5/30/2017

Selalu Ada Munggahan di Setiap Tahunnya

Hallo, mepet banget ini membuat blogspotnya, beberapa jam menjelang deadline dan beberapa menit menjelang bedug magrib. Pekan 21 ternyata temanya tentang tradisi puasa di kotaku. Tapi aku mah bukan orang kota, aku mah orang kabupaten, udah gitu kecamatannya yang paling ujung #apainimalahcurhat #okesekip.

Dok. Pribadi
Di tanah sunda, termasuk Bandung dan sekitarnya, ada yang namanya tradisi munggahan sebelum puasa. Munggahan itu berasal dari kata munggah = naik, yang maknanya peningkatan atau perubahan. Dengan kata lain, udah siap secara lahir batin untuk memasuki bulan ramadhan alias bulan puasa. Munggahan dilakukan beberapa hari menjelang puasa atau sehari sebelum puasa.

Dok. Pribadi
Munggahan biasanya diisi dengan kegiatan ziarah (sekaligus bersih-bersih) makam, ataupun makan bersama (botram) sekeluarga besar, atau sama teman-teman. Biasanya juga ada yang botramnya sambil liburan. Ke kebun binatang, kawah, pemandian air panas, kebun teh, dan masih banyak lagi. Dan, kalau di daerah tempat tinggal aku mah, biasanya munggahan teh, sehari sebelum puasa. Jadi, selain makan rame-rame, masaknya juga rame-rame. Pasar juga jadi rame banget saat munggahan.

Tapi tergantung daerahnya juga sih, terkadang ada kegiatan unik lainnya saat munggahan. Seperti tahun ini, misalnya. Di Cileunyi ada permainan sepak bola api, terus di Sekeloa Atas ada pagelaran Seni Sunda Giri Karta 05. Pengin tahu kegiatan lengkapnya. Nanti kutulis linknya di bawah ya.

Nah, kalau di kotamu ada tradisi apa menjelang puasa atau saat puasa? Share yuk di kolom komentar.

Sumber informasi :
1. prfmnews.com
2. infobandung.co.id
3. http://m.ayobandung.com/read/20170526/70/19993/
4. republika.co.id

5/28/2017

Belajar Memahami - Menerapkan 4 Pilar MPR

Dok. Pribadi
"Sekecil apa pun kepedulian kita, besar artinya untuk sesama." Kalimat ini aku kutip dari empat video yang diputarkan beberapa kali sebelum acara Netizen Bandung Ngobrol BJila kitaareng MPR RI dimulai. Keempat video berdurasi singkat itu serta kalimat penutupnya, memiliki pesan moral yang sama, yang berkaitan erat dengan 4 Pilar MPR RI : Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Ya, namanya 4 Pilar MPR bukan lagi 4 Pilar Kebangsaan. Dan aku baru mengetahuinya #kemanaaja.

Ya, sesuai kutipan kalimatnya, keempat video itu berisikan pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan dan sesama serta tolong menolong. Video-video yang membuatku tercenung. Salah satu yang paling kuingat adalah dua orang anak SMA (laki-laki dan perempuan) ketika asyik berbincang kemudian menemukan dahan pohon yang menghalangi jalan, mereka memindahkannya ke pinggir, kemudian membantu seorang ibu yang hampir terserempet kendaraan roda dua dan barang yang dibawanya berhamburan.

Kenapa peduli mencerminkan 4 pilar? Karena dengan peduli, kita sudah berlaku adil. Saat memedulikan lingkungan sekitar, tentu kita tak akan mempermasalahkan tentang perbedaan, dari mana dia berasal, apa agamanya, dan lainnya. Karena kalau bukan kita yang peduli pada bangsa ini, lalu siapa yang akan peduli?

Ini Pak Andri, bukan Sammy Simorangkir - Dok. Pribadi

Setelah beberapa kali video diputar, acara yang berlangsung di ruang Voltaire, Hotel Novotel Bandung, pada Sabtu, 20 Mei 2017 lalu ini pun dipandu oleh pak Andri, selaku Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi Humas MPR. Beliau pun mengutarakan salah satu cara mengamalkan 4 Pilar yang paling mudah tapi nyatanya susah dilakukan, "jangan menyakiti orang lain." Dengan tidak menyakiti orang lain, kita turut menjaga hak asasi setiap manusia.

Bang Aswi - Dok. Pribadi

Setelahnya, Bang Aswi selaku ketua Blogger Bandung pun memberikan sambutannya, dilanjutkan dengan ibu Siti Fauziah, selaku Kepala Biro Humas Sekretariat Jenderal (Setjen) MPR RI dan ibu Rharas Estining Palupi selaku Kepala Bagian Pemberitaan, Hulembaga dan Layanan Informasi Biro Humas MPR. Tak lupa juga sambutan dari Pak Purwanto, bapak berblangkon yang merupakan Staf Biro Humas MPR. Yang aku ingat dari kalimat pak Puwanto adalah, kita bisa menanamkan 4 pilar dimulai dari menanamkan dan mengenalkan tentang seni tradisional kepada keluarga.

Pak Purwanto - Dok. Pribadi

Kesempatan bergabung dalam acara ini membuatku mendapatkan informasi, pemahaman, dan pengalaman baru. Salah satunya informasi dari ibu Rharas, bahwa MPR bukan lagi lembaga tinggi negara, namun setara dengan lembaga lainnya. Kemudian, MPR pun sangat gencar mensosialisasikan 4 Pilar MPR ini dengan berbagai cara, agar 4 pilar bisa dipahami dan dimiliki oleh semua kalangan.

