Saat Terindah Bersamamu

Teruntuk kakak laki-lakiku, terima kasih.

Waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin kita bermain dan tertawa bersama. Sekarang? Ah lihatlah kau sudah mempunyai teman hidup yang selalu setia mendukungmu menjadi pria yang sukses.


Kakak, tahukah kau bahwa aku selalu ingin mempunyai dua atau bahkan tiga orang kakak dan aku tidak ingin mempunyai seorang atau bahkan dua orang adik. Mengapa begitu? Karena aku egois, aku ingin menjadi si bungsu yang selalu di sayangi serta di lindungi.


Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena semua adalah kehendak Tuhan. Ya, kaulah kakak laki-lakiku satu-satunya. Oh tidak, kau bukan satu-satunya ... kau yang kedua namun kaulah yang akhirnya menyandang gelar si sulung itu. Kakak laki-laki kita yang pertama begitu di sayangi oleh Tuhan ... hingga kita belum sempat bertemu dengannya bahkan dalam mimpi sekalipun. Kita hanya tahu namanya serta rumah peristirahatan terakhirnya. Jadi kaulah satu-satunya kakak dan saudara kandung yang kumiliki di dunia ini.


Kakak, bukankah dulu kita tumbuh dan selalu bermain bersama? Bahkan nama kita pun diambil dari awalan huruf yang sama bukan? Hanya saja jenis kita berbeda, aku perempuan dan kau lelaki. Usia kita hanya terpaut tiga tahun dua bulan. Dan kita sama-sama cadel, selalu jadi bahan olokan karena belum bisa bilang huruf "R."

Kakak, ingatkah kau saat kita berebut mobil-mobilan truk yang dibuatkan oleh Bapak? Sampai-sampai memancingnya, kita diikat di bawah pohon cengkeh semalaman. Kini aku sadar, akulah yang salah waktu itu. Iya, aku yang salah. Kau adalah anak lelaki, tentu saja itu mainanmu ... bukan mainanku

Kakak, kita juga sering bermain bola bersama di depan rumah. Walaupun hanya menggunakan bola tenis.


Kita pun selalu bersaing untuk mengumpulkan kelereng paling banyak. Padahal aku tidak jago main kelereng. Aku selalu kalah dan kau yang menang. Kelerengmu satu toples, sementara aku harus kembali membeli yang baru di warung.


Kita selalu berebut untuk memainkan gimbot berwarna kuning yang tombolnya rusak akibat sering ku tusuk memakai lidi.




Kakak, aku tidak mengerti mengapa dulu aku lebih senang permainan anak lelaki. Yang aku tahu, aku hanya ingin selalu di dekatmu. Kakak, saat tiba saatnya kau di sunat ... hari itulah aku merasa sendirian. Kau mendapatkan semua perhatian dari Mama. Bahkan kau mendapatkan sebuah robot sebagai hadiah. Kita tidak bisa bermain bersama.


Kakak, aku ingat ... kau pernah mengajariku naik sepeda. Sepeda tua peninggalan Mama yang terlalu besar untuk kita pakai. Aku terkadang iri kepada teman-temanku yang dibelikan sepeda baru oleh orangtua mereka. Aku sering mengeluh tapi kau tidak. Karena sejak kecil kita tak pernah di manjakan oleh kedua orangtua kita. Kehidupan kita sangat sederhana bukan? Tapi kita selalu berbahagia. Kau bahkan jago bersepeda menggunakan sepeda Mama. Hari itu aku kembali belajar naik sepeda, aku hampir puluhan kali berkata padamu, "jangan lepas pegangannya!" tapi, tapi saat sebuah mobil mewah melintas dan kita berhenti dipinggir jalan ... Kau melupakan pesanku. Kau melepas pegangan tanganmu pada sepedanya. Aku terguling ke dalam kebun milik tetangga kita dan terjatuh di atas pohon berduri serta rumput liar. Kau menyadarinya bahwa aku terjatuh, kau hendak menyelamatkanku tapi terlambat. Kau bahkan turut serta terjatuh ke dalam kebun tak terawat itu. Kita pun pulang dalam keadaan babak belur.

Kakak, yang menertawanku karena tidak bisa naik sepeda. Ya, aku trauma setelah kejadian terjun bebas itu. Aku tak mau belajar sepeda lagi. Aku hanya akan bermain sepeda khusus anak balita. Ya, sepeda waktu kita masih balita.

Kakak, yang menemaniku bermain bulu tangkis dengan piring seng sebagai raketnya. Karena mama hanya memiliki satu raket.


Kau tahu, aku suka suara kok yang beradu dengan piring. 

Kakak, yang selalu memenangkan permainan monopoli dan ular tangga jika bermain denganku. Kau tahu, meskipun ada get rich, nyatanya aku lebih suka yang seperti ini.

Kakak, dulu kita senang mengoleksi tazos bergambar pokemon yang kita dapatkan dari dalam snack,

tak hanya itu ... kita juga memiliki koleksi dragon ball z, burung bangau, dan robot-robotan bongkar pasang. Tapi sekarang semua benda itu lenyap. Ya, Mama memberikannya pada anak-anak tetangga.

