Menemukan "R"


Kepahitan yang dialami dalam hidup, kadang membawamu pada hal-hal yang tak terduga. Hal-hal indah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Jika saja hari itu tak pernah tiba, aku tak ditinggal sendirian, mungkin aku tak akan menemukanmu, "R." Kejadian yang membuat ketakutan setengah mati, kecewa dan ingin menangis sejadi-jadinya.

Waktu masih kecil, aku merasa nggak percaya diri ... ujungnya lebih ke rendah diri. Sekarang, masih sih sedikit-sedikit, apalagi kalau kumpul sama mereka. Aku mah apa atuh berasa dianggap makhluk tak kasat mata, kadang cuma jadi tukang photo aja. Makanya, kalau diajak ngumpul jarang dateng. Karena di otakku tersimpan, lebih baik nggak dateng daripada harus merasa nggak nyaman dan tersiksa di sana. Selain itu, aku juga bukan orang yang pandai berbasa-basi.

"R," sebuah huruf yang paling aku benci sejak dulu, ya ... tentu saja sebelum menemukannya. Aku berharap R nggak pernah ada, karena dia membuat aku tersiksa, membuat aku malu dan membuatku berderai air mata. Aku nggak pernah suka kalau disuruh membaca di depan kelas, apalagi pidato. Karena ketika aku melakukan itu, pasti ada yang tertawa dan mengejek.

Ketika bermain, mereka selalu memaksaku untuk mengatakan "laleur mapay areuy hiber ta geber-geber." yang jika aku mengatakannya akan menjadi "laleul mapay aleuy hibel ta gebel-gebel." Kemudian mereka tertawa. Ya, aku cadel. Begitupun kakakku ... dulu. Dan saat kakak berhasil menemukan R, aku merasa semakin terpuruk.

Sampai kelas dua SMP, aku belum bisa bilang R. Kalau nama temen ada huruf R nya, biasanya aku panggil kamu sambil di toel sedikit. Heh kamu! Iya ... kamu. Ya, gimana dong, soalnya yang dipanggil juga nggak nengok. Kayak aku manggil Rini kan jatuhnya jadi Lini. Lini teh kalau didieu mah gempa.

Hari itu jadwal piket kelas, kebetulan temen yang piket bareng aku nggak ada yang pulangnya naik angkot. Untungnya ada temen yang satu kampung yang jadwal piketnya sama walaupun beda kelas. Eh taunya, hari itu mereka pulang duluan, padahal aku udah minta tolong tunggu.

"Terus aku pulangnya gimana? Cara berhentiin mang angkot gimana? Bilang Stop, tos didieu, kili? Hwa mang angkot nggak pernah mau berhenti."

Aku pengen nangis aselinya. Mana dulu belum punya hape. Mana bisa minta jemput. Akhirnya sambil deg-degan aku naik angkot. Aku duduk di pojok belakang, ada beberapa anak yang pake seragam SMP dengan logo sama tapi nggak aku kenal sama sekali. Mau minta tolong, mereka turun duluan sebelum tempat aku turun.

Angkot semakin dekat ke tempat aku biasa turun. Jantung udah nggak keruan, keringat dingin mulai bercucuran. Tarik napas, buang. Tarik napas buang. Teriak yang kenceng aja, teriak, daripada nggak bisa turun.

"MANG KIRIIII! KIRIII MANG!" angkot berhenti, pas banget. Aku bengong. Itu barusan apa? Aku nggak salah denger kan? Bisa bilang kiri?

Saking bahagianya aku nggak nungguin mang angkot ngasih kembalian gope. Aku lari-lari biar nyampe rumahnya lebih cepet. Sambil lari sambil terus bilang kiri. Rasanya lidahku jadi bergetar kalau bilang R. Nggak kayak biasanya.

Pas di rumah langsung bilang ke mama, terus nyobain bilang R, manggil ayam pake "kerkerker." Akhirnya aku menemukan R. Akhirnya bisa bilang R. Walaupun nggak sejernih R nya mama dan orang lain. Tapi aku bersyukur, bahagia karena akhirnya bisa bilang R. 

Pada akhirnya aku berterima kasih dan bersyukur karena ditinggalkan oleh kalian. Nggak usah disebutin lha ya orangnya. Walaupun kecewa dan sedih tapi tanpa ditinggalin kalian, mungkin aku tak secepat itu menemukan R, bisa bilang R. 

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

4 comments:

  1. Eaa... temennya Keenan inih keponakan ku...

    ReplyDelete
  2. Si teteh eta kocak pisan, kilain eh kirain huruf R disana teh someone-nya eteh gilang wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, judulnya bikin salah paham yaa?

      Delete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)