Ibu Rharas - Dok. Pribadi

Di tingkat sekolah dasar (SD), sosialisasi 4 pilar dilakukan dengan cara mengadakan lomba mewarnai dan menggambar bertemakan 4 pilar. Di sini, mendengar ibu Siti Fauziah menceritakan seorang anak SD menggambar burung garuda dengan sayap patah dan tengah dirajut. Mendengarnya saja membuatku terkesima dan merinding, apa kabar kalau lihat aslinya, pasti tambah merinding dan rasa 4 pilarnya terasa banget. Sementara untuk tingkat mahasiswa, sosialisasi dilakukan dengan outbound. Diharapkan dengan adanya sosialisasi 4 pilar ini, bisa mengikis kebencian agar tak terjadi perpecahan. MPR pun berusaha memasukan 4 pilar ini dalam kurikulum tentang budi pekerti, bekerja sama dengan kementrian pendidikan.

Ibu Siti Fauziah - Dok. Pribadi

Tak hanya itu, MPR pun membuat komik 4 Pilar yang dibagikan kepada anak-anak di tingkat TK juga SD, sayang terakhir dicetak tahun 2010. Tapi, ke depannya MPR berencana membuat komik 4 Pilar lagi. Eh ya, di situs mpr.go.id ada komik sosialisasi 4 pilarnya juga lho. Ini dia, salah satunya :

Sumber : mpr.go.id

Tak bisa dipungkiri, jika akhir-akhir ini, di negeri kita, kerusuhan terjadi di mana-mana. Tak hanya kerusuhan secara langsung, sekarang ini, kerusuhan pun terjadi melalui media sosial. Dengan penyebaran berita hoax yang semakin menjadi-jadi yang didorong faktor membagikan artikel dan tulisan apa pun tanpa membaca, dan memahaminya terlebih dahulu.

Membendung informasi termasuk informasi hoax memang sulit untuk dilakukan, tapi, kita bisa menguatkan pondasi agar tak mudah terpancing hoax. Caranya, dengan terus belajar, terus membaca, memahami kembali 4 Pilar : Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika dan menjadikannya pedoman hidup berbangsa. Jika kita memahami mereka (4 Pilar) dan melaksanakannya, tentu, tak ada lagi yang menyakiti dan tersakiti. Dan kita bisa saling menghargai satu sama lain.

Bukan dari Bandung aja, tapi beberapa wilayah Jawa Barat - Dok. Humas MPR RI

Nah, sebenarnya, kalau setiap individu memiliki kesadaran sendiri untuk mengamalkan nilai-nilai yang ada dalam 4 pilar ini, tanpa sosialisasi pun kita bisa belajar sendiri untuk memahami 4 pilar kemudian menularkannya pada lingkungan terdekat (keluarga). "Karena setelah memahami tentu kita akan menyadari dan melaksanakannya. " Begitu yang diutarakan Bapak Ma'ruf Cahyono selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) MPR RI yang turut hadir dalam acara ini. Karena bersatu tak berarti harus sama bukan. Bersatu itu, bisa hidup rukun dalam keberagaman. Menghargai perbedaan yang ada.

Bapak Sekjen MPR RI - Bapak Ma'ruf Cahyono Dok. Pribadi

Bapak Ma'ruf juga mengutarakan, jika ada kesenjangan dalam kebijakan, kita bisa menemukannya dalam Ketetapan MPR (Tap MPR). Karena Tap MPR berada di posisi kedua setelah UUD 1945 sebagai sumber hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan, panduan untuk siapapun yang ada di dalam negeri. Dari mulai kebijakan, etika, pemberantasan korupsi, sampai visi masa depan Indonesia, semua ada di sini, lengkap. Bahkan di tanggal 31 Mei nanti, akan diadakan konferensi etika nasional.

UUD 1945 dan Tap MPR - Dok. Pribadi

Acara ini ditutup oleh puisi yang dibacakan Sekjen MPR RI, bapak Ma'ruf Cahyono. Puisi yang intisarinya merupakan Indonesia yang kita harapkan, yang jika dijabarkan bisa menjadi sebuah buku. 

Dok. Pribadi
Blogger sendiri pun berbeda-beda. Dari daerah yang berbeda, latar belakang berbeda, punya niche berbeda, tapi memiliki tujuan yang sama, menyampaikan informasi kepada pembacanya.

5/25/2017

Cara Jadi Yang Ku Mau - Lactacyd Herbal


Wanita Indonesia itu punya banyak peranan, multitasking dan hebat-hebat. Dari mulai ibu Kartini, pahlawan wanita lainnya seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan wanita-wanita masa kini yang bisa berperan ganda, multitasking. Di satu sisi sebagai seorang ibu (untuk yang sudah menikah) di sisi lainnya totalitas dalam pekerjaannya.

Kalau perananku apa? Aku seorang anak bungsu yang ingin memenuhi harapannya sendiri dan juga harapan orang lain (keluarga). Kemaruk ya, dan terdengar agak mustahil. Tapi, namanya juga hidup, nggak ada yang mustahil kan selama mau berusaha.

Aku pernah membaca sebuah novel, di mana ada kutipan, yang intinya ... rasa sakit dan kecewa itu karena kita terlalu menggantungkan harapan pada orang lain, sementara orang itu punya harapannya sendiri. Pun aku, aku mempunyai harapan sendiri dan perlahan-lahan sedang mewujudkannya. Tapi, aku pun tak mau mengecewakan orang lain (keluarga) yang berharap aku menjadi apa yang mereka inginkan.

