12/10/2013

Tak ada Kantor Pos, JNE pun jadi

Tak ada Kantor Pos, JNE pun jadi

  Kejadian nyata yang di ubah sedikit jadi fiktif :D   
            Karena terus di sibukkan dengan jadwal kuliah serta tugas yang padat merayap kayak jalanan di Bandung kalau akhir pekan tiba, jadinya aku belum sempat menyelesaikan naskah lomba yang deadlinenya hari ini untuk dikirim ke penerbit xxx.. Akhirnya aku lanjut nulis sebelum masuk kelas. Ini tangan rasanya pegel banget, berasa mau putus. Padahal baru nulis lima lembar, iya lima lembar setelah lima puluh lembar sampai pagi.
“Masih belum selesai juga, Neng?” Nunung berlagak seperti mandor.
“Iya, mana hari ini deadline Nung, bantuin dong!”.
“Sini aku bantuin ngetik” sambung Nining yang kebetulan otaknya nggak loading.
“Eh, nggak bisa deh, kalaupun kamu ngetik di laptop kamu.. aku kan mesti ngedikte ceritanya.. soalnya ini belum pernah aku tulis di kertas”. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kenapa nggak kepikiran dari sebulan yang lalu buat nulis dulu di kertas setengah dari cerita ini jadi kan bisa dapet pertolongan dari para pasukan ini.
            Aku mencuri-curi kesempatan untuk mengetik secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi saat pak dosen menjelaskan materi hari ini. Hasilnya sih lumayan, dapet 15 lembar sampai jam istirahat tiba, tapi malunya juga lumayan gara-gara nggak nyambung waktu ditanya dosen. Dosen bahas usecase, aku jawab context diagram.. yaiyalah penghuni kelas pada ngakak semuanya, bikin mukaku ini terlihat seperti tomat busuk. Nulis di kantin pun gak tuntas gara-gara batre laptopnya lowbat.
         “Nung, aku boleh numpang ngeprint ya? Pliss” ucapku dengan wajah memelas.
         “Berapa lembar, Neng?”.
        “Ya, segini.. seratus lima puluh lembar tapi yang selesai baru 130 lembar” aku nyengir, berharap Nunung dibukakan mata, hati dan pikirannya.
      Nunung lagi mikir keras, nampaknya dia sedikit keberatan. Yaiyalah secara 150 lembar gitu, printerannya aja bisa pingsan kalau di print sekaligus. Tapi kalau ngeprint di luar itu bisa nguras kantong yang udah tipis ini di akhir bulan. Jadi Nunung adalah harapanku satu-satunya.
      “Hore.. Hore.. Hore” aku kegirangan dan berterima kasih sekali kepada Nunung yang mau mencetak naskah ini secara gratis.
       Dan akhirnya naskah lomba ini selesai aku tulis dan print. Dengan semangat 45 aku memasukkan lembaran kertas serta persyaratannya kedalam amplop cokelat itu. ‘Gubrak’, Naskah itu jatuh dari tangan ini ke lantai kamar kost Nunung yang putih bersih itu.
“Kenapa, Neng? Kok dijatuhin?”.
            “Udah jam lima, Nung.. kantor posnya udah tutup dong!”
            “Yaudah sih kirim lewat JNE aja”.
          Akhirnya karena mubazir, aku mengikuti ide gila Nunung, ngirimin naskah ini lewat JNE padahal udah jelas-jelas disyaratnya bilang “cap pos” bukan yang lain. Entahlah itu naskah bakalan di terima atau ngga. “enk-ink-enk”.. Besoknya aku kaget waktu tau lombanya di undur satu minggu. Dari situlah aku belajar untuk menyelesaikan tulisan lebih awal dari deadline dan nulis lagi di kertas bukan ngetik langsung di komputer. Dan pastinya lebih sering liatin situs penyelenggara lomba, siapa tau aja lombanya di undur atau di percepat.

