ASIA VS BARAT : Benarkah Orang Barat Lebih Kreatif Daripada Orang Asia?



Judul : ASIA VS BARAT : Benarkah Orang Barat Lebih Kreatif Daripada Orang Asia?
Judul Asli : Why Asians Are Less Creative Than Westerners
Penulis : NG AIK KWANG
Penerjemah : Widiati Utami
Penyunting Naskah : Zahra Haifa
Proofreader : M. Eka Mustamar
Desainer Sampul : Wirastuti
Desainer Isi dan Layout  Jumee
Penerbit : Kaifa
Tahun Terbit : Cetakan pertama, Agustus 2016
Jumlah Halaman : xviii + 358 hlm
ISBN : 978-602-0851-54-9


Dibanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi oleh orangtua sendiri itu nggak enak. Semisal, si X anaknya tetangga kita baik ya, beda sama kamu! DEG. Super nggak enak. Membuat nyali ciut dan nggak berharga. Lalu hubungannya dengan buku ini apa? Ada, jelas ada. Dikupas tuntas di sini.


Sebelum masuk ke intinya, aku curhat dulu boleh ya? Saat mendapatkan kiriman buku ini jujur aku sedikit shock. Secara bukan bacaan aku banget. Iya, aku doyannya fiksi sementara ini buku apa? Hayo menurut kamu buku apa? Dilihat dari covernya kayak buku politik, padahal bukan. Begitu dibalik, blurbnya kok cocok sama aku yang ingin jadi kreatif ... #nyengirkuda.

***

Blurb

Bagaimana suatu budaya dapat memiliki andil yang besar dalam proses pembentukan kreativitas seseorang? Benarkah bahwa secara umum orang Asia lebih sulit untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara kreatif dibandingkan orang Barat? Mengapa?

Ada banyak perbedaan antara masyarakat Asia dan Barat. Perbedaan mendasar antara dua budaya tersebut pada akhirnya membentuk ciri khas tersendiri antara sistem nilai, kepribadian, dan makna diri, bahkan merambah hingga perbedaan pola asuh dan sistem pendidikan yang berlaku di Asia dan Barat hingga saat ini.

Buku ini akan menjelaskan secara terperinci segala aspek yang berkaitan dengan faktor pemicu kreativitas yang tanpa disadari telah dibentuk sejak usia dini. Kwang akan memaparkan aspek-aspek tersebut dengan pembahasan yang apik dan menyeluruh.

Jika anda tertarik untuk meningkatkan kapasitas diri dan passion dalam hidup, membentuk kepribadian yang lebih kreatif, atau sekadar mempertanyakan hal-hal apa saja yang memengaruhi kreativitas, bersiaplah, Kwang akan menuntun Anda untuk menjawab pertanyaan tersebut.

***


"Pada setiap pekerjaan kreatif, ide yang abstrak dan belum teruji harus diterjemahkan ke dalam aksi konkret." - Hal. 6

Terdiri atas 9 Bab : 1. Dunia Pardoks para Penemu, 2. Karakter Masyarakat Asia dan Barat, 3. Struktur Psikologis Orang Asia dan Barat, 4. Budaya, Kreativitas, dan Sikap Individual, 5. Budaya, Kreativitas, dan Sikap Termotivasi, 6. Bagaimana Pelajar Asia dan Barat Berusaha Meraih Sukses? 7. Bagaimana Orang Asia dan Orang Barat Menghadapi Konflik? 8. Dapatkah Dunia Timur Bertahan terhadap Dunia Barat? 9. Menuju Masyarakat Asia yang Lebih Kreatif.

Sejak awal sejarah manusia, kehidupan sudah mendapatkan kontribusi kreatif orang-orang yang hidup dalam budaya berbeda di seluruh dunia. Contohnya : kulkas dan komputer. Penemuan ini mempermudah kehidupan kita, sayangnya pada kesempatan yang sama mereka telah banyak membuka area potensial terjadinya konflik antar sesama manusia. Contohnya : Nuklir. Di satu sisi memenuhi kebutuhan energi, di sisi lainnya menimbulkan bencana.

