Buciku

Dibandingkan menulis kehilangan teman, aku lebih memilih kehilangan  tentang dia. Dia yang biasanya mendengarkan aku bicara, walau sudah jelas ia tak bisa memberi saran ataupun menenangkanku. Setidaknya dia bisa menjaga rahasia dan kupeluk kapanpun aku mau. Tapi sekarang, sekarang dia tak ada. Menghilang entah ke mana, dan aku masih berharap dia kembali.

Aku masih berharap dia akan membangunkanku dengan suara cemprengnya, tepat di depan pintu kamar. Minta dibukakan pintu untuk masuk ke rumah. Bahkan mencakar-cakar bunga-bunga kertas yang kubuat. Tak mengapa asalkan dia kembali. Kembali menemani aku. Kembali membuat rumah ini ramai dengan suaranya.

Buci, kucing abu-abu tua nyaris hitam kesayanganku yang baru berumur satu koma empat tahun. Yang telah menghilang selama satu bulan lewat empat hari. Kuharap kamu masih hidup dan baik-baik saja. Aku kehilangan dirimu, aku merindukanmu. Rindu bermain denganmu. Rindu mengusap kepalamu. Rindu menggendong dan memeluk kamu.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

2 comments:

  1. AAAKKK Setelah baca ini aku langsung keinget sama kucingku yang udah meninggal setahun lalu, Febi. Huhu, aku belum nulis tentang ini :'3

    ReplyDelete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)