Selalu Menjadi Putri Kecil Mama

Hari Ibu memang jatuh pada tanggal 22 Desember, namun untuk mengungkapkan rasa sayang kepada Ibu bisa dilakukan setiap hari bukan? Entah dalam jarak yang dekat sambil memeluknya erat ataupun melalui sambungan telepon dan pesan singkat jika jarak kita berjauhan dengannya.

 
Foto bersama Ibu : yang kupanggil Mama

Begitu banyak hari yang dilewati bersama Mama, bahkan segala aktifitas di luar rumah nyaris selalu dilakukan bersama Mama, terkecuali pergi sekolah. Begitu banyak hal yang sulit untuk dilupakan bahkan sebagian masih bisa dirasakan.

Mama mengajariku banyak hal, tentang cara bersikap dan bertutur kata, membaca, menulis, berhitung, mengaji, mengerjakan pekerjaan rumah, memasak dan masih banyak lagi. Mama selalu menjadi sahabat yang enak kalau diajak curhat. Tak jarang kami tertawa bersama setelah saling mencurahkan perasaan satu sama lain. 

Namun, ada tiga momen terbaik bersama Ibu yang akan selalu kukenang, kurindukan dan ingin terus menerus diulang. Pertama, aku sering lupa waktu sehingga melupakan jam makan saat sedang asyik menulis sesuatu di komputer atau pun bermain game. Hal itu sering membuat Mama khawatir. Karena setiap kali diingatkan makan malah menjawab "iya, nanti ... sebentar lagi." Akhirnya membuat Mama menyuapiku. Bukannya merasa malu, aku malah merasa bahagia karena Mama begitu perhatian dan menganggapku masih seperti putri kecilnya.



Moment terbaik bersama Ibu yang kedua adalah saat kami bepergian cukup jauh dari rumah. Entah menaiki kendaraan umum atau pun menyebrang jalan. Mama pasti mengenggam tanganku erat. Beberapa tahun lalu saat kami naik kereta KRD ekonomi lokal Bandung Raya yang selalu penuh sesak dan jarang mendapatkan tempat duduk. Ada sedikit tempat untuk duduk, dan Mama menyuruhku duduk ... sementara Mama rela berdiri dihadapanku, seolah sedang melindungiku. 

"Mama aja yang duduk, biar Ugiw yang berdiri!"

"Nggak usah, Ugiw aja yang duduk. Mama kuat kok!" Mama menahan tubuhku yang hendak berdiri.

Saat menyebrang jalan pun tak jauh berbeda. Aku yang terbiasa menyebrang jalan sendiri, mendadak kaku saat menyebrang bersama Mama. Ya, Mama mengenggam tanganku dan menuntunku untuk menyebrang. Tak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya, padahal dalam hati aku yang merasa ketakutan terjadi sesuatu kepada Mama. Tak bisa membayangkan bahkan tak ingin membayangkan betapa sulitnya jika ditinggalkan oleh Mama.

Moment terbaik bersama Ibu yang ketiga adalah dua tahun lalu. Saat aku tengah mengurusi tugas akhir. Sebelum sidang keesokan harinya aku jatuh sakit, besoknya Mama menelpon bagian administrasi jurusan, dan dua dosen penguji untuk meminta keringanan agar jadwal sidangku di undur. Selain itu, saat tubuhku mengigil malam harinya, Mama memelukku erat ... memberikan kekuatan serta kehangatan pada tubuhku hingga kondisiku membaik.

Itulah ketiga momen terbaik dari yang terbaik yang kurasakan bersama Mama. Terima kasih Mama untuk kasih sayang serta do'a yang menyerupai udara ... melimpah ruah, tak akan ada habisnya dan tanpa mengharapkan balasan. Terima kasih karena selalu membuatku menjadi putri kecil Mama.


Tulisan ini disertakan untuk giveaway #HariIbu bersama My Scrap Book

http://ashtrella.blogspot.co.id/2015/12/mothers-day-with-my-scrap-book-giveaway.html


Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)