Tempat Bersembunyi

Hai apa kabar? lagi-lagi aku menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan karena sudah kutahu pasti jawabannya. Kau tidak terlalu baik namun belum dikategorikan buruk. Kau tidak luas namun cukup untuk menampung diriku beserta benda-benda lainnya yang kusukai. Kau yang resmi kuhuni sejak kelas sebelas. Warna putihmu kuubah menjadi ungu.

Dindingmu dipenuhi tapak kakiku, tempelan-tempelan kertas bahkan tusukan paku. Kau pun sulit ditembus sinar matahari sejak rumah kecil di depan dibuat bertingkat oleh bapak. Terkadang berbau aneh karena seringkali aku membawa berbagai jenis makanan dan menutup pintunya rapat-rapat. Kau memang tak kedap suara namun cukup baik untuk menyamarkan suara. Biasanya aku sengaja menenggelamkan wajahku di bawah bantal agar suara-suara yang tak ingin kudengar semakin tidak terdengar. Bila itu tak cukup, maka akan kupasang headset dan mengeraskan volume musiknya.

Aku yang pendiam dan pemalu ini sangat beruntung memilikimu, ruangan kecil berpintu dan bisa di kunci rapat-rapat, agar tak ada satupun orang yang masuk dan menganggu kegiatanku. Akupun bisa menumpahkan segala kekecewaan dan tangis tanpa harus terlihat orang lain. Dari setiap sudut rumah ini, kaulah yang paling kucintai... kamarku.

Yang menghuni dirimu,


Gilang

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

3 comments:

  1. wah,,, dalam diri ada yang menghuni,, jiwa-jiwa yang merasuk dalam raga, *apasih hahaha

    ReplyDelete
  2. kamar tidur memang tempat paling nyaman yah Mbak Gilang :)

    ReplyDelete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)