Sambil menunggu kesempatan tiba untukku kembali bekerja di luar rumah, di luar kota, seperti harapan mereka, aku memanfaatkannya untuk jadi apa yang ku mau. Aku ingin menjadi seorang penulis, dan merintis usaha. Tak mudah memang untuk menjadi apa yang ku mau, karena banyak dari mereka yang tak mengerti dengan caraku menghabiskan waktu bersama ponsel dan laptop. Tak apa, yang lain tak mengerti, yang terpenting, aku paham dengan apa yang kukerjakan. Mengejar mimpi, mewujudkan harapanku sendiri, yang tak mungkin kugantungkan pada orang lain.


Untuk meraih apa yang kuingin dalam hidup dan #JadiApaYangKuMau, aku harus menjaga kesehatan tubuh. Iya, karena berlama-lama di depan layar ponsel dan laptop ataupun merangkai pesanan bunga kertas itu banyak sekali resikonya. Termasuk malas mandi. Nah ini resiko paling mematikan, karena malas mandi membuat kuman dan bakteri jadi betah menempel di tubuhku, apalagi bagian paling sensitifku, miss v.

Untuk mensiasatinya, aku memakai produk kewanitaan dari Lactacyd, yang tepat untuk merawat miss v. Lactacyd ini merupakan brand international untuk pembersih kewanitaan yang terpercaya. Dan, kini launching produk baru Lactacyd Herbal yang diformulasikan khusus untuk menjawab kebutuhan wanita Indonesia.


Pertama kali mencoba Lactacyd Herbal ini, aku langsung merasa cocok dan suka sekali. Habisnya Lactacyd herbal ini ada dua kemasan, 60 ml dan 120 ml, kemasannya mungil dan cantik gitu. Flipnya pun kuat, jadi nggak takut tumpah gitu isinya. Lactacyd herbal pun mudah ditemukan di minimarket, supermarket dan apotik terdekat. Kebetulan, aku membeli yang 60 ml dengan harga 20.500 di minimarket (harga tergantung lokasi tempat tinggal).


Teksturnya terbilang lebih kental dari produk kewanitaan lain. Warnanya putih susu, busanya nggak banyak dan aroma harumnya pas. Ini karena kandungan Lactacyd herbal ini lain daripada yang lain. Iya, kalau produk kewanitaan dari daun sirih campur susu udah biasa kan. Lactacyd herbal ini kolaborasi bahan-bahannya alami dan ekstrak sirih, ekstrak susu,  dan ekstrak mawar yang siap membersihkan, melembutkan, dan merawat area v.

Aku pun nggak perlu khawatir karena Lactacyd Herbal telah teruji secara dermatologi dan dapat digunakan setiap hari. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya digunakan dua kali sehari. 


#HaloLactacydHerbal, terima kasih telah hadir dan menemaniku untuk #JadiYangKuMau. Karena sekarang aku nggak khawatir lagi dengan miss v. Nggak takut bau, keputihan, lecet, gatal-gatal, apalagi pas haid. Jadi aman dan tentram saat lama di depan ponsel dan laptop. Nyaman dalam mengetikan ide menjadi barisan kalimat. Ataupun keasyikan menyelesaikan orderan bunga kertas. Apalagi saat nanti mendapatkan pekerjaan di luar rumah. Sibuk udah nggak jadi masalah karena area v terawat.

Hayo, kamu udah pakai Lactacyd herbal juga belum? Karena dengan menggunakan Lactacyd Herbal, kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau, seperti aku. colek @Lactacyd_ID

5/22/2017

Mengenal Layanan Video On Demand (VOD)

Di pekan kedua puluh tema Liga Blogger Indonesia (LBI) ini, aku sampai baca berulangkali lho apalagi pas bagian clue-nya. Tren VOD, kukira tren COD atau OCD (ya kali diet itu mah). Soalnya, jujur aja, aku belum pernah mendengar istilah layanan video on demand (VOD) ini. Asing banget rasanya buat aku. Eh begitu menjelajah mesin telusur, ternyata layanan VOD itu aplikasinya ada yang pernah kupake juga. Cuma nggak tahu aja kalau itu masuk kategori layanan VOD, semacam Fintech kemarin, aku juga kan baru tahu kalau e-banking termasuk juga. Maaf ya, anaknya emang kudet banget soal teknologi.

Kalian sendiri, udah tahu belum apa itu layanan VOD? Ya, siapa tahu aja aku ada temennya gitu.

Layanan VOD merupakan sistem televisi interaktif yang memfasilitasi khalayak untuk mengontrol atau memilih sendiri pilihan video dan film yang ingin ditonton. [1]

Jadi, dengan adanya layanan ini, pengguna gadget bisa menikmati video dan film secara streaming ataupun mengunduhnya ke dalam gadget. Di mana aja, kapan aja dan bebas memilih sesuai keinginan tentunya. Dari mulai serial tv, film, drama, semua ada. Baik dari dalam maupun luar negeri. Dari yang lama sama yang paling baru, lengkap. Tapi nggak semuanya bisa ditonton secara gratis sih, ada yang berbayar. Ya, sama aja kayak aplikasi musik online. Ya kan, ya kan?

Ternyata, layanan VOD ini pertama kali muncul tahun 1990 di Hongkong, tapi karena satu dan lain hal, pamornya kalah sama CD. Berbanding terbalik sama sekarang ya, sekarang mah malah ngetren, termasuk di negeri ini. Soalnya, jadi bisa nonton tayangan favorit sesuai dengan keinginan kita. Nggak harus galau nunggu jadwal tayang di televisi dengan jam tayangnya yang sering berubah. Bisa jadi alternatif kalau nggak ada waktu ke bioskop juga sih. Tapi harus siapin kuota yang banyak.

