Mereka Itu Satu ... - #LoveStory5

Baca dulu cerita sebelumnya di :
 
Keringat dingin mulai membasahi wajahku, berulang kali aku menelan ludah demi mengatasi rasa gugupku. Jika kubiarkan Her menemui Papa, mungkin malam ini akan menjadi pertemuan terakhir kami. Tapi aku pun tak mungkin terus menerus menyembunyikan masalah ini darinya. Kugigit bibir bawahku, berulang kali mencoba membuka suara, namun hanya helaan nafas kegelisahan yang terdengar. Sementara Her masih berdiri dihadapanku dengan tatapan penuh kecurigaan ... menanti jawabanku untuk mempertemukannya dengan Papa.

"May, kamu sedang memikirkan apa? Apa aku tidak boleh bertemu dengan Papamu?"
Aku tersenyum kaku, sambil memberanikan diri untuk menatapnya. Belum sempat aku membuka suara, ponselku terlebih dulu berdering. Kutatap layar ponselku, ternyata Papa yang menelpon. Aku pun tersenyum lega.

"Dari Papa, tunggu sebentar ya?"

Her mengangguk, mempersilahkanku untuk menerima telepon dari Papa.

"Maaf Her, Papa dan Mamaku sedang di luar. Mungkin kamu bisa bertemu lain kali?" Meskipun aku tak yakin 'lain kali,' itu akan ada.

Her tersenyum menatapku, "Baiklah, bagaimana kalau besok aku menemui Papamu?"

"Besok?" Aku balik bertanya.

Her mengangguk mantap.

Belum sempat aku menjawabnya, Her sudah terlebih dulu menenangkanku. "Kamu tenang saja, aku hanya bercanda," Dia tersenyum manis, senyuman yang mungkin tak bisa kulihat lagi. Aku pun tersenyum lega melihat mobil miliknya menghilang di persimpangan jalan.


https://nenkfa.files.wordpress.com/2013/02/425967_348383921860754_100000674466919_1119671_1513127594_n.jpg 
***
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan," Hanya itu yang terdengar setiap kali aku menelponnya. Her kembali menghilang, bahkan ketika aku memberanikan diri untuk menjenguk Papanya di rumah sakit. Perawat bilang Papanya sudah keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. Kemanakah aku harus mencarinya? Padahal aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan. 

"Maya kamu dari mana? Mama kan sudah bilang, kamu tidak boleh keluar rumah!"

"Tadi Maya mengantarkan undangan untuk teman, Ma ..." Aku menunduk pilu, berusaha menyembunyikan mataku yang berembun.

"Siapa? bukannya semua undangan sudah disebar sejak minggu lalu?" Mama menatapku curiga.

Aku terdiam, sulit rasanya untuk berkata jujur pada Mama.

https://pratiwidita90.files.wordpress.com/2014/03/kim-so-eun-kim-so-eun-21944901-494-740.jpg 

***
Dia hadir tanpa pernah kubayangkan sebelumnya. Dia menghilang seolah bumi telah menelannya. Dia kembali menyapa ketika aku mulai melupakannya. Dia datang dan pergi sesuka hatinya. Menganggu ketentraman hidupku ... lebih tepatnya hatiku. Ketika aku menggantungkan harapan tinggi padanya dia justru menghilang. Tak sadarkah dia bahwa semua yang dilakukannya membuatku jatuh hati. Kukira saat dia membawaku ke rumah sakit hari itu dan memperkenalkanku pada keluarganya adalah sesuatu yang spesial. Ternyata sama sekali tak berarti.

Aku kembali memejamkan mata, berusaha menepis semua kenangan tentangnya. Kuraih buket bunga mawar putih dihadapanku kemudian berjalan menghampiri Papa yang menungguku diambang pintu. Papa menuntunku memasuki ruangan pesta. Ya, pesta pernikahanku. Hari ini aku akan menikah, dengan pria pilihan kedua orangtuaku. Pria yang tak pernah kutemui sebelumnya.

"Kamu sudah siap, May?" Papa menatapku yang berdiri mematung di depan penghulu.

Aku mengangguk pelan.

