Ayah Menyayangi Tanpa Akhir Galih dan Ratna di Pesantren Impian

Oke, jadi aku mau mereview secara singkat. Eh bukan mereview sih kayaknya, menceritakan aja deh. Ya, menceritakan secara singkat kalau aku habis nonton tiga film, lebih sebenarnya. Tapi, kalau dijadikan satu laman doang mah kepanjangan. Jadi tiga aja dulu. Dan semua ini gara-gara kuota Video Max. Nggak dipake sayang, dipake aku jadi begadang, syalalala. Soalnya kalau nonton siang-siang itu, suka was-was kuota utama yang kepotong. Iya, sungguh kutak mengerti kenapa kuota video max kadang berkurang, kadang nggak yang kemudian memakan kuota reguler. 

Kayak waktu aku nonton Pesantren Impian, sebagian nguras kuota utama, jadilah aku kehabisan kuota 24 jam sebelum paketnya berakhir. Eh ya, persamaan dari ketiga film ini, sama-sama cerita adaptasi. Eh salah yang satu remake ding Yang dua dari novel, yang satu dari remake dari film sebelumnya.

Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (Adaptasi dari novel berjudul sama. Dan aku belum baca. Based on true story, gitu katanya) 2015


Sebenarnya aku nggak terlalu tertarik nonton film ini. Apalagi judulnya jelas "Ayah." Jangankan dari film, di kehidupan nyata aja aku sering ngiri sama ayah orang lain. Ah sudahlah. Jadi, yang menjadi magnet untuk ngeklik tombol tonton di film ini adalah, Fedi Nuril. Nyahahaha. Sosok yang biasa jadi suami soleh, pinter, baik hati, rajin menabung di beberapa film *eh. Suamiable, ayahable pokoke *maksa banget julukan aku ini.

Jadi, isi di film ini awalnya sang anak (Mada - Naufal)  yang beranjak abegeh cerita soal emak bapaknya. Dari awal pertemuan ayah dan ibunya yang cintanya tak direstui orang tua Arjuna Dewantara (Fedi Nuril) yang keturunan Jawa dengan Keisha Mizuki (Kelly Tandiono) Jepang. Tapi mereka nekad tetap menikah. Oh ya, aku suka pas Mada bilang ini :

"Ibuku nulis, kalau musuhan itu bikin kacau. Kalau penjajahan yang nggak merdeka cuma yang dijajah. Kalau musuhan yang nggak merdeka dua-duanya."

Oh ya, Arjuna ini seorang apoteker dan Keisha seorang arkeolog. Ceritanya mereka ketemu di kampus pas Keisha lagi pertukaran mahasiswa di Jogja. Tapi mereka jadi tinggal di Jakarta aku nggak paham kenapa. Singkatnya, anak mereka (Mada) lahir, tapi Keisha kehilangan nyawanya. Jadilah Arjuna ini harus membesarkan Mada sendiri. Eh ya,  Arjuna punya sahabat yang seorang dokter. Dia marah pas dokter baru yang songong di rumah sakit tempatnya bekerja coba-coba berbagai susu formula pada anaknya. 

Skip ke belasan tahun kemudian, pas Mada udah SMA. Mada ini seneng banget balapan gocar. Terus dia akrab sama cewek (namanya Tasya-Amanda Rawles). By the way, aku lebih suka Amanda di sini daripada di Dear Nathan. Sini lebih manis. Tasya hobi menggambar tapi dilarang sama ayahnya. Mada sama Tasya sama-sama saling menyukai. 

Adegan sedih dan emosinya pas Mada di vonis kanker. Tapi lebih emosian film I'm Hope sih. Eh ya, belum kuceritakan ya di blog? Maaf sering lupa #okeskip.

Di sini Arjuna berusaha meracik obat untuk Mada biar Mada nggak harus operasi. Akhirnya? Endingnya sih udah ketebak. Cuma akhirnya nggak terduga soal Arjuna sama bu Guru. Dan bagiku, film ini kurang bikin greget. Ada beberapa adegan yang terasa nanggung dan kalau nggak ada pun nggak akan ngaruh gitu *eeh.

