Untuk Kamu

Teruntuk kamu yang entah di mana

Hai, apa kabar? Terdengar kaku bukan ketika aku menanyakan kabarmu? Terasa mengada-ngada karena selama beberapa tahun ke belakang aku justru berusaha mengabaikanmu. Tapi aku bisa apa kalau pada akhirnya aku merindukan segala bentuk perhatianmu ... suara dering telpon darimu. Telpon yang terkadang sengaja tak kuangkat. Padahal kamu bersusah payah mencari waktu yang tepat agar bisa menghubungiku dari jarak ratusan kilometer. Maaf apabila aku mengingkari janjiku untuk mulai melupakanmu. Aku ingin, akan tetapi di hatiku masih tersimpan namamu. Aku ingin, akan tetapi sosokmu masih menari-nari dipikiranku. Aku hanya bisa berharap di manapun kamu berada, Tuhan selalu menjagamu ... memberimu kesehatan. 


Di mana kamu saat ini aku tak tahu. Entah belahan bumi mana lagi yang kamu singgahi dan tinggali aku tak ingin tahu, meski sebenarnya hati kecilku ingin. Tapi aku terlalu takut, takut apabila pada kenyataannya kamu berada di kota yang sama dengan perempuan itu. Perempuan yang kamu abadikan gambarnya dan membaginya di jejaring sosial. Sungguh aku tak ingin merasakan apa itu cemburu.

Berapa kali kamu menyatakan perasaanmu padaku? Berapa kali kamu menanyakan maukah aku menjadi pacarmu? Kurasa tiga kali yang benar-benar tegas, selain daripada itu hanya berupa kode yang samar namun dengan tujuan yang jelas. Apa jawabanku? Dua kali aku menolakmu secara halus namun tentu tetap menyakitkan bukan? Karena pada akhirnya aku merasakan hal yang sama. Satu kali aku mendiamkanmu, mengalihkan pertanyaanmu pada pembahasan yang lain. Apa aku ini tak punya hati? Apa aku tak suka padamu? Bukan, bukan itu jawabannya. 

Seperti yang kamu tahu dan akupun tahu. Pada awalnya kamu menyukai temanku bukan? Ya, jelas kamu menyukainya seperti cowok normal pada umumnya. Dia terbaik dilihat dari sisi manapun, sementara aku? Siapa aku? Bahkan di sekolah tak banyak yang mengenaliku, karena aku bukan siapa-siapa ... tak ada yang istimewa dariku. Seperti yang kamu tahu, salah seorang temanmu pun mengaku menyukaiku meskipun tak kudengar langsung dari mulutnya. Aku tak ingin menyakiti mereka, yang justru malah menyakitiku mungkin kamu pun merasakan itu. Akhirnya aku memilih untuk berkata bahwa kamu terlalu baik untukku, dan orang baik tak seharusnya dijadikan pacar, cukup menjadi teman ... teman hidup di masa depan.

Sekarang sedang musim penghujan, dan kamu tahu apa yang terlintas dalam benakku saat butiran air dari langit itu turun cukup deras? Ya, aku teringat padamu ... teringat pada hari itu. Apa kamu ingat pernah memboncengku bahkan mengantarkanku pulang sampai ke depan rumahku bersama dua senior lainnya? Tak apa bila kamu tak mengingatnya. Biarlah aku yang mengingatnya, biarlah aku yang tersenyum senang dari balik jendela ... melihatmu yang tersenyum di antara gelapnya malam dengan penerangan bola lampu berwarna kuning keemasan. Ya, kamu beberapa tahun lalu.

Tiga tahun yang lalu, tepat hari ini ... tanggal 13 Februari sebelum tanggal 14 Februari sepulang UAS semester Ganjil aku mendapatkan sebuah kejutan ... darimu. Sebuah kardus berukuran sedang terbungkus plastik sebuah jasa pengiriman paket tiba di tempat kostku. Isinya tentu membuat hatiku membuncah bahagia. Terlebih isi surat yang terselip di dalamnya. Kamu memberikan sesuatu dengan uangmu sendiri ... hasil kerja kerasmu, bukan pemberian orangtuamu. Sayangnya setelah aku berterima kasih padamu, sejak saat itu pula kamu menghilang. Entah kemana angin membawamu terbang, entah laut mana yang berhasil menenggelamkan perasaanmu padaku. Entah kobaran api mana yang berhasil membakarnya menjadi serbuk halus berwarna abu-abu.

Kamu mungkin tak tahu bila aku sering mengunjungi akun jejaring sosialmu. Andai saja kamu memakai sebuah aplikasi untuk melihatnya saat itu, kupastikan namaku di urutan pertama. Bahkan sesekali aku mendownload fotomu, menyimpannya di salah satu folder komputerku hingga detik ini. Setelah sekian lama tak bersua, setelah rindu yang semakin lama semakin menggunung. Akhirnya aku melihat aktifitas di akunmu, sayangnya itu membuatku tak senang, membuatku merasakan sakit yang teramat dalam. Perlahan rinduku mulai menguap, perlahan logikaku mulai bekerja kembali. Ya, aku tak bisa menyalahkanmu karena pada kenyataannya akulah yang bersalah. Kamu berhak menyayangi perempuan lain selayaknya lelaki yang bertumbuh dewasa. Perempuan baik yang akan bersamamu hingga akhir hayat nanti. Kamu berhak bahagia.

Kamu jelas bukan orang pertama yang kusukai, kamu orang yang kesekian namun sulit untuk terhapus dari memori ingatan serta hatiku. Kamu mungkin bukan yang terakhir untukku apabila takdir yang sudah digariskan Tuhan sebagai jodohku bukanlah kamu. Tahun lalu, setelah mengumpulkan seluruh keberanian dan rasa percaya diri juga siap menerima kenyataan sepahit apa pun itu. Demi sebuah ketenangan, sebuah kelegaan pada hatiku pun hidupku. Aku menyatakan perasaanku, perasaan yang sudah tersimpan begitu lama. Lima tahun aku mengenalmu, lima tahun aku memendamnya. Aku tak peduli sekalipun harus ditertawakan, dianggap murahan, tak tahu diri, tak tahu malu. Karena aku hanya berusaha untuk berkata jujur, berusaha untuk mengurangi beban dalam hati dan pikiranku.

Kupikir menghilangkan nama serta bayanganmu itu mudah setelah aku menyatakan isi hatiku, ternyata aku salah. Tapi biarlah, biarkan aku tetap merasakan perasaan aneh ini hingga detik ini. Bila waktunya tiba, aku tentu akan kembali jatuh cinta, oh tidak ... bila waktunya tiba, aku akan membangun sebuah cinta. Dengan pondasi-pondasi yang kuat. Bila bukan kamu, tentu orang lain. Jika bukan kita, biarlah aku dan kamu akhirnya menemukan muara rasa untuk saling berbahagia. Jika bukan kita, biarlah aku dan kamu hanya menjadi sepenggal kisah masa lalu.

Untuk sebuah surat, tentu ini lebih mirip cerita tentangmu. Tapi biarlah, biarkan aku tetap menuliskannya untukmu. Sekalipun kamu tak akan pernah membacanya. Kumohon satu kali lagi, ijinkanlah aku untuk jatuh cinta padamu hari ini dan semua orang memakluminya.
Aku berjanji tak kan berusaha menghubungimu, tapi biarlah aku masih memperhatikanmu dari kejauhan. Biarkan aku jatuh sedalam-dalamnya karena esok lusa aku pasti akan bangun meski tanpamu. 


Yang dulu sering mengabaikanmu,


Gi(e)-lang

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)