Oleh-oleh Dari Gathering Netizen MPR di Bandung

Jadi, pada tanggal 11 Desember 2017 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG lagi. Yang kali kedua ini bertempat di Hotel Aston Tropicana Cihampelas, Bandung. Awalnya, saya pikir acara ngobrol bareng MPR RI ini akan berjalan lebih serius dari yang sebelumnya. Kenapa saya berpikiran begitu? Karena kali ini lebih spesial. Selain Sekjen MPR RI : Bapak Ma'ruf Cahyono yang kembali hadir, ada Ketua MPR RI : Bapak Zulkifli Hasan juga. Eh ternyata malah lebih cair dari yang sebelumnya.

Pak Zulkifli Hasan memasuki ruangan sambil mengucap salam, tersenyum ramah, bahkan bersalaman dengan beberapa BloggerBDG yang dilewati oleh beliau. Ramah banget pokoknya.


Nah, sebelum dimulai, semua yang hadir dalam acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG ini menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dan betapa terharunya saya bisa menyanyikan lagu kebangsaan lagi secara langsung setelah bertahun-tahun. Iya, terakhir kali menyanyikan lagu ini secara langsung itu saat wisuda empat tahun lalu.

Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Alih-alih memaparkan materi, pak Zul Hasan, begitu panggilan akrab beliau, justru meminta netizen untuk langsung bertanya. Boleh bertanya apa saja, boleh curhat, mengeluarkan segala uneg-uneg tentang masalah yang terjadi di negeri ini. Dan tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh netizen dan BloggerBDG yang hadir. Ada yang bertanya soal kelangkaan gas LPG 3 kg, masalah lingkungan (sampah), dampak dihapuskannya mata pelajaran PMP di sekolah, kasus ketua DPR, ada yang curhat kena tilang saat akan menghadiri gathering netizen, pajak royalti penulis, plagiarisme, sampai kasus penolakan ustad Somad di Bali.


Setelah mendengar keluh-kesah netizen, pak Zul Hasan menanggapinya di podium. Satu persatu pertanyaan masing-masing netizen pun terjawab. Dan tanggapan yang paling saya sukai adalah masalah lingkungan (sampah) di perkotaan yang tak kunjung selesai. Pak Zul balik bertanya sebelum menanggapinya. Apakah itu hanya tanggung jawab walikota saja?

Jika pemikiran kita masih seperti itu. Apa-apa tanggung jawab pejabat yang berwenang/pemerintah. Ya, selamanya tidak akan selesai. Dan saya setuju. Sama seperti banjir kan ya, permasalahan sampah ini. Karena banjir pun salah satu penyebabnya itu sampah juga sih. Selama hanya mengandalkan pemerintah, tapi perilaku masyarakatnya tidak berubah ya jadinya seperti jalan di tempat. Kebersihan lingkungan itu tanggung jawab seluruh masyarakat lho. Jleb ya.

Pak Zul Hasan bahkan membagikan pengalamannya saat berkunjung ke negara-negara maju seperti Singapura, Jepang dan Skandinavia. Di sana tidak disediakan tempat sampah, jadi setiap warga harus membawa sampahnya pulang ke rumah. Dan tidak ada yang buang sampah sembarangan. Dan di Skandinavia, jika menemukan sebuah handphone, maka orang tersebut akan mencari pemiliknya sampai ketemu, bukan malah senang, dibawa pulang dan mengakui handphone tersebut sebagai miliknya.

Ngomong-ngomong soal menemukan handphone. Saat liburan di pantai Pangandaran November kemarin, saya dan keluarga mengalami hal yang bikin jantungan. Tas kecil berisi tab milik adik sepupu saya yang dititipkan pada ibu saya tertinggal di area tempat duduk di sekitar pantai. Dan baru sadar setelah satu jam kemudian. Kami semua panik dan mulai mencari-cari. Menanyakan pada pedagang di sekitar. Dan, untunglah di simpan oleh seorang ibu pedagang di sana. Saya sungguh tidak menduga jika ibu tersebut akan berkata jujur. 

Selain itu, pak Zul Hasan pun membahas seputar reformasi yang sudah berjalan hampir 20 tahun. Di mana kita mendapatkan kebebasan memilih dalam pemilu, kebebasan berdiskusi dan berkumpul. Kemudian membahas hoax, SARA, korupsi, penegakkan hukum, masalah kesengajangan sosial di mana pertumbuhan ekonomi masih terpusat di pulau Jawa, pengangguran dan juga tantangan nasionalisme abad ini :


Tanpa disadari sebenarnya dalam acara ngobrol santai itupun menyangkut pembahasan tentang 4 Pilar : Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Dan jadi oleh-oleh (pembelajaran) yang berharga untuk saya.


Yuk implementasikan nilai-nilai dari 4 Pilar. Dimulai dari nilai-nilai pancasila yang sebenarnya sederhana lho tapi memang sulit dilakukan kalau tidak dibiasakan. Jangan terus-terusan termakan hoax dan hal-hal yang menyinggung SARA. Sudahi saling sikut antar saudara sendiri ya. Hidup rukun berdampingan dengan damai kan lebih enak dan tentram.


Pada penghujung acara seluruh netizen dan BloggerBDG berfoto bersama pak Zul Hasan. Ini bukti tambahan kalau pak Zul Hasan itu ramah banget. Semua pengin swafoto bersama beliau.


Harapan saya untuk MPR ke depannya,
Dengan fungsi MPR sebagai rumah kebangsaaan pengawal ideologi Pancasila dan kedaulatan rakyat, saya berharap MPR mensosialisasikan 4 Pilar ini secara berkelanjutan kepada seluruh lapisan masyarakat, dan menambah lagi dan lagi pelatihan untuk pelatih di berbagai daerah untuk mensosialisasikan 4 pilar hingga ke pelosok negeri. Supaya ke depannya semakin banyak masyarakat yang perilakunya berubah ke arah yang positif.

Kemudian, lebih banyak lagi membuat komik strip digital tentang 4 Pilar yang tidak hanya ditampilkan di situs mpr.go.id, tapi disebarkan juga di berbagai sosial media, terutama instagram dan facebook.

Gilang Maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

2 comments:

  1. kegiatan mpr semacam ini perlu banyak dilakukan, agar masyarakat mengetahui bagaimana kinerja mereka.

    ReplyDelete
  2. MPR emang luar biasa semangat yaaa dalam sosialisasikan 4 pilar
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)