Selamat Tinggal Wahai Masa Lalu



Melupakan seseorang yang pernah tinggal dihati ini bukanlah perkara yang mudah. Terlalu banyak kebahagiaan dan juga kesakitan yang dilalui bersama dia. Dia yang mengecewakanmu dan menenggelamkanmu dalam airmata kesedihan, dia juga yang membuatmu tertawa dan larut dalam kebahagiaan. Kenangan tentang diapun seakan tak pernah habis dimakan waktu. Dia masih saja terjaga dengan baik dalam memori ingatan ini.
            Ini sudah tahun ketiga sejak Nico memutuskan hubungannya dengan Ana. Ana memilih untuk sendiri setelah putus dengan Nico yang beralasan akan fokus dengan sekolahnya. Namun bagi Ana, Nico itu sudah seperti noda yang melekat dan sulit sekali dihilangkan dari dalam hati dan pikirannya. Bahkan sebuah penghapus dan tipe-x dengan merek ternama pun tidak dapat menghapus bayangannya, kenangannya dan juga sosok dirinya. Belum lagi boneka beruang pemberian Nico yang selalu duduk manis diatas tempat tidurnya. Ingatannya tentang Nico masih terlalu kuat daripada usahanya untuk melupakan Nico.
      “Ini boneka harus aku apain ya biar aku lupa semua tentang Nico, apa aku kasihin keponakanku? Ah tapi sayang. Apa aku masukkin kardus aja? Tapi bonekanya kasian, kan lucu. Apa aku balikin aja sama orangnya? Hmm sepertinya ide bagus.. tapi, aku masih gak sanggup ketemu langsung sama dia”.
            Itulah pertanyaan yang sering Ana tanyakan pada dirinya sendiri dan dijawab kembali oleh dirinya. Mungkin raganya sudah bisa berpindah ke tempat lain, tapi hatinya. Ya, hati Ana masih tetap disana. Ditempat yang sama, tempat pertamakali dia menjatuhkan hati kepada seorang cowok bernama Nico Rizkiana. Si tinggi kurus dan berkacamata minus itu masih saja meracuni hati dan pikirannya.
            “Kapan mau move on, An? Ayolah lupain Nico, dia udah punya cewek baru kan makannya dia mutusin kamu. Lagian liat dong kenyataannya Nico itu awet banget sama pacar barunya. Kamu pasti udah liat ucapan selamat hari jadi mereka yang ketiga kan di facebook” kata-kata itu terekam dengan jelas di dalam kepala Ana. Kata-kata yang selalu diucapkan oleh April dan Mega, kedua sahabat dekatnya manakala Ana masih saja melamunkan Nico yang sudah jelas meninggalkannya dengan sebuah kebohongan.
            “Untuk hari ini dan seterusnya aku mohon banget sama kalian jangan tanyain soal itu lagi dan jangan ingetin aku kalau Nico udah punya pacar!” tegas Ana ketika April dan Mega menghampirinya di kantin kampus.
            “Kita kayak gitu itu karna peduli sama kamu An, kita nggak mau kamu terlarut sama masalalu dan kenangan-kenangan kamu sama Nico. Cobalah buka hati buat yang lain, buat Dimas!” balas April.
            “Aku nggak bisa lupain dia Ga, Pril!”.
            “Bukan gak bisa An, tapi kamu nggak mau lupain Nico. Itu yang bikin kamu selalu inget dia. Semua benda pemberiannya masih kamu simpen. Facebook dia masih sering kamu liatin. Ya gimana kamu mau lupain dia” Mega membalas pembelaan Ana.
            Ana hanya terdiam dan tak menjawab ucapan Mega.
            “Kenapa? Kamu masih penasaran ya sama Nico? Pengen balikan lagi sama dia? Masih cinta sama dia atau kamu dendam sama dia. Pengen bales sakit hati kamu?” pertanyaan April semakin menyudutkan Ana.
            Kenangan tentang Nico memang tak pernah ada habisnya, tiga tahun sudah berlalu, namun luka dan cinta itu masih membekas dihati Ana. Ana tidak berani membuka hatinya untuk siapapun termasuk Dimas. Hatinya masih terkunci untuk Nico.
            “Kamu sadar gak An, Dimas udah banyak berkorban buat kamu. Dia tetep setia sama kamu selama dua tahun ini. Dia nggak pernah nyerah buat luluhin hati kamu sedingin apapun sikap kamu sama dia, dia tetep bertahan buat kamu”.
            Tiba-tiba saja terdengar nyanyian seorang cowok dari arah studio kampus. Lagu dengan lirik yang Ana benci. “Aku mencintai kamu.. dengarkan janjiku…”.
            “Lagu itu, siapa yang nyanyiin lagu itu!” mata Ana mulai berkaca-kaca dan dia bergegas menuju studio kampus.
