YANG DATANG SILIH BERGANTI

Teruntuk kalian yang datang silih berganti

Hai, ketika aku menuliskan surat ini kulihat beberapa dari kalian sedang tertidur lelap ... entah di atas lemari, di atas kursi meja makan. Si hitam kulihat sedang berkeliaran di depan rumah tetangga, dan si kurus melamun di atas pintu dapur. Hai apa yang kau lamunkan saat ini? Beberapa dari kalian ada yang menghilang tanpa jejak, sakit kemudian menghembuskan nafas terakhir dan kuantar ke tempat peristirahatan terakhir.

Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup bersama kalian, berbagi makanan yang kalian sukai terutama ikan. Ikan asin apakah kalian suka? Tidak, terkecuali tak ada pilihan lain ketika kalian lapar dan ibu kehabisan stok ikan bandeng dari warung sekitar. 


Kalian dengan beragam sifat yang berbeda. Si belang kesayangan kakek sungguh yang paling berkesan. Bagaimana tidak, dia pulang dengan seluruh tubuh bercampur lumpur namun meletakkan hasil tangkapannya di depan pintu rumah ...seekor ikan mas berukuran sedang. Entah dari kolam milik siapa.

Setelah si belang mati, ada dua anak kucing jatuh dari atas plafon rumah. Empus dan Emip, sepasang kucing jantan yang setelah besar memiliki perbedaan karakter. Empus si belang oren yang gemuk dan suka sekali tidur. Empus paling anti berkelahi, jangankan berkelahi, melihat kucing lain akan menghampiri saja dia sudah berlari ketakutan masuk ke dalam rumah. Sementara Emip ... dia pandai berkelahi, tak sekalipun mengalah dari para lawannya. Empus pergi tanpa pamit siang itu ... dia tak pernah kembali. Sementara Emip menghembuskan nafas terakhirnya di bawah meja dapur.

Setelah mereka pergi aku seolah kehilangan teman kembali. Ya, bagiku mereka bukan hanya sekedar hewan peliharaan. Mereka teman, pendengar yang baik sekalipun hanya membalas dengan meongan, penghibur di saat diri tengah berduka.

Malam itu, hari selasa malam rabu, bapak pulang membawakan kucing kecil yang mirip dengan Empus, kami memberikannya nama Bosa. Bosa awalnya ketakutan, mungkin karena merasa asing di rumah ini. Lambat laun mulai akrab dan semakin besar dia semakin liar. Sering mencakar tanpa alasan dan memegangi kaki kuat-kuat saat telat diberi makan. Meskipun begitu kami tetap menyayangimu. Kau pergi ketika tubuhmu begitu kurus karena sakit selama berminggu-minggu. Maaf tak bisa membawamu ke dokter hewan. Malam itu kau meminta ibu membukakan pintu untuk keluar dan sejak malam itu kau tak pernah kembali. Kami kehilangan jejakmu.

Setelah Bosa pergi seekor kucing betina berwarna abu-abu datang. Diusir pergipun dia tetap bertahan. Ibu memberinya nama Dasa. Dasa memiliki sifat unik, setiap kali ada anjing lewat maka dia akan menggeram dan mengerjarnya. Dasa melahirkan tiga anak, Oci, Otu, Onai. Oci kucing ajaib ... bapak yang sempat kesal pada keempat kucing itu dengan tega membawa mereka pergi, menurunkan mereka di sekitar rumah sakit. Otu berhasil lolos ketika ditangkap. Dia naik ke atas genting tetangga sebagai tanda tak ingin pergi. Namun dua hari kemudian Oci kembali dan akhirnya tahun lalu mati. Otu? dia panjang umur bahkan dua tahun lalu melahirkan dua orang anak yang bulunya mirip anjing dalmatian / snoopy. 

Entip dan Nanai, Entip betina dan Nanai jantan. Entip kurus dan Nanai Gemuk. Nanai senang di rumah dan Entip senang berkeliaran di luar rumah. Nanai itu memiliki sifat seperti Empus ... penakut. Nanai juga senang tidur di atas kasur. Senang duduk di atas sajadah mushola. 

Sekarang Entip memiliki dua anak berwarna abu-abu hitam. Yes, gak keliatan kalau gelap, nyamain tikut got yang suka kelayapan masuk rumah. Herannya si Nanai rela aja jagain anaknya Entip, padahal sudah terang-tetangan dulu Entip menolak Nanai.

Wahai kalian kucing-kucing kampung yang datang silih berganti ke rumah ini. Terima kasih, berkat kalian aku merasa memiliki teman. Berkat kalian aku tak lagi kesepian di rumah. Berkat kalian aku bisa tertawa lepas ... menertawakan tingkah kalian yang menggemaskan.

Kalian memang tak bisa berbicara layaknya manusia, tapi aku tahu ... kalian mengerti apa yang kami bicarakan. Wajah kalian memang terlihat selalu sama. Entah senang, sedih, gelisah ataupun takut. Namun tingkah dan gerak langkah kalian yang menjadi pembedanya. Aku sayang kalian ... yang masih ada ataupun telah tiada.

Yang sayang kalian,


Gilang

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)