Entah Sampai Kapan

Oleh : Ge Maulani

               Mengapa Tuhan menghadirkan cinta diantara kita jika pada akhirnya kita tak akan bisa terus bersama? Mengapa Tuhan mempertemukan kita, jika pada akhirnya kita akan terpisah. Jurang pemisah diantara kita terlalu jauh dan dalam. Cinta kita di tentang, tak ada yang menyetujuinya.
         Aku memulai hari ini dengan sebuah senyuman, senyuman bahagia saat pertamakalinya menginjakkan kaki di kampus yang aku inginkan. Senyuman itu perlahan memudar saat aku tak sengaja menabrak seseorang dihadapanku.
            “Maaf, aku nggak sengaja”
            Dia tersenyum, wajahnya sangat tampan dan bercahaya.
            “Nggak papa, lagipula aku juga tadi nggak liat jalan”
            “Aku permisi dulu ya, Assalamualaikum”
          Aku tertegun, perasaan kagum dan suka yang baru saja melintas dibenakku seketika sirna begitu saja.
            “Kenapa Ngel?”
            “Eh, Trisa, gak papa kok”
            “Pasti habis ketemu Hafiz, ya?”
            “Hafiz?”
            “Iya, cowok paling ganteng di fakultas Ekonomi”
            “Jadi namanya Hafiz, sangat islami”
***
       Aku tak pernah menduga hal ini akan terjadi sebelumnya, aku bersamanya, duduk disampingnya. Aku bisa mendengarnya bercerita, dia mempunyai hal-hal menarik dan lucu untuk dibagi bersamaku. Aku sangat bahagia menjadi kekasihnya, tapi disisi lain aku gelisah, aku takut, aku takut kebersamaan ini akan segera berakhir.
            “Udah adzan dzuhur, aku ke masjid dulu ya, Ngel?”
      Aku mengangguk perlahan. Hafiz beranjak meninggalkanku, dia pergi menuju ke rumah Tuhannya dan aku tak bisa menemaninya.
            “Angeel!” teriakan Trisa mengagetkanku.
            “Apaan sih Tris, ngagetin aja!”
            “Kok sendirian? Hafiz kemana?”
            “Ini kan waktunya Hafiz sholat, Tris”
            “Oh iya, gue lupa”
            “Kita ke kantin aja yuuk, makan siang? Nunggu Hafiznya disana aja?”
            Aku mengangguk dan menyetujui saran dari Trisa. Namun,handphone milik Hafiz yang tertinggal dan membuatku menolak ajakan Trisa. Aku berjalan perlahan mendekati masjid kampus, kulihat Hafiz tengah membasuh mukanya dengan air. Bibirnya terlihat khusyu berdo’a.
            “Angel? Kok kamu disini?”
            Aku tersenyum “Ini, handphone kamu ketinggalan disana”
            “Aku udah ambil wudhu, kamu bisa simpenin dulu handphone aku, kan?”
            “Kalau gitu aku tunggu di kantin ya, Fiz”
            “Iya”
            Aku melangkahkan kakiku untuk meninggalkan tempat Hafiz beribadah. Aku tak pernah tahu sampai kapan kami bisa bersama. Semakin hari perbedaan diantara kami semakin terasa.
            “Ngel, kok muka loe ditekuk gitu, sih?”
            “Apa aku bisa terus jalani ini sama Hafiz, Tris?”
           Trisa terdiam, aku yakin dia pun tak yakin jika aku dan Hafiz bisa terus melanjutkan hubungan kami.
            “Udahlah jangan terlalu dipikirin, nanti juga pasti ketemu titik terangnya”
     Aku tahu, Trisa hanya berusaha menghiburku. Dia tidak ingin aku kecewa, tapi pada kenyataannya aku kecewa.
          “Hei, udah pesen?” Hafiz mengacak-ngacak rambutku seperti biasanya, sebuah kebiasaan yang menandakan bahwa dia menyayangiku.
            “Hafiiz! Kebiasaan deh bikin rambut aku berantakan!”
            ‘Hehehehehe’
            “Udah pesen belum?” Hafiz mengulang kembali pertanyaannya.
            “Udah kok, aku pesen bakso sama jus stoberi”
           “Hahahaha” Tawa Hafiz meledak dan membuat orang-orang disekitar kami memandang heran.
            “Fiz, ketawanya itu loh, pelanin!”
            “Maaf, maaf kelepasan sih”
            Hafiz selalu menertawakanku ketika memesan semangkuk bakso. Katanya “Pantes aja pipi kamu tambah tembem, makan bakso mulu sih”. Tentu saja itu hanya sebuah ledekan atau mungkin sindiran. Tubuhku dari dulu begini tak pernah berubah, seluruh program penggemukan badan sudah kucoba, tapi hasilnya nihil. Tubuhku tetap kurus seperti orang kekurangan gizi.
            “Loe seneng banget sih Fiz, ngetawain Angel?”
