Dia Adalah Kamu

     Pelupuk mata bawahnya mulai menghitam, eye liner yang dikenakannya luntur tergerus hujan air mata. Dia berdiri di atap hotel, memandang langit senja dengan perasaan pilu. Kebaya sutera berwarna putih, lengkap dengan bawahannya yang menjuntai menyapu lantai itu tak berarti apa-apa untuknya. Harusnya dia berada di sana, di tengah hingar-bingar pesta pernikahan. Pesta yang seharusnya menjadi milik Veina, perempuan berwajah manis  lengkap dengan tubuh sintal yang membuatnya terlihat sempurna di mata para pria. Tapi pesta itu hanya akan menjadi mimpi seumur hidupnya. Kini, hanya angin yang setia menemaninya di atas sana, menguraikan satu per satu rasa sakitnya.
    “Sampai kapan mau sendiri?” Andra, laki-laki berwajah tirus itu menghampirinya di kedai kopi.
    Veina tersenyum, dia tak bisa menyembunyikan semburat bahagia di wajahnya.
    “Sampai kamu dateng dan nemenin aku di sini!” tegasnya.
    Andra duduk berhadapan dengannya, sudah ratusan kali mereka melakukan hal ini sejak kecil. Rumah mereka berdampingan dan selalu begitu hingga detik ini. Meskipun sosok Andra sempat menghilang selama empat tahun. Veina di Bandung dan Andra memilih untuk melanjutkan pendidikan di negeri Kangguru. Tapi dia tak pernah merasa kehilangan, karena Andra selalu ada di hatinya. Feelling nya tak pernah salah, Andra akan menemuinya di tempat ini, hari ini.
    Andra mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket tebalnya.
    “Ini buat kamu!” Andra tersenyum, dia memberikan sebuah benda berukuran 20 x 14 sentimeter yang terbalut bungkusan serta pita berwarna biru cerah.
    “Ini, apa?” Veina sibuk membuka benda di hadapannya penuh semangat. Andra selalu memberikannya kejutan.
    “Undangan pernikahan!” jelasnya.
    Veina terdiam, kedua tangannya menjauh dari bungkusan yang baru terbuka setengah itu. Nafasnya memburu, tangannya membeku, lidahnya kelu dan tubuhnya terasa kaku. Dia tak pernah menduganya, semua terjadi begitu cepat.
    “Vei, kamu baik-baik aja, kan?”
    Veina menyunggingkan senyuman yang berubah menjadi tawa kecil disertai butiran air mata yang meluncur bebas di pipinya. Kedua tangannya menepuk-nepuk tangan milik Andra. Ekspresi yang membuat Andra tertegun.
    “Selamat, ya!” Veina mengigit bibirnya, rasa sakit itu menjalar lebih cepat dari dugaannya. Tanpa berkata-kata lagi dia pergi meninggalkan Andra. Berlari menyusuri jalanan Braga yang padat sore ini.
Berlari dari kenyataan pahit yang tak bisa diterimanya. Andra tak pernah melihatnya, melihat ke dalam hatinya.
***
    Kumpulan lagu patah hati mengiringi perjalanannya menuju ke tempat wedding organizer, Andra menunggunya di sana. Veina tak pernah mengerti kenapa dia melakukan hal segila ini, hal yang akan membuat hatinya semakin teriris bahkan hancur menjadi butiran debu.
    “Kamu baik-baik aja kan, Vei?” Andra memperhatikan penampilan Veina yang kusut dan kantung mata yang semakin timbul menghiasi wajahnya
    Veina tersenyum, dia memperhatikan penampilannya sendiri. Dress selutut yang dipadukan dengan jaket jeans itu tak banyak membantu untuk menyembunyikan kesemrautan hidupnya, termasuk hatinya.
    “Kamu ada masalah sama dia?”
    Veina menggeleng, “udahlah … nggak usah dibahas! Mendingan kita cepetan fitting baju, biar cepet selesai!” Veina masuk ke dalam ruangan bernuansa romantis itu. “Satu-satunya orang yang bermasalah sama aku itu kamu, Ndra! KAMU! Kenapa kamu nggak pernah sadar kalau DIA itu adalah kamu! Kamu terlalu sibuk mencari tahu tentang dia, Ndra!” Matanya kembali menghangat, Veina berusaha mengatur nafasnya untuk tetap tenang. Dia tidak ingin menangis di depan Andra lagi.
    Kedua tangan itu sibuk memilih kebaya sutra di hadapannya dengan tatapan kosong. Veina tak pernah menginginkan posisi ini di dalam hidupnya. Menjadi pembawa cincin untuk pernikahan Andra, laki-laki yang dicintai dan disayanginya sejak lama. Andra menghampirinya dengan senyuman yang mengembang. Dia terlihat sempurna mengenakan jas berwarna abu-abu itu. Dia seperti pangeran, pangeran yang sama saat mereka memainkan drama di atas panggung teater sekolah tujuh tahun lalu.
    “Gimana? Udah pas, kan?”
    Veina mengangguk pelan. Veina ingin mengatakan sesuatu, tapi dia kembali mengatupkan mulutnya. Dia tak mungkin menghancurkan kebersamaan ini.
    “Kamu udah dapet kebayanya? Pokoknya aku pengen kamu tampil cantik minggu depan!”
    Awan hitam menggulung di langit, suara petir dan cahaya kilat menggelegar setiap menitnya. Pertanda hujan akan turun begitu derasnya, sama halnya dengan hujan yang terjadi di hatinya. Veina masih mematung di halte bis, menolak tawaran Andra untuk mengantarnya pulang. Dia membiarkan Andra menjemput calon istrinya sendirian.