9/26/2013

Di tilang cinta lampu merah, Cerpen

Di tilang cinta lampu merah, Cerpen


Hari ini Daniel tergesa-gesa untuk berangkat bekerja, manager dari salah satu perusahaan ternama di Jakarta, tampangnya yang kece membuat dia dikenal oleh seluruh karyawan perusahaan terutama karyawan wanita. Namun dibalik tampangnya yang kece Daniel termasuk orang yang pelupa jika akan melakukan suatu hal.
            Contohnya pagi ini, mobil yang biasa Daniel pakai ke kantor tiba-tiba rusak ketika dikeluarkan dari garasi, akhirnya Daniel meminjam motor milik satpam rumahnya. Daniel segera menjalankan motornya untuk menuju ke kantor, namun ketika dia berhenti di lampu merah, Daniel malah diperintahkan untuk menepikan sepeda motornya ke pinggir jalan dekat trotoar lampu merah oleh seorang polisi wanita yang memakai helm.
             “Aduh, bu tolonglah bu saya udah telat ngantor nih”
            “Lagian salah saya apa?” protes Daniel.
            “Saudara tidak mengenakan helm” balas polwan itu secara tegas.
            Daniel segera meraba kepalanya “Hehehehe, maaf bu saya buru-buru tadi jadi lupa, tolonglah bu jangan ditilang ya” pinta Daniel.
            “Tidak bisa, anda sudah melanggar jadi anda harus ditilang” tegas polwan itu lagi.
            “Aduh bu, jalan damai aja deh,, ibu mau saya bayar berapa?” tawar Daniel.
            “Maksud saudara apa?”
            “Ya damai gitu bu, nggak usah diperpanjang”
            “Masa nggak ngerti sih, bu?” tambah Daniel kesal.
            “Anda pikir semua orang bisa dibayar oleh uang anda?”
            “Ah ibu, nggak usah jual mahal bu, saya tahu kok ibu sebenarnya mau, kan?” goda Daniel.
            “Jaga mulut anda!” tegas polwan itu dengan nada meninggi.
            “Aduh bu jangan jual mahal deh, damai aja deh biar cepet, lagian biar ibu bisa beli susu buat anak-anak ibu”.
            “Sekali lagi saya tegaskan tolong jaga mulut anda!”
            Daniel terdiam.
            “Tunjukkan SIM, STNK, dan KTP anda!”
            Daniel segera mengeluarkan SIM C serta KTP nya dari dalam dompet.
            “Bapak Daniel Ramadhansyah, pekerjaaan pegawai swasta, alamat rumah dijalan Kebayoran Lama no 50” polwan itu membacakan identitas Daniel serta mencatatnya dibuku pelanggaran.
            “STNKnya mana?”
            “Aduh bu, STNKnya disatpam saya, tadi saya lupa minta karena tergesa-gesa”
            “Berarti pelanggaran saudara jumlahnya 2, satu tidak memakai helm yang kedua tidak membawa STNK” polwan itu kembali mencatat pelanggaran yang dilakukan Daniel.
            Daniel mulai gelisah, pasalnya dia sudah terlambat selama 20 Menit dan meeting akan dimulai 15 menit lagi.
            “Sekarang saudara ikut saya ke kantor!”
            “Aduh bu, tolonglah bu, damai aja deh damai, ibu mau berapa? Saya sudah telat ke kantor dan saya ada meeting penting bu dikantor” tawar Daniel lagi dengan wajah memelas.
            “Saya sudah bilang tolong jaga mulut anda!” seru polwan itu yang mulai terpancing emosinya oleh Daniel.
            “Kalau ibu memang tidak suka disogok kenapa ibu dari tadi memakai helm?” protes Daniel.
            Polwan itu pun segera melepas helmnya, dan nampaklah sosoknya yang ayu, cantik, dan manis serta kulitnya yang bersih terawat dengan potongan rambut pendek yang rapi persis seperti polwan-polwan cantik yang ada ditelevisi-televisi.
            Daniel sangat takjub ketika melihat paras polwan yang sangat ayu itu. Dia terpaku dan membayangkan polwan itu menjadi kekasihnya bahkan istrinya. Daniel kini merasakan yang namanya jatuh cinta kepada seseorang, jatuh cinta pada pandangan pertama dan jatuh cinta gara-gara ditilang dilampu merah.
            “Bapak Daniel Ramadhansyah” panggil polwan itu.
            “Bapak Daniel Ramadhansyah!” panggil polwan itu lagi dengan nada yang lebih tinggi dan membuat Daniel tersadar dari lamunanya.
            “Briptu Diana Putri Lestari” Daniel membaca papan nama polwan itu.
            “Mari ikut saya ke kantor” pinta Diana.
            Daniel pun akhirnya mengikuti Diana menuju ke kantor polisi terdekat. Setibanya disana Diana melapor kepada atasannya tentang pelanggaran yang telah dilakukan oleh Daniel pagi ini.
            “Dimana orangnya?” Tanya komandan.
            “Siap ada didepan komandan” jawab briptu Diana tegas.
            “Tolong suruh menghadap saya” pinta komandannya.
            Briptu Diana pun segera menghampiri Daniel sementara Daniel menatap Briptu Diana dengan sorotan mata memuja.
            “Saudara Daniel Ramdhansyah, mari ikut saya untuk menghadap komandan”
            “Hah? Apa?” Tanya Daniel yang memang tidak mendengarkan perintah dari Briptu Diana.
            “Saudara Daniel Ramadhansyah mari ikut saya untuk menghadap komandan” tegas Briptu Diana.
            Daniel pun segera berdiri dan mengikuti briptu Diana untuk menghadap atasannya.
            “Saudara Daniel silahkan duduk” kata Komandan Danu.
            “Iya, terimakasih pak” balas Daniel yang kemudian duduk dikursi yang berhadapan dengan komandan Danu untuk dimintai keterangan.
            “Briptu Diana silahkan melaksanakan tugasnya kembali” perintah komandan Danu
            “Siap komandan” jawab briptu Diana sembari memberi hormat.
            “Lah mau kemana briptu Diananya? Briptu Diananya disini saja” pinta Daniel.
            “Saudara Daniel Ramdhansyah, saudara mau saya tambahkan kasus pelanggarannya?” tegas briptu Diana.
            Daniel diam membisu, dia sangat masih ingin memandang paras nan elok dari sosok briptu Diana.
            “Briptu Diana silahkan meninggalkan ruangan” perintah komandan Danu lagi.
            “Siap dilaksanakan komandan” Diana memberi hormat kembali, lalu segera keluar dari ruangan itu menuju ke pos  jaga didepan kantor.
***

9/23/2013

Audisi Menulis Cerita Cinta Terpendam

Audisi Menulis Cerita Cinta Terpendam

Punya kisah cerita “Cinta Terpendam”? tuliskan saja kisah kamu dalam sebuah tulisan menarik dan ikutkan dalam audisi menulis erita cinta terpendam. Dapatkan kesempatan, karena cerita kamu akan dibukukan oleh penerbit Mozaik Indie Publisher.

Deadline Lomba: 9 Oktober 2013.

