Tidak Hanya Satu, Tapi Banyak Rasa

Entah kenapa beberapa bulan eh kurang lebih setahun belakangan ini aku jadi kecanduan film-film asal negeri gajah putih alias Thailand lagi. Sebelas dua belas waktu seperti saat  aku pertama kali kenal film Thailand gara-gara Crazy Little Thing Called Love, Suckseed dan ATM Rak Error yang kemudian membawaku semakin jauh mencari tentang film-film Thailand. Terutama yang diperankan babang tamvan idolaku (Mario Maurer).



Tapi, kali ini, ku enggak hanya merekomendasikan film Thailand aja kok. Iya, serius, akan kurekomendasikan juga film dalam negeri dan juga film Korea tapi yang tergolong udah lama. Cuma akunya aja sih yang baru menontonnya. Dan yang pasti, kalau kamu pengin menonton atau menyaksikannya juga. Kamu bisa menyaksikannya secara legal melalui aplikasi HOOQ dan VIU. Ngomong-ngomong, ini bukan lagi promosi lho ya!

Bad Genius (2017)
Mungkin ada yang udah nonton Bad Genius juga? Asli aku kagum banget sama film ini. Dari mulai tema, alur, setting, backsound dan juga jajaran pemainnya yang apik. Ya gimana, aku ikut deg-degan parah, kesal, kecewa, tepok jidat, dan senyam-senyum juga sih sedikit saat menyaksikan perilakunya Lynn (Aokbab). Film ini mewakili banget kisah contek-mencontek dalam ujian. Bedanya ini mencontek kelas atas, jaringannya luas, resikonya sangat tinggi ya macam listrik gitu lha. Padahal mulanya karena Lynn yang jenius secara tulus pengin membantu "sahabat," di sekolah barunya supaya mencapai nilai yang diinginkan. Eh malah berkelanjutan dan membuat Lynn terperangkap menyalahgunakan kejeniusannya, pakai ngajak-ngajak Bank (saingan jenius Lynn di sekolah, yang anaknya polos mulanya) pula.


Aku merekomendasikan ini karena kamu bisa merasakan banyak rasa, enggak hanya satu rasa aja. Iya, aku sampai mulas menyaksikan film ini, saking deg-degannya terbawa suasana yang di bangun Lynn, Bank (Nonkul), dan pemeran lainnya. Sampai ku komat-kamit berharap Lynn sama Bank enggak kenapa-napa. Dan juga banyak hikmah eh pembelajaran yang bisa dipetik dari Bad Genius ini.

Silenced (2011)
Aku nonton ini bukan karena diperankan oleh Gong Yoo lho ya. Aku nonton ini karena poster filmnya cukup membuatku penasaran dan tentu saja judulnya pun begitu. Dan ku enggak menyesal telah menonton film ini. Di mana anak-anak penyandang disabilitas enggak berdaya ketika mereka mengalami pelecehan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi mereka. Nah, semua terkuak ketika pak Guru Kang In-ho (Gong Yoo) datang, lalu mengajar di sana. Menarik sih ya, mau ngajar aja kudu bayar, mahal pula.


Ku merekomendasikan Silenced ini karena cukup mewakili gambaran orang-orang terutama anak-anak yang menjadi korban pelecehan tapi dipaksa untuk tutup mulut karena diancam akan dibunuh. Dari sini bisa belajar untuk sesulit apa pun dalam mendapatkan keadilan, ya harus tetap diperjuangkan.

Ananta (2018)
Aku belum baca novelnya, tapi biasanya kalau filmnya berhasil membuatku suka, novelnya pun biasanya begitu. Awal menonton ini ku enggak berekspektasi apa-apa. Maafkan aku, aku menyesal. Eh pas udah nonton dong, banjir air mata sekaligus ketawa-tiwi akunya. Ku terlarut dalam kisahnya Ananta Prahadi dan Tania. Gimana sabarnya Ananta (Anta) menghadapi teh Tantan yang susah lulus SMA karena suka melawan guru dan lebih senang menggambar, melukis saat jam pelajaran. Dan makanan favoritnya kerak nasi. Ku sampai enggak terima lho sama endingnya. Pokoknya kalau weekend ini bingung mau ngapain, dan turun hujan. Sebaiknya nonton Ananta aja.


A Gift (2016)
Kembali ke film Thailand. Dalam sebuah film Thailand, ada beberapa cerita dalam satu film itu udah enggak aneh. Termasuk A Gift ini, tapi walaupun ada beberapa cerita, pasti ada salah satu tokoh yang terhubung dari cerita satu ke cerita berikutnya sampai ke yang ketiga. Film ini mengeksplorasi tema musik sebagai hadiah dan juga memberi penghormatan kepada komposisi musik Raja Bhumibol Adulyadej. Musiknya hadeuh aku suka ketiganya. Apalagi yang di cerita ke satu dan cerita ketiga.


Nonton film ini pun rasanya jadi nostalgia sama pemain Hello Stranger, One Day dan Heart Attack. Dan bersiaplah banjir air mata di cerita atau musik yang kedua.

One Day (2016)
Suka yang romantis tapi mengiris-ngiris hati dan menguras air mata? Coba tonton yang satu ini. Dijamin bisa membuat nyeredet hate kalau bahasa Sundanya mah. Kepolosan sekaligus kesalahpahamannya Denchai dalam mencintai Nui yang semacam memberi secercah harapan untuk dia jatuh cinta itu membuat gemas sekaligus pengin puk-pukin Denchai. Namun di sisi lain salut juga sama kesungguhannya Denchai. Ampun deh, ku awalnya enggak menduga kalau Denchai ini Ter Chantavit. Pangling pisan.


Ket : Gambar pendukung dari hasil tangkapan layar di HOOQ dan VIU

GE MAULANI

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

2 comments:

  1. Pernah nonton as always thriller korea silence, gregetan ma tokoh kepala sekolah yg ternyata kembar, perannya cabul gitu huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya ampun ku emosi sama pak bapak kembar ini. Ga punya hati hiks.

      Delete

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)