Sepatu yang Mempertemukan Kita Kembali

             Cinta, perasaan itu muncul secara tiba-tiba seiring kedekatan mereka dalam organisasi di sekolah. Perasaan itu telah mengubah sedikit demi sedikit kebiasaan buruk Dee. Cinta mampu mengubah Dee yang cuek serta tomboy hampir 180 derajat. Diaz, cowok berpostur tubuh ideal beserta alis mata tebalnya mampu mencairkan hati Dee.
            “Kamu ngapain liatin aku kayak gitu, Di?” Dee sedikit salah tingkah dan heran karena sejak tadi Diaz tak henti menatapnya.
            Diaz belum menjawab pertanyaan Dee, dia masih terjaga di dalam lamunannya dan sesekali tersenyum manis. Ya, senyuman Diaz sangat manis dan membuat Dee semakin jatuh cinta.
            “Heh, ditanyain malah senyam senyum.. jangan-jangan kamu naksir aku ya, dari tadi liatin aku terus!” Dee mencubit tangan kanan Diaz yang menopang dagunya.
               ‘Aaaargh’ Diaz meringis kesakitan.
            “Apaan sih Dee, Geer banget kamu. Gak mungkinlah aku suka sama cewek kayak kamu. Cantik sih tapi kelakuannya preman!”.
          “Jadi, Diaz gak punya perasaan yang sama kayak aku. Dia bilang kelakuan aku kayak preman, padahal aku udah bela-belain ngubah penampilan aku demi dia” ucap Dee dalam hati.
            “Yee, malah giliran dia yang ngelamun!” protes Diaz yang melempar sebuah sedotan ke arah Dee.
            “Terus kamu ngeliatin apaan?”.
            Diaz meminta Dee untuk berbalik dan mengikuti arah jari telunjuknya. Jari Diaz mengarah pada Sabrina, cewek terpopuler di sekolah sama halnya seperti Diaz yang digandrungi para cewek di sekolah. Ini membuat hati Dee terluka, dia baru sadar kalau Diaz takkan pernah mempunyai perasaan yang sama dengannya. Jelas-jelas Dee bukan kriteria cewek yang disukai Diaz. Dee juga menyadari jika perubahan kepribadiannya tak berarti sama sekali di mata Diaz.
            “Cantik, ya?” Diaz tersenyum ketika Dee membalikkan lagi badannya.
            Dee hanya mengangguk dan tersenyum pahit. Hatinya benar-benar hancur, apalagi mendengar pujian untuk Sabrina serta senyuman Diaz yang mengembang sempurna.
            “Mmm, aku ke ruang osis dulu ya, tadi kayaknya lupa matiin komputer”.
            Dee bergegas meninggalkan Diaz, dia tak mau Diaz melihat airmatanya yang sebentar lagi akan meluncur. “Kenapa kamu pergi Dee? Apa bener kata anak-anak kalau kamu juga jatuh cinta sama aku?apa kamu cemburu Dee? Andai aja aku gak pernah denger kamu berjanji gak akan pacaran sampai kamu lulus kuliah nanti. Aku pasti bilang kalau aku suka dan sayang sama kamu. Aku pengen kamu jadi pacar aku, bukan sekedar sahabat” ucap Diaz yang memandang kepergian Dee dengan pilu.
Sebenarnya Diaz memandangi Dee sejak tadi, perubahan Dee membuat Diaz semakin jatuh cinta pada Dee, bukan Sabrina. Diaz hanya ingin tahu reaksi Dee dan Diaz tidak ingin Dee tahu kalau sebenarnya dia mencintai Dee.
***
Sudah satu bulan lamanya Diaz resmi berpacaran dengan Sabrina dan menenggelamkan gosip yang selama ini beredar tentang hubungan Diaz dan Dee. Dee tetap tersenyum dan memberikan selamat kepada Diaz, meskipun hatinya perih. Lambat laun Dee memutuskan untuk menjaga jarak dengan Diaz. Dia kembali membangun tembok dihatinya secara perlahan. Dee berharap dengan cara seperti ini dia bisa melupakan Diaz dan berhenti mencintai Diaz walaupun sebenarnya Dee berharap kalau dia yang ada dihati Diaz, bukan Sabrina.
“Dee, nanti sore temenin aku ke toko buku ya, terus aku traktir kamu makan sama nonton deh. Udah lama kan kita nggak jalan bareng” Diaz tersenyum dan berdiri dihadapan Dee, menahan langkah kaki Dee menuju ke ruangan osis.
“Maaf Di, aku udah ada janji sama mama aku. Kamu mending minta temeninnya sama Bina” Dee berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan serta rasa gugupnya.
 “Aku maunya sama kamu Dee, kenapa sih semenjak aku pacaran sama Bina kamu itu selalu menghindar dan jaga jarak sama aku?”.