Syarat dan Ketentuan
  1. Lomba terbuka untuk umum.
  2. Wajib me-Like fanpage MozaikIndie Publisher, meng-add FB Mozaik Indie Publisher dan Nova Pjn (https://www.facebook.com/nova.blank) sebagai PJ event.
  3. Peserta wajib menyebarluaskan info lomba ini dengan cara meng-copy-paste di catatan FB masing-masing. Tag 20 teman FB termasuk FB Mozaik Indie Publisher dan Nova Pjn (sebagai bukti telah mendaftar event ini).
  4. Jika lewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format: #AudisiCintaTerpendam [linkblogmu] mention: @MozaikIndie dan minim 5 orang temanmu.
  5. Kisah nyata yang belum pernah dipublikasikan, bisa kisah sendiri (sudut pandang orang pertama, aku atau saya) atau menceritakan orang lain dengan sudut pandang orang ketiga (dia), nama orangnya boleh disamarkan. Jika yang ditulis adalah kisah orang lain maka harus ada keterangan dari orang yang bersangkutan bahwa itu adalah kisah nyata.
  6. Tiap peserta hanya boleh mengirimkan masing-masing 1 naskah terbaiknya.
  7. Ditulis di kertas A4, Font; Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi 1,5, margin 3333(cm), tidak mengandung SARA dan Pornografi.
  8. Panjang naskah 6-8 halaman, dan harus menyertakan biodata narasi maksimal 100 kata diakhir naskah.
  9. Update peserta bisa dilihat di catatan FB Nova Pjn yang akan dilakukan 1 minggu sekali.
  10. Pengumuman peserta yang lolos menyusul tergantung kondisi dan banyaknya naskah yang masuk.
Pengiriman naskah
Kirimnaskah kamu ke email audisicintaterpendam@yahoo.com, dengan ketentuan subject dan nama file sbb: CT_nama penulis_judul naskah. Semua berkas dilampirkan di attachment, jangan di badan email.

Pemenang
Pengumuman peserta yang lolos menyusul tergantung kondisi dan banyaknya naskah yang masuk.
  • 20 naskah yang lolos akan dibukukan di Mozaik Indie Publisher. Jika kualitas naskah sangat menjual, akan kami coba ajukan dulu ke penerbit mayor.
  • 2 naskah terbaik berhak mendapat 1 bukti buku terbit dan sovenir cantik dari PJ.
  • Semua penulis kontributor terpilih mendapatkan royalti berupa potongan harga 15% per buku yang dapat dipesan melalui Mozaik Indie Publisher. Sehingga semakin banyak buku yang kamu jual sebanyak itu pula royalti yang kamu peroleh. Kita sama-sama bisa mempromosikan bukunya dan menjualnya.
Jika ada hal yang kurang jelas dan ingin ditanyakan, harap ajukan pertanyaan di kolom komentar atau bisa juga menghubungi PJ event.

sumber : http://www.deadlinelomba.com/2013/09/audisi-menulis-cerita-cinta-terpendam.html