Ada 4 pendekatan teoritis untuk mempelajari kreativitas : kognitif, kepribadian, psikologi dan sistem. Kreativitas kelas atas hanya dimiliki oleh sedikit orang sepanjang hidup kita, berbeda dengan kreativitas keseharian yang sebagian besar dari kita akan mengalaminya. Jika kita ingin berbakata di bidang tertentu, kamu tidak membutuhkan gen terbaik, tapi harus punya dukungan yang cukup dari orang terdekat selama masa pembentukan. Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Isaac Newton merupakan jenius kreatif yang ketika dijabarkan membuat tercengang lebih ke arah agak mengerikan sih. Kalau barat punya Bill Gates, Asia juga punya, Sim Wong Hoo dan Jerry Yang.


"Para ahli memperoleh kinerja terbaik di beberapa bidang tertentu, bukan karena mereka terlahir dengan gen terbaik tapi karena mereka terlahir melakukan latihan yang terus-menerus." Hal. 15

Orang Barat memang lebih kreatif, tapi tanpa adanya impor dari Cina ... penemuan-penemuan itu tidak akan mungkin terjadi. Dan masyarakat Asia, terutama Cina sendiri pun tidak banyak yang mengetahui fakta ini. Belum lagi fakta-fakta tentang Jepang dan Singapura.


"Orang Asia lebih kreatif daripada orang Barat dalam hal keterampilan kuliner." - Hal. 105

Budaya bisa memengaruhi kreativitas, dikupas secara lengkap di sini. Selain budaya, kepribadian pun turut memengaruhi, di mana Asia lebih tertutup dan Barat terbuka, di mana proses belajarnya penuh trial dan error. Kemudian dari sistem pendidikan pun berbeda. Pelajar Asia ketika memilih jurusan, mereka memilih yang memiliki nilai pasar yang bagus dan dapat membantunya menemukan pekerjaan bagus saat lulus nanti. Dan keinginan berprestasi di sekolah muncul untuk memenuhi harapan orang lain, terutama keluarga yang sudah banyak berkorban untuk mereka.

Jadi benarkah Orang Barat lebih kreatif daripada Orang Asia? Kamu bisa menentukan jawabannya di buku ini. Dan kamu ingin menjadi lebih kreatif? Di buku ini ada panduan komprehensif untuk menjadi orang Asia yang kreatif lho? Yakin nggak mau baca sendiri? Aku bagi satu deh panduannya :

Menjaga sikap suka bermain-main di dalam kehidupan. Hayo, kamu pasti bingung kan? kok main-main sih ... makanya, baca bukunya langsung biar nggak penasaran.

***

Ketika satu persatu halaman pada buku ini aku baca, rasanya seperti di tampar bolak-balik. Kesindir banget yes! Betapa selama ini ketika sekolah, aku berusaha mendapatkan nilai baik demi membahagiakan orangtua, agar mereka tidak kecewa. Milih jurusan saat kuliah kemarin pun bukan karena passion tapi karena ... ah sudahlah. Cara orangtua mendidik pun memengaruhi psikologis untuk menjadi orang kreatif lho. Di Barat, kalau menghukum anak itu dikunci di dalam rumah, sementara di Asia dikunci di luar rumah. Logikanya, bener yang dikunci di dalam rumah dong, biar anaknya merenung. Belum lagi dibanding-bandingkan dengan orang lain, itu membuat anak merasa diremehkan. Orang Asia juga cenderung menghindari sesuatu yang memancing konflik dan mempermalukan dirinya ataupun kelompoknya (takut mencoba). Itu jelas menghalangi proses kreatif. Orang Barat kalau bikin karya nggak main-main lho, contoh di sini pembuatan film Titanic dan wirausahawan sukses Richard Branson.