***
    Surat, puisi di mading, rangkaian bunga, origami, kaset band kesukaannya, cheese cake, stik drum dan terakhir makan malam sebelum Andra berangkat ke Australia. Semua itu tidak membantunya sama sekali, Andra tetap tak menyadarinya. Seseorang yang begitu dekat dengannya, telah jatuh cinta kepadanya. Veina tak pernah menduga bahwa cintanya kepada Andra akan tumbuh semakin besar setiap harinya. Perasaan yang di pendamnya selama belasan tahun ini semakin membuatnya merana. Veina tak punya keberanian untuk mengatakannya kepada Andra. Sementara Andra tak pernah sadar dengan apa yang berusaha Veina katakan melalui tindakannya.
    //Denganmu … aku sempurnaaaaaa
     Denganmu, kuingin habiskan sisa umurku Tuhan …
    Jadikanlah dia, jodohku … hanya dia yang membuat,
    Aku terpukau.// Astrid – Terpukau.
    Lagu itu menggema di seluruh sudut ruangan, membuat emosi Veina naik turun. Dia berjalan perlahan sambil membawa nampan berisi dua buah cincin emas yang dibanduli berlian kecil di tengahnya. Di dalam lingkarannya tertulis nama Andra dan Davina. Veina kembali mematung, menyaksikan keduanya saling memasangkan cincin di jari manis pasangannya. Davina telah resmi menjadi istri Andra dan Veina tidak memiliki kesempatan lagi untuk menyatakan perasaannya.
    “Kamu lagi suka sama seseorang, ya? kok senyam-senyum terus?” Andra merebut ponsel milik Veina.
    Veina mengangguk pelan, pipinya merah padam.
    “Siapa orangnya?”
    “Dia …”
    “Dia siapa?” Andra merasa posisinya sebagai seorang sahabat mulai terancam.
    Kedua matanya sudah terisi penuh oleh air mata yang siap berjatuhan. Veina tak mampu mengendalikan diri lagi, dia bergegas turun dari pelaminan, menerebos bagian dokumentasi yang sedang meliput acara pernikahan Davina, salah satu model internasional di Indonesia. Suara remaja mereka saat duduk di kelas dua SMA seolah menjadi musik pengiring langkahnya untuk menjauh dari hingar bingar pesta. Luka di hatinya semakin menganga.
    “Ganteng? Baik? Pinter? Populer?” Andra memberondongi Veina dengan pertanyaan-pertanyaan itu, dia mulai gelisah.
    Veina mengangguk lagi, bibirnya tersungging sempurna.
    “Aku jadi penasaran, cowok kayak apa yang kamu taksir! Awas aja kalau nggak lebih baik dari aku!” tegasnya kemudian berlalu meninggalkan Veina di taman belakang sekolah.
    Hanya selang beberapa minggu setelah Andra tahu bahwa Veina menyukai seseorang, dia pun memiliki pacar bernama Davina. Davina yang kecantikkannya sebelas duabelas dengan Veina itu jelas memiliki kelebihan lain yang tak dimilikinya, dia seorang model remaja yang sedang naik daun.
***
    Pintu besi di belakangnya berderit pelan, Andra berdiri beberapa meter dari tempatnya. Hembusan angin membuat rambutnya sedikit berantakan. Andra berjalan mendekatinya.
    “Vei?” ucapnya lirih bahkan hampir tidak terdengar, terkalahkan oleh angin yang berhembus semakin kencang.
    Veina menoleh dengan pandangan nanar, “Ngapain kamu di sini?”
    Veina meronta saat Andra mendekapnya dengan kuat. Andra bisa merasakan betapa hancurnya hati Veina, sama seperti hati miliknya. Mungkin jika Andra menyadarinya lebih awal, mereka tidak akan merasa tersakiti dan terluka satu sama lain. Andra memiliki perasaan yang sama dengan Veina, lebih dari seorang sahabat. Andra tidak ingin merusak kebahagiaan Veina saat dia tahu Veina menyukai seseorang yang ternyata adalah dirinya sendiri. Kenyataan pahit yang harus di telannya saat pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia.
    “Kalau kamu tahu dan kamu memiliki perasaan yang sama, kenapa kamu tetep nikah sama Vina?” Veina mendorong tubuh Andra agar menjauh darinya.
    “Aku tidak mungkin membatalkan semuanya Vei! Aku egois jika melakukan itu, karena itu akan menyakiti semua orang!” Andra berusaha meyakinkan Veina bahwa dia pun tidak ingin berakhir di dalam keadaan sesulit ini.
    Veina tertawa kecil, “jadi kamu lebih memilih menyakiti perasaan aku? Orang yang selama ini berharap besar sama kamu!” Veina kembali terisak.
    “Maafin aku, Vei! Aku yakin, kamu bisa mencintai orang lain! Kamu bisa tanpa aku!”
    “Kamu cuma butuh waktu untuk menyesuaikan diri, Vei!”
    Veina tak bisa menahan Andra untuk tetap berada di sisinya. Andra telah menjadi milik orang lain. Dia hanya bisa terduduk lemas di atas sana, memandang Andra dan Davina yang berjalan masuk ke dalam mobil pengantin. Andra telah pergi dan membawa separuh dari hatinya. Andra mengetahui tentang perasannya, tapi jarak tetap memisahkan mereka. Rasa yang dimilikinya tidak cukup untuk memiliki raganya. Ikatan cinta di antara mereka mustahil untuk diwujudkan.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)