Hujan Kan Membawamu Kembali Di Sini

Hujan Kan Membawamu Kembali Di Sini
Oleh : Gilang Maulani

Cerpen ini tergabung di dalam buku Antologi Cinta di Balik Hujan Cerpen #3 pada penerbit Pena House yang terbit tahun 2014



Butiran-butiran air hujan mulai turun membasahi bumi. Bunyinya terdengar merdu seperti alunan nada, nada kerinduan yang bersemayam di dalam hati ini. Hujan selalu mengingatkanku kepada dia, seseorang yang telah mengisi lembaran-lembaran kosong dalam kehidupanku. Hujan telah membawanya untuk menemaniku dan hujan pula yang membawanya pergi menjauh.

Aku menerobos hujan sore itu, belari-lari kecil seperti 10 tahun yang lalu saat aku  masih berumur enam tahun. Aku membiarkan hujan membasahi seragam putih abu-abuku. Aku bahagia, karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa melakukan hal ini. Kurentangkan tanganku di tengah-tengah lapangan sekolah. Perlahan aku mulai memejamkan mata dan menikmati tetes demi tetes air yang berjatuhan dari langit.

“Kamu itu kekanak-kanakan, ya? Masa udah gede gini masih aja hujan-hujanan!”

Aku membuka mataku perlahan, kini sebuah jaket berada tepat di atas kepalaku dan melindungiku dari hujan. Aku menoleh ke samping kanan, kulihat Radit ada di sana dan tersenyum menatapku. Radit adalah cowok yang aku sukai secara diam-diam sejak kelas satu SMA. Kini jarak kami begitu dekat dan aku benar-benar tidak bisa menghindar kali ini.

“Ngapain kamu di sini?”

“Emangnya kamu gak bisa liat ya aku lagi ngapain sekarang?”

“Tapi kamu ganggu kebahagiaan aku, Radit!” ucapku yang tidak mau gengsi padahal di dalam hati,
“kamu so sweet banget sih Dit, aku gak nyangka kamu yang so jutek sama aku ternyata perhatian kayak gini.” Tanpa kusadari aku menyunggingkan sebuah senyuman.

“Ngapain kamu senyam senyum kayak gitu?” kening Radit berkerut.

“Kesenengan ya deket sama aku?”

“Geer banget, udah sana pergi! Aku mau lanjutin nari di tengah hujan!”

“Mendingan kamu ikut aku sekarang” Radit mengenggam tanganku dan memaksaku mengikutinya menuju koridor sekolah.

Radit mengeluarkan baju olahraga dari dalam tasnya. Dia memintaku untuk berganti pakaian. Ada raut kekhawatiran di wajahnya. Tapi masa iya dia khawatir sama aku, ah entahlah.

“Aku nggak mau pake baju olahraga kamu yang pasti bau keringet!”

“Baju aku ini wangi, tau!” Radit mendekatkan bajunya ke hidungku.

Baju itu memang masih wangi, wangi parfum kesukaan Radit. Aku terdiam dan berada di dalam kebimbangan. Hujan masih turun dengan derasnya dan dengan setia menemani kami berdua di koridor sekolah yang entah mengapa sangat sepi siang ini. 

“Malah ngelamun, udah buruan sana ganti baju!” Radit memaksaku menerima bajunya dan mendorongku menuju toilet yang berada didekat mading sekolah.

Di dalam toilet aku berharap hujan turun lebih lama, agar aku bisa berada didekat Radit lebih lama lagi. Aku menatap diriku di cermin, kesal sekali rasanya melihat baju Radit yang ukurannya terlalu besar untuk tubuhku, namun disisi lain aku bahagia karena bisa memakai baju Radit dengan bau parfum khasnya. Wanginya menusuk sampai ke ulu hati. Memberikan kehangatan serta kesejukkan untukku.

“Woy, siang bolong malah ngelamun! Ngelamunin apa sih?” Aneu menepuk pundakku dan menyadarkan lamunanku tentang Radit.

“Siapa juga yang ngelamun!”

“Udahlah jujur aja, kamu lagi mikirin siapa sih?”

Aku menatapnya nanar, “nggak mungkin kan aku bilang kalau aku merindukan Radit, Neu. Apalagi kamu pacaran sama Radit.”

Aku keluar dari dalam toilet dan menghampiri Radit dengan baju yang kebesaran. Radit tertawa terbahak-bahak melihatku. Dengan sigap aku membungkam mulutnya menggunakan kedua telapak tanganku. Jarak kami sangat dekat dan saling bertatapan. Saat itu hujan tiba-tiba saja terhenti. Aku segera melepaskan kedua tanganku yang membungkam Radit, perlahan aku menjauh darinya.

“Hujannya reda, aku anter kamu pulang ya?”

“Apa? Radit mau anterin aku pulang? Demi apapun aku seneng banget!” teriakku dalam hati.

“Aku mau makan bakso dulu di warung mang Udin!”

“Besok-besok aja deh, mumpung reda nih hujannya.”

“Ayolah Dit, kapan lagi kamu mau deket-deket sama aku kayak gini?”

Radit terdiam, mungkin pertanyaanku telah menyinggung perasaannya. Tapi aku bicara tentang kenyataan, semenjak masuk SMA kami memang jarang bertegur sapa. Sikap Radit berubah drastis dan tidak semanis dulu, padahal kami bersahabat sejak kecil.

“Ya udah kalau kamu makan bakso, makan aja sendiri! Aku mau pulang!” ucapnya sedikit membentak.

