1/29/2018

Pelatihan Jurnalistik Pemula, Relawan TIK

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku naik kereta lokal Bandung Raya pukul setengah lima pagi, dari stasiun Cicalengka menuju stasiun Bandung. Demi apa coba aku bela-belain berangkat subuh ke Bandung? Demi ikut bersama sembilan emak-emak blogger dari KEB Bandung, dalam rangkaian kegiatan pelatihan jurnalistik pemula bagi relawan TIK kota Bandung.

pelatihan jurnalistik pemula relawan tik bandung

Kegiatan ini diadakan oleh diskominfo dan  bertempat di Kampung Sampireun Resort and Spa di tanggal 18 - 19 Desember 2017. Pelatihan ini diikuti oleh siswa-siswi terpilih dari SMAN 10 Bandung, SMK Bahagia dan beberapa bapak-ibu guru dari sekolah tersebut. Dan tahu nggak, ibu-bapak guru dari SMK Bahagia masih pada muda gitu. Bahkan kelihatan seumuran sama siswa-siswinya.

Garut - Senin, 18 Desember 2017,
Setibanya di Kampung Sampireun, sekitar pukul 11.00 WIB, kami disambut bajigur hangat sebagai minuman selamat datang. Istirahat sebentar sebelum akhirnya beralih menuju restoran seruling bambu dalam rangka makan siang dan pembagian kaos RTIK kota Bandung juara untuk dikenakan saat outbound keesokan harinya.


Setelah makan siang, para peserta pelatihan jurnalistik diarahkan menuju ruang pertemuan untuk pembahasan materi seputar jurnalistik. Dibuka dengan sambutan oleh ibu Eli Harliani selaku kabid Diseminasi Informasi, kemudian pembacaan doa dan seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelahnya dilanjutkan dengan pembahasan materi Dasar-dasar jurnalistik oleh bapak Maulana Yudiman selaku praktisi bidang media dan kehumasan.

Bapak Maulana menjelaskan dari yang paling dasar, yaitu memahami terlebih dahulu apa itu profesi. Baru kemudian berlanjut ke profesi jurnalis, etika jurnalistik, kode etik jurnalistik, 9 elemen jurnalisme, perkembangan pers di indonesia, perbedaan perangkat kerja wartawan zaman dulu dan zaman sekarang, kontrol media, membedakan wartawan dan buzzer, sampai ke elemen jurnalisme ke 10.  Kubaru tahu lho kalau di tahun 1955-1965, industri pers di Indonesia dijadikan alat propaganda partai.


Jadi gengs, elemen ke 10 ini merupakan elemen terbaru yang hadir mengikuti perkembangan teknologi informasi, khususnya internet. Di mana warga bisa menyumbangkan pemikiran, opini, berita dan lain sebagainya melalui medianya sendiri. Macem kita menginformasikan lewat blog, citizen journalism, dan lain-lain.

Sesi materi dasar-dasar jurnalistik pun di tutup dengan tanya jawab. Ada emak Efi dan emak Nia dari KEB Bandung juga yang turut bertanya. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah pertanyaan dari bapak Warsidi kurang lebih tentang menghadapi pemberitaan media yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan dan terlanjur ditayangkan di televisi nasional hingga mencoreng nama baik sebuah institusi. Soalnya itu sangat merugikan.


Dan ternyata gengs, di dunia jurnalistik itu ada yang namanya hak jawab. Yang mana kita bisa menyampaikan keberatan terhadap pemberitaan tersebut ke media yang memberitakan bahwasannya pemberitaan tersebut tidak benar, dan kejadian yang terjadi di institusi tersebut tidak terjadi. Lalu, media yang dituju harus menayangkan hak jawab yang kita lakukan, baik cetak maupun televisi. Dan kalau sampai nggak ditayangkan, media tersebut bisa diajukan ke dewan pers. Nah begitu gengs, siapa tahu kan suatu saat institusi atau orang-orang terdekat kamu mengalami kejadian serupa.

Eh ya, masih ada satu lagi pertanyaan menarik lainnya dari ibu Dian tentang bagaimana caranya mengetahui wartawan abal-abal apa bukan. Ternyata caranya sederhana lho gengs. 1. Tanya tanda pengenalnya, 2. Surat tugas, 3. Minta fotonya dan rekam juga. Kalau itu wartawannya abal-abal, mereka pasti nggak akan mau di foto apalagi direkam.