Kakak, dulu kita pernah memaksa kakek untuk membuatkan gasing tradisional berbahan kayu dengan paku sebagai ujungnya dan tambang pramuka untuk membuatnya berputar. Aku senang sekali memainkannya, meskipun gasing milikmu selalu saja berhasil membuat gasingku berhenti berputar. Kita juga senang bermain kartu bersama kakek, aku sering kalah dan mendapatkan coretak bedak di wajahku.

Kakak, aku sering mengikutimu saat bermain layang-layang. Bahkan sampai aku turut membeli layang-layang. 


Layang-layangku mudah penyok karena terbentur atap rumah dan robek karena tersangkut di pohon. Layang-layangku selalu gagal mengudara seperti layang-layangmu. Tapi aku tak pernah menyerah, karena kau dan kakek sangat telaten mengajariku. Hingga akhirnya aku bisa menerbangkan layang-layangku sendiri. Dan aku tidak pernah peduli kulitku menghitam akibat paparan sinar matahari, yang penting aku tetap bisa bermain denganmu.

Kakak, aku senang bermain dengan anak lelaki, tapi hanya kau saja. Karena terakhir kali kita bermain dengan sepupu kita itu ... Dia membuat penggorengan kecil yang dibelikan nenek untukku berlubang.

Kakak, kita sangat suka bermain kembang api? Iya itu dulu.




Kakak, kenapa kau begitu pandai mengurus tamagochi-mu yang bercangkang hijau itu? Sedangkan aku ... Tamagochi yang kupelihara dan bercangkang kuning itu selalu hampir mati bahkan sering kali mati hingga aku pernah menangis dibuatnya. Kakak, kita tumbuh di saat kartun tamiya tayang bukan? Kau meminta mobil-mobilan itu kepada Mama dan aku pun turut memintanya. Kau dapat dua, aku hanya satu. Kau bisa merangkainya, aku mampu merusak semuanya. Sekarang tamiyanya masih ada, tapi satu lagi entah ke mana, yang pasti punyaku yang berwarna putih. Sekarang kedua benda ini sudah tak berfungsi lagi.




Kakak, saat kau masuk SMP ... Aku mulai kehilangan dirimu. Kau jarang mempunyai waktu untuk bersamaku. Kau bahkan mengelabuiku dengan bertanya, "are you crazy?" dan kau bilang aku harus menjawab yes. Kau tertawa terbahak-bahak, kau curang. Aku belum belajar bahasa Inggris.


Kakak, nilai-nilai pelajaranmu selalu bagus. Kau selalu masuk dalam urutan tiga besar dan aku selalu ingin mengikuti jejakmu. Ya, aku ingin bersekolah di tempat kau bersekolah. Padahal saat aku masuk ke sekolah itu, kau sudah pasti meninggalkanku. Kau lulus, aku pun sama.


Kakak, aku dan Mama pernah menemukan dua buah surat cinta dari dua gadis yang berbeda. Itu saat kau masih SMP. Kau menyimpan surat itu di bawah lipatan baju dan kami menemukannya. Menggelikan, kau yang saat itu begitu menyukai rambutmu yang belah tengah ternyata mampu membuat dua gadis itu menyatakan cinta terlebih dahulu padamu.


Kakak, yang selalu berbagi tugas membersihkan rumah denganku. Kau tahu sekarang aku harus mandiri dan mengerjakan semuanya tanpa bantuanmu.


Kakak yang beranjak dewasa, kau tahu ... Aku mulai iri padamu. Ya, kau memiliki tubuh yang tinggi seperti Bapak, tubuh yang kurus, hidung mancung dan rambut yang lurus seperti Mama. Ah, kau bahkan sudah bisa bilang huruf "R." Kakak, tahukah kau, aku selalu saja di katai gendut ... padahal perutku tidak buncit dan masih ada yang bertubuh gemuk daripada aku. Tapi kenapa aku yang selalu di katai gendut? Aku tidak pernah tahu alasan mereka.





Kakak, yang mengajariku bermain gitar namun tidak sampai tuntas. Tahukah kau gitar yang kubeli dengan uang tabungan saat SMP itu kini berdebu dan hanya tersisa empat senar. Aku tidak memakainya, tidak pula merawatnya.




Kakak, satu hal yang kutahu, kita sama-sama selalu tertindas oleh kawan sepermainan kita. Ya, mereka selalu menyuruhmu untuk menuliskan hasil ceramah subuh di buku mereka setiap bulan ramadhan. Kita tidak pernah bisa menolak permintaan mereka. Hingga akhirnya aku merasa kecewa, mengapa aku begitu lemah dan pemalu. Tapi sekarang, kau sudah membuktikannya. Kau bisa menjadi laki-laki yang kuat, hebat dan bertanggung jawab.

Kakak, saat kita bersama-sama berjualan pulsa elektrik, salah satu teman yang kupercayai menghianatiku. Dia bilang hanya minta sms, nyatanya dia minta sms untuk mengisi pulsanya ke nomor pengisian pulsa. Tapi sayangnya dia lupa menghapus laporan pengirimannya. Dia mengakuinya, tapi tetap tak mau membayar.

