Jingga (2016)

Kamis, 25 Februari 2016

Seandainya dia tidak membatalkan ajakan nonton film karena tidak adanya helm, Seandainya film I'am Hope di putar lebih awal, mungkin aku tidak akan menonton film ini. Tapi aku tidak menyesal telah menonton film ini, sekalipun merasa terganggu oleh delapan orang penonton lain yang justru berisik di kursi belakang. Dan aku nonton tepat saat film persembahan mba Lola Amaria ini pertama kali di tayangkan di seluruh bioskop Indonesia.

 


Penglihatan Jingga mulai mengalami penurunan dari hari ke hari. Sebelum pergi untuk memeriksa kondisi penglihatannya, Jingga malah mengalami kekerasan oleh temannya di sekolah. Mata kirinya terkena pukulan keras. Jingga yang ternyata mengidap low vision sejak kecil pun akhirnya tidak bisa melihat sama sekali. Seluruh anggota keluarga sangat terpukul. Jingga putus asa dan melampiaskan emosinya dengan menggebuk drum secara membabi buta. Kedua orangtuanya bertengkar, karena ayah Jingga bersikeras percaya bahwa penglihatan anaknya bisa sembuh. Sementara itu Violet, adik Jingga menangis di dalam kamarnya. Ibu Jingga dan Violet kemudian menghampiri kamar Jingga, suara gebukkan drum perlahan mulai tidak terdengar. Karena khawatir mereka menerobos masuk ke kamar Jingga dan mendapati Jingga sudah tak sadarkan diri. Ada darah pada stik drumnya yang patah.

Setelah keluar dari rumah sakit, Jingga mulai menerima keadaan berkat dorongan semangat dari ibunya. Jingga mulai bersekolah di sekolah luar biasa, ibu menjelaskan rute untuk menuju sekolah termasuk jumlah langkah yang harus ditempuh Jingga untuk sampai ke gerbang depan dan ruangan kepala sekolah. Jingga mulai belajar menggunakan tongkat. Pak Kirmizi pun membantunya mempelajari banyak hal termasuk belajar huruf braile dan menggunakan ponsel dengan fitur talk back.


Di kelas, Jingga berkenalan dengan Marun, Nila, dan Magenta yang sama-sama penyandang tunanetra dengan penyebab kebutaan yang berbeda. Mereka menyukai musik dan mempunyai sebuah grup band, dan posisi drummer kembali terisi dengan kehadiran Jingga. Jingga pun kembali bersemangat untuk bermain drum. Semakin lama persahabatan di antara mereka semakin terjalin erat. Mereka sering berlatih di ruang musik sekolah, dan memutuskan untuk mengikuti kompetisi dengan membawakan lagu ciptaan Marun. Marun pun mengajak mereka untuk mengunjungi studio milik Kang Gory. 

Keadaan mulai berubah ketika Marun sering mimisan, ia menyembunyikan hal itu dari ketiga sahabatnya. Selain itu Marun merasa ada perubahan dari suara Nila saat bernyanyi. Marun merasa cemburu dengan kedekatan yang terjalin antara Nila dan Jingga.

Apa yang selanjutnya terjadi pada Marun? Bagaimana nasib band mereka? Siapakah yang akan dipilih Nila? Aku sih udah tau jawabannya. Sayang film ini kemarin tidak bertahan lama di bioskop. Sama kayak I'am Hope. Dan aku baru posting sekarang, telat kebangetan kan?

***
Karena setting film ini diambil di Bandung, tentu saja beberapa tempat sudah tidak asing lagi untukku bahkan cukup familiar untuk yang sering berwisata ke Bandung. effect gebukkan drumnya Jingga pun membuat film ini semakin terasa dramatis di awal. Ditambah soundtrack film yang benar-benar original, asli buatan mereka sendiri. Lagunya enakeun, kalau ada pingin download deh aseli. Film ini banyak pesan morilnya, membuktikan bahwa penyandang tunanetra seperti mereka bisa mandiri bahkan berprestasi. Tidak hanya mereka, tapi penyandang tunanetra di kehidupan nyata pun banyak yang berprestasi. Nama-nama mereka pun diambil dari warna pelangi.

Aku merasa ada beberapa perpindahan adegan yang terlalu cepat, baru mau nangis eh keburu pindah. Tidak ada terjemahan bahasa Sunda. Ya, meskipun bahasa Sundanya memang sudah familiar eh siapa tau saja ada yang belum pernah dengar.

Meskipun wajah-wajah pemeran utamanya belum pernah aku lihat sebelumnya, eh kalau pemeran Marun (Qausar Hy) pernah lihat sih sebelumnya. Jadi tahu kalau dia bukan tunanetra beneran. Akting keempatnya benar-benar meyakinkan. Aku paling suka aktingnya Nila (Hany Valery), meyakinkan banget. Ditambah mereka main musiknya beneran.

Agak kecewa sih sama endingnya yang terasa menggantung, tidak sesuai dengan ekspestasi dan harapanku diawal. Tapi cukup puas dengan keseluruhan jalan ceritanya.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

10 comments:

  1. review yang bangus.. jadi pengen liat filmnya... btw ending yang kek gitu emang ngeselin juga... apalagi hubungan yang menggantung. wkwkwkkw :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk bukan yg hangus *hehe hubungan menggantung mah ngeseli pake banget bhahaha

      Delete
  2. Waw saya jadi semakin penasaran dengan filmnya, seperti apa alur ceritanya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga saja nanti ada dvd-nya atau ditayangkan di televisi :)

      Delete
  3. jalan cerita yang memuaskan gmn kak :D

    ReplyDelete
  4. Hmm sepertinya ini bisa jadi film selanjutnya nih yang harus saya tontong.

    ReplyDelete
  5. referensi bagus buat tontonan weekend nanti, eh btw itu kok tiket cuma 1 ya? :D

    ReplyDelete
  6. Baca reviewnya sepertinya sedih. Tapi baca kemudian baru mau sedih eh udah pindah ke adegan lain. Jadi ngga keburu sedihnya dong ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedihnya sih keburu mba, nangisnya yang nggak. Jadi ketahan gitu karena adegannya udah pindah

      Delete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)