Sumber gambar : id.techinasia.com
Beberapa aplikasi yang merupakan layanan VOD adalah, Hooq, Viu, Netflix, Mox dan Iflix. Yang lainnya? Masih banyak lagi. Aku baru mencoba Hoox aja sih, dan nggak sering karena sayang kuota #pelukkuota. Kalau kamu udah mencoba yang mana? Atau sudah semuanya?

Sumber  informasi dan referensi :
[1] blog.telkomsel.com
[2]  id.techinasia.com

5/21/2017

Ketika Aku Tak Lagi Bersembunyi | Memesona Itu

Sejak kecil aku memang pemalu dan jarang bicara, tak pernah terbiasa untuk berinteraksi dengan banyak orang, termasuk paman, bibi maupun sepupu. Jika ada tamu yang datang ke rumah, aku selalu bersembunyi, di bawah kursi, di kolong kasur, di dalam lemari bahkan keluar rumah dari pintu belakang dan naik ke puncak pohon belimbing. Pokoknya, apa pun akan kulakukan demi tak bertemu mereka. Dan kebiasaan ini berlanjut hingga SMA.

Doc. Pribadi
Semua itu berasal dari rasa tidak percaya diri, minder pada kekurangan yang ada pada diri ini. Yang ujungnya aku dilabeli sebagai manusia sombong karena jarang tersenyum, apalagi menyapa orang terlebih dahulu. Saat bersalaman pun aku tak pernah berani menatap orangnya. Padahal, jauh dilubuk hati yang paling dalam, aku ketakutan. Takut jika mereka tak membalas senyumku, tak merespon sapaanku, dan ekspresi mereka tak seperti yang kuharapkan. Karena harapan memang sering meleset dari kenyataan.

Dan bagiku, menumbuhkan rasa percaya diri itu bukan perkara mudah, butuh waktu yang tidak sebentar dan butuh penyesuaian jika berada di tempat baru. Hingga saat ini pun aku sering kurang percaya diri, walau tak sebesar dulu. Setidaknya aku tak lagi bersembunyi ketika ada sanak saudara yang datang, kecuali aku sedang bad mood. Ya, saat bad mood melanda, aku akan mengurung diri dalam kamar.

Bersama teman-teman blogger. Doc. Kang Didno
Jika saja rasa tak percaya diriku masih sebesar dulu, mungkin aku tak akan pernah berani mengikuti lomba cerpen, lomba dan giveaway blog, masuk komunitas blogger dan sesekali turut daftar untuk hadir ke event blogger. Aku pasti masih menyembunyikan diri, dan menggunakan media sosial hanya sebatas untuk update status dan berharap dapat jempol banyak.Tak akan dikenal sebagai gemaulani, tukang retweet saat ikut event dan lain sebagainya. Tak akan berkesempatan mengenal blogger dan penulis keren yang ramah dan baik hati.

Jadi, bagiku, memesona itu ketika aku tak lagi bersembunyi. Aku membuka diri pada dunia luar, mengijinkan mereka untuk mengetahui adanya aku, mengenalku. Aku yang begini atau yang begitu. Tapi tentu kepenginnya lebih banyak dikenal sisi baiknya dong ya daripada buruknya. Maka, saat pergi keluar rumah, apalagi ke acara blogger, aku selalu berusaha berpenampilan rapi dan tentunya harus merasa nyaman. 

Selain berpenampilan rapi dan juga nyaman, akupun tak pernah absen memakai parfum. Maklum, sudah kebiasaan sejak kecil. Rasanya ada yang kurang kalau tak memakai parfum. Lagipula, aku yang mudah berkeringat ini, memang butuh bantuan parfum agar terhindar dari bau tak sedap. Supaya aku tetap percaya diri, dan tenang saat berinteraksi. Kalau tubuhnya bau, mana ada yang betah dekat-dekat aku. Yang ada pada pergi menjauh.

Doc. Pribadi
Dari sekolah dasar hingga dua tahun lalu, aku masih sering gonta-ganti parfum. Selain bosan dengan aromanya, akupun jadi sulit mencium aroma parfumku sendiri, karena hidung sudah terbiasa dan tentu saja, sudah merasa parfumnya tak sesuai dengan usiaku. Tapi, sejak awal tahun 2015, pilihanku jatuh pada produk Vitalis, Vitalis Body Scent Blossom. Sejak pertama kali mencium aromanya, kusudah jatuh cinta padanya.

Dan ternyata aku tak salah pilih, ikatan batin di antara aku dan dia begitu kuat. Karena saat mencoba flower test New Vitalis Body Scent beberapa minggu lalu, yang cocok dengan kepribadianku adalah New Vitalis Body Scent Blossom. Perpaduan antara wangi segar bunga-bunga semerbak iris, plum, rose yang menyegarkan, dibalut vanilla dan musky yang elegan. Sangat membantu dalam menunjang penampilanku supaya tetap percaya diri saat bertemu dengan banyak orang. Jadi aku tak ragu untuk tersenyum, menyapa dan mendekati orang lain, karena aku wangi. Kamu sudah mencoba flower testnya belum? Dicoba deh, supaya tahu New Vitalis Body Scent apa yang cocok untuk kamu. Soalnya ada enam pilihan aroma.

Doc. Pribadi
Dengan kemasan baru yang desain gambarnya lebih menarik dan aroma wanginya yang semakin tahan lama, aku semakin tak bisa berpaling deh sama New Vitalis Body Scent Blossom. Pertama disemprotkan aromanya kuat, lama-lama jadi lembut. Habis mandi pun masih tercium lho wanginya. Sangat menyenangkan bukan. Harganya pun terjangkau, tak membuat kantong bolong, bisa dibeli di mini market dan lagi ada promo potongan sebesar empat ribu rupiah lho sampai akhir mei. Lumayan banget kan. Walau hemat tapi tetap wangi. Dan mana bisa sih sembunyi kalau aku wangi.