//Kau ... jaga slalu hatimu ...
Saat jauh dariku, tunggu aku kembali ...
Ku mencintaimu  slalu, menyayangimu sampai ... Akhir menutup mata.//
Seventeen - Jaga Selalu Hatimu

Deg. Petikan senar gitar dan suara lembut itu menganggu pendengaranku. Bukankah itu suara dia? Kuberanikan diri menatap panggung kecil di sebelah kiri. Kulihat dia di sana. Ya, Her di sana ... mengenggam gitarnya sambil menatapku sambil tersenyum manis. Dan beribu-ribu pertanyaan mulai menggelayuti pikiranku.

https://fourseasonscarnival.files.wordpress.com/2010/02/2lm6q8o.jpg 
Mataku mulai berkunang-kunang ketika ijab qobul selesai dilaksanakan. Sesaat kemudian semuanya menghitam.
 
***
Satu minggu kemudian ...

Sungguh menggelikan ketika aku harus di rawat di rumah sakit karena shock berat atas kejutan di hari pernikahanku. Rasanya ingin menutupi wajahku setiap kali melihat wajahnya. Terlalu bodoh karena aku selalu melewatkan pertemuan antar keluarga setiap dua tahun sekali. Ada saja alasan untuk tidak bertemu dengan teman hidupku itu. Jika saja aku berusaha mencerna kalimat terakhir yang selalu diucapkan Her setiap kali kami bertemu, mungkin tidak begini akhirnya.  Bahkan aku mengutuk diriku sendiri karena memberikannya alamat palsu ketika pertama kali bertemu. Harusnya aku tahu kalau itu bukan suatu kebetulan, itu pertemuan yang sudah direncanakan.

"Kamu jahat!" Aku melepaskan genggaman tangannya.

Dia menoleh kearahku, meraih kembali tanganku dan memintaku untuk duduk bersamanya.

"Bukannya kamu ya yang jahat?" Dia balik bertanya.

"Aku? kenapa aku?" Aku mengernyitkan kening.

"Ah sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Bukankah kita sudah bersama sekarang?" Dia mengedipkan matanya.

Aku tertawa kecil, pria dihadapanku ini sungguh berbeda dengan anak kecil yang selalu menemaniku bermain layang-layang setiap harinya ... belasan tahun lalu. Aku mengeluarkan ponselku, teringat beberapa foto yang ku potret ulang dari dalam album beberapa hari lalu ... saat aku meminta Mama membawakan album-album foto itu ke rumah sakit.

"Kamu harus lihat ini!" Aku memperlihatkan satu persatu foto kami di masa lalu. Kami pun tertawa bersama. H yang pertama kali kutemui empat tahun lalu, Her yang kutemui dua tahun lalu dan Herdian Syahputra yang mempersuntingku adalah pria yang sama. Teman masa kecilku, pria yang memperhatikanku di angkot, pria yang selama empat tahun ini mengaduk-ngaduk perasaanku. Pria pilihan kedua orangtuaku. Pria yang kuimpikan menemani sisa hidupku. Oh bukan lagi mimpi ... tapi ini nyata.

https://xtwoxiangxiang.files.wordpress.com/2013/04/100days.jpg 

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Kisah Cinta Bunda 3F - #LoveStory

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

8 comments:

  1. mantep men kisahnya. hmm, berarti lain kali si "aku" ini harus lebih peka tuh.. sesuatu yg baik bukan melulu adalah kebetulan. *lalu diiringi lagu seventeen*

    ReplyDelete
  2. Wiihhh dramatis juga nih mayanya mbk.e
    Happy ending. Akhirny hhhheee
    Tapi apa maya beneran tidak tahu lelaki yang dijodohkannya melalui undangan yg disebar ya mbak? Hhheeee

    Salam kenal....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak, soalnya di undangan cuma ada namanya aja. Ceritanya Maya kecil juga belum pernah ketemu keluarga Her pas masih kecil :D

      Delete
  3. nah ini baru happy ending. siiip.

    ReplyDelete
  4. Ihhh..manis banget ceritanya,happy ending

    ReplyDelete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)