Setelah seluruh pertanyaan terjawab, acara dijeda dulu dengan coffee break, baru kemudian dilanjutkan kembali dengan pembahasan materi tata cara membuat berita/ press release yang baik oleh bapak Ari Syahrial, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung.


Di sini dibahas mengenai perbedaan berita dan rilis. Kalau berita disajikan kepada publik, kalau rilis kepada jurnalis atau media massa. Terus kalau berita diterbitkan oleh lembaga pers, kalau rilis oleh organisasi non pers. Dibahas juga mengenai cara menggali informasi melalui reportase, observasi, wawancara, juga paper trail. Sebelum melakukan wawancara kita harus mengetahui dulu siapa narasumbernya, bagaimana latar belakangnya, orangnya seperti apa, siapkan daftar pertanyaan dan siapkan alat perekamnya. pastikan juga kita menguasainya. Setelahnya dibahas juga mengenai teknik menulis dan editing. Editing pun terbagi dua lho. Editing isi dan editing redaksional.

Sesi kedua ditutup dengan tanya jawab dan latihan menulis pengalaman seru ataupun menarik selama perjalanan dari Bandung menuju Kampung Sampireun, Garut dalam waktu kalau nggak lupa sekitar 3 menitan. Kalau dari KEB ada emak Ima yang membacakan hasil menulisnya, membahas tentang bubur ayam. Yang menarik ada salah satu siswi yang menceritakan kengenesannya bersama teman-teman pada bajigur yang belum sempat mereka minum tapi sudah dibereskan oleh pramusaji.

***
Setelah makan malam, diadakan hiburan di ruang pertemuan. Rencananya sih membuat api unggun, tapi berhubung hujan turun sejak sore hari dilanjut masih gerimis. Jadilah acaranya diadakan di ruang pertemuan. Sebelum acara hiburan dimulai, ibu Eli dan ibu Ahyani bagi-bagi hadiah kepada para peserta. Total ada sepuluh hadiah berupa setrika, kompor gas, dispenser, magic com, blender, dll. Syarat untuk mendapatkan hadiahnya, para peserta harus menjawab pertanyaan seputar materi yang tadi siang dibahas. Dan emak-emak KEB Bandung, emak Widya, emak Risky, emak Astri, dan emak Ayu mendapatkan hadiahnya juga. The power of emak-emak yee nggak.


***
Selasa, 19 Desember 2017
Dimulai dengan sarapan pagi pukul 08.00 WIB, acara dilanjutkan dengan outbound. Pertama-tama para peserta berkumpul di sebuah lapangan terbuka, masih di Kampung Sampireun tentunya. Ada teteh pembaca acara yang memandu agar para peserta yang kurang lebih enam puluh lima orang (yang mengikuti outbound) untuk membuat lingkaran besar dan saling berpegangan tangan. Setelah berdoa, permainan pertama pun dimulai. Permainan pertama, peserta harus berkonsentrasi dan melakukan formasi sesuai petunjuk. Bergerak seperti motor (2 orang), mengayuh becak (3 orang) dan kereta api (10 orang). Ada beberapa yang gagal fokus dan akhirnya menggantikan peran teteh pembaca acara untuk memandu.


Setelahnya, peserta kembali membuat lingkaran besar dan berhitung dari 1-6 secara berulang, hingga terbentuklah 6 kelompok dan emak-emak KEB Bandung pun terpisah. Aku kebetulan di kelompok 2 bersama teh Susanti. Setiap kelompok diharuskan membuat nama kelompok, yel-yel, dan menentukan ketua kelompoknya. Kelompok 2 kalau nggak salah namanya kelompok lifestyle (maafkeun aku gagal fokus). Setelah semua kelompok unjuk yel-yel, permainan dilanjutkan dengan balap sarung. Sarung lho ya bukan karung. Enam orang dari setiap kelompok bermain. 3 orang pertama berada dalam satu sarung. Berlari secepat mungkin menuju tiga orang di seberangnya yang akan kembali ke titik awal. Dan kelompok 2 yang pertama kali sampai.

