Satu Paket Kehilangan


Kehilangan Nenek belasan tahun lalu merupakan pukulan terberat bagiku, bahkan bagi kami sekeluarga. Awan mendung masih saja menghiasi selama berhari-hari. Namun ada kehilangan lain yang lebih menyedihkan. Bukan hanya sedih, ada rasa lain yang tercampur di dalamnya ... sakit, kecewa, marah ... setidaknya itulah yang kurasakan setiap kali melihat wajahnya. Sekalipun kehilangan ini telah berlalu belasan tahun lalu, aku tetap tak bisa melupakannya. Karena bagiku, melupakan lebih sulit daripada memaafkan. 

Aku, seseorang yang menerimanya hadir ke dalam kehidupanku dengan penuh suka cita ... tak sedikitpun menaruh rasa curiga. Aku yang kemudian menyesal telah membiarkannya masuk dan merusak segalanya.

***
Siang itu sepulang sekolah, suasana hati yang berbunga-bunga mendadak layu. Mata yang berbinar berubah menjadi embun, tak lama kemudian hujan air mata pun terjadi ... deras tanpa bisa dibendung lagi. Tubuhku mundur perlahan kemudian terduduk lemas di dekat meja makan.

"Kenapa, Gi?" Mama menghampiriku, memintaku untuk berhenti menangis.

"Binder yang lama nggak ada di lemari, hilang!" teriakku histeris.

"Lupa menyimpannya kali?"

Aku menggeleng, "nggak kok, Ma. Tadi pagi sebelum berangkat di simpan di lemari baju. Tadi Nggi tanya kakek, katanya Uli dateng pas Nggi udah di sekolah. Bilangnya mau ngambil barang yang ketinggalan kemarin. Jadi dibiarin masuk sama kakek!"

Beberapa hari kemarin gadis kelas tiga sekolah dasar itu memang sering berkunjung ke rumah. Bercanda dan tertawa riang sambil bertukar loose-leaf (isi binder) beraneka bentuk, corak dan warna. Untuk pertama kalinya aku membuka diri kepada saudara sepupu.

"Ayo kita ke rumahnya, Ma! Kita tanya dia langsung! Itu kan binder kesayangan Nggi!"

"Nggak enak dong Gi sama Bibi. Besok aja ya nanyanya di sekolah?" Mama berusaha membujuk dan akupun setuju.

***
"Biar Mama saja yang tanya, ya? Nggi tunggu di sini aja!"

Aku mengiyakan dan menunggu di depan kelasnya sampai Mama kembali menghampiriku dan memberikan penjelasan yang membuatku tidak puas. Kesalku semakin bertambah.

"Dia pasti bohong, Ma! Kalau bukan dia siapa lagi coba?"

"Udah lupakan saja ya. Kan masih ada binder yang baru?"

"Tapi di binder yang itu banyak biodata temen-temen. Ada foto-foto Nggi waktu kecil juga!"

Bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi, akupun terpaksa menuju kelasku sambil berkomat-kamit penuh amarah sepanjang perjalanan menuju kelas. Bahkan aku tak memperdulikan beberapa siswa laki-laki yang masih sibuk bermain kelereng di lapangan.  Padahal biasanya aku akan berteriak-teriak memanggil mereka untuk masuk kelas sebagai bentuk tanggung jawab seorang ketua kelas.

Waktu istirahat sudah tiba, namun aku tetap berdiam diri di tempat dudukku. 

"Teh, tadi Ayu dengar waktu Bu Neneng bisik-bisik sama Uli. Binder teteh hilang?"

Aku mengangguk.

"Ini, Ayu dikasih ini sama si Uli. Teman-teman lain juga dikasih!" Ayu menyerahkan empat lembar loose-leaf berupa biodata dan cover loose-leaf.

Mataku terbelalak. Semuanya isi dari dalam binderku. Sungguh keterlaluan sekali gadis itu. Dia membagikan lembaran loose-leaf dari dalam binderku. Bahkan menurut penuturan Ayu fotoku di klaim sebagai foto masa kecilnya.

***
Beberapa biodata kembali berkat Ayu dan beberapa temannya yang secara sukarela mengembalikannya padaku. Namun, Binder berwarna merah yang kujadikan diary itu tak pernah kembali. Foto masa kecilku pun turut lenyap bersamanya. Binder yang kubeli dengan menyisihkan uang jajan setiap harinya. Sedangkan dia ... apa pun bisa didapatkannya dengan mudah. Merengek pada kedua orangtuanya yang serba berkecukupan.

Aku tak habis pikir, mengapa anak berusia 8 tahun bisa memerankan drama yang cukup menakjubkan. Kebohongannya nyaris sempurna jika saja dia tak membagi-bagikan lembar yang sudah terisi tulisan di dalamnya. Aku mengalami satu paket kehilangan sekaligus. Kehilangan binder pertamaku beserta kepercayaanku padanya.