8/28/2013

Cerpen Gue Suka Bronies, Titik

Cerpen Gue Suka Bronies, Titik

Pagi ini seperti biasanya sebelum gue berangkat kuliah, gue menikmati sarapan pagi kesukaan gue. Ya, satu gelas susu vanilla beserta kue brownies buatan ibu yang rasanya super lezaaat tak tertandingi oleh brownies buatan Amanda sekalipun. Uups jadi sebut merek deh.
            Oh iya hampir lupa, kenalin nama gue Mariana Dewi Larasati, panggil aja gue Ana. Gue mahasiswi semester 5 fakultas Sastra disalah satu Universitas ternama di Bandung.
            “An, nanti siang jangan lupa sama pesanan yang sudah ibu bilang kemarin ya”.
          “Pesanan yang mana, bu?” kening gue berkerut dan berpura-pura lupa dengan pesan ibu kemarin sore.
            “Ya ampun Ana, itu loh beliin buku resep makanan dan kue-kue edisi terbaru di toko majalah diujung kompleks”.
          ‘hehehehe’ “Ana cuma bercanda kok, bu” kata gue sembari berdiri dan memeluk serta mencium pipi ibu.
            “Ana berangkat dulu ya, bu”.
            “Iya, hati-hati dijalan ya.. jangan ngebut-ngebut bawa motornya”.
           Gue mengangguk dan tersenyum.
            “Jangan lupa juga kuliah yang bener” tambah ibu lagi.
     “Siap ibu bosku” balas gue sembari menyalakan sepeda motorku kemudian segera mengendarainya keluar dari halaman rumah.
       Seperti biasanya, gue sangat menikmati pemandangan kebun teh yang indah disepanjang perjalanan dari rumah menuju ke kota.
***
         “Hai, An.. udah ngerjain tugas dari ibu Nanny?” tanya Tina, teman satu kelasku.
         “Udahlah, gila aja.. gue nggak mau cari mati sama dosen yang satu ini”.
         “Lu sendiri gimana?” aku balik bertanya.
         “Udah, kalo belum selesai, gue gak mungkin berani dateng ngampus”.
        Kami pun berjalan menuju ke ruangan kelas tempat kami berkuliah. Aku segera duduk dikursi strategis kesayanganku, sementara Tina duduk dibangku depan.
         Kini aku sibuk mengobrak abrik isi tasku untuk mencari earphone untuk mendengarkan musik setiap kali aku akan mengawali perkuliahan. Kalian harus tahu, gue sengaja pake earphone dan dengerin musik itu supaya gak perlu pusing-pusing dengerin Tina yang sebentar lagi bakalan curhat soal pacarnya yang bernama Tito.
         “Eh, An.. masa kemarin Tito bilang badan aku makin gendut aja coba” rengek Tina.
        Tuh kan apa gue bilang, Tina pasti bakalan curhat tentang Tito. Akhirnya sambil males-malesan dan dengerin musik sebagai penenang biar gue gak emosi dan juga gak boring dengerin Tina, gue ngasih dia saran buat diet.
           “An, abis ini loe mau kemana?” tanya Uli ketika perkuliahan siang itu usai.
            “Gue mau ke toko buku nih, biasa lah cari novel diskonan” kataku sambil nyengir.
            “Ke salon aja yuuk, An temenin gue creambath.
            Yeai.. ogah… perlu kalian ketahui kalau gue itu paling gak suka yang namanya pergi ke salon soalnya itu hal yang paling membosankan sedunia buat gue dan itu juga bentuk pemborosan yang gak penting. Daripada duitnya gue pake nyalon mending gue pake beli buku deh.
            ‘hehehehehe’ “Nggak ya, Li gue paling anti ke tempat yang satu itu”.
            Uli cemberut dan menampakkan wajah betenya dengan bibir monyong kayak mpok Ati *uups.
            “Mending loe ikut gue ke toko buku sekalian ngecengin cowok-cowok kece disana” ajakku kepada Uli.
            “Mana ada An, di toko buku itu adanya para kutu buku yang tampilannya culun pake kacamata gede gak ada yang namanya cowok kece!” protes Uli.
            “Eits, jangan salah.. sekarang itu penghuni toko buku bukan cowok kayak gitu lagi Li, percaya deh sama gue” aku mencoba meyakinkan Uli.
            Akhirnya Uli mengalah dan rela menemani gue untuk pergi ke toko buku Gramedia yang tepat berhadapan dengan mall favorit gue dan anak-anak lainnya nongkrong. Apalagi kalau bukan BIP, Bandung Indah Plaza.
            Setibanya di toko buku, gue langsung menuju ke tempat novel-novel berada. Sementara si Uli lebih tertarik dengan buku-buku soal hijabers. Maklum do’i pake kerudung gitu. Nah kalau gue sih belum terketuk alias belum dapet hidayah buat pake kerudung. Akhirnya gue nemu novel yang selama ini gue cari dan tinggal satu-satunya terpajang manis dan bersih di rak itu. Saat gue mau ngambil buku itu ternyata ada tangan lain yang menginginkan buku itu. Saat itu juga gue langsung kecewa berat dan ngeliatan orang yang megang buku itu dengan memasang tampang pilu.
            Tapi oh no.. oh my GOD.. ternyata orang yang ada dihadapan gue itu cowok terkece yang belum pernah gue temuin sebelumnya.
            “Mmm, kamu juga suka buku ini, ya?” tanyanya sembari garuk-garuk kepala karna kebingungan ngeliat muka gue yang hampir mau nangis kayak anak TK gak dapet uang jajan sebulan *terlalu dramatis yah gue J sorry.
            “Iya, gue udah nyari buku ini dari lama dan baru sekarang nemu itupun tinggal satu doang” kataku dengan lebay.
            “Yaudah ambil buat kamu aja kalo gitu” katanya sembari tersenyum dan menyerahkan buku itu ke tangan gue.
            Aseli gue terpesona banget sama ni cowok, badannya tinggi, matanya sipit, tubuhnya proporsional, tampangnya unyu plus cakep kayak anak SMA dan gayanya keren deh,, TOP BGT alias top banget dah ini cowok. Mana baik hati lagi mau ngalah sama cewek. Dan entah kenapa jantung gue tiba-tiba berdetak kencang dan gue gemeteran nerima buku ini, apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?.