Lalu dilanjut dengan permainan estafet air, kita nggak boleh liat ke belakang sementara air dalam katel (wajan kecil) harus diteruskan sampai ke anggota kelompok di bagian akhir dan bertugas memasukannya ke dalam ember. Setelah permainan tangkap belut. Aku maju karena kangen. Terakhir main tangkap belut tahun 2012 waktu ospek jurusan di kampus. Seru lha itu nangkep-nangkep belut sampai nggak sadar kerudung ngambay terus keuna ku cipratan air belut, jadilah bau hanyir.


Dari lapangan terbuka, outbond dilanjutkan menuju ke danau. Yuhu, lomba dayung perahu. Lima orang perwakilan setiap kelompok berjuang untuk menjadi yang pertama sampai. Nah, berhubung danau di Kampung Sampireun ini tinggi airnya sekitar 3 meter, maka diwajibkan untuk memakai pelampung, terutama yang nggak bisa berenang. Diiringi alunan musik khas sunda, balapan perahu pun dimulai. Dan dimenangkan oleh kelompok 1.

Dan permainan penutup di outbound hari itu adalah, dua orang perwakilan kelompok berjalan di atas selang yang melewati kolam ikan dan pancuran yang ada di sana. Dan kelompok 2 juara, karena berhasil sampai tepian di seberangnya dengan waktu tempuh yang paling cepat beberapa detik dari kelompok 1.


Sebenarnya ada yang lebih cepat tapi gagal mencapai tepian. Malah ada yang sampai mengerahkan segala kemampuannya demi nggak tigejebur. Iya loh, ada yang sampai kaya atraksi sirkus, satu kakinya diluruskan ke belakang.


Dari semua permainan dalam outbound ini, pelajaran yang bisa dipetik adalah, konsentrasi, sportifitas dan kerjasama tim yang baik. Kalau semuanya diterapkan dengan baik tentu hasilnya pun yang terbaik. Ya nggak. Setelah kegiatan outbound selesai, dilanjut makan siang, penutupan dan pulang lagi ke Bandung. Dan berakhir pula blogpost aku kali ini. Sampai bertemu di blogpost selanjutnya gengs.

1/20/2018

Milo Energy Cube

Pada tahu kan sama susu Milo? Yang warna kemasannya hijau. Yang serbuk susu cokelatnya nggak cuma enak diseduh untuk dijadikan minuman, tapi juga enak buat digodain eh digadoin. Maksudnya dicamil gitu. Kalau aku biasanya sampai tangan dan area bibir belepotan. Ah enak pokoknya itu Milo. Mau diseduh atau nggak, pokoknya tetep enak.

Nah, nah, ngomong-ngomong soal susu Milo, udah pada tahu belum kalau Milo udah mengeluarkan produk yang namanya Milo Energy Cube? Milonya bukan berwujud serbuk tapi berbentuk kubus (seperti namanya) dan padat. Agak keras kalau digigit langsung. Maka dari itu aku mah diemut dulu bentar. #karenakusayanggigiku. Giliran udah bolong, banyak karang gigi lagi setelah dibersihkan karena gosok giginya males-malesan dan yang keropos terpaksa dicabut aja baru bilang sayang kamu mah.


Yang mana sekarang udah ada kemasan hematnya. Beratnya 10 gram aja. Bisa banget dimasukin ke saku celana. Dan jadi bisa dinikmati tanpa belepotan di manapun dan kapanpun.


Satu kemasan Milo Energy Cube ini, berisi 4 buah Milo berbentuk kubus. Bisa dinikmati secara langsung dan bisa juga diseduh. Dua kemudahan dalam satu ya. Kalau mau diminum ya diseduh, kalau mau dikunyah langsung atau diemut kayak permen pun nggak masalah.

Kalau diseduh, setidaknya memerlukan minimal 2 kubus Milo Energy Cube (untuk yang nggak manis) untuk satu cangkir kecil. Kalau pengin manis ya masukan 4 kubus Milo Energy Cube alias satu kemasan sekaligus.