Hayo, adakah yang seperti aku? Suka sembunyi? Eh, itu dulu. Sekarang tidak lagi. Yuk, kamu yang masih sembunyi, segera keluarlah dari tempat persembunyian. Karena terlalu lama sembunyi itu tak baik, menghalangi rejeki termasuk rejeki ditemukan oleh jodoh (maaf ini curhat terselubung). Semakin membuka diri, semakin mengenal banyak orang, semakin banyak hal yang bisa dipelajari, dan semakin terbuka juga pintu rejekinya. Yuk ceritakan juga #MemesonaItu versi kamu.

5/17/2017

Kooliah Dulu Sebelum Kuliah

Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Jika salah memilih tentu saja akibatnya bisa fatal. Termasuk dalam hal memilih jurusan yang sesuai saat memasuki jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Yang dipilih tentu harus sesuai dengan keinginan. Agar nggak menjadi beban dan menyesal kemudian.

Tapi, perkara memilih jurusan ini memang nggak mudah, apalagi tanpa dukungan orangtua. Orangtua mau kamu masuk jurusan A, kamu maunya B. Galau banget kan kalau udah begini? Tenang, jalan keluarnya ada banyak. Salah satunya, pastikan kamu mengetahui mata kuliah apa saja yang akan dipelajari dan masa depannya saat lulus nanti.

Cari referensi seputar jurusan yang akan dipilih, bisa dari mana aja. Perpustakaan, toko buku, dan pake mesin pencari. Kalau kurang lengkap, ada aplikasi Kooliah nih. Iya, kamu bisa Kooliah dulu sebelum kuliah. Di mana aja, kapan aja. 


Di sini kamu bisa mempelajari materi-materi yang sesuai dengan jurusan yang dinginkan. Kalau materinya nggak tersedia kamu bisa request dengan mengisi form request. Cara pake aplikasi kooliah juga mudah, pertama kamu download dulu di playstore. Tenang, ukurannya kecil kok nggak banyak makan memori. 

Setelah selesai, kamu harus daftar dulu, supaya nanti bisa login dan mengakses materi yang ada beserta kuisnya. Kuisnya tergantung materi, ada essai ada pilihan ganda. Essai untuk materi berbentuk video, pilihan ganda untuk materi slide power point. Dan di aplikasi kooliah yang baru, kategorinya lebih banyak, lengkap. Yah, aku udah bocorin kelebihan aplikasi kooliahnya deh.


Berhubung kelebihan alias asiknya memakai aplikasi kooliah udah terlanjur kujelaskan, sebelum bahas kekurangannya, aku mau bandingkan dulu antara tampilan yang lama dan yang baru.


Tuh, dari tampilan home nya aja udah beda. Lebih rapi yang baru. Di scroll ke bawah juga lebih enak. Dan, kategori ada di bagian depan. Kalau masalah login, yang lama lebih enak sih.

Doc. Pribadi
Fotonya masih edisi tampilan yang lama. Nah, kekurangannya itu menurutku, nggak adanya kolom pilih jurusan di form request. Kemudian tombol kembali, pakai tombol di ponsel malah muncul laman pilihan keluar atau tidak. Memang ada tombol home sih, tapi saat memilih per-kategori, kalau materi yang dibuka nggak cocok kan agak ribet kembali dulu ke home. Terus tampilan materi yang dipilih per-kategori baru bisa kelihatan judulnya pas di sorot. Terakhir, tombol register nggak ada di halaman depan, adanya kalau klik salah satu materi.


Nah, untuk mengakses aplikasi kooliah ini, paling enak kalau pake Asus Zenfone 2 Laser ZE601KL

Sumber : http://www.asus.com/id
Layarnya yang 6 inci, nyaman banget buat baca materi Kooliah. Terus geser kanan-kiri-atas-bawah nggak takut tergores karena dilapisi corning gorilla glass 4. Jaringan 4G LTE, Wi-Fi cepat, dan RAM 3GB nggak bakal bikin kesal karena loading lama. Apalagi udah tersemat fitur Glove touch. Mempelajari materi kooliahnya bisa sambil bersih-bersih rumah, sekalipun pake sarung tangan. Semakin puas juga belajar materi video, karena dia punya dual speaker. Jadi suaranya kencang dan jernih. Apalagi ditunjang daya yang cukup besar.


Oh ya, Kooliah ini bisa juga buat kamu yang pengin bimbingan soal seminar, jurnal dan lainnya lho. Kalau pakai mentor harus bayar, tapi masih terjangkau kok di kantong. Nanti ada di e-mail konfirmasi request.

http://lomba.kooliah.com/

5/09/2017

Teman Ngeteh Yang Manis dan Lembut di Rumah

Dulu, aku sangat menyukai kopi, terutama kopi instan. Ya iyalah, tinggal sobek bungkusnya, masukan dalam gelas, di seduh, diaduk dan jadilah. Udah gitu, harga dan rasanya bervariasi, bisa pilih sendiri. Tapi seiring waktu terus berjalan dan susah tidur di malam hari semakin menjadi-jadi, akhirnya lebih suka teh campur susu dan cokelat panas untuk menghangatkan tubuh saat cuaca sering mendung dan dingin. Atau saat memulai hari dan menutup sore yang indah sembari menikmati pemandangan langit berwarna jingga (dengan catatan kalau nggak turun hujan).