Galih dan Ratna (Remake dari Gita Cinta Dari SMA) 2017



Tahu Rano Karno dan Yessy Gusman? Aku sih tahunya Rano Karno aja karena dulu sering nonton si doel anak sekolahan. Terus film Gita Cinta Dari SMA, udah pernah nonton? Hihi, serius geleng-geleng kepala. Belum pernah nonton. Tapi suka lagu Galih dan Ratnanya. Hasil aku berseluncur di mesin telusur mbah gugel sih ada yang bikin ulasan perbedaan dan persamaan keduanya. Persamaannya cinta mereka terhalang status sosial dan Ratna suka pria sederhana seperti Galih.

Diperankan oleh Refal Hady (Galih) dan Sheryl Shenalfia (Ratna). Ratna yang dipaksa pindah sekolah oleh ayahnya dari Jakarta ke Bogor dan tinggal di rumah tantenya. Terus berpindah ke adegan Galih baru pulang belanja. Galih ini dari keluarga sederhana (dia sekolah pake beasiswa dan ibunya ingin dia bisa kuliah pake beasiswa juga), dia bantu ibunya belanja buat catering, jaga toko kaset peninggalan ayahnya (yang udah mau dijual sama ibunya) dan bantu adiknya belajar.

Hari pertama masuk sekolah, Ratna bingung melihat calon teman barunya yang pake wig abu-abu terus sibuk ngevlog (nanti dia mau berteman sama Ratna karena followers IG Ratna banyak). Dan, sebelum masuk ke area sekolah, aku suka nih bagian ini. Ada razia seragam, rambut sampai kaos kaki. Ratna ditegur karena kaos kakinya terlalu pendek. Oke, bagian ini mengingatkan pada masa aku SMP. Ngetren tuh pendek-pendekan kaos kaki.

Terus kenapa Ratna tertarik sama Galih? Karena Galih beda. Dia nggak neko-neko dan unik. Masih ngedengerin musik pake walkman. Walkman ngehits nih pas aku kelas 6 SD. Ratna duluan yang nyamperin Galih, ngajak kenalan. Terus Galih berbagi headsetnya. Terdengarlah lagu Sakura Fariz RM yang ternyata lagu yang dulu sering diputer mamanya Ratna. Hubungan mereka berlanjut setelah Ratna follow twitter Galih. Hayuk atuh bang kita follow-followan, sapa tahu jodoh #abaikankalimatterakhir.

Yang unik dari film ini, Galih nembak Ratna pake mixstape. Ratna jadi sibuk nyari radio buat muter kasetnya. Diputerlah di angkot yang membawanya ke nada musik (toko alm ayah Galih). Di sana ada adegan kissnya setelah Ratna nerima Galih. Kenapa harus ada adegan ini kenapa?

Setelah jadian, mereka mengalami banyak peristiwa dan Galih pun turut berubah. Jadi Galih dan Ratna tetep bersatu nggak? Mimpi mereka kesampain nggak? Tonton sendiri weh ya. Dan yang membuat film ini ada lucu-lucunya adalah tantenya Ratna.


Pesantren Impian (Adaptasi dari Novel Asma Nadia. Kubelum baca novelnya) 2016



Pesantren Impian ini adalah pesantren yang merehabilitasi perempuan-perempuan yang bermasalah dengan kacanduan obat, masalalu kelam dan hamil diluar nikah. Mereka yang terpilih telah di undang secara khusus. Dan di kesempatan saat itu, seorang polisi wanita (Prisia Nasution) menyamar menjadi santriwati demi menangkap pelaku pembunuhan di sebuah hotel. Perjalanan menuju ke Pesantren Impian cukup melelahkan. Harus nyebrang laut sampai ke sebuah pulau terus jalan kaki dan naik bis.

Film ini menegangkan dan membuatku tebak-tebak buah manggis. Greget dalam mencari pelaku pembunuhan berantai yang keji. Sampai bu ustadzah aja di bunuh coba. Aku udah suudzon sama Fachri Albar (Umar). Soalnya si korban meninggal setelah bertemu dia terakhir kali. Apalagi pas Gus Budiman meninggal. Kan kalimat dia nyuruh Gus Budiman buat tidur dan istirahat.

Terus bu polwan berhasil menyelesaikan misinya sekaligus mengungkap dalang pembunuhannya nggak? Tonton sendiri aja ya. Yang pasti ngeri-ngeri sedap. Bikin deg-degan, lebih dari nggak sengaja ketemu mantan lagi jalan sama gandengan barunya *eeh #salahfokus.

Dari ketiga film di atas, My Favorit is Pesantren Impian.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)