Soal rasa? Nggak udah ditanya dan diragukan lagi karena rasanya tetep enak, sama kayak Milo bubuk. Dan kumendapatkan Milo Energy Cube ini dari Lifull Produk. Jadi jangan tanya beli di mana ya. Aku lihat di toko online sih ada yang jual tapi masih kemasan besar kayak kalau kita beli permen. Sementara yang kemasan ini kulihat produksinya produksi Nestle Nigeria.

1/18/2018

Dari Danur, Shutter, Laddaland, Rumah Kucing Sampai IT Semuanya Horror

Jadi sepanjang november sampai awal bulan ini aku nonton berbagai genre film dan juga drama. Termasuk yang horror. Terus efeknya apa coba? Efeknya suka parno gitu lah kalau ada suara benda jatuh dan pas lampu-lampu di dapur dimatikan. Pas mau pipis ke kamar mandi jadinya pake senter hape dan lari-lari kecil. Kadang membayangkan yang aneh-aneh juga, kayak kalau dari kolong kasur .... udah ah sekip.

Danur (2017)
Yang nyeremin dari Danur apa coba? Menurut aku sih tatapannya mba Asih. Sama pas hantu bule kecil teriak. Terus waktu Prilly (Risa) mau menyelamatkan adiknya di bathup. Dan aku juga jadi parno sama lagu yang dinyanyikan Risa. Padahal itu salah satu lagu favorit sejak dikasih tahu sama ibuk. Takut aja tiba-tiba ada yang muncul dan bilang ciluk baaa.


Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka
Teu kinten saena sareng lucuna.
Ku abdi di acukan, acukna sae pisan.
Cik mangga tinggali boneka abdi.

Shutter (2004)
Udah tahu takut kalau nonton horror Thailand itu, ya tapi masih aja ditonton. Sama kan kayak tokoh-tokoh di filmnya. Udah tahu takut ada penampakan tapi ya nekad didekati. Horror Thailand yang ini tuh, ya make upnya serem, ya ditambah suara shutter kamera sama blitz kamera dan tentunya penampakan di foto. Udahlah jadi perpaduan yang ngeri buat aku. 

Sepasang kekasih, Tun dan Jane pulang dari pesta pernikahan salah satu teman Tun dalam keadaan mabuk. Mobil mereka nabrak seorang wanita sebelum akhirnya nabrang tiang tapi bukan tiang listrik lho ya. Jane yang ada dibalik kemudi panik, dia mau melihat perempuan yang ditabrak tadi dan tergeletak beberapa meter di depan mobil mereka. Setelah posisi mobilnya jadi balik lagi di aspal dan lurus sama posisi perempuan itu. Tapi Tun malah ngelarang dan menyarankan buat kabur aja.


Eh setelah mereka jadi dihantui gitu, terutama Jane. Lewat mimpinya. Terus Tun jadi sakit di bagian pundak dan penglihatannya kadang jadi mengabur gitu. Dia juga diganggu pas dia lagi motoin wisudawan dan wisudawati. Semua wajah bahagia yang lagi di wisuda tertutupi cahaya putih pas fotonya di cetak. Balada jaman masih pake klise ya gitu pan. Nggak tahu itu foto bagus apa nggak kecuali setelah dicetak. Tapi yang jadi masalah tuh, Tun kan seorang fotografer, dia harus setor foto pesenan orang yang di wisuda. Belum lagi ketiga temannya tewas bunuh diri.

Jane yang percaya semua kejadian aneh yang menimpa mereka pun mencoba mencari tahu dan ketemulah dia dengan foto Natre (mahasiswi penerima penghargaan tahun 1995) di Lab yang ada di kampusnya. Jane pun nanya ke Tun soal Natre dan Tun menceritakan masa lalunya bersama Natre (mantannya yang ternyata nggak dicintainya padahal Natre cinta mati). Tapi Tun belum menceritakan secara lengkap. Baru diceritakan yang lengkap setelah Jane nemu klise yang dicetak dan munculah gambar Natre yang teraniyaya. Dan asli kuingin nabok Tun, dkk. Tun hampir mati dua kali karena jatuh dari gedung, tapi ya itu nggak mati. Mending mati sih daripada jadi gila dan Natre tetep nangkring dipundaknya.

