Selalu Ada Pembelajaran Dari Setiap Kegagalan

Kemarin, menjadi sebuah hari yang membingungkan, membuat dag-dig-dug enggak karuan, membosankan, membuat semangat kembali bangkit. Menyenangkan sekaligus memilukan.

Selasa, 26 Juli 2016 pukul 07 lewat sekian menit di tempat yang sudah ditentukan. Aku di sana, di antara manusia-manusia dengan postur tubuh menjulang tinggi dan ramping. Usianya hampir rata duapuluh tiga tahunan. Setelah bangun pagi yang lebih pagi dari biasanya, dan bimbang setengah mati akibat melihat thread di kaskus, akhirnya aku pergi juga. Lebih baik kalah di medan perang kan, daripada kalah sebelum perang? Karena no pict = hoax maka kupersembahkan kedua foto ini.






Lebih mirip lagi makan di acara hajatan yes. Oke. Aku sendiri enggak begitu mengerti kenapa bisa lolos seleksi administrasi, padahal sudah jelas mengisi tinggi badan 150 cm dan berat 65 kg. Kurang 5 cm dari persyaratan dan berat menurut BMI adalah obesitas. Tapi karena namaku tertera dan berhak mengikuti tes kesehatan awal, jadi enggak salah kan datang? Hahaha.


Aku celingukan, mencari sosok yang bisa diajak berkenalan. Iyes, memilah wajah-wajah yang kira-kira ramah. Tiba-tiba ada yang nepuk pundak dari belakang : "Teh, ini yang mau seleksi kesehatan awal kan?" aku mengiyakan. Dan kami berkenalan. Inisialnya K, asalnya dari Cilacap. Lumayan ya, lumayan jauh. Kebetulan juga sama-sama lulusan D3 yang belakangnya informatika. Bedanya dia manajemen. Ada pengumuman samar-samar dari petugasnya. Yang antri untuk menandatangani daftar hadir itu perempuan dulu. Setelahnya kita duduk di kursi yang tersedia. Sambil menikmati matahari pagi yang mulai menghangatkan tonggong eh punggung. Sapa tau jadi nambah tinggi *ngarep.


Setelah itu diberikan pengumuman bahwa seleksi ini akan dibagi menjadi beberapa kelompok, wajib hafal nomor kelompok dan orang-orangnya. Seleksi terdiri dari pemerikasaan : TB,BB, Buta warna, visus mata, gigi, dan fisik. Sistem gugur, kalau ada yang tidak memenuhi syarat bisa langsung pulang. sekali lagi PULANG! kalau yang lolos sampai akhir pengumumannya sore, jam lima. Dan yang lulus, psikotesnya hari kamis.


Satu kelompok terdiri atas enam orang. laki-laki dan perempuan terpisah. diambil berdasarkan nomor urut. Hello, aku 743 dari sekitar 400 orang yang tes kemarin. Lama banget nunggunya. Untung ada drama salah panggil *ehm dikira laki-laki cyiin. Jadilah aku dimasukan ke kelompok 30. Enggak jadi sekelompok sama K yang nomornya 731 deh. Seharusnya ya, dibikin kayak tes CPNS aja, dibagi-bagi waktu kedatangannya. Biar enggak bosen dan lumutan nunggu giliran.


Nunggu dari setengah delapan, dipanggil hampir dzuhur hanya untuk dieliminasi. Tinggiku berkurang 1 cm, tapi yang lain juga begitu. Ada yang pas 155 malah jadi 154 padahal berat udah ideal, kayak K. Sayang banget pan. Ada yang tingginya cukup tapi beratnya kurang atau lebih juga langsung bye. Sadis beneran ini mah. Yang aku heranin kenapa enggak langsung di bye pas seleksi administrasi aja coba? Sayang aja lho yang udah bela-belain dateng jauh-jauh dari jateng, jatim, sumatera, kalimantan, jakarta, ambon, dll cuma buat ngukur dan nimbang badan ke bandung dan ujungnya kecewa. But, dari mereka aku sadar, berjuang untuk mencapai sesuatu yang dinginkan emang enggak mudah, dan enggak main-main. Sejauh apapun tetap di kejar. Enggak mau kalah sebelum berperang.


