Tawa dan Air Mata Mengiringi Masa Kecilku

Ketika membuka album-album lama, maka di sanalah aku, berjibaku dengan lembaran foto masa kecilku. Foto-foto yang kulihat sembari tersenyum. Namun, belakangan aku menyadari bahwa masa kecilku dulu enggak hanya diiringi oleh tawa saja, melainkan diiringi pula oleh air mata. Untungnya sih waktu itu masih kecil, jadi enggak banyak sadar kalau hidupku ternyata menyakitkan. Anak kecil apa-apa kan dibawa enjoy aja. Ya enggak?


Mainan yang terbatas, tapi begitu punya mainan malah dirusak orang
Aku masih ingat bagaimana aku dan kakak memiliki mainan yang terbatas sementara saudara sepupu bergelimangan mainan bagus dan mahal tentunya. Sekarang aku sadar, kenapa aku enggak begitu akrab dan suka berkumpul dengan mereka. Karena keluarga kami berbeda. Mereka orang berada. Tapi kadang dengan mudahnya merusak mainanku. Sebut saja wajan kecil yang dibelikan oleh nenek dari mama. Salah satu kakak sepupu membuatnya berlubang karena dipukul-pukul menggunakan bambu dan batu bata.

Dihukum bapak gara-gara rebutan mobil-mobilan
Serius, dulu aku suka ingin punya mainan yang dipunyai oleh kakak. Padahal aku perempuan, kakak laki-laki. Nah, saat itu, kakak punya mobil truk-trukan yang terbuatnya dari kayu gitu. Tapi sama persis jadi semacam replika mobil truk asli. Waktu kakak sedang main angkut-angkut pasir ceritanya, aku ingin mencoba juga. Tapi enggak boleh. Akhirnya kita rebutan, saling tarik menarik. Kemudian aku menangis. Lha iya aku kan anaknya sedikit-sedikit mewek. Dan kami punya bapak yang bisa dibilang gampang emosi dan marah. Lalu berakhir lah kami dengan diikat di pohon cengkih depan rumah semalaman, sebagai hukuman. Dan cerita ini membawaku memenangkan buku pada salah satu giveaway blogger buku.

Trauma belajar sepeda
Jadi, karena ekonomi keluarga kami yang sangat sederhana. Kami enggak dibelikan sepeda kecil beroda tiga. Adanya sepeda besar bekas mama dan kakak pun belajar memakai itu. Sayangnya saat aku belajar sepeda itu hanya didampingi kakak yang sama-sama masih bocah ingusan. Nah, ceritanya kami papasan dengan sebuah mobil di jalan. Saat berhenti dipinggir, kakak entah melihat apa jadi melepaskan pegangannya pada sepeda yang kutumpangi. Terjungkir lha sepeda bersamaku dan disusul kakak yang berusaha menyelamatkan tapi terlambat, ke kebun orang lain. Walau kebun tapi dari jalan raya cukup tinggi dan banyak tanaman liarnya. Dari situ aku trauma, enggak mau belajar sepeda lagi. Soalnya badan baret dan sakit semua. Sampai sekarang pun enggak bisa naik sepeda.

Trauma belajar mengaji di masjid
Bisa dibilang aku anaknya mudah trauma saat masih kecil. Dulu, saat masih semangat-semangatnya belajar mengaji di masjid. Walaupun baru Iqro sih. Dan suka bercandaan gitu kan sebelum guru mengajinya datang, malah ada yang suka usil juga sama orang lain. Sore itu aku kena usil. Kalau kakakku sih jangan ditanya lagi. Udah sering tuh hilang sandal sebelah karena disembunyikan. Aku didorong keluar sampai mengenai pagar kawat. Dan sejak saat itu enggak mau belajar mengaji lagi di masjid.

Pernah pipis dicelana saat kelas 1
Ini sih bisa dibilang aib, dan juga awkward moment sekali. Saat jam pulang tiba, aku sedang menahan pipis. Karena zaman dulu toilet di sekolah itu selain bau, hawa-hawanya juga menyeramkan gitu lha. Aku kan dulu penakut banget. Nah, sebelum pulang, biasanya berbaris dulu di sebelah bangku. Yang barisannya paling rapi pulang duluan. Aku kebagiannya lama, akhirnya pipis di celana dong.

