Mengenangmu Lebih Banyak

Empat tahun telah berlalu sejak dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami secara sepihak. Tanpa ada penjelasan dan alasan yang jelas, dia meninggalkanku begitu saja di koridor sekolah ini pada hari kelulusannya. Membiarkanku menangis dan tenggelam dalam kekecewaan atas ucapannya. Sejak saat itu kita tidak pernah berjumpa lagi baik disekolah maupun di tempat lain.
“Kebanyakan ngelamun itu nggak baik loh An, apalagi ngelamunin mantan!”.
“Apaan sih Del, siapa juga yang ngelamunin mantan?”.
“Udah deh ngaku aja, ini kan tempat bersejarah antara kamu sama kak Bobby, An” goda Adel.
Aku tersenyum pahit, hampir seluruh penjuru sekolah menjadi saksi cinta kami yang tumbuh dari hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan sampai akhirnya berhenti di bulan ke empat. Hidupku memang terus berjalan meskipun tanpa dia. Namun, kenangan tentang dia seolah tak pernah ada habisnya. Dia masih saja merajai hati dan pikiranku sampai saat ini.
Semilir angin menemani langkah kami menuju kantin sekolah. Kantin dengan beribu kenangan tentang Bobby. Semuanya masih terlihat sama seperti empat tahun yang lalu, sama halnya dengan hati ini. Hanya saja kini kenyataannya telah berbeda, kini sudah tak ada lagi tawa dan canda antara aku dengan Bobby. Kini hanya ada aku dan Adel disini.
            “Kenapa aku harus kebagian tugas pengenalan kampus di sekolah ini sih, Del. Kenapa ngga yang lain aja!” protesku.
            “Ya mau gimana lagi, kita kan dulu sekolah disini, ya pihak bem kampus pasti nyaranin kita buat ngenalin kampus disini”.
            “Kamu kangen sama kak Bobby ya, An?” tanya Melodi
            Aku mengangguk perlahan. Aku memang merindukan Bobby, bahkan sangat merindukannya. Andai saja aku bisa bertemu dengan Bobby, aku ingin memeluk dia untuk yang terakhir kalinya. Memastikan kalau aku memang sudah tidak berarti lagi di hati dan hidupnya. Aku ingin melihat senyuman tulusnya untukku, untuk terakhir kalinya.
            “Kamu itu luarannya aja yang up-to-date, padahal dalemannya masih sama” balas Adel.
            “Bener tuh Del, ibaratnya nih.. penampilannya 2014 tapi hatinya masih tetep 2010” tambah Melodi.
            “Apaan nih yang 2010?” Aldi berdiri tepat di belakang kami.
            “Nggak papa kok, aku sama Ana ke toilet dulu, ya?” ucap Melodi
***
            “Ada yang mau kamu bicarain, An?”.
            “Bobby kirim pesan di facebook Mel, dia bilang dia mau ketemu aku. Dia juga bilang dia pengen ngulang semuanya dari awal” ucapku pelan.
            “Bukannya itu yang selama ini kamu tunggu, An? Kenapa kamu jadi bimbang gini? Kan kamu yang bilang sendiri kamu pengen tahu kenapa dulu Bobby tiba-tiba mengakhiri hubungan kalian?”.
            “Entahlah Mel, aku juga bingung sama diri aku sendiri”.
            Mau di katakan apalagi, kita tak akan pernah satu
            Engkau di sana, aku di sini
            Meski hatiku memilihmu
            Yang tlah kau buat sungguhlah indah
            Buat diriku susah lupa. (Yovie Widianto – Mantan Terindah)
            Suara lagu itu menggema di seluruh penjuru sekolah. Lagu yang di putarkan melalui  radio sekolah sebagai penutup siaran anak-anak radio sore itu. Syairnya begitu sama dengan apa yang aku rasakan terhadap Bobby sampai saat ini. Setelah selesai memperkenalkan kampus kami, Aku bergegas menuju taman belakang sekolah, menyalakan laptop dan membalas pesan dari Bobby.
            “Kenapa baru sekarang Bob kamu hubungin aku?”.
           “Maafin aku An, aku baru berani menghubungi kamu lagi setelah aku tahu kamu nggak punya pacar”.
            “Maafin aku Bob, aku nggak bisa nemuin kamu”.
        “Kenapa An? Apa kamu nggak kangen sama aku? Apa perasaan kamu ke aku udah berubah?aku pengen ngulang semuanya An, aku pengen kamu jadi pacar aku lagi”.
            “Kamu tenang aja Bob, hati dan perasaan aku masih tetap sama. Masih memilih kamu. Kamu akan selalu menemani langkahku kemanapun aku pergi. Tapi aku rasa, kita nggak perlu mengulang semuanya!”.
            “Tapi, An.. aku sayang sama kamu”.
            “Kamu nggak sayang sama aku Bob, kamu cuma menyesal. Percaya deh sama aku. Aku yakin kok kamu akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik daripada aku”
            Aku mengakhiri chat bersama Bobby. Kemudian membuka file-file foto kenangan kami yang masih tersimpan di harddisk. Aku tersenyum menatap langit, biarlah angin yang menyampaikan seluruh rinduku pada Bobby. Kamu akan tetap menjadi kenangan yang terindah sepanjang hidupku Bob. Biarlah hari ini aku mengenang kamu lebih banyak dari biasanya, mengenang kamu dari tempat yang menjadi saksi tumbuhnya cinta kita.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)