Aku membiarkan bayangan Radit serta sepeda motornya menghilang dibalik gerbang sekolah. Andai saja dia tahu dan mau mengerti akan perasaan ini sedikit saja. Aku berharap Radit kembali dan menuruti keinginanku. Aku sampai di warung mang Udin dan memesan satu porsi bakso urat kesukaan kami, dulu.

***

“An, mau pulang bareng aku nggak?” Aneu mencubit lenganku dan kembali membuyarkan lamunanku tentang Radit.

“Nggak ah, kamu pasti balik sama Radit, kan?”

“Nggak kok, hari ini dan seterusnya aku bawa mobil sendiri, kan aku udah putus sama Radit” Aneu tersenyum tipis.

“Apa? Putus?” aku terlonjak kaget bahkan hampir terjatuh dari kursi.

Aneu mengangguk pelan “Sudah satu bulan kami putus, An. Aku balik duluan ya kalau gitu?”

Aku mengangguk pelan. Entah aku harus senang atau aku harus sedih mendengar pernyataan Aneu tersebut.. yang pasti aku selalu bahagia ketika hujan turun membasahi bumi.

Ternyata Radit kembali menghampiriku di warung bakso pak Udin. Dia memaksaku untuk pulang dengannya. Aku menolak, dan tetap kukuh dengan pendirianku yang ingin makan bakso sebelum pulang.

“Kamu jangan nyesel ya An, kalau nanti kita nggak akan ketemu lagi!” tegasnya yang beranjak pergi.

Hujan turun dengan derasnya, sesuai permintaanku. Radit kembali duduk di hadapanku dengan wajahnya yang terlihat kusut. Aku bahagia karena bisa berlama-lama duduk berhadapan dengan Radit. Kami bercanda dan tertawa berdua.. hmmm.. rasanya seperti mengulang masa-masa kecil kita yang indah.

“Masuk sana terus ganti baju, jangan lupa cuci baju sama jaket aku!” Radit mengacak-ngacak poniku ketika kami tiba di depan gerbang rumahku.

“Siap, bos!” aku membalas perbuatan Radit dengan mengacak-ngacak rambutnya.

Radit tersenyum di antara gerimis hujan sore itu, senyuman yang selama dua tahun ini menghilang.

“Dit, apa besok kita masih bisa deket kayak gini lagi?” tanyaku sebelum Radit pulang.

Radit turun dari sepeda motornya lalu mendekatiku. Perlahan tapi pasti, dia terus mendekat kemudian memeluk tubuhku. Beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan mengecup keningku dengan penuh kehangatan serta kasih sayang. Aku terdiam, hari ini sungguh indah dan aku tidak ingin hari ini berlalu dengan cepat. Aku masih ingin berada di antara gemercik hujan bersama Radit seperti dulu.
Hujan kembali turun dengan derasnya, namun kami masih berdiri mematung dan saling menatap satu sama lain.

“Maafkan aku, An.. mungkin ini kedekatan kita yang terakhir. Aku tidak ingin Aneu salah paham melihat kedekatan kita.”

“Aneu?”

Radit mengangguk perlahan “Iya, kami sudah resmi berpacaran satu minggu yang lalu.”

Waktu seolah-olah terhenti, perasaanku kini hancur berkeping-keping. Ternyata perasaan yang aku pendam selama satu tahun ini bertepuk sebelah tangan, tidak berarti apa-apa untuk Radit. Hari ini hujan telah membawanya untuk kembali menemaniku dan hari ini juga hujan membawanya menjauh dariku bahkan lebih jauh dari sebelumnya.

Aku mulai menghapus airmataku yang menetes begitu saja. Dengan langkah gontai aku bergegas keluar dari ruangan kelas. Hujan memang belum reda, tapi aku tidak ingin terlarut di dalam kerinduan ini lebih lama lagi. Aku mencintai Radit dan dia tidak pernah tahu akan hal itu. Aku menerobos hujan agar dapat meninggalkan lingkungan kampus secepat mungkin.

Aku merasa ada seseorang yang menaungiku dari hujan. Kutengok ke atas dan kulihat sebuah payung berwarna warni melindungiku dari hujan. Aku menoleh ke samping, di sana ada Radit yang tersenyum menatapku, senyuman yang masih sama seperti dulu.

“Kamu itu kebiasaan ya, kebiasaan hujan-hujanan!” tegasnya.

“Untuk apa kamu datang lagi di hadapanku, Dit?” tanyaku setengah menangis.

Radit melepaskan payung yang menaungi kami, membiarkannya terbang tertiup angin yang berhembus kencang. Dia menatapku tajam, sesaat kemudian dia berlutut di hadapanku.

“Aku merindukan saat-saat seperti ini An, saat dimana kita berdua berada di antara gemercik hujan yang turun.”

“Sudah lama aku memendam semua ini, asal kamu tahu An, aku menyayangi dan mencintaimu sejak kita masuk SMA, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menyatakannya.”

“Hanya bersama hujan aku berani mendekati kamu, hanya hujan yang dapat mendekatkan kita dan menjaga kita agar berada lebih lama di tempat yang sama.”

Kali ini aku benar-benar tenggelam bersama rintik hujan yang turun. Benar-benar tenggelam ke dalam kubangan hati  Radit, seseorang yang selalu aku rindukan setiapkali hujan turun. Hujan telah membawanya kembali di sini, ke dalam pelukanku. Hujan menghapuskan semua rindu yang selama ini ku pendam untuknya. Hujan benar-benar menyatukan cinta kami, cinta yang selama ini kami pendam sendiri di antara rintik hujan yang turun.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)