Inikah Rasanya Pingsan

Aku rasa ini akan menjadi postingan tidak penting untuk kesekian kalinya. Namun entah mengapa aku ingin menuliskan ini sebagai langkah pertama melawan rasa malas di awal minggu ketiga di bulan maret. Tadinya dini hari tadi sudah diniatkan untuk posting tentang film jingga dan i'am hope yang sudah di tonton akhir februari lalu ataupun menceritakan sensasi makan di temani saus sambal dan sambal terasinya Sasa dari Home Tester Club. 

Pingsan, suatu kejadian di mana seseorang mendadak tidak sadarkan diri. Suatu kejadian yang sejak duduk di kelas empat sekolah dasar menarik perhatianku. Bagaimana rasanya pingsan, sakitkah?

Seolah menjawab rasa penasaranku, hari itu setelah berlari tanpa henti mengelilingi lapangan gondo demi mendapatkan nilai ujian praktek olahraga, keanehan itupun terjadi. Awalnya hanya sedikit mual, pusing dan keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh. Aku memaksakan diri untuk terus berjalan pulang menuju sekolah. Saat melewati jalan setapak tidak jauh dari SMAN 1 Nagreg penglihatanku mulai berkunang-kunang dan kepala terasa semakin berat. Akupun segera menepi dan duduk di sembarang tempat, dua orang teman perempuan menghampiriku dan membantuku untuk kembali berdiri. Entah siapa mereka, karena saat itu yang kulihat hanya warna kuning seluruhnya. Begitu mendekati gerbang SMP semuanya menghitam. Hanya bisa merasakan tubuhku yang menabrak gerbang karena belum juga di buka. Beberapa detik kemudian terdengar salah satu temanku marah-marah karena murid-murid memanfaatkan gerbang yang terbuka sedikit untuk jajan di luar sekolah. Sementara kami yang akan masuk jadi terhalangi. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi selain penglihatanku pulih kembali saat berjalan mendekati kelas. Jadi inikah rasanya pingsan? tapi kenapa aku masih bisa berjalan?

Dua tahun kemudian,

Saat kelas sebelas aku turut serta dengan kakak untuk berbelanja baju lebaran. Entah itu h- min berapa yang pasti pusat perbelanjaan sudah penuh sesak. Mungkin karena lelah setelah berkeliling di ciwalk dan dilanjutkan ke plaza parahyangan di alun-alun Bandung ... aku merasakan kembali hal yang sama saat kakak sedang memilih celana jeans. Aku berdiri di dekatnya dengan kepala yang sudah pening, terasa mual dan keringat dingin mulai membasahi wajahku. Mata mulai berkunang-kunang saat kakak mengajak beralih ke toko yang lain. Aku masih mengikutinya dari belakang sampai keadaan di sekitar menguning. Ingin berteriak memanggil kakak namun rasanya tenggorokan terasa tercekat, sulit mengeluarkan suara. Akupun terbawa arus pengunjung yang lain dari arah belakang, terus berjalan hingga semua terlihat menghitam dan aku menabrak beberapa orang di depanku sebelum akhirnya terduduk lemas di lantai. Saat penglihatan pulih, aku sudah di gendong pak satpam. Dibawa ke pintu keluar. Hingga kakak datang sambil ngomel-ngomel karena khawatir. Akhirnya disuruh minum dan puasa pun batal.

Dengan gejala yang sama kejadian itu kembali terulang saat di perguruan tinggi. Malam itu setelah selesai latihan padus, rasa pusing dan keringat dinginku semakin parah. Sepanjang perjalanan pulang menuju tempat kos, rasanya berjalan dengan kaki yang tidak menapaki jalan. Akhirnya saat di kamar aku memutuskan untuk tidur, sialnya malah kebelet pipis. Turun tangga semuanya masih normal, begitu di kamar mandi semuanya menguning. Karena duduk di kamar mandi bukanlah ide yang bagus, akupun memaksakan diri untuk keluar dan berjalan. Suasana dapur mulanya gelap seperti biasanya, lama kelamaan gelapnya terasa berbeda, aku bahkan menabrak meja. Aku menyerah, akhirnya duduk di lantai dan memejamkan mata. Entah apa yang terjadi, begitu membuka mata dan melirik ke samping kanan, aku duduk bersebelahan dengan tikus segede mangkok yang akhirnya lari terbirit-birit. Lha tadi dikira patung kali ya akunya.

Terakhir gejala yang sama aku alami di tahun 2013. Pulang kerjanya sih jam 7, sampai nagreg jam 10 karena rancaekek macet. Dan sialnya udah ujan gak ada ojek pula. Kebetulan bapak pun tidak ada di rumah. Jadilah aku memberanikan jalan kaki. Kalau itu nggak sampai duduk sih, tapi bingung jalanan yang mana ya. Takutnya nyungseb ke kebun orang.

Jadi inikah rasanya pingsan? Apa kalian pernah pingsan? Bagaimana gejala dan rasanya? 

Menurut artikel yang kubaca tentang pingsan. Gejala yang kualami saat SMP terjadi karena dehidrasi dan kelelahan. Gejala saat SMK itu kekurangan oksigen dan kelelahan. Gejala saat kuliah dan terakhir itu karena darah rendah, stress dan kelelahan. 

Beruntung tahun 2014 hingga detik ini kalau stress dan kelelahan gejala itu tidak muncul. Karena umur yang semakin tua darah rendahnya berubah jadi darah tinggi.

sumber gambar :
tuslianingsih.blogspot.m

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

1 comment:

  1. mbak gie, aku juga dulu masa SMP sampai kerja sering kerja Nampaknya dehidrasi jadi pemicu utama pingsan.
    Hampir sama, sekeliling terasa pening dan berwarna kuning - oranye kemudian semuanya gelap..
    Alhamdulilah sekarang sudah tidak lagi, karena saya bekel air putih kemana-mana hehee.
    Sehat selalu mba gie

    ReplyDelete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)