Ketika Kau Menyapa

Teruntuk kamu yang kehadirannya tak pernah kuduga.

Kamu dan aku pernah berada di lingkungan yang sama, selama dua tahun. Sesekali berpapasan tanpa pernah menyapa, karena tak saling mengenal. Semacam tahu nama, tahu jurusan apa, tahu kelasnya, tahu orangnya tapi belum pernah berjabat tangan. Aku tahu sedikit tentangmu pada kehidupan sebelumnya, entahlah dengan dirimu. Di facebook pun kamu dan aku sudah berteman entah sejak kapan.

September tahun lalu, saat aku tengah patah hati, kamu menyapa melalui pesan facebook. Kukira percakapan antara kamu dan aku akan berhenti sore itu. Nyatanya semua berlanjut saat kamu meminta id lineku. Dan kamu dengan semua kalimat yang kamu ucapkan, datang bak plester dan obat merah. Membuatku tertawa, membuat perasaanku menghangat. Ah, perumpaan macam apa pula coba ini. Pokoknya kamu berhasil sedikit demi sedikit merekatkan hati yang patah itu.

Kamu, seseorang yang ternyata lahir di tahun dan bulan yang sama denganku. Kupikir kamu membual, nyatanya memang begitu setelah kutelusuri dinding facebookmu. Kamu berulang tahun tiga hari sebelum aku berulang tahun. Dan kamu, memiliki golongan darah yang sama denganku. Ah, apa ini yang dinamakan kita bukan saudara yang tertukar? Ya, ya, ya jelas bukan. Kamu dan aku berasal dari suku yang berbeda. Persamaan selain hal-hal di atas adalah, kamu dan aku sama-sama terbiasa memasang ekspresi flat. Bedanya, ekspresi dan wajahmu lebih tegas.

Kamu yang senang bernyanyi dan bermain gitar. Beberapa kali mengunggah hasil mengcover lagu melalui akun soundclound. Kamu tahu, selain wajahmu, selain kebahagiaan bercakap-cakap denganmu dalam diam, akupun menyukai suaramu. Apalagi saat kamu mewujudkan inginku, menyanyikan bagian reff dari sebuah lagu yang kusuka. Apa-apaan ini, begitu mudahnya aku menyukai seseorang.

Kamu harus tahu, kamulah orang yang berhasil membuatku lupa akan seseorang yang sejak lama kusukai dalam diam dan aku berusaha menepis perasaanku padanya. Ya, hingga pada akhirnya aku menyesal. Dia sudah menjadi milik yang lain. Kamu berhasil menggeser bahkan menghapus dia dari dalam sini ... hatiku.

Dua hari bercakap-cakap denganmu, membuatku bak orang yang kehilangan akal sehat. Aku sering senyam-senyum sendiri, mengingat apa saja yang telah kamu ucapkan. Aku bahkan memimpikanmu melakukan hal yang sama sekali mustahil.

Seminggu kemudian, semuanya berbeda. Sangat berbeda. Setelahnya kamu pun menghilang. Tak mengapa, karena hello dan goodbye memang selalu berpasangan, bukan? Ketika seseorang menyapamu, kamu harus siap ketika dia pergi bahkan tanpa sempat mengucap selamat tinggal. Dan aku sudah terbiasa dengan hello dan goodbye.

Hai, kamu ... maaf jika hingga detik ini, aku masih merindukanmu. Entahlah, rasanya memang terdengar aneh dan gila. Tapi kenyataannya, hati memang sulit untuk dikendalikan, pada siapa akan dijatuhkan.

Hai kamu, maaf ... karena aku telah menyukaimu, jatuh cinta padamu secara diam-diam. Dan terkadang masih melihat aku instagrammu. Kamu, hanya dengan melihat ekspresi wajahmu itu, aku tersenyum. Aku berbahagia, karena aku tahu ... kamu baik-baik saja di sana.

Aku sadar, konsekuensi dari jatuh cinta adalah aku harus siap patah hati. Tapi entah mengapa, aku tak merasakan patah hati itu ketika kamu pergi. Mungkin, karena masih ada logika yang mengendalikannya. Ya, aku tahu ... kamu dan aku menganut keyakinan yang berbeda.

Hai, kamu terima kasih karena hadir di waktu yang tepat. Menyelamatkanku dari patah hati, dari kenangan masa lalu yang sering kali menimbulkan genangan. Semoga, suatu saat kamu membaca surat ini. 

Dari aku yang terhibur olehmu,


Gilang.



Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)