“Kamu cemburu?” tanya Diaz lagi.
Dee terdiam sejenak, matanya mulai berkaca-kaca. Namun, beberapa detik kemudian dia tertawa kecil. ‘hahahaha’.
“Ngaco deh. Ngapain juga aku cemburu sama kamu. Dari dulu aku cuma nganggep kamu sahabat kok. Lagian aku nggak pernah punya perasaan sama kamu. Aku itu cuma nggak mau Bina salah paham sama aku. Ya, kamu tau sendiri kan di sekolah ini banyak biang gosip. Aku nggak mau ada berita aneh-aneh tentang kita, Di!” Dee mencoba menegarkan hatinya dan menutupi kesedihannya. Berharap airmatanya bisa tertahan cukup lama.
“Kamu bohong kan Dee? Ayo bilang sama aku Dee kalau kamu bohong. Bilang Dee kalau kamu itu sebenernya cinta sama aku, ayo Dee” Diaz menatap Dee penuh harap.
“Diaz!” Bina memanggil Diaz dari arah perpustakaan dan melambaikan tangannya sambil tersenyum.
“Tuh, Bina manggil, aku ke ruangan osis dulu ya”.
Dee membalikkan badannya, meninggalkan Diaz dengan langkah yang pelan. Kakinya terasa berat, butiran airmata mulai berjatuhan satu persatu tanpa bisa di bending lagi.
“Dee…!”
“Dee….!”
Dee tidak menghiraukan panggilan Diaz, dia berusaha mempercepat langkahnya untuk menjauh dari Diaz dan bersembunyi dibelakang tembok lab Biologi. Dee menumpahkan airmata kepedihannya sampai beberapa detik kemudian menghapus airmata itu dan bersikap seperti biasa lagi, kuat dan tegar.
“Dee, apa aku harus teriak kalau aku sayang dan cinta sama kamu sekarang. Aku sama Sabrina sebenernya nggak pacaran Dee, aku cuma pengen kamu ngaku kalau kamu juga suka sama aku. Aku nggak akan lelah buat nunggu kamu sampai kamu lulus kuliah nanti, Dee. Aku janji” teriak Diaz didalam hatinya.
***
Satu tahun kemudian
Hari ini adalah hari ulangtahun Dee dan Diaz, bertepatan dengan hari perpisahan mereka di sekolah karena tiga hari yang lalu semua siswa angkatan 2007 di nyatakan telah lulus ujian nasional.
“Dee, ada kiriman nih buat kamu, bunganya hampir layu kena sinar matahari di depan gerbang rumah kita” ibu Mia meletakkan buket mawar serta kotak kado untuk Dee di atas meja kerjanya.
 “Dari siapa ma?” kening Dee berkerut, pasalnya baru kali ini ada kiriman bunga untuknya.
Ibu Mia menggeleng dan meneruskan kembali pekerjaannya untuk menyelesaikan gaun pengantin pesanan kliennya.
Dee membuka kartu ucapan yang melekat pada buket mawar itu.
“Hai, Dee.. Happy birthday.. semoga kamu semakin dekat dengan cita-citamu menjadi seorang designer J. Selamat untuk kelulusannya, dan juga kelulusan masuk PTN di jurusan yang kamu mau
-DD-“
Dee segera membuka kotak kado itu, ternyata isinya sebuah sepatu kets berwarna biru yang Dee inginkan beberapa bulan lalu, namun belum sempat dia beli. Di dalamnya ada sebuah surat kecil bertuliskan : “Pakai sepatu ini kemanapun kamu melangkah, sejauh apapun kamu pergi, sepatu ini akan membawa kamu menemuiku suatu hari nanti, Dee”.
“Dari siapa sayang?”.
“Ngga tau ma, gak jelas.. tapi isinya sih sepatu kets yang aku pengen”.
 “Yaudah pake aja nanti malem di acara perpisahan kamu, paduin sama gaun cantik dari mama” ibu Mia tersenyum dan mengecup kening putri kesayangannya sambil memberikan sebuah gaun berwarna putih hasil rancangnya, khusus untuk Dee.
   “Makasih ya, ma” Dee mencium kedua pipi mamanya dan memeluknya dengan erat.
  “Siapapun kamu.. aku berterimakasih untuk kado indah ini. Ini pertamakalinya aku dapet bunga mawar putih” Dee tersenyum dalam pelukan mamanya.
  Sementara itu Diaz tengah menikmati kue kiriman Dee serta membuka bungkusan kado berwarna biru itu. Ada sebuah kamera digital serta surat kecil di dalamnya.
“Hallo Diaz, selamat ulang tahun ya dan selamat atas kelulusannya.. semoga sukses melanjutkan studi di negeri Kangguru J, Potret apapun yang kamu mau, termasuk seseorang yang spesial untukmu. Semoga suatu hari nanti kamu akan memotret aku…”.
