara yang memanggil namanya.
“Aduh Del, kebeneren banget kamu dateng.. kamu tahu nggak sih Del.. aku bahagia banget hari ini” Vio memegang tangan seseorang yang berada disampingnya.
“Vio…” nada suara orang disampingnya dibuat lebih tinggi.
“Aku belum selesei ngomong Del. Tadi itu Almond nyebutin nama lengkap aku, megang tangan aku dengan lembut, natap aku.. bilang makasih dan senyum sama aku..” Vio mengandeng tangan orang disampingnya dan kepalanya disandarkan dipundak orang itu.
“Vio” Adel menepuk pundak kanan Vio dan tersenyum dipaksakan.
Vio menatap Adel dan kebingungan dibuatnya.
“Kalau kamu baru dateng, terus yang tadi aku ajakin ngomong dan…”
Vio melepaskan gandengan tangannya. Perasaannya mulai tidak enak… jantungnya berdebar-debar. Sepertinya akan ada sebuah petir serta badai besar yang menghancurkan perasaan bahagianya. ‘Glekk’ Vio menelan ludah berkali-kali, menyiapkan mental untuk berbalik dan melihat orang yang sejak tadi memanggil namanya dan berada disampingnya. Vio berbalik secara perlahan dengan mata tertutup. Dia membuka matanya secara perlahan-lahan dan…
“Karamel Alvionita!” tegas ibu Deti, selaku petugas perpustakaan.
Vio tersenyum pahit “Eh ibu.. maaf ya bu”.
Vio mulai mundur satu langkah, dua langkah kemudian lari terbirit-birit meninggalkan koridor perpustakaan, beberapa kali dia terjatuh dan menabrak tempat sampah dihadapannya. Almond keluar dari ruangan uks dan menyaksikan kejadian itu.
***
Hari ini Vio sibuk mencari-cari sosok Almond yang sejak tadi pagi tidak terlihat batang hidungnya. Dia menelusuri seluruh penjuru sekolah, namun tetap tidak menemukan sosok Almond. Vio takut Almond sakit berkelanjutan.
Almond tersenyum-senyum geli membayangkan Vio yang lari terbirit-birit kemarin, sesekali dia memandangi emoticon senyum yang digambar Vio pada perban kakinya.
“Den, ada badut beruang didepan rumah.. katanya ada perlu sama den Al” Mbok Mimin mengetuk pintu kamar Almond perlahan-lahan.
Almond membukakan pintu “Badut?” Almond balik bertanya kepada mbok Mimin untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
Mbok Mimin hanya mengangguk kemudian pergi.
Almond berjalan perlahan menuju ke halaman depan rumahnya. Benar saja, disana ada badut beruang yang selalu menghiburnya ditaman. Beruang itu berjoget dan bernyanyi riang gembira. Ini membuat Almond yakin kalau beruang ini adalah anggota BBB, Bukan Beruang Biasa alias beruang luar biasa. Beruang ini sampai tahu tempat tinggal Almond.
Beruang itu memberikan sebuah kotak kado berukuran besar. Almond membukanya dan geleng-geleng kepala melihatnya. Isinya adalah barang-barang kesukaan Almond. Dari mulai majalah, alat lukis, kaset dvd, dan komik detective conan kesukaan Almond.
“Gue heran deh sama loe, kok loe bisa tau semuanya tentang gue?”.
“Karna aku suka kamu dan aku pengen buat kamu nyaman Al, buat kamu senyum dan ketawa lepas kayak dulu” Vio menatap Almond dari balik kostum beruang itu.
“Cuma dari dalem sini aku bisa deket sama kamu… bisa ngehibur kamu.. bikin kamu ketawa dan liat kamu dari jarak dekat… dan kamu ngeliat aku Al.. kamu sadar kalau aku ada”.
“Kok loe gak jawab pertanyaan gue?”.
Vio membiarkan tangan Almond melepaskan kepala beruangnya. Almond terlihat kaget dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak pernah menduga kalau beruang yang membuatnya tertawa dan melupakan tentang kematian kedua orangtuanya adalah Vio. Cewek yang sering memperhatikan dan membantunya disekolah.
“Loe ngapain ngelakuin ini, Vio?”.
“Loe gila, ya?”.
“Iya, aku emang gila.. bener-bener gila cuma buat kamu, biar kamu sadar kalau aku selalu ada buat kamu. Biar kamu sadar kalau aku pengen liat kamu senyum lagi. Biar kamu sadar kalau aku pengen deket sama kamu    “.
Vio menghapus airmatanya yang mulai berjatuhan. Perasaan ini sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Semakin lama semakin menusuk hatinya. Vio menenangkan dirinya sejenak.
“Aku sayang sama kamu Al, aku pengen kamu tahu kalau orang-orang disekeliling kamu itu peduli sama kamu”
Vio merebut kepala beruang yang ada ditangan Almond dan memakainya kembali. Dia berlari ketengah jalan komplek perumahan Almond dan memberhentikan taksi yang melaju. Vio masuk kedalam taksi itu dan menjauh dari rumah Almond. Sementara itu Almond masih berdiri mematung didepan pagar rumahnya.
“Loe bener-bener gila, Vio… loe cewek paling nekat yang pernah gue kenal!” teriak Almond.
***
           “Vio, loe mau kemana?” Adel kebingungan ketika Vio berbalik arah di tengah perjalanan mereka menuju kantin sekolah.