Laddaland (2011)
Thee, seorang suami sekaligus bapak dua orang anak yang selalu diremehkan ibu mertuanya. Akhirnya memboyong istri (Parn) dan kedua anaknya Nan (Pun pun Sutatta) dan Nat untuk menempati rumah baru yang dikredit di Chiangmai. Mereka pindah dari Bangkok ke Chiangmai. Rumah yang berada di perumahan kelas menengah Laddaland.

Dan awalnya Thee adalah sosok ayah yang menyenangkan. Tapi makin ke sini berubah menjadi ayah yang menyebalkan. Ayah macem apa coba yang karena nggak percaya soal penampakan di rumah majikan pembantu asal Burma (Myanmar) yang tewas di bunuh, sampai nyeret anaknya masuk ke sana dan kemudian terluka. Yang nggak mau dengerin Parn buat pindah lagi ke Bangkok karena situasi di lingkungan tempat tinggal mereka makin aneh, makin angker. Belum lagi dengan teganya ngegencet kucing hitam punya tetangganya yang kebetulan maling makanan di rumahnya. Plis itu kucing mirip banget sama Buciku yang hilang *cry. Terakhir, bukannya berusaha bawa anaknya ke rumah sakit kek pas dia gak sengaja nembak, eh malah dia bunuh diri.


Yang serem apa sih di film ini? Hantu pembantu Burma yang gentayangan dan bikin rang-orang teriak-teriak nggak waras. AC yang pake sensor mata, kucing diberi kalung dengan kamera rahasia. Terus tetangga mereka yang suaminya tukang KDRT ditambah ibunya yang duduk di kursi roda megang lonceng, mukanya kayak banyak bekas jahitan. Yang kemudian mereka sekeluarga tewas mengenaskan di bunuh pak-bapak tukang KDRT itu, dianya juga akhirnya bunuh diri sih. Jadi sekeluarga mati semua deh. Dan hantunya ngeganggu keluarga Thee, terutama Nat yang diajak main terus sama itu anak tetangga yang mukanya hancur banget.


Yang nggak kumengerti dari film ini adalah, hanya karena satu orang tewas terbunuh, besoknya perumahan Laddaland langsung sepi tanpa aktivitas olahraga dan lainnya di pagi hari. Terus kenapa itu hantu pembantu Burma ngegentayangin banyak orang. Ini film horror lebih banyak dramanya sih.

Rumah Kucing 12.06 (2017)
Serupa kayak Thee di Laddaland, Adi Nugroho (Randy) di film ini pun adalah seorang bapak yang nggak percaya soal kejadian gaib yang menimpa putrinya yang bernama Rasti. Rasti ini suka dibully sama tiga cewek di sekolahnya. Masayu (Rosa) dan kakaknya Rasti (Radit) udah berusaha meyakinkan tapi tetep aja itu bapaknya nggak percaya. Bahkan nggak memperbolehkan Kyai Rahman untuk menyelesaikan masalah yang dialami Rasti.


Yang serem dari film ini, make up hantu cukup serem. Kucing yang tiba-tiba muncul dan dirawat Rasti beserta adiknya. Kemudian pak tua yang muncul beberapa kali, ngasih tahu Rosa supaya berhati-hati. Terus, pasungan.

Yang kutak mengerti dari film ini adalah, kilasbalik masalalu yang terlihat oleh kyai Rahman kurang lengkap. Bapaknya hantu yang masung anaknya hanya karena dikeluarkan dari sekolah. Ya, dia yang dibully, dia yang dikeluarkan dari sekolah. Terus kenapa itu hantu pengin banget masung Rosa dan ngebunuh dia pun rasanya aku jadi menebak-nebak gitu.

IT (2017)Dari dulu aku kurang suka sama badut yang kostumnya bukan tokoh kartun. Eh di film ini malah ketemu Pennywise. Pennywise aja udah ngeri lho buat aku, ditambah dia tetiba muncul di saluran air. Dengan latar tahun 1988 sampai 1989 ditambah kehadiran gudang di rumah Billy, saluran air, tangan georgie yang digigit Pennywise sampai putus, rumah tua, sumur, penampil gambar, tukang bully yang pake kekerasan dan musiknya, IT sukses membuat aku merinding. Tapi betah liatin Billy (Jaeden) yang ganteng nyahaha.