***
       “Hei, kamu yakin bukunya buat aku?” tanyaku sembari tersenyum manis. Dan gue baru kepikiran kalau gaya bicara gue barusan itu aneh banget secara gue bilang aku.
            Dia tersenyum manis banget bikin gue pengen pingsan.
            “Iya gak papa, buat kamu aja” katanya lembut.
         “Emm, aku punya ide, gimana kalau kita bacanya gantian aja??” kataku dengan tersenyum penuh harap.
            “Maksud kamu?” tanyanya yang terlihat kebingungan dengan maksud gue.
            “Jadi, aku baca dulu buku ini minggu ini, nah minggu depan aku kasihin buku ini sama kamu, terus kamu balikin buku ini sama aku… gimana?”.
            Dia nampak berfikir sejenak dan beberapa detik kemudian mengukir senyuman indah di bibirnya.
            “Ide kamu boleh juga tuh”.
            “Jadi setuju, kan? Deal?” tanyaku sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan dia sekaligus gue pengen kenalan. Hehehe modus deh jadinya.
            “Deal” katanya sembari membalas uluran tanganku.
            “Oh iya, aku Ana”.
            Dia tersenyum lagi “Aku Tio” katanya sembari melepaskan salaman kami.
            “Berarti aku harus bayar setengah dong, ya?” tanyanya kepadaku.
            “Mmm, gak usah,, aku aja yang bayar jadi kamu minjem gitu sama aku ceritanya” jawabku sedikit gugup.
            Dia menggeleng “Nggak, nggak.. bukunya biar aku yang bayar tapi nantinya bukunya buat kamu aja”.
            What? Baik banget ini cowok, baru kenal udah mau bayarin gue buku ini. So sweet banget.
            “Tapi kan kita baru aja kenal, masa kamu yang bayarin sih.. aku kan jadi gak enak”.
            “Gak papa lagi anggap aja tanda perkenalan dari aku” katanya sembari mengambil buku itu dari gue dan menuju ke kasir untuk membayar.
            Setelah dia selesai membayar buku itu, dia kembali menghampiri gue yang duduk dibawah tangga sambil nungguin Uli beres bayar bukunya dia. Dia memberikan buku itu sama gue dan gue baru kali ini ngerasa dihormatin sama yang namanya cowok.
            “Oh, iya tadi aku udah nulis nomor hpku di lembaran kosong paling akhir”.
            “Jadi kalau mau ketemuan tinggal sms aja”tambahnya.
            Gue hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan anggukan soalnya gue gugup banget berhadapan sama cowok kece yang sepertinya gue bener-bener naksir berat sama dia sekarang.
            “An, udah nemu buku yang loe cari?” tanya Uli yang kini berada disamping Tio.
            Gue cuma jawab pertanyaan Uli dengan menunjukkan bukunya. Uli memandang Tio dan seperti orang sedang mengingat-ngingat.
            “Bentar deh, kayaknya gue kenal sama loe” kata Uli sembari menunjuk Tio.
            Tio tersenyum kepada Uli dan itu membuat gue jealous.
            “Hai kak Uli” sapa Tio.
            “Aha .. gue inget.. loe temennya Ardi kan?” Uli balik bertanya.
            “Iya kak”.
            What? Tio manggil Uli kakak dan Tio temennya Ardi, Ardi kan adikknya Uli yang masih kelas 3 SMA. Gak, gak mungkin Tio masih SMA, mukanya sih emang masih unyu-unyu kayak anak SMA tapi gayanya dia nggak norak kayak anak SMA deh.. dia lebih mirip anak kuliahan sama kayak gue.
            “Yaudah, aku duluan ya kak Uli, Ana” katanya sembari pergi meninggalkan gue dan Uli.
            Pandangan gue masih tertuju sama dia, sampai dia menghilang di turunan tangga.
            “Woi, loe kenapa An?” tanya Uli heran.
            “Giila Li, Tio cakep banget, cute, unyu-unyu, baik hati, kece banget deh” puji gue histeris.
            Uli mengkerutkan keningnya dan melihat gue dengan tatapan jijik gitu deh.
            “Jangan-jangan loe suka ya sama Tio?” Uli mencurigai gue.
            Gue menganguk-nggangguk malu.
            “Ana wake up An, buka mata loe, Tio itu masih anak bawang.. dia masih kelas 3 SMA dan umurnya baru 17 tahun!” protes Uli.
            “Emang kenapa?” gue ngasih pertanyaan paling bodoh yang gak butuh jawabannya.
            “Hello, nona Ana.. dia 17 tahun dengan berstatus anak SMA sementara loe mahasiswi semester 5 dengan usia 20 tahun”.
            “So, what?”.
            “Ya realistis aja An, masa loe pacaran sama bronies!” balas Uli.
            “Bronies?”.
            Uli mengangguk.
            “Ya ampun Li, Tio itu manusia bukan kue kesukaan gue yang gue makan tiap hari jadi gak papa dong gue cinta sama dia”.
            Uli menempelkan tangannya di jidat. “Ya ampun An, maksud gue dia itu brondong manies dan loe gak cocok sama dia, usia kalian terlalu jauh” balas Uli kesal.
            “Ya nggak papa dong Li, yang penting gue suka sama dia dan besok dia juga bakalan suka sama gue”.
            “Orang Andhika Pratama sama Ussy aja usianya beda jauh, lah gue beda 3 tahun doang” gue menyanggah argument Uli yang menyatakan dan melarang gue pacaran sama yang usianya lebih muda dari gue.
***
2 hari kemudian gue janjian buat ketemuan sama Tio di KFC yang berada didepan BIP. Gue mesen ice cream dan duduk dikursi paling pojok deket tempat anak-anak kecil seluncuran. 5 menit kemudian Tio datang menghampiri gue.
“Hai, sorry ya lama.. soalnya tadi ngerjain tugas sekolah dulu”.
“Iya, nggak papa kok, santai aja lagi”.
By the way, kakak nggak malu apa jalan sama anak SMA kayak aku?” tanyanya ragu.
“Nggak lah, kenapa harus malu? Mestinya aku yang nanya kayak gitu sama kamu” balasku semangat.
“Ya, takutnya kakak malu kalau jalan sama anak SMA kayak aku”.
