Pernah Ada Dia Dalam Hati dan Pikiranku

by - 11:00 PM

Patah hati juga merasa terkhianati telah membawaku pada rutinitas memerhatikannya.
Setidaknya setiap kali ada kesempatan
Di mana aku dan dia berada dalam kelas yang sama.
Rutinitas yang akhirnya membuat merasakan lebih dari sekadar rasa senang.
Ya, perasaaan aneh itu muncul tanpa bisa kukendalikan.
Perasaan yang bisa dibilang paket komplit. Di mana pernah ada suka, sayang, kagum, dan juga cinta padanya.

Aku menyukai sosoknya yang dianggap alim oleh teman-temannya.
Aku menyukai sosoknya yang tak banyak bicara itu, yang senyumannya terasa tulus pada setiap orang.
Aku mengaguminya yang tak pernah bersiul ataupun menggoda perempuan yang lewat ataupun berada di dekatnya.
Aku menyayanginya lebih dari yang seharusnya.
Aku bahkan mencintainya diam-diam, dan tak seharusnya kulakukan.

Hingga hari itu tiba, dia bertanya padaku, "maukah kamu menjadi pacarku?"
Aku sungguh berada dalam dilema.
Di satu sisi aku berbahagia karena nyatanya rasaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Namun di sisi lain aku bimbang, dan bertanya-tanya. "Apakah tidak akan menjadi masalah jika aku menerimanya?"
Jujur saja, aku berada pada posisi yang tidak menguntungkan.
Ada dua hati yang mungkin tersakiti saat aku memberikan jawaban "ya, aku mau!" Padanya.
Maka aku menceritakan semuanya pada mama, mama memberikanku saran untuk mempertimbangkan tentangnya.
Sekalipun aku dan dia mempunyai benar-benar berada di titik yang sama.
Apakah aku akan bahagia ketika lingkaran yang selama ini ada pada diriku, dirinya rusak karena keegoisanku.

Ya, aku termasuk jenis manusia yang perasa, yang terlalu banyak berpikir tentang menjaga perasaan orang lain.
Bukan, bukan karena aku termasuk golongan manusia yang baik.
Melainkan karena aku pernah melakukan kesalahan fatal, yang sungguh tak ingin kuulangi bagai keledai.
Jadi biarlah kulepaskan kesempatan untuk menjadi kekasihnya.
Walau sungguh aku ingin ada dia di sisiku, lebih dari sekadar teman.

Aku mengatakan padanya, jika dia terlalu baik untukku.
Alasan klasik memang, namun kali ini bukan karena aku tidak menyukainya ataupun mencintainya.
Dia memang terlalu baik untuk dijadikan sebagai seorang kekasih di masa remajaku.
Aku ingin dia menjadi seorang teman, teman hidupku di masa depan.
Tentu saja jika Tuhan mengizinkan.

Setelah penolakanku hari itu, dia tak berubah sama sekali.
Dia tidak menjauhiku seperti yang biasa orang-orang lakukan ketika menerima penolakan.
Dia tetap mengirimiku pesan sesekali.
Menyapa dan tersenyum padaku setiap kali tak sengaja berpapasan.
Entah itu di koridor sekolah, kantin, ataupun di jalan pulang.
Tentu saja itu membuatku senang, sangat senang.
Sekalipun tak pernah kukatakan padanya ataupun pada orang-orang yang ada di dekatku.
Ya, aku memutuskan untuk menyimpan rasa itu sendirian.
Tak ingin ada yang tahu ataupun mengusik dirinya dari hati dan pikiranku.
Sekalipun aku menjalin hubungan dengan yang lain.
Dia tetap berada dan tumbuh dalam hati juga pikiranku.
Maafkan keegoisanku ini, namun aku tidak meminta siapapun untuk memakluminya.

Pada hari-hari berikutnya setelah hari kelulusan sekolah, aku tak bisa lagi melihatnya secara langsung.
Aku dan dia berada di kota yang berbeda, namun sialnya rasaku tetap sama.
Aku tak bisa menghentikan sepaket komplit rasa yang lebih padanya.
Namun tetap saja aku tak berani menjawab "ya," saat dia kembali bertanya.
Bodoh memang, ketika aku tetap saja bersikeras menjaga perasaan orang lain yang ada di antara kami.
Sungguh tidak enak menjadi seseorang yang tak ingin menyakiti perasaan orang lain dan memilih untuk menyakiti perasaanku sendiri.
Juga dia, seseorang yang nyatanya kuharapkan bisa selalu mengisi hari-hariku.

Sebal rasanya harus melihat dia memotret seseorang dan mengunggah hasilnya pada media sosial miliknya.
Sedih dan kecewa rasanya saat dia berhenti menghubungiku.
Marah rasanya pada diriku sendiri yang enggan mengatakan kejujuran tentang rasaku padanya.
Hingga aku terlambat, hingga dia akhirnya dipertemukan dengan seseorang.

Seseorang yang benar-benar membuatnya bahagia.
Seseorang yang akhirnya menggeserkan diriku dari hatinya, pikirannya, hidupnya.
Seseorang yang membuatnya membalas kejujuran perasaanku dengan kalimat klasik yang pernah kukatakan.
"Maaf kamu terlalu baik untukku, lagipula jodoh tidak ada yang tahu."
Ya, pada akhirnya aku menyatakannya, walau ku tahu sudah terlambat.
Namun setidaknya rasa itu tak lagi menumpuk dalam diriku.
Biarlah dia juga tahu, pernah ada dia dalam hatiku, juga pikiranku selama bertahun-tahun.
Dia percaya atau tidak, itu sungguh bukan urusanku.
Aku tidak mau tahu, walau sebenarnya ingin tahu.

Aku bahkan menuliskan namanya dalam selembar kertas kecil.
Kertas yang kuubah menjadi salah satu lucky star.
Berharap jika aku masih memiliki kesempatan untuk bersamanya.
Sayangnya tidak begitu.
Aku akhirnya menyadari, jika antara aku dan dia adalah suatu kemustahilan.


Dari aku yang tersadar di tahun 2016.
Saat dia mengunggah selembar undangan hari bahagianya bersama jodohnya.
Dia memulai hidup baru di awal tahun 2017.
Pun aku, yang memulai untuk membuka hati lagi.
Pada siapapun itu yang digariskan oleh Tuhan menjadi jodohku.
Semoga aku dan dia akhirnya berada pada titik yang sama.

You May Also Like

0 komentar

Yakin nggak mau meninggalkan komentar? Nanti aku nggak bisa main ke blog kamu kalau kamu nggak meninggalkan komentar. Kritik dan saran diterima kok :)