            “Ya gimana dong Tris, pacarku tersayang ini bukannya nambah gendut malam tambah kurus”
***
         Hari ini adalah hari minggu, hari dimana aku beribadah kepada Tuhanku. Seperti biasanya Hafiz dengan setia mengantarkanku sampai ke depan gereja yang letaknya tidak jauh dari Bandung Trade Centre.
            “Aku tunggu di KFC aja ya”
            “Iya, makasih ya Fiz udah mau nganter aku kesini” aku memberikan helm ditanganku kepada Hafiz.
            “Selama aku mampu, aku akan anter kamu kemanapun kamu mau”
      “Tapi maaf, aku nggak bisa nemenin kamu ke dalem” dia tersenyum, namun itu terasa menyakitkan untukku.
        Aku tiba di depan pintu Gereja, aku melihat ke arah Hafiz, dia melambaikan tangannya kepadaku sembari melempar senyum. Waktu terasa terhenti begitu saja, jarak kami terasa semakin menjauh. Tiba-tiba saja aku takut kehilangannya, kehilangan senyuman manis yang selalu setia menemaniku selama satu tahun ini. Aku menyadari hal itu, menyadari perbedaan keyakinan diantara kami.
         Hafiz tak akan pernah bisa berdo’a bersamaku. Tuhan kami berbeda, Tuhanku bukan Tuhannya. Tempat kami beribadah dan cara kami beribadah pun sangat jauh berbeda. Perbedaan diantara sangat mencolok, semua orang yang bisa melihat pasti mengetahuinya.
            “Gila, aku tinggal sebentar, kamu makan banyak banget, Fiz” aku takjub melihat piring serta tempat minuman yang sudah kosong dalam jumlah yang banyak.
            “Enak aja, aku belum makan atau minum apa-apa tau!”
            “Masa?”
            “Iya, seriusan deh!”
            “Terus ini bekas siapa?”
            “Aku lagi apes nih ketemu sama keluarga besarku disini”
            “Keluarga besar?”
            “Iya, aku kenalin kamu sekalian ya sama ayah, ibu, kakak sama adekku”
            Tiba-tiba saja aku meragu, apakah mereka bisa menerimaku yang berbeda keyakinan dengan mereka? Aku takut, benar-benar takut. Kulangkahkan kakiku mengikuti langkah Hafiz dari belakang.
            “Pak, Bu.. kenalin.. ini Angel pacar Hafiz”
         Kulihat wanita dan lelaki paruh baya itu tersenyum menatapku. Aku membalas senyuman mereka dan bersalaman. Keluarga Hafiz sungguh ramah dan baik terhadapku. Rasa takutku hilang begitu saja, tak berbekas.
***
            Aku tak tahu sampai kapan, tapi aku bahagia bisa mengenalnya juga keluarganya. Aku bahagia bisa menjadi kekasihnya, menjadi seseorang yang dia sayangi dan selalu di rindukannya.
            “Keluarga kamu nyenengin ya”
            “Iya dong, sama kan kayak aku?”
            “Ih, GeEr!”
            “Aku kira, keluarga kamu…” aku tak meneruskan pernyataanku.
            “Kedua orangtuaku udah tau kok kalau kamu bukan orang islam”
            “Terus?”
            “Ya mereka nggak papa, seperti yang kamu liat tadi, selama kita masih pacaran ya itu nggak papa. Lagian kita kan nggak berbuat macem-macem”
            “Angeeeeel!” teriakan mama terdengar melengking dari teras depan rumah.
            “Iya, ma.. sebentar”
            “Cepetan masuk!”
            Mama selalu marah setiapkali melihat Hafiz mengantarkanku pulang. Perayaan natal tahun lalu membuat kedua orangtuaku tahu jika Hafiz tak seiman dengan kami. Mama dan papa tak bisa menerima itu semua, berbeda dengan keluarga Hafiz yang bisa bersikap ramah dan baik kepada siapapun.
            Cinta kami tak direstui dan mungkin tak akan pernah bisa bersatu di dalam ikatan suci pernikahan. Keyakinan kami berbeda dan itu terlihat sangat jelas.  Aku mencintai agamaku begitupun Hafiz, dia mencintai agamanya.
            “Angeel, mama bilang masuk ya masuk!”
            “Fiz, aku masuk ya.. maafin mamaku, ya?”
          “Iya, gak papa kok Ngel, sebagai orangtua, mama kamu pasti sangat khawatir kepada anaknya”
        Aku berjalan memasuki pekarangan rumah, membiarkan Hafiz dan sepeda motornya menghilang dari pandanganku.
***
            “Heh, kebanyakan ngelamun nggak bagus loh, Ngel!”
            “Aku lagi nggak ngelamun kok Tris”
            “Terus apa? Bengong, gitu?”
         Dari kejauhan Hafiz melambaikan tangannya ke arah kami. Dia memberikanku setangkai bunga mawar berwarna putih, baunya sangat harum. Aku tak tahu kapan semua ini akan berakhir. Aku juga tak tahu kapan hubungan kami akan terus bertahan, bertahan di atas sebuah perbedaan. Menjalanin sebuah hubungan terlarang tanpa restu orangtua.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)