“Udah deh jangan panggil aku kakak, panggil Ana aja” pintaku.
“Yaudah deh Ana” katanya yang masih terlihat canggung.
Akhirnya kita ngobrol ngaler ngidul dari mulai ngebahas isi novelnya sampai ke pembahasan soal pacar. Dan gue seneng banget karna ternyata Tio belum punya pacar ataupun gebetan. Yipiiiiii horee.. gue girang banget deh.
Besoknya besoknya dan besoknya lagi gue sama Tio makin sering ketemuan dan jalan bareng. Gue juga sering diajakin nonton sama do’i sampai suatu ketika dia ngajakin gue keluar di malem minggu.
Sumpah gue surprise banget waktu dia ngajak gue ke tempat paling indah dimana banyak bintang-bintang disana. Mana lagi kalau bukan Boscha. Bukan cuma itu. Dia juga ngasih gue satu buket bunga mawar putih dan cokelat berbentuk hati.
“An, mungkin aku lancang banget buat ngomongin ini sama kamu”.
            “Tapi, aku juga nggak mungkin nahan terus perasaan ini didalam hati”.
            Jantung gue berdebar semakin kencang, gue nggak sabar nunggu kalimat berikutnya yang akan diucapkan oleh Tio, gue gugup banget asli deh.
            “Aku suka sama kamu An, aku cinta sama kamu”.
            “Kamu mau nggak jadi pacar aku?” tanya Tio penuh harap.
            Gue tersenyum manis dan jelaslah gue mau banget jadi pacarnya Tio.
            Akhirnya gue dan Tio jadian.
            Setiap hari, hari-hari gue selalu indah dengan kehadiran Tio, dia setia banget nemenin dan mensupport gue meskipun hubungan gue dan dia selalu ditentang sama Uli dan sahabat-sahabat gue tapi gue nggak peduli, yang penting gue dan dia saling menyayangi satu sama lain.
            “Gila ya loe, An… cowok-cowok keren dikampus banyak banget yang pengen jadi pacar loe”.
            “Dan loe malah jadian sama anak dibawah umur” Tina memandang gue dengan heran.
            “Ya namanya juga cinta, cinta kan gak punya mata Na.. yang penting gue sama dia saling menyayangi dan dia selalu bikin gue happy” gue ngebela Tio.
            “Tapi An, dia itu brondong,, kalau anak-anak lain pada tahu gimana coba?” tanya Uli.
            “Gimana apanya?” gue balik bertanya.
            “Ya, reputasi loe bisa ancur An”  balas Uli,
            “Tolong dicatet ya Li, Na.. gue gak peduli apa kata orang yang pasti gue sayang banget sama Tio dan gak ada satu orang pun yang bisa misahin kita berdua!”.
          Sampai suatu hari Tio ngejemput gue kekampus masih pake seragam SMA nya, semua orang memandang dia heran. Yaiyalah secara anak SMA nongol dikampus dan waktu untuk pendaftaran mahasiswa baru itu belum dibuka. Ketika gue akan menghampiri dia, tiba-tiba Dion, salah satu cowok dikampus yang naksir gue menghalangi jalan gue.
            “Ada apa sih, Di?” tanya gue heran dan jengkel.
            “Gue anter balik, ya?” pinta Dion.
            “Gak usah, gue udah ada yang jemput” balas gue bangga.
            “Siapa?”.
            “Tuh” gue nunjuk Tio yang melambaikan tangan dan tersenyum ke arah gue.
            “Oh.. dijemput adik loe” kata Dion.
            “Dia bukan adik gue! Dia pacar gue! Keren kan?”.
            Dion tertawa renyah “Gue gak nyangka An, loe nolak cinta gue dan lebih milih pacaran sama brondong” ejek Dion.
            “Ya terserah gue dong yang penting gue dan dia saling menyayangi dan dia gak ngebosenin kayak loe!”.
            Dengan perasaan kesal gue meninggalkan Dion dan segera menghampiri Tio lalu naik keatas motornya. Diperjalanan pulang Tio gak ngomong apa-apa. Sepertinya dia jealous ngeliat gue ngobrol sama Dion.
***
Setibanya dirumah….
            “Tio, kamu kenapa sih? Kok diem terus? Kamu marah ya sama aku?” tanya gue yang mulai khawatir.
            “Cowok yang tadi keren ya, mana anak kuliahan lagi” balas Tio.
            “Tio, kamu ngomong apa sih?” protes gue.
            “Ya, kayaknya dia lebih cocok sama kamu daripada anak SMA kayak aku”.
            “Kamu pasti jadi bahan ledekkan mereka tiap hari gara-gara aku, kan?”.
            “Kamu kenapa sih? Kamu aneh banget hari ini”.
            “Aku kan udah bilang Tio, kalau aku nggak peduli apa kata orang yang penting aku dan kamu saling menyayangi”.
            Perbincangan anatara gue dan Tio dengan suara yang keras mengundang ibu untuk menghampiri kami berdua.
            “Ana, kamu sudah pulang?”.
            “Sudah bu”.
            “Dianter siapa?” tanya ibu heran.
            “Dianter Tio bu, pacar Ana”.
            “Maksud kamu anak ini?” tanya ibu sembari menunjuk Tio dengan heran.
            Aku mengangguk lalu ibu mengajakku untuk masuk sebentar. Ibu menyayangkan keputusanku yang berpacaran dengan anak SMA. Tanpa aku sadari Tio mendengar pembicaraan kami dan terdengar suara sepeda motornya meninggalkan pekarangan rumahku. Aku hanya bisa menatap sedih dari jendela ruang tamu.
            “Ibu liat kan, gara-gara ibu Tio jadi pergi” protesku.
            “Ya biarkan saja dia pergi! Ibu nggak suka kamu pacaran dengan orang yang lebih muda sama kamu apalagi beda usia kalian itu 3 tahun!” jelas ibu.
            “Ana nggak peduli bu, Ana tetap mencintai Tio. Pokonya aku cinta Bronies, titik!” teriakku pada ibu.
            Dan pada akhirnya gue tetap pada pilihan dan keputusan gue untuk tetap menjalin hubungan bersama Tio hingga dia masuk ke universitas yang sama kayak gue. Pokoknya Aku Cinta Bronies deh, Titik!!! Itu sama dengan gue cinta Tio dan gak ada yang bisa misahin kita berdua.
Benci dan Cinta, Cerpen Bagian 2

