I Smoke Every Day and I Became a Zombigaret

         Kepulan asap rokok masih membumbung tinggi memenuhi setiap ruang di kamar sempit ini. Aku mendapatkan ketenangan serta kenikmatan saat menghisapnya. Aku kecanduan sejak pertama kali mencobanya bersama teman-temanku. Saat itu aku baru duduk di bangku SMP. Aku bisa menghabiskan tiga bungkus rokok dalam sehari. Semua uang jajanku ludes untuk membeli kenikmatan sesaat ini. Kebiasaan buruk ini berlanjut hingga sekarang, usiaku 22 tahun.
“Adit, kapan kamu mau berhenti merokok?” ibu membuka pintu kamarku, membiarkan asap-asap itu menghilang sedikit demi sedikit.
Aku melengos, tak peduli.
“Kamu itu harus hemat Dit, apalagi belum dapat pekerjaan baru”
“Uang kok di bakar-bakar! Lagian gak bagus buat kesehatan kamu”
Lagi-lagi ibu memprotes kebiasaan burukku ini.  Sama halnya seperti bapak yang tidak merokok, ibu selalu bilang kalau merokok itu tak ada gunanya. Hanya menghambur-hamburkan uang dan menimbulkan penyakit.
“Itu bibirmu kenapa, Dit? Kok ada benjolan-benjolan kecil gitu?” ibu mendekatiku dan menyentuh salah satu benjolan sariawanku.
“Aduh, Bu … jangan di pegang!” pekikku, “sakit”
“Makannya jangan ngerokok terus. Jadinya kan kena sariawan. Nafasmu bau, gigimu kuning. Tubuhmu makin kurus”
Aku tak memperdulikan nasehat-nasehat dari ibu ataupun bapak. Hingga akhirnya sariawanku semakin parah. Bukan hanya di bibir, lidahku pun ikut terkena sariawan.  Benjolannya terlihat semakin membesar di sertai darah dan nanah yang keluar dari dalamnya. 
“Arghhhhhhhh …. Udah sariawan nggak sembuh-sembuh. Rokok pake abis segala lagi!” aku melempar bungkusan kosong itu ke lantai, kesal.
Akhirnya aku keluar dari dalam rumah. Seperti biasanya aku berjalan menyusuri gang-gang sempit di sekitar rumahku. Satu-satunya jalan menuju warung.  Entah mengapa aku merasa di perhatikan. Mereka menatapku, jijik.
          “Bu, bau ………………..!” teriak seorang anak sambil menunjukku.
          Aku mempercepat langkahku menuju warung yang terletak di ujung jalan. Melupakan apa yang baru saja kulihat.
      “Dit, pake masker dong kalau keluar rumah. Mulut kamu kan bau!” tegur Soni, salah satu rekanku.
           “Kalau pake masker, aku nggak bisa ngisep rokok, Son!”
           “Bu, rokoknya dua bungkus ya!” teriakku seperti biasanya.
           Ibu itu menyerahkan dua bungkus rokok yang kuminta, aku segera membayarnya.
***
Lidahku terasa semakin kelu. Tapi aku tetap menghisap batang-batang rokok itu sampai habis. Semakin hari, sariawanku semakin parah. Bibirku bengkak dan berubah bentuk. Tubuhku semakin kurus karena aku kesulitan untuk mengunyah dan menelan makanan. Sudah berhari-hari aku kehilangan nafsu makan. Bahkan untuk minum pun rasanya sungguh menyakitkan. Belum lagi penyakit batuk yang menyerangku. Membuat nafasku sesak, susah tidur dan selalu gelisah. Seluruh tulang yang melekat di tubuhku terasa sakit tak jauh beda dengan kepalaku.
          “Ohok .. Ohok … Ohok” aku terkejut melihat dahak yang keluar dari mulutku.
         Darah memenuhi telapak tangan yang kugunakan untuk menutupi batuk. ibu melihat penyakitku semakin lama semakin parah. Akhirnya ibu membawaku berobat ke dokter. Dunia terasa runtuh saat dokter memvonisku terkena kanker mulut serta kanker paru-paru.
         “Ibu .. Ibu .. ada zombie!” seorang anak berlari menghampiri ibunya ketika melihatku.
         “Itu bukan zombie nak, itu manusia”
         “Tapi dia mengerikan Bu, seperti zombie”
     Aku menatap diriku di cermin. Tubuhku terlihat sangat kurus. Hanya terbungkus kulit tanpa daging. Wajahku pucat pasi. Bibirku penuh darah dan nanah. Anak tadi benar, aku terlihat seperti zombie. Kini aku menyesal telah mengkonsumsi rokok dalam jumlah banyak selama bertahun-tahun. Semua orang menjauhiku. Aku nampak menjijikan dan menyeramkan. Hidupku telah terenggut oleh kenikmatan sesaat. Kandungan zat beracun itu telah menyebar ke seluruh tubuh. Aku merasa seperti mayat hidup. Aku hidup bergantung pada kemoterapi. Merokok benar-benar dapat membunuhku.
       Untuk kalian yang masih merokok, berhentilah sekarang juga. Jika tidak, tunggulah sampai kalian menjadi zombigaret sepertiku. Terasing dari dunia luar dengan beragam penyakit yang menggerogoti tubuhmu. Untuk yang tidak merokok, jangan pernah coba-coba untuk menghisapnya. Hindari rokok serta asapnya untuk menyelamatkan uangmu serta hidupmu.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)