Suka pulang ke rumah di jam istirahat sekolah demi Teletubbies
Karena jarak antara sekolah ke rumah itu cuma beberapa meter saja, jadilah aku sering pulang saat jam istirahat. Demi menonton tayangan teletubbies yang waktu itu jam tayangnya sekitar jam sepuluh pagian. Sampai pernah nekad menyolokkan kabel tv sendirian, dan sedikit kesetrum karena salah pegangnya.

Sering dibacakan cerita sebelum tidur
Bisa dibilang ini salah satu momen yang membahagiakan dalam hidupku. Mama selalu membacakan cerita sebelum kami tidur. Dari mulai cerita cacing Uli dan Aska. Kemudian cerita kakak adik yang kakaknya dimakan ular tapi akhirnya bisa selamat. Dan cerita-cerita lainnya yang membuatku bahagia sebelum pergi tidur. Dan inilah awal dari kesukaanku pada membaca buku. Walaupun bacaannya novel cinta-cintaan. Muehehe

Sering dipaksa potong rambut pendek sama mama
Padahal waktu sekolah aku inginya punya rambut panjang terus diikat lucu macam teman-teman di sekolah. Sayangnya mama enggak punya cukup waktu untuk mengikat rambutku yang kalau dipanjangkan itu mengembang macam permen kapas. Susah disisir juga, akhirnya mama sering memaksaku untuk potong rambut pendek. Sampai aku nangis-nangis enggak rela.


Kehilangan binder kesayangan yang belinya harus nabung dulu
Kehilangan benda yang belinya penuh perjuangan karena harus nabung dulu, ditambah ada beberapa foto masa kecil di dalamnya cukup membuat aku sakit hati, terluka begitu parah. Pasalnya hilangnya dicuri oleh adik sepupu yang enggak mengakuinya. Padahal barang bukti (isi binder yang ada biodatanya) dibagi-bagikan ke teman-teman sekelasnya dan ada yang lapor ke aku. Dari situ, aku semakin menutup diri dan pikir-pikir lagi untuk mengajak seseorang bermain di area kamar tidur. Takut ada yang hilang lagi. Soalnya dulu aku menempati kamar yang enggak ada pintunya. Jadi orang bisa bebas masuk. Dan sehari sebelum insiden itu, aku emang main sama dia di kamar, tuker-tukeran binder. Dan ternyata paginya, saat aku udah di sekolah. Dia datang, bilang sama kakek ada barangnya yang tertinggal kemarin. 

Punya koleksi tazos pokemon dan kelereng setoples
Waktu kecil, aku senang setiap mama pergi ke kantor dinas Nagreg atau ke Cicalengka. Karena pulangnya bisa pesan es krim, susu kotak dan juga chiki balls yang berhadiah tazos pokemon. Sampai koleksi kami setoples, walau suka kzl karena ash mulu yang didapatkan. Sementara pikachunya susah. Selain itu, aku dan kakak juga punya koleksi kelereng setoples. Namun akhirnya kedua benda tersebut disumbangkan mama ke anak dari saudara jauhnya.

Ikut-ikutan beli mainan yang sama seperti punya kakak
Aku udah bilang kan, kalau dulu sukanya mainan yang dipunyai oleh kakak. Jadi, dalam hal mainan, ku suka ikut-ikutan ingin membeli apa yang kakak beli. Padahal waktu itu udah kenal sama barbie juga lho. Tapi tetap aja ingin mainan yang sama. Macam punya tamagochi, aku juga ingin punya. Akhirnya suka ngiri karena tamagochi peliharaanku mati terus. Kemudian zamannya tamiya, aku ingin punya juga. Cuma bedanya, kakak boleh beli dua, aku cuma satu, karena sisa uangnya dibelikan barbie.

Dan masih banyak lagi sih kenangan lainnya, yang di satu sisi membuat ingin tertawa. Di sisi lain membuat dada terasa sesak dan perih mata, macam di depan mata ada semangkuk irisan bawang merah. Kalau kamu punya kenangan masa kecil apa gaes? Yuk share di kolom komentar.

ge maulani

Perempuan | Lebih senang berbicara dan bercerita melalui tulisan | Penyuka kucing, novel, es krim, coklat panas, teh susu, kopi | Pemalu walau seringnya malu-maluin | Terbiasa jika terlupakan dan dilupakan |

No comments:

Post a Comment

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)