Benci dan Cinta, Cerpen Bagian 2


 Jam istirahat pun tiba Tata dan Tiara bergegas menuju kekantin. Tata membawa bungkusan plastik berwarna hitam beserta botol minumnya.
            “Tumben Ta kamu bawa bekel dari rumah?” tanya Tiara.
            “Ya mau gimana lagi aku kan lagi kena hukuman sama Ayah”.
            Dari kejauhan terlihat Ivan dan teman-temannya menuju ke tempat duduk Tata dan Tiara.
            “Heh, udah nabrak saya tadi pagi gak minta maaf pula” seru Ivan didepan muka Tata.
            “Aku kan gak sengaja” bela Tata.
            “Minta maaf kek gitu” cela Ivan.
            “Yaudah Maaf” seru Tata.
            Ivan tersenyum lalu melirik bungkusan plastik yang ada didekat Tata kemudian mengambil dan membukanya. “Apaan nih?” tanya Ivan sembari mengeluarkan isi plastik itu.
            “Ivan, balikkin gak!” pinta Tata.
            Ivan menjauhkannya dari jangkauan Tata lalu tersenyum dan… “Hei temen-temen masa si Tata masih bawa bekel ke sekolah coba ditambah tempat makanannya gambar doraemon lagi” teriak Ivan dengan kerasnya dan itu membuat seluruh penghuni kantin tertawa tertawa terbahak-bahak menertawakan Tata.
            Dengan mata berkaca-kaca Tata segera beranjak pergi, namun ketika itu salah satu teman Ivan sengaja membuat kaki Tata tersandung lalu Tata jatuh ke lantai. Semua orang menertawakannya lagi kecuali Ivan dan Tiara. Tiara segera membantu Tata bangun dan mereka pergi dari kantin sementara Ivan merasa bersalah atas tindakan jahilnya kali ini “Maafin aku Ta, aku gak bermaksud bikin kamu jadi bahan tertawaan anak-anak tapi ini adalah satu-satunya cara biar aku nggak gugup kalau deket kamu, aku nggak tahu caranya bilang ke kamu kalau aku sayang dan cinta sama kamu” kata Ivan didalam hatinya.
***
            Keesokan harinya disekolah Ivan menghampiri Tata yang sedang memasang artikel terbaru di papan mading sekolah.
            “Artikelnya bagus, ide kamu kreatif banget” puji Ivan.
            Tata memandang Ivan lalu pergi meninggalkan Ivan, namun Ivan menahan tangan kanannya.
            “Lepasin!” seru Tata.
Ivan melepaskan tangan kanan Tata lalu menatap punggung Tata dan berharap Tata berbalik menatapnya. “Mau ngapain lagi kamu? belum puas bikin aku jadi bahan lelucon kamu” kata Tata dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap membelakangi Ivan.
“Saya mau minta maaf Ta, saya tahu saya salah dan keterlaluan banget sama kamu kemarin” sesal Ivan lembut.
Tata tidak menghiraukan permintaan maaf Ivan. Tata segera bergegas pergi meninggalkan Ivan namun tiba-tiba Ivan segera memeluknya dan menyeretnya ke pinggir dinding yang rusak. ‘brak’ sebuah atap terjatuh tidak jauh dari mereka. Beberapa detik kemudian Tata menampar pipi kanan Ivan.
“Berani-beraninya kamu meluk aku!” bentak Tata.
“Kamu itu udah saya tolongin malah nggak tahu terimakasih ya” balas Ivan.
“Ya kalau mau nolongin tinggal bilang aja ada atap yang mau jatuh diatas kepala aku” protes Tata.
“Aku udah teriak tapi kamu malah gak denger kan!” protes Ivan.
“Aku emang gak ketimpa atap tapi liat tangan aku luka kena didinding!” kata Tata sembari memperlihatkan sikut tangan kirinya yang beradarah terkena didinding yang kasar.
“Udah syukur kamu gak ketimpa atap!” bentak Ivan yang kemudian berjalan meninggalkan Tata yang meringis kesakitan.
Beberapa detik kemudian Ivan kembali menghampiri Tata dan menarik tangan kanan Tata lalu membawa Tata pergi dari sana.
“Kita mau kemana?” tanya Tata sedikit ketakutan.
“Udah diem aja, katanya kan tangan kamu sakit” balas Ivan yang sepanjang perjalanan menuju UKS tidak melepaskan tangan Tata.
Ivan membawa Tata masuk ke dalam ruangan UKS dan menyuruh Tata duduk dikursi sementara dia membawa air bersih, kapas, alkohol, betadine serta perban untuk mengobati luka ditangan Tata.
“Pelan-pelan bersihinnya” pinta Tata.
Ivan tersenyum “Banyak maunya banget sih, syukur-syukur udah aku tolongin”.
Tata hanya terdiam dan membiarkan Ivan mengobati luka ditangannya.
Beberapa minggu setelah kejadian itu Tata merasa ada hal yang aneh pada dirinya, dia merasakan kalau dia mulai jatuh cinta kepada Ivan. Disadari atau tidak didalam bencinya terhadap Ivan, dulu Tata pernah menyukai Ivan dan kini rasa itu hadir kembali apalagi setelah beberapa kali Ivan menyelamatkannya. Akhir-akhir ini Ivan juga berubah menjadi lebih baik dan rajin memberikan Tata bunga serta cokelat dan untuk menahan gengsinya Tata tetap bersikap ketus kepada Ivan.
“Kue brownies buat siapa?” goda ibu Diana ketika melihat Tata yang sejak semalam sibuk membuat kue brownies itu.
“Mama kepo deh mau tau aja” balas Tata.