Sejak saat itu, kelas enam sekolah dasar ... aku tak lagi mengijinkan orang lain masuk ke dalam kamarku, terkecuali penghuni rumah. Karena aku tak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Dan kini setiap kali bertemu dengannya, gadis kecil yang bermetamorfosis menjadi gadis cantik nan gaul ... rasa sakit, kecewa dan marah itu masih ada. Luka atas kehilangan belasan tahun lalu masih terasa. Aku memaafkan namun bukan berarti melupakan.

*ket : 633 kata termasuk judul

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Kehilangan

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

28 comments:

  1. Ikut prihatin. Yg namanya barang kesayangan, terlebih itu milik kita pribadi dan satu2nya lagi. Apalagi terdapat foto kita masih kecil, duh menyebalkan sekali, bila di ambil orang. Saya pernah merasakannya, ketika saat laptop saya hilang, disitu, betapa banyak foto kenang-kenangan dan beberapa tulisan saya juga ikut hilang serta bersama laptop yg di curi oleh orang. Bersabar ya. Boleh tahu, ini sejak kapan kejadiannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesuai dengan yang ada ditulisan belasan tahun, 11 tahun lalu sih sebenarnya hee

      Delete
  2. Lah, sama, dulu punya sodara-sodara masih kecil suka banget ngerusak barang, nggak cuma satu tapi banyak, mau marah ya percuma, jadi sekarang lebih rapet nyimpennya, ahiya, kamar juga privasi, males banget kalo ada orang masuk seenaknya walau sodara :D

    @umimarfa nih~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas masih anak SD kamar masih bebas diakses sama temen. Setelah kehilangan baru deh bikin warning :D

      Delete
  3. Ehm..saya sempat panik & marah binder berisi bidata teman sebagai kenangan masa sekolah hilang dan sampai saat ini ga kunjung ketemu ya alhasil hanya bisa merelakan meskipun kecewa sangat, hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena ngumpulin biodata temen itu prosesnya tidaklah mudah hohoho jadi ya pasti kecewa kalau bindernya hilaang T_T

      Delete
  4. Turut perihatin atas hilang bindernya ya. Terkadang memang perlu hati-hati dalam menjaga barang karena orang terdekat sekali pun bisa saja mengambilnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Iya, harus waspada terhadap siapapun, di manapun dan kapanpun

      Delete
  5. kecewa, sakit, itu semua perih pasti. tapi ya diambil saj apengalaman dan hikmahnya untuk dijadikan pelajaran kedepan, kehilangan memang selalu menyakitkan :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kehilangan memang selalu menyakitkan

      Delete
  6. Gua tau banget perassan lo kelas 6 Sd itu, tau banget. karna gua juga tukang koleksi binder. *toss dulu sini
    Bahkan dulu binder gua ada 4 satu buat harvest, satu kyky, satu adinata, dan satunya campuran.
    Ya Allah komen gua kaya abang-abang binder depan SD. :"")

    ReplyDelete
  7. kalo masalah binder ,, jadi ingat dulu pernah capek nulis biodata di kertas binder itu hahahaha mana tulisannya sampe makanan kesukaan ampe bernapas menggunakan apa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. biasanya ada pantun-pantunnya gitu kalau anak cowok :D paling susah juga dimintain biodata kalau anak cowok mah :D

      Delete
  8. rasa sedih akan kehilangan brang yg kt cintai mmg adalah sifat manusia. tp itu jgn lah mmbuat kita harus trus2an bersedih kwan.

    trut prihatin atas kehilangan bindernya apalagi bnyak tersimpan kenangan disana...sbar yow...

    ReplyDelete
  9. Kehilangan yang disayangi memang sangat tidak menyenangkan ya mbak... apalagi disebabkan karena dikhianati... semoga diganti dengan yang lebih baik oleh pemilik semesta..

    Sukses lombanya

    ReplyDelete
  10. Binder oh binder...untung masih ada sebagian yang balik ya gil. Btw binder dulu famous banget ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tapi tetep aja foto gak balik T_T, iya emang famous banget dulu mah :D

      Delete
  11. Selain binder, kepercayaan juga hilang ya. Itu yang kacau sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena kepercayaan tak ternilai harganya :)

      Delete
  12. Tulisannya bagus mbk. Apalagi isinya, bener2 dalem. Emang begitu efek klo kpercyaan yg kita beri sudah dilukai. Sulit utk dlupakan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sulit sekali untuk dilupakan. terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  13. penasaran aja, pernah tanyain lg gak di usia sekarang, gimana responnya? hehe... dulu jg pernah ngalamin yg hampir sama dgn benda yg beda, pas udah gede nanya, kami malah menertawakan masa lalu.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak aku tanyain. Lagian udah jarang ketemu. Dan dari dulunya juga nggak mengakui.

      Delete
  14. Waaahh.. Binder! Aku juga dulu suka ngumpulin loosleaf binder, bertukar sama teman, terus habis itu minta diisi biodata teman-teman. Taulah gimana rasanya kehilangan binder kesayangan penuh kenangan. :(

    Btw, Makasih ya, Gege, sudah ikut meramaikan GA ku. :D

    ReplyDelete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)