Detik-detik perpisahan itu semakin dekat. Ada dua hati yang memendam kesedihan mereka sendiri diantara kebahagiaan yang mengelilingi mereka malam ini. Dee tampil sangat menawan, dia terlihat semakin cantik dan peminim dengan balutan gaun berwarna putih rancangan mamanya yang dipadukan dengan sepatu kets pemberian Diaz. Diaz terpana menatap Dee, dia tak henti-hentinya memotret seluruh gerak gerik Dee, dia bahagia melihat Dee mengenakan sepatu pemberiannya malam ini.
Mereka saling mencuri pandang, Dee tersenyum melihat Diaz yang memakai kamera pemberiannya untuk mengabadikan momen indah malam ini. Momen perpisahan yang akan membuat jarak mereka semakin jauh. Mereka masih enggan saling menyapa, sejak Diaz bersama Sabrina, Dee tidak ingin ikut campur lagi ke dalam kehidupan Diaz.
“Ok, guys.. diakhir acara malem ini, aku Prita mau ngucapin selamat atas kelulusan kita semua dan semoga kita semua sukses yaa. Kenangan tentang kalian bakalan selalu aku ingat sampai tua. Oh iya, aku mau ngucapin selamat ulang tahun untuk dua temen kita yang cukup populer di sekolah. Selamat ulang tahun ya Dee dan Diaz”.
 “Ayolah Dee, ucapin selamat ulang tahun dan satu kalimat perpisahan aja buat Diaz, sebelum kamu nyesel” bisik Salsa.
 “Hei, Dee” Diaz terlebih dahulu menghampiri Dee.
  “Hei” senyum Dee terlihat kaku.
 “Selamat ulang tahun ya, dan selamat jadi anak kuliahan. Aku denger kamu lulus di PTN dengan jurusan yang kamu mau” Diaz mengulurkan tangannya kepada Dee dan tersenyum manis.
  “Kenapa rasanya hati ini gak rela buat pisah jauh sama kamu yang bakalan lanjutin kuliah di Australia. Kenapa rasa cintaku gak pernah berkurang sedikitpun padahal aku udah berusaha buat lupain kamu selama setahun ini”.
***    
Enam tahun kemudian….

Dee berhasil mewujudkan keinginannya. Dia menjadi designer terkenal seperti mamanya. Rancangan bajunya sangat populer dikalangan anak muda. Namun, kebahagiaannya masih terasa kurang, hatinya masih kosong.. belum terisi oleh siapapun. Hanya sisa kenangan Diaz yang masih terukir disana. Sepatu pemberian penggemar rahasianya itu masih dia pakai walaupun warnanya sudah sangat pudar.
 “Ini udah tahun keenam aku pake sepatu pemberian kamu yang entah siapa. Aku ngikutin kata-kata kamu untuk terus pake sepatu ini dengan harapan aku bisa tahu siapa kamu” ucap Dee di dalam hatinya.
   “Idih, sepatu butut gitu masih aja di pake dan diliatin terus!” protes Salsa.
  “Sepatu ini tuh spesial Sa, gak akan aku pensiunin sebelum aku ketemu siapa yang ngasih sepatu ini buat aku!”.
   “Kalau orangnya udah lupa, gimana? Atau udah almarhum?”.
    “Ih Salsa… mulutnya”.
     Salsa tersenyum manis “Maaf, kan cuma menduga-duga”.
     “Udah ah, mendingan kita pulang aja. Aku udah capek” Dee segera mengambil tasnya dan keluar dari butik milik ibunya.
   Karena jarak butik dengan rumah tidak begitu jauh, Dee lebih memilih naik angkutan umum atau berjalan kaki. Untuk malam ini, dia memutuskan untuk berjalan kaki, menikmati lampu penerangan yang temaram dikota Bandung. Di seberang jalan sebelum kompleks perumahannya Dee melihat ada banyak kembang api yang bertabur menghiasi langit malam. Ternyata ada pasar malam, Dee terlihat sangat girang dan bergegas menuju kesana. Pasar malam ini kembali hadir disana setelah sekian tahun lamanya. Dee pernah kesana bersama Diaz, saat mereka masih dekat.
    “Dee, ngapain sih kesini?!” protes Salsa.
   “Udah deh diem aja, aku itu pengen naik bianglala, main tembak-tembakan yang hadiahnya boneka terus makan gulali sama arum manis” Dee berlari-lari kecil dan terlihat riang gembira, sampai tak sengaja menginjak kaki seorang laki-laki yang sedang asyik memotret dengan kamera digital yang sudah ketinggalan zaman.
   “Maaf, nggak sengaja” Dee memejamkan matanya karena tidak ingin melihat wajah penuh kemarahan dari orang yang kakinya terinjak.