***
Tata memarkir sepeda motor seperti biasanya namun dengan raut wajah yang berseri-seri. Setelah selesai memarkir motornya Tata bergegas menuju ke lapangan basket untuk melihat Ivan bertanding basket dengan sekolah lain. Tata duduk di deretan paling depan dan tanpa sadar berteriak-teriak memanggil serta menyemangati Ivan. Teman-temannya yang lain pun berusaha menahan tawa mereka atas perilaku Tata dan Tata yang tersadar akan itu pun menjadi malu bukan main dan wajahnya merah padam.
Usai pertandingan itu Tata segera menghampiri Ivan yang duduk dipinggir lapangan dengan keringat yang membuat bajunya basah kuyup.
“Hai, selamat ya” kata Tata sembari tersenyum manis dan mengulurkan tangannya kepada Ivan dan Ivan membalas uluran tangan Tata. “Iya, makasih ya udah bikin aku malu karna teriakan kamu” balas Ivan.
Muka Tata merengut dan kecewa mendengar pernyataan Ivan sementara itu beberapa detik kemudian Ivan tertawa terbahak-bahak.
“Kamu tambah cantik deh kalo manyun kayak gitu” goda Ivan sembari menyikut Tata yang duduk disebelahnya.
Tata hanya terdiam.
“Bawa apaan tuh?” tanya Ivan sembari melirik kotak makan yang berisi kue brownies di tangan Tata.
“Pasti buat aku, ya?” tanya Ivan lagi.
“Bukan, bukan buat kamu”
“PeDe banget kamu” tambah Tata gelagapan.
Ivan tersenyum curiga dan menatap Tata hingga Tata jadi salah tingkah.
“Apaan sih liatin aku kayak gitu” protes Tata sembari menutupi mata Ivan dengan kedua tangannya.
Ivan memegang kedua tangan Tata dan menyingkirkan tangan Tata dari tempat makananya. Ivan menatap Tata dengan serius dan itu membuat Tata semakin salah tingkah. Jantung Tata berdetak dengan kencang dan keringat dingin mulai tampak dipipinya, apalagi Ivan masih memegang kedua tangannya. Beberapa saat kemudian Ivan tersenyum puas melihat Tata yang mati kutu dihadapannya.
“Kamu sakit, Ta?” tanya Ivan sembari melepaskan tangan Tata dan menempelkan tangannya di kening Tata.
Tata mengeleng namun dihatinya dia sangat kegirangan karena mendapat perhatian dari Ivan. Disaat itulah Ivan mengambil kotak berisi kue yang ada disamping Tata lalu memakannya.
“Ih curang! Itu bukan buat kamu tau!” protes Tata yang berusaha mengambil kotak makanannya namun Ivan dengan sigap memindahkannya.
“Udah jujur aja, ini emang buat aku, kan!” kata Ivan.
“Iya itu emang buat kamu” akhirnya Tata menyerah.
“Gimana rasanya? Enak, kan?” tanya Tata dengan wajah berseri-seri.
“Enak, enak banget.. makasih ya” balas Ivan.
“Itu aku yang bikin loh”.
Ivan tersedak lalu Tata memberikannya air minum. “Gak jadi deh enaknya kalo kamu yang bikin” kata Ivan.
“Kok gitu?” protes Tata.
“Abis jadi ada rasa asem-asemnya gitu”.
“Tadi katanya enak”.
‘hehehehehe’ “Iya deh, enak” kata Ivan.
By the way kok kamu jadi baik banget sama aku? Ada angin apa ni?” tanya Ivan penuh kecurigaan.
“Jangan-jangan kamu suka ya sama aku?” goda Ivan.
‘glek’ Tata bingung harus berkata apa karena pada kenyataannya dia telah jatuh cinta pada Ivan.
“Ng-ng-nggak kok, aku gak suka sama kamu… gak mungkin lah” bantah Tata.
“Oh, yaudah kalo gitu aku duluan ya” kata Ivan sembari beranjak pergi meninggalkan Tata.
“Ivan, tunggu!” teriak Tata.
Ivan menghentikan langkahnya. Tata sedikit mendekat ke tempat Ivan berdiri memunggunginya.
“Iya Van, aku suka sama kamu” ucap Tata lirih lalu menunduk.
Ivan berbalik dan mendekati Tata, dia memegang kedua bahu Tata dengan tangannya. Tata mengangkat kepalanya yang tertunduk. Kini Ivan dan Tata saling menatap.
Ivan tersenyum manis kepada Tata “Aku.. aku juga suka sama kamu Ta” kata Ivan.
Tata tersenyum merekah dan hatinya berbunga-bunga.
“Beberapa minggu ke belakang bahkan saat pertama kita ketemu pas ospek” tambah Ivan.
“Maksud kamu?” Tata mulai was-was dengan pernyataan Ivan yang kedua.
“Semenjak kamu cuekin segala usaha aku buat jadi pacar kamu, disitu aku mulai jenuh dan sadar kalau kamu nggak mungkin suka sama aku”.
“Aku nggak ngerti Van”.
“Aku emang suka sama kamu Ta tapi itu kemarin bukan hari ini bukan sekarang”.
“Maafin aku ya, Ta” tambah Ivan sembari pergi meninggalkan Tata sendirian ditengah-tengah lapangan basket yang sepi.
Tata menangis, batinnya teriris. Dia menyesal telah membuat Ivan berpaling dan tidak mencintainya lagi. Andai saja kemarin dia tidak merasa gengsi untuk dekat dengan Ivan pasti dia tidak akan merasakan sakit dan patah hati lagi seperti yang terjadi sekarang.
Beberapa saat kemudian Tata bangkit dan berhenti menangis, dia mengejar Ivan menuju ke parkiran sekolah, namun setibanya disana.. Ivan sudah tersenyum bahagia bersama Nana, pacar barunya.
“Kenapa-kenapa-kenapa disaat aku jatuh cinta semuanya berakhir menjadi kesakitan” jerit Tata didalam hatinya.
“Cinta dan Benci gak ada bedanya dua-duanya sama-sama bikin aku sakit, sakiiiiiit” kata Tata didalam hatinya dan kini airmata Tata mulai menetes satu per satu dipipinya melihat Ivan dan Nana yang terlihat bahagia lalu meninggalkannya sendirian diparkiran sekolah.
Selesai **