Basah Kuyup

Seorang perempuan yang di anugerahi paras yang lebih cantik dari perempuan lainnya sedang berjalan di trotoar. Dari kejauhan terlihat seorang pengendara sepeda motor ala valentino rossi melintas cukup kencang melewati perempuan itu. Kubangan air hujan sisa semalam pun tak luput membasahi bajunya. Perempuan itu marah-marah, si pengendara motor pun menghentikan laju sepeda motornya dan menghampiri si perempuan. Si pengendara motor membuka helmnya dan membuat perempuan itu terpukau, mulutnya menganga lebar. Ternyata panah si cupid membuat keduanya jatuh cinta.


Nah kalau cuplikan di sinetron mah kurang lebih begitu kan?

Atau,


Seorang perempuan berkepang dua mengayuh sepedanya di jalanan dengan riang gembira. Tiba-tiba sebuah mobil kinclong menyalipnya dan membuat wajah serta baju seragamnya basah kuyup terkena kubangan air. Perempuan itu marah-marah, sementara laki-laki yang mengendarai mobilnya terkekeh dan mengejeknya. Mereka dipertemukan lagi di sekolah yang sama dan tidak pernah akur. Selanjutnya mereka saling jatuh cinta.


Sementara yang aku alami,

Nagreg, 27 Februari 2016 pukul 19.46 WIB

Hampir satu jam lamanya aku menunggu bapak menjemputku di dekat rumah makan ponyo 8. Dikarenakan hujan yang deras secara terus menerus sejak sore hari di daerah Nagreg dan sekitarnya, genangan air pun memenuhi bahu jalan kurang lebih lima belas sentimeter. Sejak turun dari bus Karunia Bakti jurusan Garut -KP Rambutan akupun berteduh di depan sebuah warung yang menyediakan kursi kayu panjang. Oh bukan, kursi itu milik pedagang nasi goreng di sebelahnya.


Aku memarahi diriku sendiri yang dengan sengaja menyimpan kembali payung lipat tadi pagi ke dalam kamar bukan membawanya turut serta ke dalam tas dan menemaniku ke Cikarang untuk menemui mas cemen dan minta tanda tangan sama foto bareng mengikuti walk in interview salah satu perusahaan. Andai saja aku membawa payung itu mungkin saat itu aku tak perlu menunggu lama, bisa berjalan kaki sampai ke ujung perkampungan pertama dan minta di jemput bapak di sana. Jadi di jemputnya bisa lebih cepat dibandingkan menunggu di pinggir jalan raya dengan jalan menuju rumah yang lebih jauh.

Akupun mulai gusar ketika menerima pesan singkat dari mama yang menyatakan bahwa bapak sudah berangkat sekitar empat puluh lima menit yang lalu. Berulang kali aku menatap jam di tangan kemudian menelpon nomor bapak. Tidak diangkat. Ketika aku tengah mengetikkan huruf demi huruf untuk memberitahu mama bahwa bapak belum juga sampai, tiba-tiba ....

Byuuurrr, seketika itu juga genangan air hujan di pinggir jalan itu mengenai wajahku, jam tanganku, ponselku, tasku dan sekujur tubuhku. Membuatku bernyanyi "basah-basah-basah seluruh tubuh." terdiam tanpa kata. Secepat mungkin mengeringkan layar ponselku.

Siapa gerangan yang membuat diriku basah kuyup dan bapak penjual nasi goreng serta pemilik bengkel geram? Bukan, bukan pria tampan bermotor ala valentino rossi, bukan pula pria tampan bermobil ferarri, bukan pula pria tampan bermotor matic. Ternyata sebuah elf jurusan Ciamis - St. Hall yang ngebut kemudian menabrak semacam tiang besi untuk menandakan genangan air cukup tinggi. Dan aku tidak jatuh cinta sama sekali berkat insiden basah kuyup itu.

Jadi, pelajaran yang bisa dipetik dari insiden tidak menyenangkan ini adalah : sedia payung sebelum hujan meskipun itu memberatkan isi tas, kalau ada genangan air harap menjauh sesegera mungkin dari sana, jangan mengkhayalkan kejadian romantis seperti yang terjadi dalam adegan sinetron.

Sekian dan terima kasih.

sumber gambar : google.com kecuali gambar air hujannya

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

1 comment:

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)