            “Ana, kamu mau kemana sih? Udahlah.. lagu itu kan bisa dinyanyiin siapa aja bukan cuma Nico dan kamu juga harus hargain kebebasan oranglain An” pinta Apri yang berusaha menajajari langkah Ana.
            April dan Mega tidak dapat menghentikan langkah Ana yang begitu cepat. Ana membuka pintu studio dengan keras dan membuat permainan gitar serta nyanyian Dimas terhenti. Namun beberapa detik kemudian Dimas kembali menyanyikan lagu itu dan memainkan gitarnya.
            “Kan ku sayang kau sampai akhir dunia”.
            “Aku bilang berhenti, berhenti nyanyiin lagu itu. Aku benci sama lagu itu!” mata Ana semakin berkaca-kaca.
            “Hanya kamulah satu-satunya”.
            “Aku bilang berhenti ya berhenti Dim.. aku nggak suka kamu nyanyiin lagu itu terus!”.
            “Paling berharga di sluruh dunia”.
            Ana tidak dapat membendung lagi emosi dan kesedihannya. Dia segera mengambil gitar yang berada ditangan Dimas dan menghempaskannya ke lantai. Gitar kesayangan Dimas kini sudah hancur berserakan. Mega dan April hanya bisa memandang pilu atas tindakan yang dilakukan Ana. Di luar dugaan ternyata Dimas sangat kecewa dengan perlakuan Ana terhadapnya. Dimas berdiri dihadapan Ana dan menatap Ana dengan tajam.
            “Aku emang sayang An sama kamu, aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu dan aku juga peduli sama kamu. Aku pengen banget bisa jadi orang yang berarti buat kamu meskipun aku tahu aku nggak akan pernah bisa menggeser posisi Nico dihati kamu An”.
            “Ok, nggak papa kok.. kamu boleh acuhin aku, cuekin aku, anggep aku nggak ada.. kamu juga boleh hancurin hati aku.. patahin hati aku, sebagai pengganti sakit kamu karena Nico. Tapi aku nggak bisa maafin kamu kali ini An, kamu keterlaluan.. karna kamu udah hancurin gitar kesayangan aku!”.
            Tanpa meminta maaf, Ana bergegas pergi begitu saja menuju ke tempat kostnya. Dia menyesal dengan perbuatannya. Dia memaki-maki dirinya sendiri. Dia sadar, kenangannya tentang Nico membuat dia sulit mengendalikan diri setiapkali ada oranglain yang bersikap seperti Nico. Seluruh memori ingatannya masih tersita oleh Nico dan selalu tentang Nico.
            “Aku jadi ngerasa bersalah sama Ana dan Dimas, Ga” April terlihat bersedih di dekat pintu kamar Ana yang terbuka.
            “Udahlah, semoga dengan kejadian ini Ana bisa sadar dan nggak terus-terusan mikirin Nico lagi, Pril”.
            “Semoga ini bener-bener bisa bikin Ana lupain semua hal tentang Nico ya, Ga”.
            Mega tersenyum dan mengajak April menjauh untuk beberapa menit sebelum akhirnya menenangkan Ana. Ana masih terisak di dalam bantal kesayangannya. Beberapa detik kemudian dia bangkit dan menatap boneka beruang dengan ukuran yang cukup besar dari Nico. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa indahnya bersama Nico, namun kenangan pahit dan sakit pun turut mengiringinya. Ana mengambil boneka itu dan menghempaskannya ke dalam tempat sampah. Kali ini Ana benar-benar ingin melupakan semua tentang Nico.
            Airmatanya masih terus menetes, Ana mendekati dinding kamarnya dan membenturkan kepalanya ke dinding, dia berharap bisa lupa ingatan. Lupa akan kejadian hari ini dan lupa kepada Nico. Ana tidak ingin mengingat-ngingat lagi segala sesuatu yang berhubungan dengan Nico, cukup tiga tahun ini dia bersikap bodoh dan merasa hanya Nico yang pantas menjadi kekasihnya lagi.
            “An, cukup.. kamu ngapain sih nyiksa diri kamu sendiri” Mega dan April segera menarik Ana dan memaksa Ana untuk duduk di atas tempat tidurnya.
            “Aku pengen ngelupain semuanya.. aku pengen lupa..lupa sama dia” Ana menangis tersedu-sedu dan memeluk Mega.
            “Kamu tenang ya An, ada kita kok yang siap bantu kamu buat bangkit dan ngelupain Nico yang udah nyakitin hati kamu”.
            “Kita bisa mulai dengan pelan-pelan An. Kamu mau kan ikutin saran kita. Kamu pasti bisa lupain Nico kok”.
            Ana melepaskan pelukannya dan mengangguk perlahan. Bibirnya melengkungan sebuah senyuman. Selama ini dia terlalu fokus dengan segala kenangan Nico. Padahal ada dua sahabat yang sangat memperdulikannya dan sangat ingin Ana keluar dari masalalu dan bayang-bayang tentang Nico. Kemudian meminta Ana untuk membuka mata dan hati untuk Dimas. Laki-laki yang rela berkorban dan setia menunggu Ana selama dua tahun ini.