   Diaz belum menatap Dee, dia masih membersihkan sepatunya yang terinjak, Diaz terlihat kaget begitu melihat sepasang sepatu kets lusuh dihadapannya. Dia masih ingat kalau sepatu itu pernah dibelinya dan diberikan kepada Dee, wanita spesial yang masih menempati seluruh ruang dihatinya.
 “Sepatu…” Diaz berucap pelan.
 “Dee? Apa aku nggak salah liat? Apa ini halusinasi aku aja?”.
  Dari kejauhan Salsa tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Diaz. “Kalau cinta dan jodoh itu emang gak kemana ya” ucap Salsa dalam hati.
  Kini Diaz yakin kalau wanita dengan sepatu kets lusuh dihadapannya itu adalah Dee.
  “Bener kan kata aku, kalau kamu pakai sepatu itu kemana pun kamu melangkah, suatu hari nanti sepatu itu bakalan ngebawa kamu buat nemuin pemiliknya"
            Dee mendongak “Diaz?”.
            Diaz mengangguk dan tersenyum.
            “Jadi kamu yang ngasih aku sepatu ini?”.
            “Iya, hebatkan aku bisa bikin designer terkenal pake sepatu butut kemana-mana?”
          “Ih, nyebelin ya.. kamu tega banget nyuruh aku nunggu lama, nyuruh sepatu ini yang nganterin aku buat nemuin kamu. Kalau ketemunya 50 tahun lagi gimana, coba?”.
         “Ah lebay banget sih kamu, Dee.. aku pengen tau aja, kamu bakalan ngehargain pemberian dari orang yang cuma ngasih inisial gak jelas atau nggak. Dan sekarang aku yakin kalau kamu beneran cinta dan suka kan sama aku?”.
         Wajah Dee terlihat merah padam, tebakan Diaz memang benar. Dee masih mencintainya bahkan sampai saat ini.
            “Kamu juga, buktinya masih pake kamera yang aku kirim” Dee membalas ucapan Diaz.
         “Aku emang suka, sayang dan cinta sama yang namanya Dee dari dulu. Sampai-sampai aku setia banget ngejomblo selama 9 tahun”.
            “Masa?”.
            “Iya, cewek preman yang cantik!”.
            “Kamu kan dulu pacaran sama Bina!”.
         ‘Hahahaha’ Diaz tertawa geli mendengar pernyataan Dee tentang status hubungan palsunya dengan Bina. Sementara itu Dee terlihat kesal sekaligus bahagia mendengar pengakuan Diaz. Akhirnya keduanya sama-sama mengakui kalau mereka menyimpan rasa sayang dan suka mereka selama bertahun-tahun.
           “Terus kenapa kamu nggak bilang dari dulu?” tanya Dee yang kini tengah menikmati bianglala bersama Diaz sambil memakan arum manis yang sengaja dibeli Diaz untuknya.
            “Kenapa ya? Kok kamu malah nanya aku sih?”.
          “Ih, kan kamu yang tahu jawabannya Diaz” Dee membalikkan wajahnya dan menatap Diaz dengan kesal.
           “Kamu tambah lucu deh kalau marah” goda Diaz.
            “Jawabannya itu karena kamu ngomong sama aku kalau kamu nggak mau punya pacar sampai lulus kuliah nanti. Yaudah aku simpen aja perasaan aku dan aku tunggu saat yang tepat. Saat Tuhan mempertemukan kita kembali dengan perasaan yang masih sama seperti dulu”.
          Dee terharu mendengar kata-kata yang Diaz lontarkan. Dia menitikkan airmata kebahagiaannya dihadapan Diaz. Diaz segera menghapus airmata itu dengan kedua tangannya. Beberapa saat kemudian dia mengeluarkan satu tangkai bunga mawar putih serta kotak kecil dari dalam jaket yang dia kenakan.
          “Sekarang, kamu mau ngga jadi istri aku? Nemenin sekaligus mencintai aku selama-lamanya?” Diaz mengenggam kedua tangan Dee dan menunggu jawaban iya dari bibir mungil itu.
            “Hah?”.
          “Kok malah hah, sih! Aku itu ngelamar kamu buat jadi pendamping hidup aku yang pertama dan terakhir, yang bakalan setia nemenin aku sampai mata aku nggak terbuka lagi"
            Dee mengangguk dan tersenyum. Dia menerima lamaran Diaz, akhirnya cinta itu benar-benar terbalas. Rasa sakit dan kepedihan itu kini sirna dan tergantikan oleh kebahagiaan yang tidak terkira dari Diaz. Dee tidak perlu lagi bermimpi untuk bisa dicintai Diaz, semuanya nyata dan ada di depan mata. Penantian panjang itu tidak berakhir dengan kesia-siaan dan sepatu itu benar-benar menuntun Dee untuk menemukan pengirimnya sekaligus cintanya.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)