Kakak yang selalu menertawakanku saat aku curhat padamu.

Kakak yang lebih memilih bermain futsal daripada menemaniku di rumah. Tahukah kau aku begitu kesal malam itu. Kakek masuk rumah sakit lagi. Mama dan Bapak menginap di rumah sakit. Dan kau tahu itu, kau tahu aku sendirian di rumah. Kau malah pergi bermain futsal dan menginap di rumah temanmu. 


Kakak, yang ketampanannya mulai terlihat. Kau tahu, banyak teman-teman kelasku yang mengidolaknmu. Bahkan di antara mereka ada yang rela bertandang ke rumah hanya untuk melihatmu secara langsung. Beruntunglah aku karena kau sedang tidur siang hari itu dan mereka kecewa.


 
Kakak, yang selalu kumintai tolong mencetak foto-foto dari kamera ponselku. Maaf, karena banyak merepotkanmu.





Kenapa kita tidak mirip? Hahahaha

Kakak, yang lulus SMA dan langsung mendapatkan pekerjaan. Kau tahu, aku dan Mama begitu berat melepasmu pergi ... padahal hanya ke Jakarta. Aku semakin kehilanganmu ... Kakak, saat kau libur bekerja dan bertandang ke sekolah, kita pulang bersama-sama. Ya, saat itu teman-temanku mengira kau adalah pacarku. Lucu, bukan? Bahkan orang-orang yang kita lewati saat berbelanja pun selalu mengira kita berpacaran.

Kakak, saat itu aku merengek minta ikut untuk membeli kado bersamamu. Aku tahu kau sebenarnya keberatan, tapi aku tidak peduli ... sungguh tidak peduli. Kau tahu, aku iri karena kau membelikan sebuah boneka beruang untuk kekasihmu. Aku juga ingin. Kau bilang, kau akan membelikan boneka untukku tapi lain kali. Ya, kau lelaki dan kakak yang menepati janjinya. Aku mendapatkan boneka yang kuinginkan. 


Kakak, yang membelikan tiket dunia fantasi serta trans studio untukku dan Mama. Terima kasih banyak. Kau ingat saat kita mencoba semua wahana yang menguji adrenalin itu? Aku sangat bahagia sekali. 


Kakak, yang mengajariku mengendarai sepeda motor. Maaf, aku telah membuat luka di betismu. Kau memintaku menekan rem, bukan gas.  Aku benar-benar panik saat motornya hampir terjatuh. Maafkan aku.


Kakak, yang kurepotkan karena pingsan di pusat perbelanjaan. Maafkan aku, aku tidak mengerti kenapa aku bisa kehilangan kesadaran dan penglihatanku saat itu. Kau pasti bersusah payah mencariku yang tiba-tiba hilang dari dekatmu. Yang ku tahu, seorang satpam menggendongku ke tempat terbuka untuk menghirup udara segara. Aku merasa lega karena akhirnya kau menemukanku. 

Kakak, yang rela bangun pagi untuk mengantarkanku ke tempat kost agar tidak terlambat kuliah. Terima kasih karena kau rela berhadapan dengan kemacetan di Ujung Berung.


Kakak, yang selalu berhasil mendapatkan pekerjaan baru setelah kontraknya berakhir. Kau tahu, aku lagi-lagi iri padamu. Ya, aku begitu sulit mendapatkan pekerjaan yang cocok untukku. Tinggi badanku kadang menghalangi keinginan dan harapanku. Padahal kau turut membiayai kuliahku. 
Maafkan aku, aku selalu iri padamu dan belum bisa membuat kalian bangga.


Kakak, aku merasa begitu kehilanganmu. Ya, kau akhirnya bertunangan kemudian menikah dengannya. Terima kasih karena mewujudkan keinginanku. Aku memiliki sepasang kakak, lelaki dan perempuan. Tapi jarak di antara kita semakin jauh. Aku merasa diasingkan olehmu.



Kakak, yang memujiku karena ternyata aku bisa menulis sebuah cerita pendek. Terima kasih banyak, padahal kau belum pernah membaca tulisanku bukan? Ya, aku tidak bisa memaksamu untuk membaca tulisan-tulisanku. Aku tahu kau begitu sibuk dan kau tak suka membaca buku cerita.


Kakak, yang mengendarai sepeda motornya dari Karawang menuju Jakarta Timur. Terima kasih telah mengantarku ke tempat tes CPNS tahun 2014 lalu. Maaf karena hasilnya mengecewakan kalian. Aku gagal lagi.


Kakak, terima kasih telah menjadi seorang kakak yang baik untukku. Aku menyayangimu, sama seperti halnya aku menyayangi mama dan bapak. Semoga kehidupanmu selalu sukses dan berbahagia bersama kakak perempuanku. 



Terima kasih karena kau dan kakak perempuanku memberikan kejutan pada ulang tahunku yang ke dua puluh. Aku sayang kalian.



Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)