Beberapa dari orang Asia juga mementingkan wajah. Seperti orang-orang yang saling memamerkan kekayaan, membuat pesta pernikahan yang mewah supaya tidak kehilangan muka di hari istimewa. Menginginkan lebih banyak uang padahal sudah punya cukup uang untuk berbahagia. Real banget kan? Tapi nggak bisa dipungkiri kalau orang Asia memang lebih kreatif dalam hal keterampilan kuliner. Banyak macemnya dan kaya rempah-rempah.

Dengan membaca buku ini, aku yakin kamu nggak akan nyesel. Justru pikiran kamu bakalan lebih terbuka untuk menjadi kreatif. Terjemahannya pun luwes, enak bacanya. Tapi kurang sreg sama font yang untuk keterangan. Terlalu kecil. Ada beberapa tulisan yang sedikit pudar juga di beberapa halaman, nggak bener-bener hitam.

***

Kutipan-kutipan Favorit :

"Motivasi intrinsik mengacu pada passion seseorang untuk melakukan tugas yang diminta. Tanpa passion dalam melakukan hal yang dilakukannya, dia akan merasa kesulitan untuk melangkah." - Hal. 9

"Menjadi penemu dalam keseharian tidak akan mendapatkan pengakuan dunia Internasional. Meski demikian, hal itu akan membuat kita berada dalam kehidupan yang bermakna, sehat dan seimbang." Hal. 14

"Pepatah Jepang : yang menonjol sendiri akan di serang, bertolak belakang dengan pepatah Amerika : yang paling berbeda yang akan mendapatkan perhatian." - Hal. 48

"Jika ada orang lain yang mengalahkan kita dalam suatu hal, saya rasa kita harus bangkit dan melangkah lagi." - Hal. 91

"Dunia Barat memang berutang banyak kepada Timur. Tanpa Impor dari Cina, perkembangan dunia kelautan dan navigasi, seperti kemudi kapal, kompas dan tiang kapal ganda, perjalanan besar Eropa yang membawa pada penemuan-penemuan tidak akan mungkin terjadi." - Hal. 105

"Orang yang kreatif itu tidak "menyenangkan" karena mereka memaksa orang lain untuk harus melakukan apa yang mereka katakan, betapapun anehnya itu." - Hal. 206

"Jika ingin membesarkan anak kreatif di dalam keluarga, kita perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk mendorong dan memuji mereka saat melakukan hal-hal yang baik dan tidak sering-sering membentak dan memaksa mereka saat melakukan kesalahan." - Hal. 280

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

8 comments:

  1. Saya jadi lebih tertarik dengan buku ini ternyata Mbak meresensinya dengan kutipan-kutipan favorit itu. Berarti, menurut saya, buku ini ditulis dengan asyik :) Makasih ya, Mbak, semoga pas ke toko buku langganan dapet buku ini.

    ReplyDelete
  2. Bagus mba bukuny penasaran pengen baca :)

    ReplyDelete
  3. Walaupun covernya mengesankan aksen politik, tapi materinya sih asik. Makasih udah review, teh. Semoga nanti kepilih buat review buku baru lagi ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tul betul betul. Materinya emang asik. Aamiin, semoga semoga semoga :D #ngarep

      Delete
  4. Karakter orang-orang asia yang menghindari konflik itu aku banget hahaha... Beberapa waktu yang lalu aku pernah liat the nanny yang mengatasi anak-anak yang susah diatur itu. Baru kepikiran logikanya kenapa mereka dikurung di dalam rumah pas baca postingan ini. Kita mah dihukumnya di luar sih, ya malah jadi ngelayap. Bukannya mikir ya hehehe.

    Soal pilihan kuliah (bahkan kerja) dipengaruhi ortu pun banyak kita lihat ya. Kayak di ceritanya Perahu Kertas itu juga.
    Nice review, Gilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya teh, dikonci di luar mah anaknya malah ngelayap.

      Delete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)