Teh campur susu - Dok. Pribadi
Sama halnya seperti ngopi, ngeteh juga butuh teman. Karena ngopi dan ngeteh itu seperti menjalani kehidupan, kalau sendirian itu kadang nggak enak. Rasanya sedikit hambar dan kurang lengkap kalau tanpa teman. Teman ngetehnya siapa? Nggak perlu yang bisa berbicara, cukup yang manis, lembut dan bisa di makan. Lebih bagus lagi kalau bisa dibuat sendiri di rumah. Supaya terjamin kebersihannya, lebih irit, dan aman untuk dijadikan teman ngeteh. Apa aja? ini dia :

1. Puding dan Agar-agar

Dok. Pribadi
Untuk sebagian orang mungkin ini termasuk aneh dan nggak nyambung ya antara teh sama agar-agar. Tapi buat aku, puding dan agar-agar pas untuk jadi teman ngeteh di rumah. Baik agar-agar biasa, maupun manisan agar-agar. Apalagi kalau puding dan agar-agarnya ditambah jagung manis yang masih muda. Udahlah, terfavorit dan enak banget. Juara. Membuatku nggak bisa berhenti mengunyah. Selain itu, puding dan agar-agar mudah dibuat sendiri di rumah dan nggak pake lama.

2. Pancake

Sumber gambar : Foody.id
Pancake atau panekuk? Aku lebih senang menyebutnya dadar dari tepung terigu sih kalau di rumah. Kelembutan dan rasa manis yang pas, apalagi kalau ditambah topping buah-buahan, es krim, atau madu ... sempurna deh kelezatannya. Cocok banget buat jadi teman ngeteh di rumah. Bahan dan cara membuatnya pun nggak susah kok. Karena baru-baru ini, aku menemukan resep pancake sederhana  yang bahan dan cara pembuatannya lengkap. Bisa kamu coba sendiri di rumah.

3. Lobi-lobi

Dok. Pribadi
Udah pada kenal belum sama lobi-lobi? Lobi-lobi yang aku maksud di sini bukan nama buah ya. Tapi nama camilan manis, terbuat dari ubi rebus yang dicampur dengan tepung kanji terus di goreng hingga kekuningan. Biasanya berisi gula merah dan bentuknya bulat. Kalau yang aku buat sendiri bentuknya lonjong dan isinya cokelat.

4. Aneka kue lainnya

Dok. Pribadi
Brownies, pie, bolu pisang, bolu kukus, roti dan kawan-kawannya udah pastilah cocok buat ngeteh. Tapi karena di rumah nggak ada peralatan untuk membuat kue, dan nggak mau ribet, aku lebih suka beli yang udah jadi, tinggal makan.

Nah, itu teman ngeteh yang manis dan lembut di rumah versi aku, gaes. Kalau kamu, lebih suka ditemani siapa? Ditemani camilan apa ditemani teman hidup, teman ngobrol sampai tua dan menutup mata nanti? Yuk share di kolom komentar.

5/07/2017

Yang Datang dan Pergi Sesuka Hatinya

yang datang dan pergi sesuka hatinya

//Kau datang dan pergi sesuka hatimu
Oh, kejamnya dikau, teganya dikau, padaku// Diana Nasution - Benci Tapi Rindu

Yang masih muda mungkin nggak hapal lagu di atas #mungkin. Tapi bagian liriknya yang itu memang mewakili perasaanku. Eits, jangan geer dulu ya. Aku bukan mau bahas kamu kok! Suer deh! Aku mau bahas tentang dia, eh mereka lebih tepatnya.
Tema LBI pekan kedelapan belas. Yeay, udah pekan kedelapan belas. Pekan depan kalau nggak salah aku libur. Libur tlah tiba, libur tlah tiba, hore ... hore! #upsoot #maaf. Tema pekan ini sepertinya mirip salah satu tema tahun lalu. Iya nggak sih? Boleh menyalin yang tahun lalu aja nggak sih? #mintaditimpukbatu. Oke, sekarang serius. Mari bahas soal koneksi internet di tempat tinggalku.

Aku, lahir, tumbuh dan tinggal di salah satu desa di kecamatan Nagreg, kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat. Tahu Nagreg dong? Iya, boleh kok bilang yang tanjakan sama turunannya banyak. Yang ada sentra Ubi Cilembu sepanjang jalan kenangan. Yang punya terowongan lingkar Nagreg dan aku belum sekalipun foto di sana. Di desaku ini, nggak semua jaringan operator sellular ada #catetya. Siapa tahu nanti kamu tersesat ke sini.

Sejak awal tahun 2014, aku mengandalkan jaringan Telkomsel (kartu As) dan Indosat yang berganti nama jadi Indosat Ooredoo (IM3). Kenapa pilih dua operator ini? Karena Telkomsel jaringannya paling stabil, kadang-kadang suka menghilang sih pas mati listrik. Kadang gangguan, jaringan ada tapi di telpon sedang tidak aktif dan smsnya tertunda sampai berjam-jam bahkan sehari kemudian. Indosat Ooredoo? Dulu ya, waktu aku masih berseragam putih abu-abu, jaringannya paling kuat, lebih kuat dari Telkomsel. Tapi makin ke sini, apalagi setelah ganti nama, justru malah menurun kalau menurut aku ya #cumapendapat. Kalau pas hujan jaringannya timbul tenggelam udah nggak aneh. Tapi kadang-kadang nggak hujan nggak apa jaringannya timbul tenggelam. Terus kalau pemeliharaan sistem suka nggak ada pemberitahuan lewat sms. Tahu-tahu nggak bisa akses internet aja. Tapi ya, nggak cuma di pedesaan aja jaringan internetnya putus nyambung, di rumah kakak ipar, di Cicalengka, dekat ke jalan raya malah lebih ya gitu deh. Di rumahnya yang Karawang juga, lemot. Kemarin di Sentul City, Bogor, juga ya ya ya gitu deh, membuatku kepingin nangis gogoleran di tengah jalan.