***
            Ana mengikuti saran dari kedua sahabatnya. Dia mulai menghapus semua file fotonya bersama Nico dan juga foto Nico, Ana juga memblokir facebook Nico. Dia juga membakar seluruh kartu ucapan dari Nico. Kini hanya tersisa boneka beruang yang diberikan oleh Nico.
            “Kalau mau lupa sama yang udah lalu itu jangan setengah-setengah An, sekarang coba deh masukin bonekanya ke dalam kardus terus dibungkus yang rapi. Soalnya kalau terus kamu simpen, percuma dong.. kamu pasti bakalan inget terus kalau barang dari Nico masih kamu simpen” April meminta Ana untuk merelakan boneka beruang lucu itu.
            “Tapi ini kan bisa aku tonjok kalau lagi kesel, Pril”.
            April menggeleng-geleng sembari tersenyum. Dia tahu kalau ini masih terasa berat oleh Ana, tapi April yakin lama kelamaan Ana akan terbiasa tanpa Nico. Akhirnya Ana merelakan boneka beruang itu dibungkus rapi oleh Mega.
            “Terus diapain dong?”.
            “Sekarang kamu temuin Nico di kampusnya dan kasihin bungkusan ini, bilang sama dia kalau kamu udah bisa ngelupain dia. Dan kamu mau kembaliin boneka yang pernah dia pinjemin buat kamu. Bilang makasih juga sama dia!” tegas Mega sambil memberikan kotak itu kepada Ana.
            “Sekarang?”.
            April dan Mega mengangguk bersamaan.
Ana menunggu Nico di depan kampusnya. Berharap Nico menemuinya sesuai perjanjian mereka melalui pesan singkat tadi. Ana melihat Nico berjalan semakin dekat ke tempatnya berada. Dunia Ana seakan runtuh melihat sosok dihadapannya yang berdiri tegak dengan senyuman khasnya itu. Sakitnya semakin bertambah mengerogoti tulang-tulang yang melekat ditubuhnya. Waktu seakan terhenti begitu saja. Ana tak pernah menduga akan bertemu Nico lagi. Ana benar-benar belum siap bertemu dengan Nico tapi ini harus tetap dilakukannya demi tekadnya melupakan semua tentang Nico.
            “Hei An,  aku nggak nyangka kita bisa ketemu lagi”.
            Ana masih terjaga dalam lamunannya “Ini beneran Nico? Atau halusinasi aku aja?”.
            “Hei, kok malah bengong? Kamu baik-baik aja kan?”
            Ana mengangguk perlahan dan beberapa saat kemudian tangannya memberikan bungkusan kado berukuran sedang itu.
            “Ini apa?”.
            “Itu boneka yang pernah kamu pinjemin ke aku, sekarang aku mau kembaliin.. aku udah janji sama diri aku sendiri buat lupain semua tentang kamu”.
            “Tapi An, aku itu ngasih boneka ini buat kamu bukan minjemin. Jadi kamu nggak usah balikin lagi ke aku”.
            “Tapi aku nggak bisa simpen boneka itu terus, aku udah punya penggantinya” Ana berusaha menahan airmatanya agar tidak menetes.
            Ana meninggalkan Nico yang berdiri mematung setelah menerima bungkusan kado itu dari Ana. Hatinya terasa lebih ringan setelah mengembalikan boneka itu kepada Nico. Ana ingin menebus kesalahannya kepada Dimas dan menginginkan Dimas tetap menemaninya untuk bangkit dan melupakan Nico. Ana membelikan sebuah gitar baru untuk Dimas. Ana menemui Dimas dikantin kampus bahkan meminta Dimas menyanyikan lagu itu lagi.
            “Kok kamu nangis An?” Dimas terlihat panik ketika melihat Ana yang menitikkan airmata ketika dia selesai bernyanyi.
            “Aku bahagia Dim, aku bahagia karena sekarang aku punya kamu. Kamu yang tulus dan setia menyayangi aku. Makasih ya Dim”.
            “Sama-sama An”.
            Inilah pilihan yang dijatuhkan Ana. Pada akhirnya Ana berhasil melupakan sosok Nico yang kini posisinya digantikan oleh Dimas. Dimas berhasil menggantikan Nico di hati dan pikiran Ana. Ana telah menutup semua kenangan pahit dan manisnya bersama Nico, kini dia membuka mata, hati dan pikiran untuk yang baru. Membuka lembaran baru bersama Dimas. Melumpuhkan semua ingatannya tentang Nico. Sekarang Ana tidak harus amnesia untuk melupakan segala tentang Nico karena ada Dimas yang menemaninya untuk melupakan Nico secara perlahan tapi pasti.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)