Selain tes yang pada awalnya memberikan aku harapan karena diloloskan seleksi administrasi akhirnya cuma memberikan harapan palsu, semu. Tapi meskipun gagal, selalu ada pembelajaran dan hadiah. Iya, dapet kenalan baru lagi. K emang orang Cilacap, tapi bahasa sundanya lancar. Logat Sundanya juga enggak berasa aneh. Karena penasaran aku tanyain aja. Ternyata bapaknya orang Pangandaran, terus saudaranya banyak yang orang sunda. Di rumah dibiasakan berbahasa Sunda katanya. Bahasa jawa gimana? Bisa, jawa ngapak. Kelahiran 93 juga. Kita ngobrol kayak temen lama yang udah lama engga ketemu. Itu artinya K anaknya ramah. Aku mah jarang-jarang baru kenal tapi bisa langsung ngobrol sama orang.


K menginap di rumah saudaranya di Gegerkalong. Pas mau pulang dan minta jemput, saudaranya enggak bisa dihubungi. Akhirnya kita pulang bareng naek angkot. Iya, aku kebetulan mau ke PVJ, pengen beliin mama burger king. Lumayan ada voucher map nganggur. Sekalian juga ke gramedianya.


Mang angkot nyetirnya sadis. Jangankan K yang enggak biasa naek angkot, aku aja yang biasa ngangkot langsung keleyengan pengen muntah. Akhirnya K menyerah, turun bareng aku di depan polsek sukajadi. Mang angkotnya emang rada ngeselin dua kali bilang kiri di depan pvj malah terus aja maju. Kita duduk di pinggir jalan, kayak orang hilang dan kesasar. Sambil nunggu saudaranya K ngejemput. Tapi akhirnya aku ninggalin K, dianya sendiri kok yang ikhlas ditinggalin. Kita salaman perpisahan deh. Semoga kelak bisa ketemu lagi di lain kesempatan.


Karena baru pertama kali ke gramedia PVJ jadi aku enggak tahu tuh letaknya di mana. Tanya pak satpam deh, katanya turun dulu ke bawah satu lantai. Pas sampe bawah bingung juga, sebelah mana sih? Kok enggak liat ada petunjuk arahnya. Akhirnya nyari satpam lagi deh. Nanya lagi daripada sesat di jalan enggak nyampe-nyampe. Letaknya ternyata dipojok. Tapi cukup luas sih dan koleksinya bikin dedek laper mata. Andai punya uang berjuta-juta mungkin pengen borong semua bukunya. Tapi karena voucher sodexo cuma ada 100k. Ya udah cuma bisa beli dua dan itupun pertimbangan milihnya cukup lama. Atuhlah pengen dilan yang dua seri juga, cinta dalam gelas, puya ke puya ku anta, jangan menyerah, matahari, 3 koplak mengejar cinta dan dan masih banyak lagi. Namun apa daya, akhirnya Jakarta Sebelum Pagi dan Meet Lame lah yang kubawa pulang. Itupun nambah uang 32 ribu.




Selesai dari gramedia, langsung deh menuju burger king. Pesen burger buat dibawa pulang sekaligus buat di makan di sana juga. Laper dedek bang, belum makan dari pagi. Sebodo amat dah di suruh diet sama bapaknya biar badan ideal. Soalnya dedek lagi patah hati. Patah hati merusak mood bikin stress. Kalau stress gilang tambah gemuk karena makin enggak peduli mau makan apa, nyamil apa, sebanyak apa dan kapan aja. 




Maruk nih, pesen ice cream sundae strawberry juga. Akhirnya cuma ke makan ice cream, kentang sama fantanya aja. Kenyang berat. Burgernya ikut pulang sama temen-temennya. Sampe rumah udah agak penyek, kegencet di elf. Tapi masih enyaak kok. Suka semuanya lah, yang rendang whooper, spicy whooper jr, cheese burger, king chicken fillet. Cukup buat mengembalikan mood.


Jadi hikmah yang diambil dari hari kemarin adalah. Setiap kegagalan pasti ada pembelajaran yang bisa diambil. Iya, belajar ikhlas. Belajar semangat dari orang lain. Dapet kenalan baru. Dan bisa bawa pulang novel. Bisa nyobain burger yang asli burger. Bukan yang goceng kayak biasanya.

Sekian.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

2 comments:

  1. yaps... setuju lebih baik kalah di medan perang dari pada kalah sebelum berperang, lebih puas dan dramatis gimana gitu. Semua kejadian pasti ada hikmahnya :) btw saya bisa ngerasain banget udah seharian tes ini itu dan akhirnya.... ah... tetap semangat gil...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya. terima kasih, pasti tetep semangat kok :)

      Delete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)