Jadi kesimpulannya, operator favorit ya Telkomsel walau mahal, tapi penyelamat saat yang murah nggak bisa dipakai. Kalau operator yang sering dipakai ya Indosat Ooredoo, karena ada paket dengan kuota lumayan tapi harganya cukup murah. Iya, dengan 99.900 aku mendapatkan paket 6,5 GB dengan 2,5 GB nya tengah malem sampai jam 6 pagi #begadangsyalala. Terus, 6,5 GB cukup? Syalalala, nggak sih. Suka nambah 2 sampai 6 GB tergantung kebutuhan akses internet perbulannya. Kalau tiba-tiba nggak bisa akses internet dan butuh banget akses internet, aku beli paket telkomsel yang berlaku tiga hari harganya 17.500 dapat 1GB (500 mb 24 jam dan 500 mb tengah malam) dan ngebut. Pilih mahal atau murah? Ya tergantung kebutuhan lha ya. Kalau yang murah tapi sebenarnya nggak murah-murah amat masih lumayan, ya diberdayakan aja. Operator Tri sih yang sepertinya paling murah. Sayang di sini jaringannya belum sampai. Baru sampai desa sebelah.

Oh ya, aku masih pakai jaringan 2G dan 3G ya, karena belum sanggup ganti hape. Modem sih udah 4G, tapi kartunya belum aku upgrade ke 4G. Lagi pula 4G Indosat Ooredoo di sini belum stabil. Kemarin waktu kakak ipar ke sini, 4G nya masih timbul tenggelam. 

Dan kemarin aku tergiur lho sama tweet tentang XL dan kuota unlimited youtubenya. Jadinya beli lagi XL, tapi pas dicoba di rumah masih timbul tenggelam. Bahkan dicoba ke hape yang dipakai ngeblog dan akses internet ini, jaringannya 2G nggak berubah-berubah. Tapi dibanding akhir tahun 2013 lalu. Jaringannya ada kemajuan. Indikator jaringan di hape naik, biasanya segaris jadi dua, kadang tiga.

Nah, itu ceritaku mengenai mereka yang jaringannya kadang datang dan pergi sesuka hati. Bagus pas nggak dibutuhkan, jelek pas dibutuhkan banget. Siapa tahu kedua operator ini baca ya. Dan memperbaiki kualitas jaringannya dan harganya kalau boleh turunin sedikit #kalauboleh.

Melepas Stres Bersama My Own World 2

 

Pada januari 2016, aku menemukan info giveaway dalam rangka ulang tahun blognya mba Fitrotul Aini plus orangnya (lupa tepatnya info dari mana). Yang pasti aku niat banget untuk ikutan giveaway ini yang via instagram karena hadiahnya My Own World 2 (Buku mewarnai untuk dewasa) sama pensil warnanya #ngilerkan. Yang via blog pengen hadiahnya juga sih, tapi galau mau membuat tulisan seperti apa.


Saking niatnya rela deh ke warnet buat cetak gambar doodle yang harus diwarnainya. Yuhu, karena posisinya printer yang dulu menemani Tugas Akhir sudah rusak dan belum mampu beli yang baru #curhatlagidanlagi. Aku print empat kali, biar kalau gagal mewarnai nggak usah bolak-balik ke warnet yang ongkosnya bisa dipake internetan di sana sampai 4 jam.

Sejak kenal pensil warna dan spidol dibangku sekolah dasar, jelas aku jatuh cinta pada keduanya. Nggak bisa jauh-jauh. Padahal gambar mah ya gitu deh, nggak bakat. Aku memutuskan untuk memadukan keduanya. Dan jadilah mengunggah gambar ini ke instagram.


Ini gambar ketiga. Mama bilang, ini lebih segar dipandang dibandingkan dua gambar sebelumnya. Padahal aku lebih suka yang kedua. Tapi, pilihan mama nggak salah. Gara-gara gambar ini, aku mendapatkan My Own World 2 dan pensil warnanya.


Awal Februari 2016, keduanya mendarat selama di rumah. Dan udah nggak sabar untuk mulai mewarnai. Kalau nggak salah, yang pertama kali aku warnai adalah ini :


Selanjutnya aku mewarnai halaman lainnya secara acak. Kadang nggak langsung selesai di hari yang sama. Malah butuh waktu seminggu bahkan sebulan. Karena aku selalu mulai mewarnai di saat benar-benar jenuh pada gadget, internet dan draft tulisan. Ya, My Own World 2 resmi menjadi salah satu cara pelepas stres sejak awal tahun lalu. Iyalah orang di cover depan aja tertera, "terapi warna anti stres."


Gara-gara punya My Own World 2 juga, aku jadi beli pensil warna ala-ala cat air dan crayon. Padahal pertama kalinya pake crayon itu pas kelas delapan. Mewakili kelas 8B buat lomba menggambar dan mewarnai antar kelas 8. Setelahnya nggak pernah pake lagi. Karena aku mah kalau mewarnai pake crayon, selesainya lama banget.

Yang aku sukai dari My Own World 2 ini udah jelas, pertama covernya, kedua isinya. Selain gambar yang beragam dengan berbagai ukuran, My Own World 2 dilengkapi kutipan-kutipan yang membangkitkan semangat.