Almond menghentikan langkahnya didekat Adel, kini dia sadar kalau Vio mulai menjaga jarak dengannya. Adel menatap Almond dan Dodi secara bergantian sebelum akhirnya mengejar Vio yang kembali menuju kelasnya.
“Vio, loe kenapa sih? Bukannya loe seneng ya kalau bisa papasan sama Almond?”.
Vio hanya terdiam.
“Ada yang salah ya sama omongan gue?” Adel terduduk lemas disamping Vio.
“Kamu nggak salah kok Del, kamu bener.. kamu bener soal Almond. Dia emang gak pernah sadar sama semua perhatian aku” mata Vio mulai berkaca-kaca.
Almond mulai merencanakan sesuatu untuk mengutarakan pada Vio kalau sebenarnya dia memiliki perasaan yang sama. Almond ingin membahagiakan Vio yang telah berusaha keras untuk membuatnya tersenyum kembali.
Vio melewati lab kimia menuju warung bakso pak Amin, disana kelas Almond tengah mengadakan paraktikum reaksi kimia. Almond memperhatikan Vio terus menerus hingga tanpa sadar mencampurkan cairan yang salah kedalam tabung reaksi. ‘Duaaarrrrrr’ terdengar ledakan cukup dahsyat dari dalam lab kimia. Kepulan asap keluar dari pintu lab disertai Almond dengan rambut mirip orang terkena tegangan listrik tinggi serta mukanya dipenuhi noda hitam.
Vio tertawa geli melihat kondisi Almond yang seperti itu. Tawa itu menghilang ketika Almond memandang kearah Vio yang berdiri tidak jauh dari sana.
“Gue rela kayak gini Vio.. asalkan gue bisa bikin loe senyum lagi kalau liat gue”.
***
Siang itu saat jam pelajaran sekolah berakhir, ada sepuluh doraemon raksasa yang bermain bola basket dilapangan. Tentu saja ini menarik perhatian seluruh siswa disekolah, mereka berkerumun memenuhi pinggiran lapangan basket. Vio dan Adelpun dibuat penasaran dengan berita yang disampaikan teman-temannya didalam kelas.
Vio dan Adel berhasil menerobos kerumunan masyarakat sekolah dan berdiri dideretan terdepan untuk menyaksikan fenomena yang jarang terjadi disekolah mereka. Kumpulan badut doraemon terlihat tengah asyik bermain basket dan sesekali bergoyang bersama-sama.
Vio tertawa geli menyaksikan doraemon-doraemon itu beraksi. Vio sangat menyukai tokoh doraemon sejak dia kecil. Hal ini tentu saja membuat dia bahagia. Salah satu doraemon itu belari kebawah ring basket dan membawa satu buket bunga, 2 batang cokelat serta boneka doraemon berukuran besar. Dia berlari-lari sambil bernyanyi mendekati Vio dan Adel.
“Buat aku?”.
Doraemon itu mengangguk, meminta Vio menerima bunga serta cokelat yang dia bawa. Semua orang yang menyaksikan itu bersorak sorai, sebagian lagi memandang iri. Perlahan, Almond melepaskan kepala doraemon itu dan membiarkan sosoknya terlihat oleh Vio.
Vio tercengang melihat Almond yang berkostum doraemon dihadapannya.
“Kamu udah gila, ya? Malu-maluin diri kamu sendiri didepan orang banyak?” protes Vio.
“Iya aku udah gila, gila gara-gara cewek gila yang bikin aku kembali tersenyum, aku cuma pengen kamu tahu Vio, kalau aku sayang sama kamu. Aku juga suka sama kamu”.
“Aku berusaha buat bilang sama kamu selama beberapa hari ini, tapi kamu selalu menghindar.
            Vio terdiam.
            “Dan aku sadar, aku harus ngelakuin hal yang luar biasa biar kamu mau dengerin aku”.
            “Kamu mau kan jadi pacar aku? Jadi orang yang selalu bikin aku senyum?”.
            “Maksud kamu aku harus jadi pelawak buat kamu, gitu?” balas Vio.
            “Bukan gitu, Vi.. tapi..”.
            “Iya.. iya aku ngerti kok.. aku mau kok…”.
            “Mau apa, vi?”.
            “Mau boneka doraemon yang ditangan kamu” Vio mengambil boneka doraemon berukuran besar itu dari tangan Almond.
            Almond terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan Vio.
            “Tapi aku juga butuh doraemon raksasa buat nemenin hari-hari aku”.
            “Kamu bener-bener anggota BBB deh, Vi” balas Almond.
            “BBB yang artis itu?”.
            “Bukan..”.
            “Terus?”.
            “Bukan Beruang Biasa, kamu itu beruang luar biasa yang bikin aku senyum lagi dan bikin aku selalu jatuh cinta sama kamu” Almond mencium kening Vio dengan penuh kasih sayang kemudian memeluk cewek yang dia sayangi dan juga menyayanginya.
            Riuh tepuk tangan mengiringi perjalanan cinta mereka. Mereka seolah-olah dua badut sirkus yang memberikan tontonan gratis di sekolah. Akhirnya usaha yang dilakukan Vio tidak berakhir dengan sia-sia, begitupun usaha yang dilakukan Almond. Keduanya sama-sama berbuat luar biasa demi mendapatkan ruang didalam hati orang yang mereka sayangi. Vio dan Almond tidak memperdulikan ledekan serta tertawaan teman-teman mereka ketika melakukan hal konyol yang mengundang tawa, yang penting mereka bisa tertawa bersama-sama sekarang.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)