Kutak mengira Billy yang kalau ngomong suka gagap akan berani mengambil resiko buat mencari tahu keberadaan adiknya  (Georgie) yang udah menghilang selama setahun. Dia dan Beverly (mantan pacarnya) setuju kalau kejahatan Pennywise harus dihentikan karena dia muncul setiap 27 tahun sekali, mereka harus melawan rasa takut dan terus bersama-sama supaya Pennywise nggak berani nyulik mereka.

Nah, itulah beberapa film horror yang kutonton di HOOQ dan VIU. Besok-besok kumau bahas film dan drama komedi romantis yang bikin ngikik sampe sakit perut.

*semua gambar merupakan hasil tangakapan layar pribadi.

1/15/2018

Spaghetti Instant La Pasta Rasa Bolognese Keju


Kalau ditanya kapan terakhir icip spaghetti itu kayaknya udah lama banget. Itupun spaghetti yang dari restoran cepat saji. Tapi kalau spaghetti instant sih tahun lalu dengan la pasta yang sama. Da aku mah apa atuh da doyannya mie rebus yang mana kuahnya suka dibanyakin ditambahin irisan cabe rawit tambah telur rebus. Jadi kurang tertarik buat beli spaghetti. Termasuk yang instant. Ini aja dari hampers lomba blog pop ice tahun lalu. Kebetulan masih sisa satu dan alhamdulillah belum kadaluwarsa. #lupanyimpen. Udah lama mau menceritakannya di blog, tapi lupa foto-fotonya di mana. Pas masih pake hape yang sebelum ini soalnya. Jadilah jepret-jepret lagi dan makan lagi. Bagian pentingnya adalah makan lagi. Merasakannya lagi.


Berat kemasan karton la pasta rasa bolognese keju ini 59 gram. Di dalamnya terdapat spaghetti yang panjangnya sama kayak mie instant. Agak sedikit pipih. Kemudian ada bumbu bolognese keju, minyak, bawang kering dan sayuran kering. Cara membuatnya pun mudah. Ada tata caranya di belakang kemasan karton ini. Dan la pasta menawarkan membuat spaghetti dalam 4 menit. Yeay, 4 menit kubisa membuat spaghetti sendiri. 


Rebus spaghetti, sayuran kering dan minyak ke dalam panci dengan air mendidih selama 4 menit. Aduk sesekali. Kemudian tiriskan, setelahnya pindahkan ke dalam piring, tambahkan bumbu, aduk sampai rata dan terakhir taburkan bawang keringnya. Dan siap untuk di santap.


Sekedar informasi, warnanya nggak sengejreng ini kok. Ini efek kamera aja sih. Udah cekrek berapa kali pun hasilnya tetep ngejreng #maafkanlah. Aroma kejunya enak lho, menggoda gitu, pas ngambil gambar pun aku nggak tahan pengin cepet nyobain lagi. Soal rasa. Cukup enak sebagai spaghetti instant. Teksturnya kenyal, nggak lembek. Rasa kejunya terasa pas, dan nggak menyisakan rasa aneh di lidah maupun tenggorokan. Tapi kalau disediakan potongan daging kayak digambar pasti lebih enak lagi deh. Nyahaha #maunya.

1/12/2018

50 : 50 Nggak Bisa Mengendarai Sepeda Motor


Jangankan sepeda motor, sepeda aja eneng mah nggak bisa bang. Lari kepojokan lalu tutupin muka pake kresek. Padahal enaknya kalau bisa gowes sepeda itu. Sehat dan nggak bikin polusi. Dan nggak bisa naik sepeda karena pas kecil anaknya lemah banget (iya da sekarang ge masih lemah), gampang nangis, gampang tersinggung dan gampang kapok. Trauma aja gitu, takut ngungseb lagi ke kebun punya orang lain yang mana cukup jero. Dan begitu mau belajar dua tahunan lalu, sepedanya udah dijual. Ya udah, ya udah.