Gara-gara My Own World 2 juga, aku jadi kepingin beli seri sebelumnya dan selanjutnya dari Renebook. Udah ada 6 seri kalau gak salah. My Own World (Human & Animal), My Own World 2 (Mandala & Greatings), My Own World 3 (Family Edition), Pattern Illusion World (Pattern & Illusion), Fashion Animals World (Fashion Animal) dan Indonesia Mewarnai. Bahkan ada yang ukuran travel ada juga big coloring poster. Nanti deh nabung dulu dan menyelesaikan semua yang ada di My Own World 2 dulu. 

My Own World dari Renebook ini punya sebuah komunitas, namanya Tabrak Warna. Bahkan ada yang perkota lho. Ceki-ceki aja di instagram, twitter dan facebook. Dan bahagia itu saat salah satu hasil mewarnaiku di repost.


Dalam My Own World 2 ini terdapat satu lembar teori warna dan teknik dasar mewarnai juga lho. Menyenangkan deh isinya My Own World 2 ini. 

5/02/2017

Blogger Pun Bisa Memanfaatkan Co-Working Space


Hallo pekan ke tujuh belas! Nggak terasa ya. Dan setiap pekan, tema yang dilempar, rasanya nggak ada yang mudah buat aku #curcol. Kali ini temanya tentang "Apakah Bloger Perlu Memanfaatkan Co-Working Space?" Coba kamu yang baca tolong bantu jawab prok-prok-prok. Tapi dengan adanya tema ini, jadi tahu deh kalau Co-Working Space di Kota kembang ada banyak selain Bandung Digital Valley. Mungkin suatu hari nanti aku membutuhkannya. Siapa tahu bisa dapat jodoh juga di sana #maafgagalfokus #cumabercanda.

Co-Working Space, pernah mendengar istilah ini? Pernah, dari berita di televisi. Sebuah tempat di mana di dalamnya terdapat berbagai ruangan dengan desain yang berbeda-beda (terkesan homy dan santai), dan bisa digunakan bersama orang-orang dari latar belakang pekerjaan yang berbeda. Bahkan tak saling mengenal satu sama lain. Namun fasilitas yang ada sama lengkapnya dengan fasilitas kantor pada umumnya. Tak hanya untuk bekerja, biasanya Co-Working Space pun bisa digunakan untuk aktivitas meeting, seminar, pertemuan atau sekadar berdiskusi tentang pekerjaan.

Perkembangan Co-Working Space di Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Mengingat bisnis Startup di Indonesia yang semakin banyak bermunculan namun belum memiliki kantor sendiri. Jika pada 2009 belum ada sama sekali, di bulan Februari tahun 2016, Indonesia sudah memiliki 34 Co-Working Space di berbagai daerah. Tapi tantangan membuat Co-Working Space nggak mudah lho, ada yang terpaksa tutup karena Co-Working Spacenya sepi peminat. Kenapa bisa begitu? Karena belum banyak yang paham tentang konsep Co-Working Space dan berpendapat tarifnya mahal.

Nah iya, sebagian besar Co-Working Space memang berbayar. Dari mulai pertiga jam perlima jam, perhari, perminggu, perbulan dan pertahun. Tapi, berdasar pengamatanku dari beberapa artikel yang dibaca, harganya tergolong murah kok. Masuk diakal. Secara fasilitas dan kenyamanan saat bekerja sebanding dengan tarif yang dibayar, termasuk fasilitas internet yang nggak lemot. Tapi beberapa Co-Working Space pun ada yang nggak bayar, gratis-tis-tis.

Dan, yang pertama kali punya ide mendirikan Co-Working Space di Indonesia adalah Yohan Totting (pendiri Hackerspace Bandung tahun 2010 bersama Reza Prabowo). Jadi, Yohan yang bekerja sebagai freelancer, ia bekerja di rumah, di kafe, dan tempat-tempat lainnya. Namun ini dirasa kurang efektif karena banyak gangguan di tempat-tempat tersebut, seperti diminta bantuan oleh keluarga, tidak bisa berlama-lama di kafe, hingga godaan bermain game.

Di kota Bandung sendiri, Co-Working Space semakin banyak lho. Beberapa di antaranya didukung oleh perusahaan dalam negeri. Ada Hackerspace Bandung, Bandung Digital Valley (BDV), Ruangreka, Co & Co Space, Co & Co Workshare, Freenovation, Digital Inovation Lounge (DILo), Work@, dan Eduplex.

Lalu perlukah Blogger memanfaatkannya? Kalau menurut aku sih tergantung kebutuhan masing-masing Blogger. Kalau dirasa perlu tempat kerja yang baru untuk memunculkan ide-ide tulisan yang keren, atau butuh tempat yang nyaman tanpa gangguan seperti yang diutarakan pendiri Hackerspace Bandung ... bekerja di Co-Working Space salah satu solusinya. Selain itu, Blogger bisa memanfaatkan Co-Working Space ini sebagai tempat pertemuan dan diskusi dengan Blogger lainnya. Bisa juga membuka pintu rejeki yang lain, secara yang datang ke Co-Working Space orang-orangnya beragam kan.

Tapi kalau mau hemat, tetap multitasking dengan pekerjaan di rumah, dan cukup merasa nyaman bekerja dari rumah. Ya pilihan ada di masing-masing Bloggernya sendiri. Toh, ada yang tetap bisa produktif malah sangat produktif meskipun gangguan ada di mana-mana. Karena kecanggihan teknologi dan berkembangnya gadget-gadget yang memudahkan mengerjakan pekerjaan di manapun, kapanpun. Tapi nggak ada salahnya juga memanfaatkan kenyamanan dan fasilitas Co-Working Space. Toh bisa disesuaikan dengan kantong dan kebutuhan.

Sumber referensi dan gambar :
1. http://inovasipintar.com
2. http://teknojurnal.com
3. http://qubicle.id