Lalu hubungannya sama nggak bisa mengendarai sepeda motor apaan? Katanya kalau nggak bisa gowes sepeda, susah buat belajar motornya. Faktanya? Nggak begitu kok, temen sekolah aja dulu banyak yang nggak bisa sepedaan tapi lancar aja belajar mengendarai sepeda motor. Jadi, gimana niat dan semangatnya aja itu mah da. Ya emang sih kalau buat aku mah agak susah gitu karena susah jaga keseimbangannya. Sampai kakinya Aa jadi korban, kena knalpot. *maapkeun adikmu ini. Eh itu mah karena disuruh ngerem malah ngegas ketang wkwkwk.

Jadi di 50 : 50 kali ini aku mau bahas enak nggak enaknya, nggak bisa mengendarai sepeda motor. Beberapa tahun ke belakang mah sebenarnya udah bisa tuh ngatur gas, rem, maju seenggaknya bisa seimbang sampai jarak 1-3 meter langsung turunin kaki lagi (belajarnya pake motor matic). Sekarang? Bisanya ngestater doang *lawak.

Jadi enak dan nggak enaknya itu apa aja? Ini dia nih :

1. Nggak usah cape-cape mengendarai motornya. Cuma jadi penumpang dan bisa sambil nundutan asal nggak kebablasan nundutannya bisi tijungkir kanu aspal
Enak banget dong, nggak usah cape-cape mengendari motornya, mata harus fokus sepanjang perjalanan. Terus liatin spion, terus ngatur lampu sein kalau mau belok. Waspada jalan berlubang. Belum lagi nyalip-nyalip di antara berbagai jenis kendaraan bermotor. Paling ngeri kalau udah deket sama mobil tangki bbm, bus dan kontainer lah. Tuh kumaha atuh da aku mah, boro-boro mengendarai, jadi penumpang aja suka deg-degan. Komo kalau lagi nyalip eh sebelahnya ternyata ada mantan.

Selain nggak cape, aku juga bisa sambil curi-curi tidur gitu lah. Istirahatin mata kan lumayan. Walau kadang suka reuwas pas tidurnya agak bablas. Untung henteu tijengkang komo tikusruk mah.

2. Harus biasa dengan rasa deg-degan, geregetan dan kzl sebagai penumpang
Ini nggak enaknya. Beda orang, beda cara mengendarai sepeda motornya. Kayak Aa aku tuh, suka ngebut, terus di miring-miringin pas belokan (tukang nonton Moto GP sih atuh da), pernah juga tuh salah liat petunjuk lampu merah, hampir ketubruk mobil. Dan saat itu aku cuma bisa pegangan kenceng , doa dan merem. Deg-degan parah. 


Kalau yang geregetan dan bikin kzl apa coba. Itu kalau mang ojek pangkalan bawa motor sambil ngerokok. Duh asapnya euy bikin lieur. Terus kalau lagi buru-buru eh bawa motornya malah santai kayak di pantai. Santai kelewatan, masa waktu tempuhnya hampir sama kayak jalan kaki. Akhirnya kalau diburu waktu suka telat.

Kadang juga ada yang ngebut sampe pas tanjakan langsung belok kanan dan eneng geubis tinu motor (pas masih sekolah sih, rok rada dadas, untung henteu soek ge). Dan untungnya lagi pas jalanan sepi. Da lamun geubis teh lebih nyakitin malunya daripada nyerina

3. Nggak tahu lokasi yang dituju pun nggak masalah.
Nah ini penting banget. Nggak cuma ojek online aja yang bisa. Ojek pangkalan di daerah tertentu pun bisa lho. Sebutin aja nama jalan atau nama kampungnya, mang-mang ojek siap mengantar. Aku udah sering banget begini. Kayak waktu di Plered, Purwakarta buat menghadiri pernikahan teman. Yang mana aku belum pernah main ke rumahnya. Aku serahkan seluruhnya sama mang ojek. Dan sampai di tempat yang dituju.

Pun waktu kemarin di Garut, di mana, aku lupa-lupa inget itu rumah temen yang menikah. Cuma inget kalau sebelum ke rumahnya itu melewati kolam pemandian, tinggal sebut aja nama kampungnya dan voila, sampai dengan selamat. Coba kalau mengendarai motor sendiri, pasti banyak berhenti tanya sana-sini dan nggak ada jaminan nggak tersesat.

4. Agak berat di ongkos tapi berbagi rejeki juga sama mang ojek.
Ini sebenarnya solusinya gampang. Kalau nggak mau berat diongkos ya kamu jalan kaki Galing. Lebih sehat juga lho. Paling nanti ditanyain sama yang kenal kalau kebetulan mereka melihat.

"Naha papah, teu aya ojegna?""Naha papah, teu gaduh ongkos? Ongkosna seep?" Dan blablablabla.


Bisa mengendarai dan punya sepeda motor sendiri emang jauh lebih irit dan waktu tempuh bisa disesuaikan sendiri. Mau cepet atau mau lalaunan. Nah aku pan kalau naik ojek dari rumah tuh, sekali naik, tinggal nambahin 3.000 udah bisa beli pertalite seliter. Seliter bisa dipake puluhan km pan. Ya tapi sebenarnya nggak mahal juga sih. Mengingat mang ojek juga harus merawat motornya dan ada lebihnya buat dibawa pulang.

5. Dapat tumpangan gratis tapi di sisi lain nggak enak karena nggak bisa gantian mengendarai motornya
Kalau yang punya pacar mah udah pasti geratis ya. Kalau yang jomblo dan masih single mah dapet tumpangan gratis dari temen aja udah bahagia banget. Padahal kadang jarak tempuhnya jauh lho. Dari Sarijadi ke Stasiun Bandung udah gitu macet, dari Nagreg ke Garut udah gitu macet ditambah gerimis, atau dari Garut kota ke Bayongbong. Habisnya mau dijejel-jejel kanu saku atau tasnya juga buat bensin suka dibalikin lagi.

Ngomong-ngomong, aku jadi inget sama seorang bapak baik hati yang nganterin dari Sentul City sampai ke Ciawi malem-malem, nggak mau dikasih buat bensin awal tahun kemarin. Baik banget bapaknya.

Nah, aku suka nggak enak banget itu kalau dapet tumpangan gratis, apalagi jaraknya jauh. Apalagi kalau yang mengendarai sepeda motornya sama-sama perempuan. Kalau aku bisa mengendarai motor juga kan bisa gantian.

6. Punya alasan buat nggak datang ke acara reuni atau kumpul-kumpul.
Pada dasarnya aku emang suka males aja keluar rumah, apalagi di musim-musim mudik lebaran atau liburan panjang. Selain nggak punya lembaran rupiah, dan udah ada acara lain. Macet, angkutan umum penuh dan ongkosnya bisa dua kali lipat lah yang bikin aku males berangkat.

Nah, kalau bisa mengendarai sepeda motor, walaupun nggak punya motornya, kan logikanya masih bisa sewa punya orang lain. Kalau nggak bisa kan, bisa bilang begini :

"Wah, nggak ada yang bisa ditebengin ya? Ya udah deh aku nggak ikut. Soalnya nggak ada motor dan nggak bisa juga make motor *emot senyum."

Padahal mah : "Alhamdulillah nggak ada yang bisa ditebengin. Aku jadi nggak harus ikut pergi. Mau bobo lagi aja ah."

"Wah, bukber ya. Kayaknya aku nggak bisa ikut deh. Secara udah H-2 lebaran. Macetnya nggak nahan. Tahu sendiri aku nggak bisa bawa motor. Hehe."

Padahal :
"Maaf ya, aku males ikutan. Soalnya tahu sendiri kan dari Nagreg ke Garut itu kalau H-2 lebaran tuh kayak gimana dan sebaliknya pun kayak gimana. Aku males harus seharian di jalan pulang! Berdiri di bus. Selain itu aku juga males ketemu si A B C jadilah kecap."

Ya intinya seimbang sih ya. Ada enak dan nggak enaknya, nggak bisa mengendarai sepeda motor. Tapi sebenarnya kujuga ingin belajar lagi naik sepeda motor. Cuma yang ngajarinnya nggak ada dan motornya pun nggak ada. Sewa motor orang lain buat belajar? Hmm. Nggak enaklah kalau nanti aku jatuh terus motornya dadas pan kedah ngagentosan.

Ngomong-ngomong, ada yang sama kayak aku juga nggak? Nggak bisa mengendari sepeda motornya, maksudnya.